"Ternyata aku ... istri kedua?"
Mendapatkan sosok suami yang nyaris sempurna seperti Azzam Naufal Ardana membuat Azra merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia, terlebih mengingat masa lalunya yang kelam. Namun, delapan tahun menikah dan dikaruniai dua anak, Azzam tetap menyembunyikannya dari dunia luar dan enggan mengenalkannya pada keluarga besar.
Azra memilih patuh dan bungkam, sampai sebuah fakta pahit mengoyak paksa kesabarannya.
"Ini kesakitan paling hebat yang pernah kurasakan seumur hidupku. Kamu menipuku, Mas!"
"Lampiaskan amarahmu, Azra. Asal jangan pernah meminta cerai."
Azra didera bimbang. Di satu sisi, anak-anaknya butuh sosok ayah. Di sisi lain, ia enggan menjadi orang ketiga. Namun, Hana ... istri pertama Azzam justru melontarkan kalimat yang membuat Azra tercengang.
"Aku tahu semua tentangmu, Azra. Tetaplah menjadi istri Mas Azzam."
"Kau gila?"
Saat cinta berubah menjadi penipuan yang rumit, haruskah Azra bertahan demi kebahagiaan anak-anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehidupan Yang Lain
Di dalam ruang tengah rumah megah yang terletak jauh dari hiruk-pikuk kota Bandung, keheningan pagi itu dipecahkan oleh coretan antusias di atas kertas. Maira tengah menggambar di buku gambarnya dengan sangat serius. Ia sedang menggambar seekor kupu-kupu yang cantik, begitulah bentuk yang diinginkan oleh imajinasi khas anak usia empat tahun. Saking fokusnya pada krayon warna-warni di tangannya, Maira sampai menjulurkan sedikit ujung lidahnya dan menggigitnya di sebelah kanan bibir. Kedua alisnya menukik tajam, sementara kedua matanya mendadak juling, seolah-olah tengah memecahkan sebuah teka-teki yang sangat rumit pada kertas di hadapannya.
Adam yang sedang duduk tenang di sofa sembari membaca buku bacaannya, melirik tingkah aneh tersebut. Ia menghela napas panjang melihat kebiasaan buruk adiknya yang selalu muncul setiap kali sedang terlalu fokus.
"Maira, jangan dijulingin begitu matanya. Nanti kalau enggak bisa balik lagi ke posisi semula bagaimana? Mau matanya begitu terus?" tegur Adam dengan nada sok dewasa.
Maira menghentikan goresan krayonnya sejenak. Ia mengangkat wajah, menatap sang kakak dengan bibir yang langsung mengerucut maju.
"Apa cih Abang? Olang nda cengajaaa, nda cadal jugaaa. Ingat kata Loosuuul, kalau nda cengaja itu nda papa. Jadi olang kok lepot kali lah bapak pala nabi ini," gerutu Maira panjang lebar, membawa-bawa nama Rasul dengan logika polosnya.
Setelah berhasil mengomeli kakaknya, ia kembali menunduk untuk melanjutkan gambarnya. Namun, baru dua detik berlalu, anak kecil itu tiba-tiba mengangkat kepalanya lagi dengan ekspresi syok, seolah baru saja mengingat sebuah bencana besar. Ia langsung beranjak berdiri dari lantai, berlari kecil menuju lemari pakaian di sudut kamar, lalu mengambil sebuah celengan plastik berbentuk ayam jago berwarna merah dari sana.
"Maila lupaaaa minta uang ke Abi buat kacih makan ini Lembooo," gumamnya dengan raut wajah penuh rasa kecewa dan penyesalan yang amat sangat.
Pandangannya lalu berputar, beralih menatap ke arah Adam yang sudah kembali fokus dengan buku bacaannya. Detik berikutnya, seulas senyum licik yang lebar merekah di bibir mungil Maira setelah mendapatkan sebuah ide cemerlang. Dengan langkah yang sengaja dibuat mengendap-endap agar tidak bersuara, ia berjalan perlahan mendekati Adam yang masih tak terusik.
"Heh bapak pala nabi, minta dua lebu," Maira menjulurkan telapak tangan mungilnya tepat di depan wajah Adam, menghalangi pandangan kakaknya dari buku.
Adam melongo, menatap telapak tangan kecil yang bergoyang-goyang di depan hidungnya itu dengan tatapan tak percaya. "Ngapaiiiin tiap hari kamu kasih makan celengan ayam itu duit dua ribu? Kayak mau bangun dinasti aja kamu, Mai. Enggak ada, Abang enggak punya uang."
Maira langsung menarik kembali tangannya, berkacak pinggang dengan wajah yang merengut total. "Ih Abang nih, nda cayang adik kali! Cudahlah, Maila mau ganti Abang balu saja. Melepotkan punya Abang, dua lebu pun nda punya. Namanya aja yang bapak pala nabi, tapi pelit," gerutu Maira kesal. Dengan langkah mengentak-entak, ia membalikkan badan dan berjalan pergi mengabaikan kakaknya.
Adam hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah melihat drama acak sang adik yang selalu berhasil membuatnya pening. "Apa sih dia itu? Anak Abi bukan sih sebenarnya? Kelakuannya kadang-kadang mirip anak kambing," gumam Adam pelan, kembali melanjutkan bacaannya di tengah rumah yang sunyi itu, tanpa tahu bahwa di luar sana, dunia mereka yang tenang sebenarnya sedang berdiri di atas bom waktu.
.
.
.
.
Sementara itu, di tempat yang sangat berbeda dan berjarak ratusan kilometer dari ketenangan Bandung, Azzam mengayunkan langkah kakinya di sebuah rumah sakit mewah di pusat kota Jakarta. Pria itu berjalan tegap menyusuri koridor panjang yang sunyi dan beraroma obat yang tajam. Setiap langkahnya terasa berat, seolah ia sedang berjalan menuju panggung eksekusi. Langkah kakinya akhirnya terhenti tepat di depan sebuah pintu kayu kokoh dengan plang ruang rawat VVIP.
Azzam memejamkan mata sejenak, menetapkan hatinya dan membuang jauh-jauh sisa kehangatan yang baru saja ia rasakan bersama Azra beberapa jam lalu. Perlahan, ia mengulurkan tangan, menarik handle pintu, dan mendorongnya ke dalam.
Begitu pintu terbuka, hawa dingin dari pendingin ruangan langsung menyambutnya, membawa atmosfer yang kaku dan penuh tekanan formalitas. Beberapa orang kerabat dekat yang sejak tadi berdiri mengelilingi ranjang pasien seketika menoleh menatap kedatangannya. Menyadari siapa yang baru saja melangkah masuk, para kerabat itu pun perlahan mundur dan menyingkir ke sudut ruangan, memberi ruang bagi sang putra mahkota keluarga.
Azzam melangkahkan kakinya mendekati sosok wanita paruh baya yang tengah terbaring lemas dengan selang infus menancap di tangannya. Wanita itu adalah sang ibu. Begitu melihat sosok Azzam, garis wajah wanita tua itu yang semula tegang langsung melunak, berganti dengan seulas senyum yang menyiratkan sindiran halus.
"Umi sakit, baru kamu mau datang sudi menemui Umi, ya?" ucap wanita paruh baya itu dengan suara serak yang sarat akan kekecewaan yang dipendam lama.
Azzam memilih untuk tidak membela diri. Ia tahu, kata-kata hanya akan memperpanjang perdebatan yang melelahkan. Ia melangkah semakin dekat ke sisi ranjang, lalu mengulurkan kedua tangannya untuk meraih dan mengecup punggung tangan sang ibu dengan takzim, menunjukkan baktinya yang tak pernah putus meski hatinya bercabang di tempat lain. Setelahnya, ia menegakkan tubuh, membalas tatapan ibunya yang kini menatapnya dengan sorot mata mengintimidasi.
"Apa sesibuk itu kamu mengurus cabang restoranmu yang lain di luar kota, Azzam? Sampai-sampai kamu tidak ingat jalan pulang ke rumah ini? Mau sampai kapan kamu terus-terusan menjadikan Bandung sebagai alasan untuk mengabaikan keluarga?" cecar sang ibu bertubi-tubi.
"Umi ...," Azzam mencoba memotong dengan suara rendah dan tenang, memberi kode bahwa ini bukan tempat yang tepat untuk meributkan urusan mereka.
Namun, sang ibu tampaknya sudah kehilangan kesabaran. Tatapannya beralih ke arah lain di dalam ruangan tersebut. "Apa kamu tidak lelah terus-menerus menjalani hubungan jarak jauh dengan istrimu? Menelantarkannya di sini sendirian demi bisnis yang tidak ada habisnya? Hana, kemari, Nak. Tegur suamimu ini, jangan hanya diam saja melihat dia bersikap semaunya sendiri."
Perkataan sang ibu seketika membuat seluruh persendian di tubuh Azzam menegang kaku. Jantungnya berdegup lebih kencang, memicu rasa bersalah yang selama ini ia tekan kuat-kuat di dalam dadanya.
Azzam perlahan menolehkan kepalanya ke arah sudut ruangan yang remang-remang. Di sana, seorang wanita cantik dengan pakaian muslimah yang sangat anggun dan jilbab berwarna merah marun mulai melangkah mendekat dengan sangat pelan.
"Mas ...,"
_________________________________
Siapin tisu🤣
nanti kamu jd duta istighfar buat ummahmu
ummah pilih kasih za Mai 🤣
dia akan jd garda terdepannya ummah
kirain Abi Farhan nyuruh supir ternyata malah datang sendiri,pasti Jid sudah kangen sama cucu2nya yg manis meskipun satunya sedikit suka bikin darting 🤣🤣🤣🤣