Mengisahkan rumah tangga Anjani dan Malik yang harus kandas dengan hadirnya sosok Dara, wanita yang merupakan sahabat baik Anjani yang menjadi pelakor dalam rumah tangganya. Hinaan kasar dari mertuanya juga membuat Anjani menyerah dan memutuskan untuk berpisah hingga takdir mempertemukannya dengan bule tampan asal Inggris Oliver Jones yang mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama yang Belum Berakhir
Namun, di belahan kota yang lain, di dalam sebuah bangunan tua terbengkalai yang sunyi dan berbau lembap, seseorang sama sekali tidak bisa memejamkan mata.
Dara Mitha Dahayu duduk bersila di atas lantai semen yang dingin, menatap pantulan dirinya di sebuah pecahan cermin kecil yang kotor. Di bawah temaram cahaya lampu jalan yang menembus jendela pecah, wajah Dara tampak menyeramkan dengan seringai lebar yang tidak pernah pudar dari bibirnya.
Ia memegang sebuah pisau lipat kecil, menggores-goreskannya pelan ke telapak tangannya sendiri tanpa merasa sakit, menikmati sensasi perih yang menyatu dengan kepuasan batinnya.
"Tidurlah yang nyenyak, pengantin baru..." bisik Dara pelan, suaranya menggema di ruangan kosong itu seperti desisan seekor ular berbisa. "Nikmati malam-malam terakhir kalian dalam kedamaian palsu itu. Karena besok... permainan yang sebenarnya baru akan dimulai."
****
Matahari pagi di Jakarta menyingsing dengan cahaya pucat yang menembus sisa-sisa kabut polusi, namun suasana di dalam gedung pencakar langit Jones Group sama sekali tidak sehangat fajar. Di lantai paling atas, di mana ruangan CEO berada, atmosfernya bagaikan medan perang yang siap meledak kapan saja.
Oliver Jones melangkah keluar dari lift pribadi dengan setelan jas tailor-made berwarna navy yang melekat sempurna di tubuh atletisnya. Wajahnya keras, dingin, dan tanpa ekspresi. Tidak ada sisa-sisa kelembutan yang ia tunjukkan kepada Anjani tadi malam; yang ada kini adalah sosok pemimpin korporat yang kejam dan tak kenal kompromi. Kehadirannya langsung disambut oleh Julian, sekretaris pribadinya yang berwajah tampan dengan setelan rapi dan kacamata berbingkai tipis, yang sudah berdiri menunggu di depan pintu ruang kerja dengan tablet di tangannya.
"Selamat pagi, Sir," sapa Julian dengan nada cepat dan efisien. Langkah kakinya menyamai langkah lebar Oliver. "Situasi di lantai bawah sudah sangat tidak terkendali. Tuan Jones Senior telah memanggil rapat darurat dewan direksi secara sepihak. Mereka menggunakan insiden ledakan kemarin malam dan keputusannya memutus hubungan keluarga sebagai alasan utama untuk mempertanyakan kompetensi Anda, sekaligus mendesak mosi tidak percaya guna mendepak Anda dari kursi CEO."
Oliver mendengus dingin, sudut bibirnya terangkat dalam senyuman sinis yang menakutkan. "Ayahku mengira dengan mencabut nama belakangku dan menciptakan kekacauan, aku akan bertekuk lutut dan memohon ampun padanya? Dia benar-benar meremehkanku."
"Mereka sudah menyiapkan seluruh laporan keuangan audit sementara dan narasi bahwa kehidupan pribadi Anda yang dianggap 'rusak' akibat pernikahan dengan Nona Anjani telah membahayakan stabilitas perusahaan di pasar global," lanjut Julian sambil menyerahkan tablet tersebut kepada atasannya. "Ini materi sanggahan yang sudah saya kumpulkan sejak subuh, termasuk dokumen portofolio investasi independen yang tidak bergantung pada kendali keluarga besar di London."
Oliver melirik sekilas data di layar tersebut, lalu mengangguk puas. "Kerja bagus, Julian. Siapkan ruang rapat utama dalam sepuluh menit. Kita akan memperlihatkan kepada dewan direksi tua itu siapa sebenarnya yang memegang kendali penuh atas perusahaan ini."
****
Di tengah badai korporat yang sedang mengancam singgasananya, Oliver sama sekali tidak menyadari bahwa di belahan kota yang lain, badai yang jauh lebih mematikan sedang mengincar orang yang paling ia cintai di dunia ini.
Sementara itu, di sebuah supermarket eksklusif di kawasan Jakarta Selatan yang tenang dan ber-AC dingin, Anjani mencoba menenangkan pikirannya. Setelah malam penuh air mata dan teror, ia memutuskan untuk keluar sejenak—mencoba kembali pada rutinitas normal dengan berbelanja bahan makanan segar untuk menyiapkan makan malam bagi suaminya nanti.
Anjani mendorong troli belanjaannya menyusuri lorong-lorong rak yang tertata rapi. Mengenakan outerwear rajut krem dan celana panjang kasual, ia memilih beberapa sayuran organik dan buah-buahan segar. Sedikit demi sedikit, rasa cemas di dadanya mulai mencair, mengira bahwa setidaknya di tempat umum yang terang dan ramai ini, ia berada di zona yang aman dari jangkauan teror.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
"Jalan pakai mata, perempuan murahan!"
Sebuah suara ketus yang sarat dengan kebencian mendadak memecah keheningan lorong tempat bumbu dapur. Sebelum Anjani sempat menoleh sepenuhnya, sebuah dorongan kuat secara tiba-tiba menghantam bahunya dengan sangat sadis.
Brak!
Anjani terhuyung hebat, tubuhnya menabrak susunan kaleng sup di rak sebelah hingga puluhan kaleng logam tersebut berjatuhan berserakan di lantai dengan suara yang memekakkan telinga. Troli belanjaannya terbalik, membuat buah-buahan menggelinding ke segala arah. Anjani meringis kesakitan saat siku tangannya tergores lantai keramik yang keras.
****
Ia mendongak dengan napas tersengat, dan betapa terkejutnya ia saat melihat siapa pelaku di balik dorongan kejam tersebut.
Adele Smith berdiri di hadapannya. Rambut pirangnya yang biasanya tertata rapi kini tampak sedikit berantakan akibat emosi, dan wajah cantiknya dipenuhi oleh amarah yang membara. Di pipi Adele sebelah kanan, sisa lebam kebiruan akibat pukulan telak dari Oliver semalam masih terlihat samar di balik lapisan makeup tebal yang ia gunakan.
"Adele... apa maksudmu?!" geram Anjani, berusaha bangkit sambil menahan rasa sakit di sikunya.
Adele melangkah mendekat, menatap Anjani dari atas kepala hingga ujung kaki dengan ekspresi jijik yang luar biasa, persis seperti watak antagonis dalam sinetron kolosal yang kehilangan akal sehatnya.
"Ini semua gara-gara kau!" teriak Adele tanpa mempedulikan beberapa pengunjung supermarket lain yang mulai menoleh karena terkejut. Suaranya melengking tinggi, penuh histeria. "Gara-gara wanita kampung sepertimu, aku dipermalukan! Oliver memukulku—dia memukulku demi membela wanita tidak berharga sepertimu! Dan Tuan Jones kehilangan kendali atas segalanya! Kau benar-benar parasit pembawa sial yang harusnya lenyap dari muka bumi ini!"
Anjani menatap wanita bule itu dengan tatapan tidak percaya. "Kau sudah gila, Adele! Sadarlah! Masalah ini terjadi karena keluargamu sendiri yang memaksakan kehendak!"
"Diam kau!" maki Adele seraya mengangkat tangannya, bersiap melayangkan tamparan kedua ke wajah Anjani.
****
Namun, sebelum tangan Adele sempat menyentuh kulit Anjani, udara di dalam supermarket mendadak terasa berubah drastis. Suhu ruangan seolah merosot, dan bau bensin yang menyengat tiba-tiba mencuat tajam di antara wewangian produk-produk kebersihan.
Bukan hanya bau bensin, melainkan suara desisan aneh yang disusul oleh kilatan cahaya merah dari arah area parkir basement dan lantai dasar supermarket.
Kring... kring... deru mesin yang menderu keras...
Anjani dan Adele sama sekali tidak sempat berpikir panjang.
BOOM!
Sebuah ledakan dahsyat yang jauh lebih besar dari ledakan di rumah Oliver malam tadi tiba-tiba menghantam lantai dasar supermarket tersebut. Getaran mahakuat itu mengguncang fondasi bangunan seketika. Kaca-kaca jendela besar di bagian depan supermarket pecah berkeping-keping dalam satu detik, melemparkan serpihan tajam layaknya badai belati ke udara.
"Aaaaa!" teriak Adele histeris, langsung menutup kepalanya dan tersungkur di lantai.
Anjani terpelanting ke belakang akibat gelombang kejut yang luar biasa kuat. Di luar gedung, di area parkir depan yang dipenuhi kendaraan mewah, ledakan beruntun terjadi. Mobil-mobil SUV dan sedan yang terparkir rapi terpental ke udara secara dramatis—terbalik beberapa kali sebelum menghantam aspal dengan dentuman logam yang memekakkan telinga, lalu ikut meledak menyusul bola api raksasa yang membumbung tinggi ke angkasa.
DUARR! DUAARR!
Suara kepanikan massal langsung pecah. Ratusan pengunjung supermarket berlarian menyelamatkan diri, berteriak histeris di tengah kepulan asap hitam pekat yang langsung memenuhi ruangan dalam hitungan detik.
di rumah sakit kenapa tidak di bius atau di suntik mati misalkan...... tapi cerita ya tetap cerita....