NovelToon NovelToon
Bos Kucing Oranye

Bos Kucing Oranye

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:969
Nilai: 5
Nama Author: La Runa

Kinanti mengira tantangan terbesar dalam hidupnya hanyalah menghadapi Arkan, CEO perusahaannya yang terkenal dingin, perfeksionis, dan bermata tajam seperti predator. Sampai suatu malam, saat lembur badai di kantor, sekelebat petir menyambar dan Arkan tiba-tiba lenyap dari kursinya—menyisakan setelan jas mahal kosong dan seekor kucing oranye gembul yang mengeong galak.

​Ternyata, sang CEO jenius terkena kutukan turun-temurun: ia akan berubah menjadi kucing oranye biasa setiap kali hujan turun atau saat emosinya tidak stabil. Celakanya, sifat "ras terkuat di bumi" sang kucing tetap terbawa. Ia tetap bosan, sombong, dan menuntut—tapi dalam wujud yang sangat ingin didekap.

​Satu-satunya orang yang mengetahui rahasia ini adalah Kinanti. Kini, tugas Kinanti berlipat ganda: menjadi sekretaris profesional di siang hari, dan menjadi babu pelindung sang CEO di malam hari agar ia tidak diculik oleh saingan bisnisnya... atau tidak sengaja mengejar tikus saat rapat penting.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Runa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ramuan Bagi Sang Penjaga

Sengatan dingin yang merayap di pergelangan tangan Kinanti terasa begitu menyiksa, seolah-olah ada ribuan jarum es yang disuntikkan langsung ke dalam aliran darahnya. Cengkeraman si penyusup sangat kuat, mengunci titik di mana aksara emas Serat Jayaning Mahardika bersemayam. Kinanti bisa merasakan tanda lingkaran konsentris di kulitnya berdenyut liar, memancarkan panas yang berbenturan langsung dengan energi gelap dari tangan misterius tersebut.

"Lepaskan!" jerit Kinanti.

Dengan sisa kekuatan dan kesadaran yang terkoyak oleh rasa sakit, Kinanti menggerakkan tangan kirinya. Ia merogoh saku blusnya, menarik alat kejut listrik portabel yang dibawanya sejak dari mobil, dan menekannya tanpa ragu ke lambung si penyusup.

DZRAAATTT!

Letupan arus listrik berkekuatan tinggi menghantam tubuh berbaju hitam itu. Si penyusup melenguh tertahan, cengkeramannya pada pergelangan tangan Kinanti terlepas seketika seiring dengan tubuhnya yang terhuyung mundur ke belakang, menabrak rak buku kuno hingga beberapa gulungan silsilah jatuh berhamburan.

Namun, kerusakan telah terjadi. Kabut asap putih di dalam ruang bawah tanah semakin pekat, mengikat kelembapan udara hingga level yang sangat ekstrem. Tanpa perlindungan penuh dari Kinanti yang kini terduduk lemas di lantai sambil memegangi pergelangan tangannya, pertahanan mistis Arkan runtuh.

Dari sudut ruangan yang gelap, kilatan cahaya keemasan yang benderang kembali meletup. Namun, berbeda dengan transformasi di kediaman Menteng sebelumnya yang berlangsung anggun, kali ini transformasi Arkan disertai dengan erangan tertahan yang sangat menyakitkan. Tubuh manusianya meluruh, menyusut drastis di balik pakaian formalnya yang kini mengempis di atas marmer hitam.

"Sialan..." suara parau Arkan lenyap, digantikan oleh suara meongan melengking yang sarat akan penderitaan.

Si penyusup, meskipun tubuhnya masih sedikit bergetar akibat efek alat kejut listrik, berhasil bangkit berdiri. Ia melirik ke arah gundukan pakaian di lantai, lalu beralih menatap Kinanti dengan pandangan mencemooh di balik topeng taktisnya.

"Satu sama, Nona Direktur," suara mekanis dari voice changer-nya terdengar begitu menjengkelkan di tengah kepungan asap. "Racun pemutus mantra ini tidak akan membunuhnya, tapi selama tanda di tanganmu meredup, Singa Mahardika tidak lebih dari sekadar hewan peliharaan yang tidak berdaya. Nikmati akhir pekanmu bersama kucing ini."

Si penyusup menyambar perangkat pemindai digitalnya yang tergeletak di atas meja altar, lalu berlari menuju koridor rahasia lain di balik dinding perpustakaan—sebuah jalur pelarian kuno yang bahkan tidak tercatat dalam cetak biru modern rumah Menteng.

Kinanti ingin mengejar, namun tubuhnya terlalu lemah. Rasa dingin dari serangan tadi menjalar hingga ke dadanya, membuat setiap tarikan napasnya terasa berat. Namun, melihat pakaian Arkan yang tergeletak tak berdaya di sudut ruangan, Kinanti memaksakan dirinya untuk merangkak.

"Pak... Pak Arkan..." panggil Kinanti dengan suara bergetar.

Dari balik kerah kemeja putih yang kebesaran, sesosok kepala berbulu jingga muncul. Arkan—dalam wujud kucingnya—tampak sangat mengenaskan. Bulunya yang biasa berkilat kini tampak kusam, dan mata hijau zamrudnya meredup, diselimuti oleh kabut rasa sakit yang mendalam. Kucing gembul itu melangkah keluar dari gundukan kain dengan kaki yang gemetar, lalu merebahkan tubuhnya di samping tangan Kinanti, menyandarkan kepalanya yang hangat pada telapak tangan gadis itu.

Kinanti mendekap tubuh kucing Arkan ke dalam pelukannya, membiarkan air matanya jatuh menyentuh bulu jingga sang bos. Di bawah kegelapan perpustakaan bawah tanah yang porak-poranda, ia tahu bahwa musuh mereka kali ini jauh lebih berbahaya, karena mereka tidak hanya mengincar harta, melainkan jiwa dari Mahardika itu sendiri.

Sepuluh menit kemudian, tim sekuriti internal yang dipimpin oleh ajudan senior akhirnya berhasil menjebol barikade asap setelah sistem sirkulasi udara darurat diaktifkan kembali. Eyang Widya pun turun dengan langkah tergesa, dipapah oleh seorang pelayan setia.

Suasana di dalam perpustakaan kini telah terang, namun menyisakan kepedihan. Kinanti duduk di kursi kayu sambil mengompres pergelangan tangan kanannya yang kini membiru—seperti bekas luka lebam akibat radang dingin (frostbite). Di pangkuannya, Arkan tertidur pulas setelah diberikan beberapa tetes serum herbal penenang oleh Eyang Widya.

"Ini adalah Herba Kendali Sungsang," kata Eyang Widya dengan wajah yang luar biasa pucat, jarinya menyentuh luka lebam di tangan Kinanti. "Hanya faksi yang memegang Serat Jayaning Mahardika bagian kedua yang tahu cara meracik energi pemutus ini. Orang yang datang tadi... dia bukan bagian dari faksi Baskoro. Dia berasal dari Faksi Selo."

Kinanti mendongak, menahan rasa perih di tangannya. "Faksi Selo? Siapa mereka, Eyang?"

Eyang Widya mengembuskan napas berat, tatapannya beralih pada kitab suci di atas meja yang untungnya tidak berhasil dibawa kabur, meski halamannya telah dipindai. "Saat Sumpah Darah 1845 diikrarkan oleh leluhur kita, ada dua keluarga yang terlibat. Keluarga Mahardika sebagai pemegang berkah kejayaan dan kutukan wujud singa siang, dan Keluarga Selo... keluarga yang bertindak sebagai pengikat jangkar gaib sumpah tersebut. Selama ratusan tahun mereka tenggelam dalam sejarah, namun sepertinya... mereka kini bangkit untuk menuntut balas karena merasa pembagian kejayaan tidak seimbang."

"Artinya, mereka tahu segala hal tentang kelemahan Pak Arkan, dan sekarang mereka tahu tentang keberadaan saya sebagai Penjaga Takdir," simpul Kinanti, rahangnya mengetat.

"Ya. Dan yang lebih mengerikan, Nak Kinanti..." Eyang Widya menatap mata Kinanti dengan keseriusan yang mencekam. "Jika mereka berhasil menyalin seluruh mantra di dalam serat ini, mereka bisa membalikkan sumpah. Mereka bisa membuat Arkan terjebak dalam wujud kucing secara permanen, dan memindahkan seluruh kejayaan Mahardika ke dalam darah mereka."

Kinanti menatap Arkan yang sedang mendengkur halus di pangkuannya. Rasa takut sempat terlintas di hatinya, namun dengan segera digantikan oleh gelombang tekad yang membara. Ia adalah seorang sekretaris yang telah dididik untuk menyelesaikan masalah paling mustahil di dunia korporat; ia tidak akan membiarkan takdir mistis ini mengalahkan logika dan dedikasinya.

Malam harinya, di dalam kamar pribadi Arkan yang luas, keheningan kembali meraja. Kinanti tidak pulang ke apartemennya. Ia memilih tinggal di Menteng untuk memastikan kondisi Arkan tetap stabil. Pergelangan tangannya yang membiru sudah dibalut dengan perban putih khusus yang telah diolesi ramuan obat oleh Eyang Widya.

Arkan terbangun saat jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Perlahan, kesadaran jiwanya kembali menguasai tubuh kucingnya. Ia membuka mata, melihat Kinanti yang tertidur di kursi lengan (armchair) di samping tempat tidurnya dengan posisi duduk yang tidak nyaman, masih mengenakan pakaian kerjanya yang kusut.

Kucing jingga itu melompat turun dari kasur dengan sangat senyap. Ia berjalan mendekati kursi Kinanti, lalu melompat ke atas sandaran lengan. Dengan sangat lembut, Arkan menyentuhkan hidung merah mudanya ke pipi Kinanti, seolah mencoba membangunkan gadis itu tanpa mengejutkannya.

Kinanti membuka matanya perlahan. "Pak Arkan..." suaranya berbisik parau.

Arkan tidak mengeong. Ia hanya menatap perban di pergelangan tangan Kinanti dengan pandangan mata yang sarat akan rasa bersalah dan kesedihan yang mendalam. Sebagai seorang CEO yang biasa mengendalikan nasib ribuan karyawan, melihat pelindungnya terluka demi dirinya adalah sebuah hantaman ego yang sangat keras.

Kinanti seolah bisa membaca isi pikiran kucing itu. Ia mengangkat tangan kirinya yang bebas, lalu mengusap lembut telinga Arkan. "Jangan menatap saya seperti itu, Pak. Ini hanya luka kecil. Besok Senin, lebam ini akan hilang, dan kita akan kembali ke kantor untuk melacak siapa pun bajingan dari Faksi Selo yang berani merusak perpustakaan Eyang."

Arkan memejamkan matanya, menikmati sentuhan Kinanti. Di dalam hatinya, jiwa manusia Arkananta Mahardika bersumpah: pertempuran ini tidak lagi hanya sekadar tentang mempertahankan takhta perusahaan dari paman yang serakah, melainkan tentang menghancurkan siapa pun yang berani menyentuh dan menyakiti Sang Penjaga Takdirnya.

1
Ana Dww
😭
Ana Dww
Wait, 6 Kilogram?
Ana Dww
😭Sama seperti Cleo—Kucing oranyeku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!