Budi, seorang karyawan kantor biasa yang gaji bulanannya selalu numpang lewat karena harus melunasi utang warisan orang tuanya, tiba-tiba mendapatkan sebuah sistem aneh bernama 'System Lempar Dadu Monopoly'.
Sistem ini menampilkan papan permainan hologram mirip Monopoli lengkap dengan avatar chibi dirinya di atasnya, di mana setiap lemparan dadu bisa memberikannya reward uang dan item ajaib, atau hukuman memalukan yang harus ia jalani di dunia nyata.
Kini, hidup Budi berubah drastis menjadi sebuah pertaruhan harian di mana setiap petak yang ia injak perlahan-lahan mengangkatnya dari kemiskinan, asalkan ia bisa bertahan dari "kejutan" konyol yang disiapkan oleh sistem tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Suara dentingan kecil bernada ceria terus menemani tidur Budi sepanjang malam.
Setiap kali suara itu berbunyi, Budi tersenyum dalam lelapnya karena dia tahu ada uang receh yang masuk ke kantongnya.
Sinar matahari pagi akhirnya menembus masuk melalui ventilasi kamar menyuruh Budi untuk segera bangun.
Dia meregangkan kedua tangannya tinggi tinggi dengan perasaan yang sangat segar.
Budi langsung memusatkan pikirannya untuk memanggil layar sistem sebelum dia beranjak dari kasur.
Ting.
Panel hologram biru yang berpendar lembut itu seketika muncul di hadapannya.
Mata Budi langsung tertuju pada pojok kanan atas layar untuk mengecek hasil panen semalam.
Saldo Sistem saat ini adalah empat puluh dua ribu lima ratus rupiah.
"Wah, ternyata warung Pak Mamat laris manis juga semalaman."
Budi bergumam sendiri sambil tersenyum lebar melihat deretan angka hijau tersebut.
Meskipun empat puluh dua ribu bukanlah jumlah yang bisa membuatnya kaya mendadak, uang itu didapatkannya murni tanpa bekerja.
Bagi seorang karyawan bergaji kecil yang utangnya menumpuk, ini adalah sebuah keajaiban finansial yang nyata.
Budi segera menutup layar sistem itu dan bergegas mandi untuk bersiap ke kantor.
Hari ini suasana hati Budi sedang berada di puncak tertinggi.
Sesampainya di ruang divisi administrasi, suasana kantor terasa jauh lebih damai dari biasanya.
Pak Anton tampaknya masih terguncang dengan hasil kerja Budi kemarin dan memilih mengurung diri di ruangannya.
Siska juga tidak berani mencari masalah dan hanya fokus menatap layar komputernya sendiri.
Reno menggeser kursi berodanya mendekati meja kerja Budi saat jam istirahat siang tiba.
"Bud, kau bawa bekal atau mau makan di kantin hari ini."
"Aku tidak bawa bekal Ren, kita makan di kantin saja seperti biasa."
Budi menjawab sambil merapikan tumpukan dokumen di mejanya.
"Kau kelihatan santai sekali hari ini Bud, tidak takut tiba tiba dipanggil Pak Anton lagi."
Reno bertanya dengan nada berbisik sambil melirik ke arah ruangan kaca milik atasan mereka.
Budi tertawa pelan dan menepuk bahu sahabatnya itu.
"Untuk apa takut Ren, tugasku sudah selesai semua tanpa ada yang kurang."
"Kalau dia mencari cari kesalahanku lagi, aku tinggal buktikan saja hasil kerjaku."
"Baguslah kalau mentalmu sudah sekuat itu sekarang, aku ikut lega melihatnya."
Mereka berdua berjalan menuju kantin dan menghabiskan jam istirahat dengan obrolan ringan seputar pekerjaan.
Waktu berlalu dengan cepat tanpa ada gangguan berarti hingga jam pulang kantor tiba.
Budi memasukkan barang barangnya ke dalam tas dengan perasaan sangat lega.
Hari ini dia berencana untuk mampir ke warung nasi goreng Pak Mamat sebelum pulang ke kosan.
'Aku harus melihat langsung bagaimana kondisi properti bisnis pertamaku ini.'
Perjalanan pulang menggunakan bus kota terasa lebih singkat karena jalanan belum terlalu macet.
Budi turun di halte pertigaan jalan utama dan langsung berjalan menuju tenda terpal milik Pak Mamat.
Aroma bawang putih dan kecap manis yang sedang ditumis langsung menyambut hidung Budi.
Sreng sreng sreng.
Suara spatula beradu dengan wajan besi besar terdengar sangat nyaring dan menggugah selera.
"Malam Pak Mamat, kebetulan baru buka ya."
Budi menyapa pria paruh baya yang sedang sibuk mengaduk nasi di atas wajan itu.
"Eh Nak Budi, iya ini baru selesai menata meja dan kursi."
Pak Mamat menoleh sekilas sambil tersenyum ramah kepada pelanggan setianya itu.
"Tumben jam segini sudah mampir, biasanya Nak Budi beli agak larut malam."
"Iya Pak, kebetulan tadi pulang kerja agak cepat jadi sekalian saja beli makan malam di sini."
Budi duduk di salah satu kursi plastik panjang sambil menatap gerobak sederhana itu dengan tatapan menilai.
'Tidak disangka aku sekarang punya saham lima persen dari gerobak tua ini.'
"Mau pesan seperti biasa Nak Budi, nasi goreng pedas telur dadar."
"Benar Pak, porsinya tolong dibikin agak banyak ya, saya sedang lapar berat."
Pak Mamat tertawa mendengar permintaan Budi dan langsung meracik bumbu ke dalam wajannya.
"Semalam jualan lumayan ramai ya Pak Mamat."
Budi memancing obrolan untuk mengumpulkan informasi tentang bisnisnya sendiri.
"Alhamdulillah Nak Budi, semalam kebetulan ada rombongan anak motor yang nongkrong dan memborong belasan porsi."
"Bapak sampai kewalahan karena bahannya hampir habis sebelum jam dua pagi."
Budi menganggukkan kepalanya puas mendengar konfirmasi langsung dari Pak Mamat.
Ternyata sistem memang tidak berbohong soal perhitungan saldo yang masuk tadi pagi.
"Wah syukur kalau begitu Pak, semoga malam ini bisa seramai semalam lagi."
"Amin, namanya juga orang dagang Nak, kadang ramai kadang ya sepi."
Pak Mamat menuangkan nasi goreng yang sudah matang ke atas kertas pembungkus cokelat.
Dia membungkusnya dengan rapi dan menyerahkannya kepada Budi.
"Ini pesanannya Nak Budi, harganya lima belas ribu rupiah seperti biasa."
Budi mengeluarkan selembar uang dua puluh ribu dari sakunya dan memberikannya kepada Pak Mamat.
"Kembaliannya simpan saja Pak untuk tambah tambah modal beli telur."
"Loh jangan begitu Nak Budi, anak kos kan harus irit, ini ambil kembaliannya lima ribu."
Pak Mamat memaksa memberikan selembar uang lima ribu lusuh ke tangan Budi.
Budi hanya bisa tersenyum pasrah dan menerima uang kembalian tersebut.
Dia pamit kepada Pak Mamat dan mulai melangkah pulang menuju area kosannya.
Kali ini Budi berniat untuk kembali mengambil jalan memutar melewati gang sempit di belakang pemukiman.
Dia masih belum siap secara mental untuk bertatap muka dengan Maya di minimarket.
Namun saat Budi baru saja akan berbelok ke mulut gang sempit itu, langkahnya terhenti.
Ada sebuah palang kayu panjang yang menutupi jalan masuk gang tersebut.
Di palang itu terdapat tulisan dari kardus bekas yang berbunyi Jalan Ditutup Ada Perbaikan Selokan.
Budi menghela napas panjang menatap palang kayu yang seolah sedang mengejeknya itu.
"Sial, kenapa harus diperbaiki hari ini dari sekian banyak hari yang ada."
Budi tidak punya pilihan lain selain memutar balik arahnya.
Satu satunya jalan pintas menuju kosannya sekarang hanyalah rute utama yang melewati depan minimarket.
'Tidak apa apa Budi, kau tinggal berjalan cepat sambil menunduk menutupi wajahmu.'
'Mbak Maya belum tentu sedang berjaga di luar atau di dekat pintu.'
Budi menyemangati dirinya sendiri dan mulai berjalan menyusuri trotoar jalan utama.
Jantungnya mulai berdebar lebih kencang saat papan nama minimarket yang bersinar terang itu mulai terlihat.
Jaraknya tinggal dua puluh meter lagi dari pintu kaca minimarket tersebut.
Budi menundukkan kepalanya dalam dalam dan mempercepat langkah kakinya seperti orang yang sedang dikejar anjing.
Tap tap tap.
Suara langkah sepatu Budi terdengar terburu buru di atas trotoar semen.
Namun takdir sepertinya memang sedang ingin bermain main dengan perasaan Budi malam ini.
Tepat saat Budi melintas di depan minimarket, pintu kaca otomatis itu terbuka.
Ting tong.
Seorang wanita berseragam minimarket melangkah keluar sambil menenteng kantong plastik berisi sampah.
Wanita itu adalah Maya.
Budi yang sedang menunduk tidak menyadari kehadiran Maya dan terus berjalan lurus.
Bruk.
Bahu kiri Budi tanpa sengaja menabrak lengan Maya yang baru saja membuang sampah ke tempat sampah luar.
"Eh, maaf maaf saya tidak sengaja."
Budi langsung meminta maaf dengan panik tanpa melihat wajah orang yang ditabraknya.
"Iya tidak apa apa Mas."
Suara lembut itu langsung membuat sekujur tubuh Budi membeku di tempat.
Budi perlahan mengangkat wajahnya dan matanya langsung bertemu dengan sepasang mata bulat milik Maya.
Wajah Maya terlihat sedikit terkejut saat mengenali siapa pria yang menabraknya.
"Ma... Mas Budi."
Maya menyebut nama Budi dengan nada yang sangat canggung.
Suasana di depan minimarket itu seketika menjadi sangat sunyi dan hening.
Budi merasa ingin tiba tiba ditelan oleh bumi saja saat itu juga.
Rasa panas seketika menjalar dari leher hingga ke seluruh wajahnya.