NovelToon NovelToon
Halal Tapi Asing

Halal Tapi Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Bagi semua orang, Ning Humaira adalah definisi kesempurnaan. Namun, perjodohan memaksanya berbagi ranjang dengan Gus Arsalan pria tampan berhati sedingin es yang menyisakan seluruh hatinya untuk wanita lain di London.
Tepat di malam pertama, sebuah kalimat kejam meluncur dari bibir sang Gus:
"Jangan pernah berharap saya akan mencintai kamu. Saya akan menafkahi lahirmu, tapi tidak dengan batinmu."
Satu minggu mereka terjebak dalam sandiwara; menjadi pasangan paling romantis di depan keluarga, namun menjadi dua orang asing di balik pintu kamar.
Lelah diabaikan dan hancur karena cinta suaminya yang tertinggal di luar negeri, Humaira akhirnya nekat mengambil langkah gila. Malam itu, selembar gaun tidur satin merah marun menjadi senjatanya untuk meruntuhkan keangkuhan sang suami.
Ketika harga diri seorang Ning bertabrakan dengan kewajiban, akankah taktik berani ini berhasil meruntuhkan tembok es Arsalan, atau justru membuatnya semakin menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu dari Seberang Samudra

Matahari pagi belum sepenuhnya tinggi ketika pelataran utama Pesantren Al-Anwar mendadak riuh oleh kedatangan sebuah mobil van hitam besar. Kedatangan tamu jauh dari ibu kota bahkan dari belahan bumi lain telah menjadi buah bibir di kalangan para santri sejak beberapa hari lalu. Gus Arsalan, melalui jaringan koneksinya semasa berkuliah di London, berhasil membawa sebuah tim dokumenter internasional untuk menggarap proyek digitalisasi dan publikasi pesantren. Tujuannya besar: memperkenalkan sistem pendidikan Al-Anwar ke kancah dunia, menjadikannya percontohan pesantren modern yang ramah global.

Humaira berdiri di selasar *ndalem* sepuh bersama Umi Khadijah. Ia mengenakan gamis berwarna hijau zamrud dipadukan dengan khimar instan berwarna hitam yang menjuntai rapi hingga ke pinggang. Di sampingnya, Umi Khadijah tampak sesekali merapikan jarum pentul di kerudungnya, terlihat sedikit tegang namun juga bangga.

"Nduk, Arsalan bilang temannya yang dari luar negeri itu ada tiga orang, ya?" tanya Umi Khadijah lirih, matanya memperhatikan beberapa santri pengurus yang mulai menurunkan koper-koper besar berisi peralatan kamera canggih dari bagasi mobil.

"Enggeh, Umi. Saking pirsani berkasipun wau dalu, tim punika dipunpimpin kanca kuliah helipun Gus Arsalan. Wonten kalih jaler, setunggal estri," jawab Humaira dengan suara yang teramat tenang dan santun, menggunakan bahasa Jawa Krama Alus yang sempurna untuk menenangkan sang mertua. *(Iya, Umi. Dari melihat berkasnya tadi malam, tim itu dipimpin oleh teman kuliahnya Gus Arsalan. Ada dua laki-laki, satu perempuan).*

Dari arah pintu kemudi, Gus Arsalan melangkah turun dengan kemeja flanel abu-abu yang lengannya digulung hingga siku, dipadukan dengan celana kain hitam. Wajahnya yang biasa datar dan dingin, hari ini tampak sedikit lebih cerah. Ada binar antusiasme yang jarang Humaira lihat selama mereka hidup di bawah satu atap.

Arsalan berbalik, membukakan pintu penumpang tengah. Dua orang pria asing dengan perawakan tinggi besar melangkah keluar membawa ransel, diikuti oleh seorang wanita yang langsung menyita seluruh perhatian di pelataran itu.

Deg.

Jantung Humaira mendadak berdenyut aneh saat matanya menangkap sosok wanita tersebut. Wanita itu memiliki tinggi badan yang semampai, hampir menyamai bahu Gus Arsalan. Ia mengenakan blus putih longgar yang dipadukan dengan rok plisket panjang berwarna moka, serta sebuah pasmina sewarna yang dililitkan di lehernya dengan sangat modis namun tetap terlihat sopan untuk ukuran tamu pesantren. Wajahnya blasteran, perpaduan antara garis tegas Eropa dan kelembutan Asia, dengan sepasang mata cokelat yang jernih dan senyuman yang teramat menawan.

Arsalan memimpin rombongan kecil itu berjalan menuju selasar ndalem, tempat di mana Umi Khadijah dan Humaira sudah menunggu.

"Assalamualaikum, Umi, Dek Humaira," sapa Arsalan formal saat tiba di depan mereka. Ia lalu menoleh ke arah teman-temannya. "Guys, this is my mother, and this is my wife, Humaira."

Dua pria bule di belakangnya langsung membungkuk hormat dengan tangan menangkup di dada, mempraktikkan budaya santun yang tampaknya sudah diajarkan oleh Arsalan selama perjalanan.

Namun, fokus Humaira tidak berada pada kedua pria asing tersebut. Tatapannya terkunci pada wanita blasteran yang kini melangkah maju satu tindak ke arahnya. Wanita itu mengulurkan tangan kanan dengan gerakan yang sangat luwes dan anggun, sementara senyum tulus merekah di bibir tipisnya yang dipoles lipstik nude.

"Hello, Assalamualaikum, Ning Humaira," ucap wanita itu, suaranya terdengar begitu merdu, dengan logat bahasa Inggris yang kental namun artikulasi bahasa Indonesia yang cukup fasih. "Perkenalkan, nama saya Evelyn. Saya salah satu tim dokumenter sekaligus teman kuliah Arsalan dulu di London. Suatu kehormatan bisa bertemu dengan istri dari sahabat terbaik saya."

Evelyn.

Nama itu meluncur begitu saja dari bibir wanita di depannya. Nama yang sama yang tertera di layar ponsel suaminya di sepertiga malam yang buta. Nama yang sama yang dilindungi oleh bentakan kasar Gus Arsalan di dalam kamar tidur mereka. Wanita yang menjadi alasan utama mengapa ranjang pengantin Humaira terasa sedingin es.

Waktu seolah berhenti berputar di selasar *ndalem* Al-Anwar. Hembusan angin pagi yang menerpa khimar hitam Humaira mendadak terasa begitu menyesakkan dada. Di sampingnya, ia bisa melihat sudut mata Gus Arsalan yang sempat menegang, mengawasi setiap gerak-gerik dan reaksi yang akan ditunjukkan oleh istrinya. Arsalan tampak menahan napas, bersiap jika seandainya Humaira meledak atau menunjukkan sikap bermusuhan.

Namun, mereka semua salah menilai Ning Humaira. Darah biru pesantren yang mengalir di tubuhnya tidak dibentuk untuk kalah oleh badai emosi sesaat. Sebagai seorang putri kiai besar, ia telah diajarkan untuk meletakkan harga diri dan adab di atas segala-galanya, terutama di hadapan tamu.

Humaira mengulas sebuah senyuman yang teramat manis sebuah senyuman terbaik yang sanggup menyembunyikan luka paling menganga di dalam dadanya. Ia menyambut uluran tangan Evelyn, menjabatnya dengan kehangatan yang proporsional tanpa ada getaran sedikit pun di jemarinya.

"Waalaikumussalam, Mbak Evelyn," balas Humaira lembut, suaranya terdengar begitu stabil dan anggun. "Selamat datang di Pesantren Al-Anwar. Kami sangat senang menyambut Mbak Evelyn dan tim di sini. Semoga proyek dokumentasi ini berjalan dengan lancar."

Evelyn tampak sedikit tertegun melihat ketenangan dan kecantikan alami yang terpancar dari wajah Humaira, sebelum ia mengangguk ramah dan menarik tangannya kembali.

Sementara bibirnya sibuk bertukar basa-basi formal dengan para tamu, di dalam relung hatinya yang paling dalam, Humaira membatin dengan rasa getir yang teramat pekat.

"Ooh... jadi ini wanita yang bernama Evelyn itu. Mantan kekasih dari Gus Arsalan. Cantik sekali, tinggi, anggun... Dia juga seorang penulis novel terkenal yang karyanya mendunia. Pantesan... pantesan saja Gus Arsalan begitu susah untuk move on. Jangankan seorang pria, kulo yang sesama wanita saja mengakui betapa sempurnanya dia. Dibandingkan dengan kulo yang hanya gadis rumahan dari pesantren kecil, dia adalah segalanya bagi Gus Arsalan."

Rasa minder yang tipis sempat menyelinap di dada Humaira, namun dengan cepat ia menepisnya. Ia menegakkan bahunya kembali, menolak untuk terlihat kecil di depan masa lalu suaminya.

Umi Khadijah yang tidak tahu-menahu tentang drama masa lalu di antara putranya dan Evelyn, langsung menyambut mereka dengan sangat antusias. "Ayo, ayo, silakan masuk ke ruang tamu utama. Sudah Umi siapkan teh hangat dan jajan pasar. Pasti capai ya setelah perjalanan jauh dari bandara."

"Thank you so much, Ma'am," sahut salah satu pria bule bernama Mark, membuat Umi Khadijah tertawa renyah karena merasa geli mendengar bahasa asing tersebut.

Rombongan itu kemudian digiring masuk ke dalam ruang tamu VIP ndalem yang dipenuhi oleh kursi-kursi ukiran jati Jepara yang megah. Humaira berjalan di paling belakang, mendampingi Umi Khadijah. Saat melangkah melewati pintu, ia sengaja melirik ke arah Gus Arsalan. Pria itu tampak sedang mencuri pandang ke arah Evelyn dengan tatapan mata yang sarat akan kerinduan yang mendalam—tatapan yang tidak akan pernah, dan tidak akan pernah bisa, Arsalan berikan kepada Humaira.

Humaira memalingkan wajahnya dengan cepat. Dadanya kembali berdenyut perih, namun air matanya menolak untuk jatuh. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri: tidak ada lagi tangisan untuk pria yang tidak menghargai kehadirannya.

Di dalam ruang tamu, diskusi mengenai proyek dokumentasi langsung dimulai dengan hangat. Mark dan James, dua sinematografer dalam tim tersebut, mulai membuka laptop dan menunjukkan beberapa konsep visual yang akan mereka rekam selama satu minggu ke depan di Al-Anwar.

Evelyn, sebagai konseptor dan penulis naskah dokumenter, menjelaskan alur cerita dengan sangat cerdas dan terstruktur. "Kami ingin mengangkat sisi humanis dari pesantren ini, Kiai, Umi," ujar Evelyn sembari menatap Kiai Ahmad yang baru saja bergabung di ruangan. "Bagaimana para santri belajar mandiri, mengaji kitab kuning di malam hari, namun tetap melek teknologi di siang hari. Kami ingin video ini nanti bisa membuka mata dunia Barat bahwa Islam di pesantren Indonesia itu sangat damai dan toleran."

Kiai Ahmad mengangguk-angguk puas, senyum kebahagiaan terukir di wajah sepuhnya yang berwibawa. "Alhamdulillah, gagasan Mbak Evelyn ini sangat mulia. Arsalan memang sudah bercerita banyak soal rencana ini. Kami pihak pesantren akan memfasilitasi semua kebutuhan tim selama berada di sini."

Di tengah-tengah diskusi yang padat itu, Humaira menjalankan tugasnya dengan sangat telaten. Ia bangkit dari duduknya, berjalan ke sudut ruangan untuk menuangkan teh manis hangat dari teko porselen ke dalam cangkir-cangkir tamu satu per satu.

Saat ia meletakkan cangkir di depan Evelyn, wanita blasteran itu menatapnya dengan binar mata yang bersahabat. "Terima kasih banyak, Ning Humaira. Maaf ya, kedatangan kami jadi merepotkan Ning yang harus mengurus banyak hal di pondok."

Humaira tersenyum teduh, menggeleng pelan. "Mboten repot sama sekali, Mbak Evelyn. Ini sudah menjadi bagian dari khidmah kulo di pesantren ini. Jika Mbak Evelyn atau tim membutuhkan bantuan mengenai jadwal kegiatan santri atau akses ke area asrama putri, silakan langsung hubungi kulo."

Gus Arsalan yang duduk di seberang meja memperhatikan interaksi tersebut dengan perasaan yang berkecamuk hebat di dalam dadanya. Ada rasa lega karena Humaira tidak membuat keributan, namun ada juga rasa sesak yang aneh melihat betapa dingin dan berjaraknya sikap Humaira seolah-olah pria itu dan masa lalunya sama sekali tidak memiliki dampak apa pun pada ketenangan jiwa istrinya. Humaira telah menjelma menjadi benteng pertahanan yang teramat kokoh, membalas perlakuan dingin Arsalan selama ini dengan keanggunan yang mematikan.

Sore harinya, mendung tipis mulai menutupi langit pesantren ketika tim dokumenter mulai melakukan observasi lapangan untuk menentukan titik pengambilan gambar esok hari. Arsalan menemani Mark dan James ke area asrama putra, sementara Evelyn meminta izin untuk melihat-lihat area taman baca santri putri yang terletak di dekat perpustakaan utama.

Humaira diminta oleh Umi Khadijah untuk menemani Evelyn agar tamu wanita mereka tidak merasa canggung di area santriwati. Kedua wanita itu kini berjalan beriringan menyusuri koridor panjang pesantren yang teduh, dikelilingi oleh pepohonan hijau yang asri.

"Pesantren ini indah sekali, Ning," ucap Evelyn memecah kesunyian, matanya memandang kagum pada barisan santriwati yang sedang berjalan rapi menuju masjid dengan mukena mereka masing-masing. "Suasananya sangat menenangkan. Pantas saja Arsalan selalu merindukan tempat ini saat kami masih di London dulu."

Mendengar nama Arsalan disebut dari lisan Evelyn, Humaira hanya tersenyum tipis. "Enggeh, Mbak. Ini adalah rumah bagi Gus Arsalan. Sejauh apa pun beliau pergi, tempat ini akan selalu menjadi arah pulangnya."

Evelyn menghentikan langkah kakinya tepat di bawah pohon mahoni yang rindang. Ia membalikkan tubuhnya, menatap Humaira dengan tatapan mata yang mendadak berubah menjadi sendu dan sarat akan penyesalan.

"Ning Humaira..." panggil Evelyn dengan nada suara yang merendah, kehilangan kepercayaan diri yang tadi pagi ia pamerkan di ruang tamu. "Boleh saya berbicara jujur sebagai seorang wanita?"

Humaira ikut menghentikan langkahnya, menatap Evelyn dengan pandangan yang tenang namun waspada. "Silakan, Mbak Evelyn. Wonten menopo?" *(Silakan, Mbak Evelyn. Ada apa?)*

Evelyn mengembuskan napas panjang, jemarinya meremas tali tas kamera yang melingkar di pundaknya. "Saya tahu tentang pernikahan Anda dan Arsalan. Dan saya juga tahu... bahwa kehadiran saya di sini mungkin menorehkan luka atau rasa tidak nyaman di hati Ning Humaira. Saya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya."

Humaira terdiam sesaat, matanya menatap lurus ke dalam manik mata cokelat Evelyn, mencari kebohongan di sana. Namun, yang ia temukan hanyalah ketulusan yang polos.

"Mbak Evelyn mboten usah meminta maaf," jawab Humaira, suaranya terdengar begitu datar namun tetap anggun. "Mbak Evelyn datang ke sini sebagai tamu kehormatan pesantren untuk sebuah proyek yang mulia. Kulo mboten memiliki alasan untuk merasa tidak nyaman."

Evelyn menggeleng pelan, sebuah senyuman pahit terukir di wajah cantiknya. "Arsalan adalah pria yang sangat baik, Ning. Di London, dia menghabiskan bertahun-tahun hidupnya untuk setia pada satu hubungan. Ketika dia mendadak harus pulang dan menikah karena perjodohan ini... dunia kami berdua runtuh. Tapi melihat Ning Humaira hari ini... melihat betapa anggunnya Anda, betapa cerdas dan dicintainya Anda oleh seluruh santri di sini... saya sadar, Arsalan telah mendapatkan takdir yang jauh lebih baik daripada masa lalunya bersama saya."

Evelyn menatap Humaira dengan tatapan memohon. "Saya ke sini murni untuk menyelesaikan proyek pekerjaan ini, Ning. Setelah seminggu, saya akan kembali ke London dan tidak akan pernah mengganggu kehidupan kalian lagi. Saya hanya berharap... Ning Humaira bisa membantu Arsalan untuk menyembuhkan luka di hatinya, karena dia pria yang terlalu keras kepala untuk mengakui kalau dia sedang terluka."

Kata-kata Evelyn mengalir masuk ke dalam rungu Humaira, menghantam ulu hatinya dengan rasa perih yang baru. 'Membantu Arsalan menyembuhkan lukanya?' Humaira ingin tertawa keras mendengar kalimat itu. Bagaimana mungkin seorang korban yang hatinya sudah hancur berkeping-keping oleh kejamnya penolakan Arsalan, diminta untuk menyembuhkan luka sang pelaku yang menolaknya?

Namun, di hadapan mantan kekasih suaminya itu, Humaira tetap menjaga wibawanya sebagai seorang Ning sejati. Ia tidak akan membiarkan orang luar melihat borok di dalam rumah tangganya.

"Matur nuwun atas perhatiannya, Mbak Evelyn," ucap Humaira dengan senyuman formal yang tidak pernah mencapai matanya. "Gus Arsalan adalah suami kulo. Apa pun yang terjadi di antara kami di dalam kamar tidur, itu sudah menjadi urusan domestik yang akan kami selesaikan sendiri. Mbak Evelyn mboten usah khawatir, fokuslah pada proyek dokumenter Njenengan."

Kalimat tegas namun santun dari Humaira itu seolah menjadi batas suci yang tidak boleh dilewati lagi oleh Evelyn. Evelyn mengangguk maklum, menyadari bahwa wanita di depannya bukan sekadar gadis pesantren biasa yang bisa dipandang sebelah mata, melainkan seorang istri kiai masa depan yang memiliki ketegasan luar biasa dalam menjaga wilayah privasinya.

Kedua wanita itu kemudian melanjutkan berjalan kembali menuju ndalem sepuh dalam keheningan yang mencekam. Di ujung lorong, Gus Arsalan tampak berdiri bersedekap dada, mengawasi kedatangan mereka dengan sorot mata yang penuh dengan ketegangan. Sandiwara besar Al-Anwar baru saja memasuki babak paling krusial, di mana masa lalu dan masa kini berada di bawah satu atap yang sama, menguji sejauh mana Humaira bisa bertahan dalam balutan luka yang kian menganga.

1
Nita Kurniawati
kalo unt bahasake diri sendiri lebih tepat boten purun Thor, boten kersa itu unt yg lebih tua 😊
Hatnah Batulicin
preeett,ujung ujungnya cerita nya sihumaira luluh..mau maafin suaminya..semua cerita sama aja 😏
falea sezi
😒 ngapain lu ngemis maaf bukannya cerai bagus lu bisa. kejar tuh pacar lu🤣 anak kiyai g ada adab🤣🤣🤣 sprtnya cerai aja deh Thor najis amat laki munafik jahat😓
falea sezi
lanjut buat cerai thor
falea sezi
moga aja cerai😒 dan ma Reyhan aja biar gigit jari si sialan🤣 sebel liat dia tuh istri yda minta cerai kabulin dan susul belahan hatimu di london🤣 tinggal nunggu emak lu kena serangan jantung aja
falea sezi
cerai aja ning😒 percuma suami g bs move on 😒
Anonim
AGUS AGUS AGUS AGUS
Anonim
GUS GUS ?? AGUS AWOKAWOK AGUS AWOKAWOK
Ariani Sa
Lumayan
Ariani Sa
Luar biasa
Sarinah Quinn
di tunggu lanjutannya yah thor 🙏
Sarinah Quinn
di tunggu lanjutannya thor 🙏🙏
Keysa_Bom
maksudnya gini ya Allah 😭😭 Gus halal di hadapan mua😭 ih gemes aku😭
Keysa_Bom
Zulfa aku padamu 🤣
Keysa_Bom
rasanya sakit 😭 Humairah semangat 💪
Keysa_Bom
Gus..Guss.. awas bucin lo😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!