"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat
Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.
Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.
Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.
Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11. Hutan kosong dan makhluk tanpa nama
Pagi-pagi sekali, kami sudah bersiap di gerbang istana. Kali ini persiapan dilakukan dengan lebih matang. Kami membawa bekal yang cukup, perlengkapan perjalanan, dan tentunya keberanian yang jauh lebih besar.
Semangat Zarek pagi ini terlihat sangat berbeda dari biasanya. Ia mengenakan baju zirah yang paling mengkilap, rambutnya disisir rapi, dan ia membawa bekal makanan tambahan… katanya, “untuk berjaga-jaga jika bertemu makhluk yang membutuhkan makan.” Padahal jelas-jelas bekal itu dibuatkan oleh Sari kemarin sore.
“Kelihatannya kau sangat senang sekali, Zarek,” ledek Leon saat melihat Zarek tersenyum-senyum sendiri memandangi bungkusan makanan itu.
“Eh… tidak kok!” jawabnya buru-buru dengan wajah yang memerah. “Aku hanya… bersiap siaga saja! Seorang ksatria harus siap menghadapi segala kemungkinan!”
Di sisi lain, Liora datang berjalan dengan anggun. Ia mengenakan gaun yang lebih sederhana namun tetap terlihat indah, rambutnya dikepang rapi di samping, dan di lehernya tergantung sebuah kalung kecil yang berkilauan. kalung yang diberikan Leon kemarin malam sebagai tanda terima kasih. Saat pandangan mata mereka bertemu, ia tersenyum malu-malu, membuat jantung Leon kembali berdebar kencang tak karuan.
Valgus sudah siap sejak paling awal, berdiri tegak di bagian depan dengan jubahnya yang berkibar tertiup angin pagi. “Kalian bergerak sangat lambat. Hutan Kosong tidak sabar menunggu kedatangan kita. Tempat itu sangat aneh, Leon. Karena kau tidak pernah menuliskan apa pun di sana, tempat itu justru mengisi kekosongannya sendiri dengan hal-hal yang… tidak biasa.”
Perjalanan menuju arah barat terasa cukup jauh. Kami melewati Hutan Tulisan yang kini sudah tertata rapi, menyusuri Sungai Tinta yang airnya jernih dan layak diminum, serta melintasi bukit yang dulu hanya berupa coretan kasar namun kini telah berubah menjadi hamparan padang bunga yang indah.
Semakin dekat dengan tujuan, pemandangan di sekitar pun berubah drastis. Tanah yang tadinya hijau subur berubah menjadi tanah berwarna abu-abu kusam. Pohon-pohonnya tumbuh tinggi dan lurus, namun tidak berdaun hanya batang serta ranting kering yang menjulang ke atas layaknya jari-jari raksasa. Langit di atas sana tampak pucat, tanpa awan, dan sinar matahari pun terlihat samar. Suasananya sangat sunyi, tidak terdengar suara burung maupun serangga. Keheningan yang terasa mencekam dan membuat bulu kuduk meremang.
“Inilah dia…” bisik Leon. “Hutan Kosong. Tempat yang aku lupakan untuk diisi dengan tulisan apa pun.”
“Sungguh menakutkan…” gumam Zarek sambil menggenggam erat gagang pedangnya, menghilangkan sama sekali sikap cerianya tadi. “Rasanya seolah… ada yang mengawasi kita dari segala arah.”
Liora mengangguk pelan, lalu telapak tangannya memancarkan cahaya lembut sebagai penerangan. “Energi di sini terasa hampa, Leon. Sangat hampa. Namun kekosongan ini terasa berat. Seolah ada ribuan pertanyaan yang tidak memiliki jawaban.”
Kami mulai melangkah masuk dengan hati-hati. Tanah di bawah kaki terasa kering dan berdebu. Di sela-sela batang pohon kering, mulai terlihat bayangan-bayangan samar. Bentuknya menyerupai manusia, namun tampak tembus pandang dan tidak jelas wujudnya. Mereka bergerak perlahan, melayang di udara, dan suara bisikan halus mulai terdengar dari segala penjuru.
“Siapakah kami…?”
“Apakah kami benar-benar ada…?”
“Mengapa kami tidak memiliki nama…?”
“Mengapa kami tidak memiliki cerita…?”
Suara-suara itu membuat kepala terasa pening. Itulah makhluk-makhluk yang terbentuk dengan sendirinya dari kekosongan, karena tempat ini membutuhkan penghuni — namun Leon tidak pernah memberikan mereka wujud, nama, maupun sifat. Mereka ada, namun tidak memiliki arti. Mereka hidup, namun tidak bernyawa.
Tiba-tiba puluhan bayangan itu bergerak cepat mendekat dan mengepung kami. Suara bisikan mereka semakin keras dan terdengar panik.
“Berikan kami nama! Berikan kami wujud! Berikan kami cerita!”
Zarek segera mencabut pedangnya. “MINGGIR! JANGAN MENDEKAT!” Namun saat pedang itu diayunkan, ia justru menembus tubuh bayangan tersebut tanpa memberikan dampak apa pun. Bayangan itu bagaikan asap yang tidak bisa dipotong maupun dikalahkan dengan senjata biasa.
Liora memancarkan cahaya yang lebih terang, membuat bayangan-bayangan itu mundur sedikit sambil merintih kesakitan. “Mereka tidak bermaksud menyakiti, Leon! Mereka hanya merasa bingung! Mereka ada, namun tidak memahami makna keberadaan mereka!”
Valgus melangkah maju selangkah, aura abu-abunya memancar luas hingga membuat tanah di sekitarnya bergetar. Matanya menyala tajam. “Ini berbahaya, Leon. Jika dibiarkan, kekosongan ini akan menyerap seluruh energi kita, bahkan ingatan kita, hingga kita pun menjadi hampa seperti mereka. Kau harus memberikan mereka sesuatu. Sekarang juga.”
Leon berdiri tegak di tengah lingkaran bayangan yang semakin banyak jumlahnya. Ia mendengar keluh kesah, kesepian, dan perasaan tidak berharga yang terpancar dari mereka. Ia merasa sangat bersalah. Ia tidak hanya lupa menuliskan tempat ini, namun secara tidak sadar telah membiarkan makhluk-makhluk ini menderita sendirian selama bertahun-tahun dalam ketidaktahuan dan kegelapan.
Leon membuka buku catatannya, namun kali ini ia tidak hanya bermaksud memberikan nama atau wujud semata. Ia ingin memberikan mereka sebuah tujuan yang mulia.
“DIAM SEMUA!” teriaknya dengan lantang, suaranya memecah kebisingan bisikan tersebut. “DENGARKANLAH AKU DENGAN BAIK!”
Semua bayangan berhenti bergerak, terdiam, dan menatap ke arah Leon.
“KALIAN ADA! KALIAN NYATA! KALIAN BUKAN SEKADAR KEKOSONGAN!” ucap Leon dengan tegas dan penuh keyakinan. “KALIAN ADALAH PENJAGA INGATAN YANG TERLUPAKAN. TUGAS KALIAN ADALAH MENYIMPAN SELURUH KISAH, NAMA, DAN CERITA YANG PERNAH ADA NAMUN TERLUPAKAN OLEH SESAMA MAKHLUK HIDUP. KALIAN ADALAH PERPUSTAKAAN HIDUP DI DUNIA INI! KALIAN SANGAT PENTING! KALIAN BERHARGA! DAN MULAI SAAT INI, NAMA KALIAN ADALAH SILUET!”
Begitu kata-kata itu terucap, cahaya lembut memancar dari halaman buku tersebut dan menyebar ke seluruh penjuru hutan. Batang-batang pohon yang tadinya kering tiba-tiba tumbuh daun-daun kecil berwarna keperakan yang berkilauan. Langit yang pucat pun berubah menjadi langit malam yang indah, dipenuhi kerlap-kerlip bintang. Dan bayangan-bayangan itu… perlahan berubah wujud.
Kini bentuk mereka menjadi jelas. Tubuh mereka berwarna abu-abu yang tampak anggun, mengenakan pakaian sederhana namun rapi, dan di dada masing-masing terdapat lambang buku terbuka yang bersinar terang. Wajah mereka tampak tenang, damai, dan dipenuhi rasa syukur.
Salah satu di antara mereka yang paling tinggi dan memancarkan cahaya paling terang melangkah maju. Ia menundukkan kepala sebagai tanda hormat yang dalam.
“Terima kasih… Sang Penulis… Terima kasih telah mengingat kami. Akhirnya kami memahami siapa diri kami. Akhirnya kami mengetahui tugas kami. Kami adalah Siluet, Penjaga Ingatan. Kami akan menyimpan setiap cerita dengan sebaik-baiknya selamanya.”
Hutan Kosong yang tadinya terlihat menakutkan dan mati, kini berubah menjadi salah satu tempat terindah dan paling damai yang pernah ada. Pohon-pohon berdaun perak, langit yang bertabur bintang, serta makhluk-makhluk bijaksana yang tersenyum ramah menyambut kehadiran kami.
Kami semua menghela napas panjang dengan perasaan lega. Sekali lagi, masalah yang berat dapat diselesaikan dengan memberikan mereka jati diri dan tujuan hidup.
Malam itu kami bermalam di sana, di antara pohon-pohon perak yang indah. Para Siluet menyambut kami dengan hangat dan menceritakan berbagai kisah yang telah mereka simpan — termasuk beberapa tulisan lama Leon yang bahkan sudah ia lupakan sendiri.
Di malam yang diterangi cahaya bintang yang begitu indah, Liora dan Leon duduk berdampingan di atas akar pohon yang besar.
“Leon…” panggil Liora pelan sambil menyandarkan kepalanya di bahu Leon. “Tahukah kau? Setiap kali kau memberikan mereka nama, sifat, atau tujuan… rasanya seolah kau telah memberikan mereka nyawa. Kau sungguh luar biasa, Leon. Dan aku semakin… semakin menyayangimu.”
Leon menahan napas sejenak, jantungnya terasa berdebar sangat kencang karena rasa bahagia yang meluap. Ia merangkul bahu Liora dengan lembut, dan wanita itu tidak menolak justru mendekatkan dirinya lebih erat.
“Aku juga menyayangimu, Liora…” jawabnya dengan tulus. “Dulu aku hanya menuliskanmu sebagai tokoh wanita yang baik dan cantik. Namun kini… kaulah hal terindah yang pernah ada di dunia ini, bahkan lebih indah daripada apa pun yang pernah aku tuliskan.”
Liora menoleh dan menatap mata Leon dalam-dalam. Di bawah cahaya bintang dan kilauan daun perak, wajahnya tampak bersinar dengan keindahan yang menakjubkan.
“Leon… maukah kau… menjadi pendamping hidupku? Di dunia ini, selamanya?” tanyanya pelan namun jelas.
Leon tersenyum lebar hingga matanya sedikit berkaca-kaca. Ia menggenggam kedua tangan Liora dengan erat.
“Mau… aku sangat mau, Liora. Lebih dari apa pun.” jawabnya, sejenak lupa bahwa dirinya sebenarnya berasal dari dunia yang berbeda.
Malam itu, di tempat yang dulunya bernama Hutan Kosong namun kini telah berubah menjadi tempat yang penuh keajaiban, keduanya saling mengikat janji hati. Dari kejauhan, Zarek yang melihat kejadian itu berteriak kegirangan, “ASYIK! AKHIRNYA BERSATU JUGA! NANTI PESTANYA AKU YANG MENGATUR SEMUANYA!” Sementara Valgus hanya tersenyum puas, seolah ia sudah mengetahui bahwa hal ini akan terjadi sejak awal.
Namun perjalanan kami belum berakhir. Masih banyak tempat, banyak orang, dan banyak hal yang harus diselesaikan. Namun kini kami memiliki alasan yang jauh lebih kuat untuk terus melangkah: kami saling memiliki satu sama lain.
Dan cerita ini… semakin lama semakin menjadi semakin indah.