Aku pikir tidak akan pernah jatuh cinta lagi setelah dikhianati oleh orang yang paling kupercaya. Namun kehadiran Juvan, seorang siswa SMA yang sederhana dan selalu memperlakukanku dengan tulus, perlahan mengubah semuanya. Di saat aku berusaha menganggapnya hanya sebagai adik, dia justru membuat hatiku berdebar dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, aku takut mengakui bahwa aku mulai jatuh cinta pada berondong SMA. 🤍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuni93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman
Di rumah juvan,sesampainya di depan pintu rumah,juvan menarik napas dalam sebelum memutar gagang pintu. Begitu juvan melangkah masuk, Ayah dan Bundanya yang sedang duduk di ruang tamu serentak menoleh. Mata mereka membelalak lebar, seolah tak percaya melihat sosok anak laki-laki mereka yang biasanya sederhana kini berdiri tegap dengan penampilan yang berbeda.
"Juvan?" seru Bundanya bangkit dari kursi, mendekat sambil menatap juvan dari ujung kepala hingga kaki dengan takjub.
"Astaga, kamu benar-benar tampan sekali. Bunda hampir tidak mengenalimu!"
"ini ada apa kok tiba-tiba kamu berubah gini, hmmm apa jangan-jangan kamu naksir sama salah satu perempuan di sekolah ya.makanya kamu berinisiatif buat mengubah penampilan begini" ucap ayah juvan
Wajah juvan memerah mendengar kata-kata itu, namun hatinya terasa hangat dan senang.
"Eeh gk kok yah aku begini cuma iseng-iseng aja pengen ubah penampilan" ucap juvan sambil tersenyum.
Setelah itu juvan pun minta izin ke pada ayah dan bundanya kalau minggu depan jm 7:00malam dia akan pergi menghadiri acara ulang tahun temannya. Ayah dan bunda nya pun mengangguk setuju.
Hari yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba. Langit tampak gelap pekat, namun cahaya lampu kota dan kemeriahan pesta seolah menyaingi terangnya siang hari. Di depan toko kue miliknya yang sudah tutup, Yena berdiri menunggu dengan jantung yang berdebar tak beraturan. Ia mengenakan gaun malam berwarna hitam elegan yang membalut tubuhnya sempurna, memberikan kesan anggun namun memikat.
Tak lama, sosok jangkung muncul di ujung jalan. Juvan datang dengan penampilan memukau—kemeja putih yang dikancing rapi hingga kerah dan jas hitam yang pas di badan, membuatnya tampak bagai putra mahkota yang turun dari istana.
"Maaf membuatmu menunggu, Kak Yena," sapa Juvan lembut, matanya bersinar memandang gadis di hadapannya.
"Help me, rasanya aku mau pingsan, brondong ini kok dia ganteng banget ya" yena membatin dengan perasaan yang tak karuan.
Yena tersenyum lebar, lalu menunjuk sebuah mobil sedan sport berwarna merah menyala yang terparkir di sampingnya.
"Malam ini kita pakai ini. Mobil Papa. Kita buat seolah-olah ini milikmu, ya? Biar tidak ada yang meremehkan kita.
"Kamu bisa nyetir mobil kan? "
Juvan mengangguk . "Siap. Aku bisa menyetir kok."
"Satu lagi nanti di pesta kamu pura-pura jadi pacar aku ya"
Juvan agak kaget mendengar permintaan yena.tapi dia hanya menurut saja apa yang yena perintahkan.
Lalu Pemuda itu melangkah tegap ke kursi pengemudi. Yena masuk ke sampingnya. Mesin pun menyala, membelah jalanan menuju lokasi pesta dengan penuh percaya diri.
Sesampainya di depan gedung pesta yang mewah dan berkilauan, Juvan memutar setir dengan lincah, lalu memarkirkan mobil merah itu tepat di area yang paling terlihat. Suara mesin menderu halus sebelum akhirnya mati. Saat keduanya turun dan melangkah masuk ke dalam aula, suasana riuh seketika mereda. Semua mata tertuju pada mereka.
Pasangan itu tampak begitu serasi, memancarkan aura kemewahan dan pesona yang sulit dipalingkan. Juvan berdiri tegak di samping Yena, menatap tajam namun sopan, membuat siapa pun yang melihatnya terpukau. Tak ada satu pun di antara para tamu yang menyangka bahwa pemuda gagah dan berwibawa itu baru menginjak usia tujuh belas tahun.
"Anjir itu si yena sama sama siapa ganteng banget lagi" ucap zara yang tak percaya melihat yena mengandeng pria tampan.
"Apa itu pacar barunya yena, tapi kok yena gk pernah cerita ya" ucap vivien.
Di sudut ruangan, ada arga dan fira yang sedang duduk terpaku dengan gelas sampanye di tangannya. Mata arga membelalak tak percaya. Ia menelan ludah dengan susah payah, dadanya terasa sesak melihat Yena yang kini tampak begitu bersinar di samping sosok laki-laki yang jauh lebih tampan dan berkarisma darinya. Rasa cemburu dan penyesalan mulai merayap masuk ke dalam hati Arga.
"Yena siapa yang bersama yena, pacar barunya.tapi gk mungkin secepat itu dia mendapat pengganti arga"fira membatin.
Zara dan vivien mendekat ke arah yena lalu mereka berbisik.
"Yena itu cowok siapanya elo, pacar baru ya"tanya vivien
"Ahhh apa jangan-jangan kamu bayar dia malam ini buat jadi pacar bohongan biar kamu bisa manas-manasin arga"
"Ceritanya panjang nanti kapan-kapan aja aku ceritain ya" jawab yena.
Pesta berlanjut dengan penuh tawa dan obrolan ringan. Hingga akhirnya ardo mengusulkan permainan seru untuk memecah kebekuan: Spin The Bottle. Para tamu pun setuju yena yang tadinya enggan namun di paksa oleh zara agar ikut bermain bahkan arga dan fira pun ikut di permainan itu
Para pemain berkerumun melingkar, semangat menyelimuti wajah mereka.
Zara yang duduk di dekat pusat lingkaran mengambil alih giliran. Dengan senyum jahil dan penuh semangat, ia memutar botol kaca itu. Botol itu berputar cepat, melambungkan harapan dan ketegangan di antara penonton. Perlahan putarannya melambat... melambat... hingga akhirnya bibir botol itu berhenti menunjuk tepat ke arah Yena.
"Yena! Yena!" sorak para tamu serempak.
Zara tertawa riang. "Aturannya sudah jelas! Siapa yang ditunjuk botol, harus saling berciuman dengan pasangannya!"
Jelas saja yena sangat shok dirinya sangat menyesali kenapa ia harus ikut dalam permainan bodoh ini,detak jantungnya berdegup kencang seperti sedang di kejar hantu. Begitu juga dengan juvan dia benar-benar tak menyangka akan terjebak di permainan ini.
Suasana menjadi hening sejenak, semua mata tertuju pada Yena dan Juvan. Wajah Yena memerah padam, napasnya tertahan. Ia menoleh ke arah Juvan. Di sana, pemuda itu menatapnya dalam-dalam, sorot matanya yang tadi tenang kini berubah memanas, Tanpa ragu sedikit pun, yena mendekatkan wajahnya perlahan, memberikan ruang bagi juvan untuk menolak jika ingin. Namun juvan diam terpaku, tubuhnya mendekat secara otomatis.
Saat bibir mereka bersentuhan, dunia di sekitar mereka seolah lenyap. Ciuman itu bermula lembut dan ragu, namun seketika berubah memanas, penuh dengan ketegangan yang terpendam sejak lama. Jemarinya yang hangat mengusap lembut pipi Yena, memperdalam ciuman itu dengan penuh perasaan. Hening. Hanya suara detak jantung yang berpacu liar terdengar di telinga mereka. Bahkan di tengah keramaian, mereka berdua merasa seolah hanya ada mereka berdua di ruangan itu, tenggelam dalam kehangatan yang tiba-tiba meledak di antara mereka.
Ciuman itu perlahan terlepas, menyisakan keheningan yang mendebarkan di antara mereka dan tepuk tangan gemuruh para tamu yang menyaksikan. Napas Juvan sedikit memburu, pipinya memerah bukan karena rasa malu, melainkan karena gejolak hebat yang baru saja ia rasakan.
Yena menatapnya lekat-lekat, lalu dengan gerakan yang sangat lembut dan penuh keakraban, jari telunjuknya terangkat menyentuh sudut bibir Juvan. Perlahan ia mengusap bekas lipstik yang sedikit menempel di sana, membersihkannya dengan tatapan yang tulus dan hangat. Gestur itu begitu manis, seolah tak ada orang lain di dunia ini selain mereka berdua.
Namun, di depan mereka berdua, ada arga yang menyaksikan itu.pemandangan itu bagaikan duri tajam yang merobek mata Arga. Genggaman tangannya mengerat hingga buku jarinya memutih. Pembuluh nadinya di pelipis berdenyut kencang, api cemburu melalap seluruh isi dadanya yang sempit.
Hatinya mendidih menyaksikan kelembutan yang diberikan Yena pada pemuda asing itu. Rasa sesak dan penyesalan yang membara membuatnya ingin melangkah maju dan merobek jarak di antara mereka. Bagaimana bisa Yena terlihat begitu bahagia dan dekat dengan orang lain? Bagaimana bisa ia digantikan begitu cepat? Tatapan Arga begitu tajam dan mengancam, memancarkan amarah yang siap meledak kapan saja.