Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.
Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.
Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.
Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Hampir Saja
“Uang dariku akan cukup! Kau bisa membuka usaha setelah operasi virginity!” gertak Bagas, dingin. “Aku beri waktu berpikir satu jam. Kalau kau setuju, aku akan kirim uang, tapi kau harus tanda tangan surat perjanjian.”
“Perjanjian untuk apa?”
“Jangan menghubungiku setelah itu. Aku tak mau melihat mukamu lagi.”
Sambungan diputus Bagas sepihak. Pemuda kaya itu kembali memeriksa laporan keuangan di layar monitor, mencari celah agar bisa memberi nominal yang layak untuk Mawar demi menutupi drama malam dewasa tersebut selamanya tanpa merusak reputasi keluarga Utama.
---
“Bagaimana?” Turi langsung menghampiri begitu Mawar meletakkan ponselnya di atas meja. Matanya yang matre berkilat penuh harap, seakan tumpukan uang kertas sudah melayang di depan matanya dalam drama pemerasan ini.
“Bagas minta ada surat perjanjian. Sebagai syarat memberikan uangnya.” Mawar menyahut ketus, wajahnya kusut menahan kejengkelan yang mendalam.
“Lalu?”
“Lalu apanya?!” Mawar membentak, hampir menangis. Ia menggebrak meja makan kayu di depannya dengan emosi yang impulsif. “Dia memberi waktu satu jam. Supaya aku bisa berpikir.”
“Kamu i-yakan saja. Asal nominalnya sesuai.” Turi mengibaskan tangan, wajahnya tampak gelisah ketika ia merapatkan duduknya ke arah sang putri. “Herwanto habis menghubungi Ibu. Dia mau kamu jadi istrinya kalau kita nggak balikin utang seratus juta itu.”
“Kampret!” umpat Mawar geram. Langkahnya terhenti, ia menatap ibunya dengan tatapan murka sekaligus dramatis. “Aku kira setelah dia mengambil mahkotaku, aku bisa bebas. Ternyata dia malah ketagihan tubuhku! Mana utangnya masih seratus lagi. Jadi kemarin itu, aku hanya dihargai lima puluh juta?”
“Sebenarnya ….” Turi memainkan ujung bajunya dengan gugup, takut kemarahan impulsif putrinya meledak lebih hebat. “Bukan seratus lima puluh. Tapi dua ratus.”
“Apa?” Mawar terhenyak. Sampai berkacak pinggang di hadapan ibunya yang tertunduk. “Dua ratus juta buat apa, Bu?” tanyanya kesal. “Bapak utang kan cuma seratus juta. Masa iya bunganya sampai seratus juta?”
“Itu juga buat uang wisudamu.”
“Wisuda? Sampai lima puluh juta?” Mawar mendengkus geram. Ia tertawa sinis, tidak percaya dengan intrik kebohongan ibunya sendiri. “Nggak masuk akal!”
“Sama makan juga. Bapakmu mati nggak ninggal warisan tahu.” Turi masih berkelit, mencoba membela diri dengan membawa nama mendiang suaminya demi memancing empati.
“Arkh!” Mawar mengacak surai rambutnya frustrasi. “Kalau begini, aku terpaksa meminta lebih. Aku mau tiga miliar.”
“Bagus!” Turi berseru girang, menepuk tangannya dengan senyum lebar penuh kelicikan. “Cepat hubungi pemuda kaya itu. Ibu sudah nggak sabar ... mau megang duit miliaran.”
Mawar bersungut. Mengacuhkan sang ibu yang sudah buta oleh harta. Ia memilih kembali menghubungi Bagas dengan tangan gemetar.
“Halo, Bagas. Aku setuju. Kapan kita ketemu?” tanya Mawar sesaat setelah sambungan terhubung.
“Besok pagi di kantor Ayah,” jawab Bagas dari seberang telepon dengan nada dingin tapi penuh wibawa.
“Bagaimana kalau ketemu di kafe luar?” tawar Mawar, menghindari area kantor yang penuh risiko.
“Baik. Kirimkan alamatnya. Aku dan pengacaraku besok akan menemuimu.”
Sambungan diputus sepihak oleh Bagas, meninggalkan nada statis yang dingin.
Mawar segera mengetikkan pesan alamat kafe di layar gawainya. “Selesai.” Ia kembali meletakkan gawainya di atas meja.
Baru akan merebahkan tubuh. Kepalanya mendadak berdenyut hebat. “Aduh,” pekiknya, memegangi pelipisnya yang mendadak pening.
“Kamu kenapa?” Turi menatap khawatir, tapi lebih cemas jika kesehatan anaknya mengacaukan rencana miliaran rupiah besok pagi.
“Entah, kepalaku mendadak pusing. Dan … perutku seperti kembung.” Tertatih Mawar melangkah, dadanya bergejolak seperti ada rasa mual yang mendesak naik ke tenggorokan. “Aku mau istirahat,” ucapnya, sambil memegang perutnya yang mendadak terasa aneh.
Masuk ke dalam kamar, Mawar langsung mengempaskan tubuhnya ke kasur dan meringkuk menahan gejolak aneh di perutnya. Dilingkupi rasa cemas yang teramat. Jikalau ada sesuatu di dalam rahimnya.
---
Pulang kantor. Saat hari mendekati gelap. Mawar bersiap. Ke kafe 'Gabee', demi memenuhi janji temu dengan Bagas. Ia mematut diri di cermin wastafel, memulas lipstik merah menyala untuk menyembunyikan wajah pucatnya yang dilingkupi intrik pemerasan miliaran rupiah.
Ia mengambil duduk dekat jendela. Supaya kalau Bagas datang. Mawar langsung bisa memberi kode. Jari-jemarinya yang impulsif terus mengetuk-ngetuk permukaan meja kaca, berkejaran dengan detak jantungnya yang kian bergemuruh.
Hampir satu jam menunggu. Orang yang ditunggu datang. Tidak sendiri. Bagas datang dengan pria yang tak kalah tampan. “Pasti itu pengacaranya,” tebak Mawar, tersenyum penuh arti. “Lumayan ganteng juga.” Rasa cemasnya sedikit teralihkan oleh pesona romansa yang semu.
Melihat Bagas celingukan kebingungan di antara hilir mudik pengunjung. Mawar sigap mengambil ponsel. Menelepon, memberi tahu posisinya. “Aku di pojok dekat jendela kaca, Bagas,” ucapnya setengah berbisik begitu panggilan terhubung.
Bagas langsung bergegas. Menuju tempat Mawar. Tanpa menyapa, ia langsung mengambil tempat duduk. Berhadapan. Sorot matanya dingin, memancarkan aura dewasa yang teramat dominan dan tidak tersentuh.
“Aku nggak mau buang waktu,” tukas Bagas, mantap. Ia memperbaiki posisi duduknya dengan angkuh. “Ini pengacaraku, Lucio. Dan ini berkas untuk kau tandatangani.” Sambil melempar berkas ke hadapan Mawar hingga menimbulkan suara debukan pelan.
Mawar menghela napas dalam. Membuka berkas itu dengan jemari gemetar. Matanya membulat begitu melihat nominal yang tertera di atas meterai. “Kok cuma satu miliar?” protesnya, menatap Bagas tak percaya.
“Itu sudah banyak. Operasi virginity hanya tiga puluh juta di sini, nggak perlu ke luar negeri. Sisanya itu pesangonmu selama bekerja di kantor Ayah. Harusnya kamu hanya terima seratus juta. Tapi aku memberi lebih,” jelas Bagas dengan nada meremehkan.
“Aku mau tiga miliar!” gertak Mawar, mencoba mempertahankan intrik liciknya.
“Tiga miliar? Kau memerasku?” Bagas sampai menggebrak meja, membuat cangkir kopi di atasnya berdenting keras. Lucio, sang pengacara, hanya menatap mereka dengan ekspresi datar yang profesional.
“Ini harga wajar. Ingat, nama baik keluargamu dipertaruhkan.” Mawar dengan suara gemetar, memberanikan diri bicara sama keras.
Namun, saat matanya menangkap sosok pria gemuk tua yang baru saja melangkah masuk menembus pintu kafe, nyalinya seketika menciut. “Tidak.”
Tubuh Mawar langsung gemetar hebat. Wajahnya seketika pias bagai mayat. “Kenapa dia ada di sini?” bisiknya dengan napas yang mendadak sesak.
“Kau kenapa?” Bagas yang tidak paham, mengernyit bingung. Apalagi saat Mawar tiba-tiba mengambil masker dari dalam tasnya dan menutup wajah dengan masker tersebut secara terburu-buru.
“Hei, kau kenapa?” ulang Bagas dengan suara meninggi, curiga ada intrik lain yang sedang dimainkan wanita impulsif di depannya.
“Ada pria jahat, teman Melati, sepupuku,” jawab Mawar sekenanya. Tanpa menyadari perubahan ekspresi Bagas yang langsung menegang mendengar nama Melati, karena fokusnya terus ke sosok juragan Herwanto yang mulai memesan minuman di bar. “Kita bicara di tempat lain saja, bagaimana?”
Tangannya mencengkeram lengan Bagas dengan sangat erat. “Aku takut.”
Meski bingung mendengar nama Melati disebut, Bagas mengangguk. “Baiklah. Ikut ke mobilku.”
Mawar sambil mencengkeram lengan Bagas kuat, setengah menyeret tubuh pria itu. Berjalan menghindari temu muka dengan Herwanto. Menggiring sang pemuda kaya, ke pintu lain. Mereka menyelinap melalui pintu keluar darurat di bagian samping kafe, meninggalkan Lucio yang terpaksa merapikan berkas-berkas di atas meja sendirian di tengah kecurigaan yang kian meruncing.