Dibuang dan dibiarkan mati di kegelapan Alas Purwo, Satria Pamungkas justru membangkitkan "Sistem Penguasa Jagat". Di dunia Nusantara Kuno yang kejam, kesaktian adalah segalanya. Satria tidak peduli pada moralitas; ia menghancurkan musuh hingga ke akar-akarnya dan melipatgandakan energinya setiap kali menaklukkan wanita-wanita paling berpengaruh di jagat raya. Dari seorang buangan, sang anti-hero bangkit menembus ranah dewa, membangun imperium harem tak terbatas, dan memaksa seluruh Dwipantara bertekuk lutut!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIOR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Angin Daratan Tengah dan Rencana Besar di Ambang Badai
Fajar menyingsing di atmosfer utara, mengusir sisa-sisa kegelapan yang sempat menyelimuti Samudra Selatan selama berhari-hari.
Gelombang udara laut yang semula berwarna hijau pekat dan dipenuhi hawa kematian kini telah kembali menjadi biru bersih, bergulung tenang menghantam lambung kapal perang bertiang tiga milik Satria Pamungkas.
Kapal tersebut melaju dengan kecepatan konstan, membelah buih-buih putih samudra menuju garis pantai tengah Dwipantara yang perlahan mulai menampakkan siluetnya di balik kabut pagi.
Satria Pamungkas duduk bersila di anjungan depan geladak, membiarkan angin laut yang membawa aroma tanah basah menerpa jubah hitamnya.
Topi caping bambunya diletakkan di samping lutut, menampilkan wajah tampannya yang kini memancarkan aura ketenangan yang amat dalam—sebuah ketenangan yang hanya dimiliki oleh mereka yang telah mencapai puncak kekuatan piramida.
Di dalam ruang kesadarannya, muncul mata emas murninya yang sedang mengamati barisan angka dan informasi yang terus berkedip di layar batin sistem.
[Bip! Membuka Dasbor Status Inang:]
Nama: Satria Pamungkas
Ranah Cermin: Ranah Raja Tahap 1 (Sempurna)
Senjata Utama : Pedang Bintang Delapan Kosmik Kedewaan (Tingkat Ghaib Puncak)
Teknik Gerakan: Kitab Langkah Bayang Angkasa (Ranah Raja)
Fisik Tubuh: Tubuh Fisik Sisik Naga (Tahap Lanjutan)
Sistem Saldo Poin: 642.500 Poin
Melihat angka saldo poin yang telah melampaui setengah juta, seulas senyum tipis yang sarat akan kalkulasi dingin terukir di sudut bibir Satria.
Kekayaan poin sebesar ini adalah hasil dari kematian berdarah yang ia lakukan terhadap Faksi Laut Selatan dan dewa pelindung palung purba. Ia tahu bahwa poin-poin ini tidak boleh dibiarkan mengendap begitu saja; mereka harus segera mengkonversi kekuatan menjadi nyata sebelum kakinya menginjak tanah yang dipenuhi oleh harimau dan naga tersembunyi.
"Sistem, buka Toko Kategori 4 secara penuh. Aku membutuhkan peningkatan pada fisik tubuhku untuk mengimbangi kapasitas Prana Ranah Raja-ku yang melonjak, serta teknik pertahanan skala luas," perintah Satria dalam pikirannya.
[Bip! Membuka Toko Kategori 4 - Sub-Kategori Warisan Fisik & Pertahanan Mutlak:]
Esensi Sumsum Tulang Dewa Warak – Harga: 75.000 Poin. (Meningkatkan Tubuh Fisik Sisik Naga menjadi Tubuh Abadi Zirah Naga Langit , memberikan kekebalan total terhadap racun tingkat surga dan mereduksi 40% serangan Ranah Raja).
Kitab Formasi Sembilan Penjuru Kedewaan (Teknik Pertahanan Skala Besar) – Harga: 120.000 Poin. (Memungkinkan Inang membangun kubah pelindung ghaib berdiameter 1 kilometer yang mampu menahan gempuran serentak dari lima pendekar Ranah Raja Tahap 2).
Pil Pemurni Inti Jiwa Kosmik – Harga: 100.000 Poin. (Memperkuat kekuatan mental dan memperluas jangkauan indra spiritual hingga radius 50 kilometer).
Tanpa ragu sedikit pun, Satria langsung mengambil keputusan. "Beli Esensi Sumsum Tulang Dewa Warak dan Kitab Formasi Sembilan Penjuru Kedewaan. Potong poinnya sekarang."
[Bip! Memotong 195.000 Poin Sistem. Saldo Anda saat ini: 447.500 Poin.] [Memulai integrasi Esensi Sumsum Tulang Dewa Warak ke dalam Struktur Tulang Inang...]
BOOM!
Sebuah gelombang panas yang luar biasa pekat tiba-tiba meledak dari sumsum tulang belakang Satria.
Sensasinya seolah-olah ada cairan emas cair yang disuntikkan secara paksa ke dalam setiap sendi, tulang rusuk, hingga ke tengkoraknya.
Struktur sel tulangnya dihancurkan secara ghaib hingga menjadi partikel halus, lalu dibangun kembali dengan kerapatan molekul yang menyerupai baja suci kosmik.
Guratan-guratan sisik naga transparan di sekujur kulitnya mulai bergeser, menebal, dan memancarkan kilau warna keperakan yang samar namun mematikan.
Di saat yang sama, aliran informasi mengenai formasi ghaib sembilan di sekelilingnya membanjiri otaknya, melekat secara instan ke dalam memori sukmanya.
Satria menarik napas dalam-dalam, mengembuskan kepulan asap abu-abu tipis yang membawa kotoran sisa pemurnian tubuh fisiknya. Kini, tubuhnya terasa jauh lebih ringan namun dipenuhi daya tahan yang menakutkan.
[Bip! Evolusi Fisik Selesai! Selamat, Anda telah memiliki Tubuh Abadi Zirah Naga Langit !]
Satria membuka matanya, mengambil topi caping bambunya dan memakainya kembali. Pada saat itulah, langkah kaki yang teratur namun penuh rasa hormat terdengar mendekat dari belakang.
Dyah Sekar Ayu berjalan dengan kepala setengah menunduk, selendang sutra hijaunya berkibar pelan searah embusan angin daratan.
“Yang Mulia Raja,” ucap Sekar Ayu dengan suara yang merdu namun sarat akan ketundukan mutlak. "Kita akan memasuki wilayah perairan dangkal muara Sungai Brantas dalam waktu dua jam. Sesuai dengan perintah Anda, hamba telah mengirimkan burung ghaib pembawa pesan ke jaringan mata-mata rahasia Blambangan yang tersisa di daratan tengah. Mereka melaporkan situasi terkini di ibu kota Kerajaan Kediri."
Satria berdiri dari posisi bersila, membungkukkan badannya untuk menatap sang putri. “Katakan, apa yang sedang dilakukan oleh tikus-tikus daratan itu?”
"Pertemuan besar sedang berlangsung di istana dalam Kediri, Yang Mulia," jawab Sekar Ayu dengan kilatan dingin di matanya. "Kematian Adipati Bhre Wirabhumi di Blambangan telah menyebarkan kepanikan massal. Patih Gajah Sarkara kini memimpin faksi militer untuk menggerakkan tiga puluh ribu pasukan gajah dan lima ratus melibatkan Ranah Satria ke perbatasan timur. Yang lebih krusial, utusan dari Kerajaan Singasari kabarnya telah tiba di Kediri untuk membahas pakta pertahanan bersama."
"Aliansi antara dua kerajaan terbesar..." Satria memancarkan sinis, sepasang mata emasnya mencerminkan refleksi yang mendalam. "Mereka mengira dengan menggabungkan dua tumpukan jerami, mereka bisa menahan kobaran api kosmik-ku? Sungguh penaifan yang menggelikan."
Satria langsung menganalisis situasi ini. Jika Kediri dan Singasari berhasil menyatukan kekuatan spiritual mereka, jumlah pendekar Ranah Senopati yang mereka miliki bisa mencapai puluhan orang, dan bukan tidak mungkin ada leluhur tua mereka yang berada di Ranah Raja Tahap 2 atau 3 yang sedang melakukan konversi mati di dalam gua-gua suci istana.
Namun, alih-alih merasa terancam, Satria justru melihat ini sebagai ladang familiar paling subur yang pernah ada. Jika ia bisa memancing seluruh kekuatan inti dari kedua kerajaan tersebut ke satu medan pertempuran yang sama, ia bisa menyapu bersih mereka sekaligus, mengumpulkan jutaan poin sistem, dan membangun dominasi ghaibnya sendiri di atas puing-puing dinasti lama mereka dalam satu malam.
"Sekar Ayu, dokumen rahasia mengenai hubungan gelap Patih Gajah Sarkara dan Faksi Laut Selatan yang kau temukan... apakah isinya sudah kau salin?" tanya Satria datar.
"Sudah, Yang Mulia. Hamba telah membuat tiga salinan ghaib yang dilindungi oleh segel pembakar jiwa jika dibuka oleh orang yang salah," jawab Sekar Ayu sigap.
"Bagus. Sebarkan salinan tersebut ke pasar-pasar makmur, kedai para pendekar, dan gerbang-gerbang kadipaten bawahan Singasari di sepanjang perbatasan," perintah Satria dengan senyum kejam yang tersembunyi di balik bayang-bayang capingnya. "Singasari mengira mereka sedang membangun aliansi suci untuk menghadapi 'Iblis Blambangan', namun mereka tidak tahu bahwa calon sekutu mereka adalah dalang di balik tenggelamnya ratusan kapal dagang mereka selama puluhan tahun. Biarkan benih musuh ini tumbuh menjadi duri di dalam daging mereka terlebih dahulu."
Sekar Ayu terbelalak sesaat sebelum akhirnya kekaguman yang penuh kelicikan muncul di wajah cantiknya. "Rencana yang sangat agung, Yang Mulia. Dengan runtuhnya kepercayaan di antara mereka, persekutuan itu akan merebut kembali bahkan sebelum mereka sempat menarik pedang di medan laga."
"Aku tidak suka membuang energi untuk bertarung dengan musuh yang bersatu padu secara emosional. Membantai mereka saat mereka sedang saling berbincang dan menikam dari belakang... itu jauh lebih efisien dan memuaskan," ucap Satria dingin.
Ia melangkah menuju ujung haluan kapal, menatap garis pantai yang kini sudah terlihat jelas di depan mata. Beberapa kapal nelayan lokal mulai terlihat di kejauhan, terombang-ambing oleh ombak muara, sama sekali tidak menyadari bahwa kapal perang yang sedang mendekat ini membawa sesosok dewa kematian yang siap menulis ulang sejarah Dwipantara dengan tinta darah. Badai di lautan telah usai, namun badai yang sesungguhnya di daratan tengah baru saja dimulai.