Up setiap hari
Stella Odette Rosewood terbangun dengan reputasi hancur, dikelilingi teman toxic, dan adik tiri bermuka dua yang ingin merebut segalanya termasuk Neo Hayes Blake, CEO dingin incaran banyak orang.
Satu-satunya jalan keluar adalah "Vix", sistem berwujud rubah ekor sembilan cerewet yang memaksanya menjalankan berbagai misi demi bertahan hidup. Stella pun mengubah taktik: membuang orang-orang toxic, merombak penampilannya, dan sengaja mendekati Neo untuk menghancurkan rencana adik tirinya.
Awalnya, interaksi mereka canggung dan Neo terlihat tak peduli. Namun, di balik kelakuan absurd dan omelan Stella pada sesuatu yang tak kasatmata, Neo melihat sosok wanita cerdas yang mati-matian berjuang sendirian.
Saat bahaya sesungguhnya dari intrik keluarga mulai mengancam nyawa Stella, sang CEO mengambil langkah.
Pria dingin itu kini menjadi pelindung posesif yang tak segan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaRyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 10: Mata Obsidian
Waktu: 15:30 PM
Markas Besar Blake Group, London
"Tuan Blake."
Suara Liam memecah keheningan ruang rapat eksekutif. Pria berkacamata itu melangkah mendekati Neo yang sedang duduk di kursi kebesaran, mendengarkan presentasi dari para direkturnya dengan ekspresi mematikan.
Neo mengangkat sebelah tangannya, sebuah gestur sederhana yang langsung membuat direktur yang sedang berbicara menelan ludahnya dan diam seketika.
"Ada apa?" tanya Neo datar.
Liam menunduk sedikit, berbisik agar hanya atasannya yang bisa mendengar.
"Divisi intelijen kita menemukan anomali, Tuan. Seseorang baru saja meretas masuk ke server utama Rosewood Media menggunakan IP dinamis yang terlacak di area Soho. Pola peretasannya sangat kasar namun efektif. Dan yang lebih menarik..." Liam ragu sejenak.
"Kamera lalu lintas di perempatan Soho menangkap sosok wanita yang sangat mirip dengan Nona Rosewood memasuki sebuah toko elektronik tiga puluh menit yang lalu, membayar dengan uang tunai."
Mata hitam obsidian Neo yang sedari tadi terlihat bosan mendadak menajam.
Cengkeramannya pada pena mahal berlapis emas di tangannya mengerat.
Jadi, tikus kecil itu tidak bersembunyi di lubang yang gelap. Ia malah berkeliaran di siang bolong, dan langsung membobol server perusahaannya sendiri?
Rasa muak yang biasanya muncul setiap kali Neo mendengar nama Stella tidak datang.
Kali ini, perasaan itu digantikan oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: rasa penasaran yang pekat, dan sedikit sentilan pada harga dirinya.
Wanita yang ia anggap tak lebih dari hama bodoh itu ternyata memiliki cakar yang tajam, dan ia berani memamerkannya tepat setelah berhasil membodohi Neo dan anak buahnya pagi ini.
Neo berdiri tiba-tiba, membuat seluruh direktur di ruangan itu menahan napas ketakutan.
"Rapat selesai," ucapnya dingin. "Batalkan semua jadwalku sore ini. Liam, siapkan mobil."
"B-baik, Tuan. Kita menuju ke mana?"
Bibir Neo membentuk sebuah garis tipis yang mengerikan. "Soho. Aku ingin melihat sendiri pertunjukan apa yang sedang dimainkan oleh Stella Rosewood."
Waktu: 16:10 PM
Jalanan Soho, London
Sebuah mobil SUV hitam besar dengan kaca gelap menepi perlahan di seberang jalan dari kafe bergaya industrial tersebut.
Kemewahan dan ukurannya yang mengintimidasi membuat mobil-mobil lain di sekitarnya refleks menjaga jarak.
Di kursi belakang yang luas, Neo Hayes Blake duduk dalam kegelapan interior mobil.
Tatapan matanya yang tajam menembus kaca film yang tebal, tertuju langsung pada satu sosok di balik jendela kaca kafe seberang jalan.
Stella Rosewood.
Liam yang duduk di kursi penumpang depan melirik atasannya melalui kaca spion dalam. Ia bisa merasakan penurunan suhu di dalam mobil secara drastis.
Di seberang sana, Stella sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya sedang diintai oleh predator paling berbahaya di London.
Wanita itu sedang duduk bersila sebelah kaki di atas kursi, menyedot es kopinya sambil mengetik dengan kecepatan luar biasa. Layar laptopnya menampilkan deretan dokumen yang rumit.
Sesekali, Stella berhenti mengetik untuk mencomot kentang gorengnya, lalu tertawa kecil pada layar, sebuah tawa yang terlihat sangat tulus, licik, dan anehnya... hidup.
Neo menyipitkan matanya. Ini sama sekali bukan Stella yang ia kenal.
Stella yang ia kenal selalu menjaga posturnya sedemikian rupa untuk terlihat seperti boneka porselen yang rapuh, selalu memakai pakaian desainer yang mencolok, dan menangis untuk mendapatkan simpati.
Tapi wanita di seberang sana? Dia memakai sweater rajut sederhana, rambutnya diikat asal, dan posturnya sangat santai.
Saat seorang pria asing tak sengaja menyenggol meja Stella hingga kopinya sedikit tumpah, alih-alih berteriak histeris, wanita itu malah menatap si pria, tersenyum miring yang terlihat luar biasa tengil, dan mengatakan sesuatu yang membuat pria asing itu pucat pasi lalu menunduk minta maaf berulang kali.
Wanita itu berbahaya. Dia pembohong yang ulung. Dan fakta bahwa dia telah menipu semua orang termasuk Neo selama bertahun-tahun dengan topeng wanita bodoh membuat darah Neo mendidih.
Namun, di balik kemarahan itu, insting posesif yang gelap mulai bergemuruh di dadanya.
Neo menekan tombol, menurunkan kaca jendela mobilnya beberapa sentimeter.
Udara sore London langsung masuk ke dalam kabin mobil. Dan saat itulah, indra penciuman Neo yang sangat tajam menangkapnya.
Hembusan angin membawa aroma yang tak kasatmata namun sangat jelas baginya. Wangi White Tea yang tenang, bercampur dengan kelembutan bunga Peony.
Itu adalah aroma yang sama persis dengan yang ia cium di kamar hotel berantakan pagi tadi. Aroma yang bersih, tidak memuakkan, dan entah mengapa... menjerat perhatiannya.
Di saat yang sama, seorang pejalan kaki yang lewat di trotoar sebelah mobil Neo membuang bungkusan bekas ikan goreng yang amis ke tempat sampah.
Aroma seafood yang tengik itu sesaat masuk ke dalam mobil. Rahang Neo mengeras, perutnya bergejolak jijik. Ia benci aroma itu. Sangat benci.
Tapi alih-alih menutup kaca jendelanya, Neo malah memusatkan seluruh fokusnya untuk mengabaikan bau amis tersebut dan mencari kembali jejak wangi White Tea & Peony di udara.
Ia menemukannya, dan anehnya, wangi itu berhasil menetralkan rasa mual di perutnya.
"Tuan Blake," suara Liam terdengar ragu.
"Apakah Anda ingin kami menangkapnya sekarang dan membawanya ke hadapan Anda? Kita punya cukup orang untuk menariknya keluar dari kafe itu tanpa menarik perhatian."
Neo diam. Mata obsidiannya terus mengikuti gerakan Stella yang kini sedang mengobrol dengan udara kosong (sebenarnya sedang berdebat dengan Vix, namun dari luar terlihat seperti dia sedang bergumam sendiri sambil tersenyum miring).
Tingkah wanita itu sungguh tidak bisa ditebak. Sangat gila. Sangat tengil. Tapi luar biasa menarik.
"Tidak," jawab Neo akhirnya.
Suaranya rendah, serak, dan penuh dengan perhitungan dingin.
Liam terkejut. "Tidak?"
Neo menaikkan kembali kaca jendela mobilnya, memutuskan kontak dengan udara luar, namun matanya tak lepas dari sosok di balik kaca kafe itu.
Jemari Neo yang panjang dan kuat mengetuk pelan sandaran tangan kulit di kursinya.
"Menangkapnya sekarang hanya akan membuat kita terlihat putus asa. Biarkan saja," ucap Neo, sudut bibirnya tertarik membentuk seringai yang sangat tipis dan tak terdeteksi.
"Dia sedang merencanakan sesuatu untuk menghancurkan keluarganya sendiri. Aku tidak akan mengganggu kesenangannya."
"Lalu... apa yang harus kami lakukan, Tuan?"
"Awasi dia. Dua puluh empat jam. Aku ingin laporan setiap jam tentang apa yang dia makan, siapa yang dia temui, dan data apa yang dia retas," perintah Neo absolut.
"Jangan sampai dia menyadari keberadaan kalian. Jika ada orang dari keluarga Rosewood atau lintah darat mana pun yang mencoba menyentuhnya... habisi mereka diam-diam. Stella Rosewood adalah urusanku sekarang."
Liam menelan ludahnya dengan susah payah. "B-baik, Tuan Blake."
Mobil SUV hitam itu perlahan melaju pergi, berbaur dengan lalu lintas London, meninggalkan kafe tersebut tanpa jejak.
Di dalam kafe, Stella tiba-tiba berhenti mengetik. Ia menoleh ke arah jalan raya, menatap ke arah tempat mobil SUV tadi sempat berhenti. Alisnya bertaut.
"Ada apa, Nona Tengil?" tanya Vix, melayang di depan wajahnya sambil memiringkan kepala.
"Kau tiba-tiba terlihat seperti baru saja merasakan kehadiran hantu."
Stella menyentuh tengkuknya yang mendadak meremang. Ia seperti merasakan tatapan tajam dan dingin yang menusuk tepat ke punggungnya.
Tatapan yang membawa aura gelap dan dominan. Ia menggelengkan kepalanya pelan, menepis perasaan aneh itu.
"Tidak. Hanya perasaanku saja," gumam Stella, lalu kembali menatap layar laptopnya sambil tersenyum licik.
"Nah, Vix. Data pamanku sudah terkumpul. Besok, kita akan melakukan kunjungan kejutan ke kantor Rosewood Media. Mari kita lihat seberapa jauh mereka bisa mempertahankan wajah palsu itu saat Nona Pembuat Onar ini datang menagih takhta."
[ Ding! ]
[ Misi Utama Arc 2 Diperbarui: Rebut Kembali Kursi Direktur Utama Rosewood Media dalam Waktu 7 Hari. ]
[ Bersiaplah, Host. Medan perang sudah menunggumu. ]
Stella menghabiskan sisa es kopinya dalam satu sedotan panjang. Ia sudah tidak sabar untuk menghancurkan mereka semua.
To be Continued