NovelToon NovelToon
Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak tii

Bagi Karin, dosen pembimbingnya yang bernama Pak Arkan adalah monster nyata di dunia perkuliahan. Dingin, kaku, dan tidak segan mencoret draf skripsinya sampai penuh tinta merah. Karin bertekad untuk segera lulus agar bisa terbebas dari pria menyebalkan itu.

Namun takdir berkata lain. Demi melunasi utang pengobatan ibunya yang menumpuk, Karin terpaksa menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Pak Arkan sebuah rencana perjodohan rahasia yang diatur oleh keluarga mereka.

Kini, Karin tidak hanya harus berhadapan dengan Pak Arkan di ruang dosen yang menegangkan, tapi juga harus berbagi atap di apartemen yang kamarnya saling bersebelahan. Di kampus mereka harus pura-pura tidak kenal, sementara di rumah, Karin perlahan menemukan sisi lain sang dosen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak tii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian kecil di kelas

Hari itu jadwal mata kuliah Pak Arkan ada di jam kedua, ruangan yang paling ujung gedung. Karin sengaja datang lebih awal, duduk di baris tengah tempat yang biasanya paling aman tidak terlalu depan sampai terus dipandang dosen, tapi tidak terlalu belakang sampai terlihat seperti tidak memperhatikan. Padahal jujur saja, sejak masuk ruangan, matanya tidak berani berhenti menatap punggung Arkan yang sedang menyalakan proyektor di depan.

Di depan mahasiswa lain, Arkan kembali menjadi sosok yang dingin, tegas, dan tak bisa diganggu gugat. Wajahnya datar, suaranya lantang saat membuka kuliah, dan tidak sekalipun melirik ke arah Karin seolah mereka benar-benar tidak saling kenal selain sebagai dosen dan mahasiswi. Padahal cuma semalam mereka baru saja berbicara pelan di lorong kamar, saling mengakui ada rasa cemburu yang takut diakui.

"Kita lanjutkan pembahasan minggu lalu," kata Arkan sambil menunjuk layar. "Saya akan panggil beberapa nama untuk mempresentasikan ringkasan bacaan yang sudah saya berikan minggu lalu. Siapapun yang namanya saya sebut, silakan maju ke depan."

Jantung Karin tiba-tiba berdegup kencang. Dia berharap namanya tidak dipanggil bukan karena tidak siap, tapi karena rasanya terlalu canggung harus berdiri di depan pria yang tidur di kamar sebelahnya, sementara semua teman sekelas menganggap mereka tidak lebih dari orang asing.

Namun harapan itu tak terkabul.

"Karin," suara Arkan terdengar jelas di ruangan hening. "Silakan maju."

Karin menelan ludah, berdiri perlahan sambil merapikan buku catatannya. Saat berjalan melewati baris-baris kursi, dia merasakan tatapan teman-temannya yang penasaran. Begitu berdiri di samping meja dosen, dia berusaha menatap layar, tidak berani menatap mata Arkan yang berdiri tak jauh di sebelahnya.

"Mulai," ucap Arkan singkat. Tidak ada nada lembut seperti saat di rumah, benar-benar seperti sedang berbicara pada mahasiswi biasa.

Karin mulai berbicara. Awalnya suaranya sedikit gemetar, tapi lama-lama dia mulai tenang. Dia menjelaskan poin-poin yang sudah dia pelajari dengan baik, menjawab pertanyaan yang muncul di papan tulis. Saat dia selesai dan hendak kembali ke tempat duduk, Arkan tiba-tiba berbicara lagi.

"Poinnya sudah cukup jelas," katanya datar. "Tapi ada satu bagian yang kurang tepat. Coba perbaiki catatannya nanti. Dan ingat, jangan hanya mengandalkan ringkasan orang lain, bacalah sumber aslinya."

Suasana kelas hening sejenak. Beberapa teman sekelas melirik ke arah Karin seolah kasihan karena Arkan memang terkenal sangat ketat dan jarang memberikan pujian. Karin hanya mengangguk sopan. "Baik, terima kasih atas koreksinya, Pak."

Saat duduk kembali, hatinya terasa sedikit kesal. Bisa aja diingatkan diam-diam nanti di rumah! Kok harus di depan semua orang gitu? batinnya menggerutu pelan.

Selesai kuliah, mahasiswa berhamburan keluar ruangan. Karin berjalan paling akhir, berniat langsung pergi tanpa menoleh ke belakang. Tapi saat dia baru sampai di ambang pintu, suara Arkan terdengar.

"Karin, tunggu sebentar."

Langkahnya terhenti. Teman-teman yang lewat menoleh penasaran, ada yang berbisik pelan. Karin berbalik perlahan, mendekat ke meja dosen setelah ruangan kosong.

"Kenapa Pak? Ada yang salah lagi ya?" tanyanya sedikit ketus.

Arkan yang sedang membereskan berkas menatapnya, lalu menghela napas pelan. "Kamu kesal ya?"

"Lumayan," jawab Karin jujur. "Bapak bisa bilang nanti di rumah kan? Nggak perlu di depan teman-teman kampus juga."

Arkan tersenyum tipis, senyum yang cuma dia tunjukkan kalau sudah tidak ada orang lain. "Saya harus begitu. Kalau saya terlalu memuji atau terlihat lembut sama kamu di depan mereka, malah makin banyak yang curiga. Lagian..." dia mengambil selembar kertas dari tumpukannya, menyerahkannya pada Karin. "Penjelasan kamu tadi bagus. Itu cuma cara saya supaya tidak terlihat memihak."

Karin menerima kertas itu. Di atasnya tertulis catatan tulisan tangan Arkan yang rapi, menunjuk bagian yang benar-benar perlu diperbaiki, dan di sudut bawah ada coretan kecil: Kamu hebat tadi.

Wajah Karin perlahan memerah. Rasa kesalnya hilang seketika, berganti rasa hangat yang menyelinap di dada.

"Terus kenapa harus bilang kurang tepat kalau sebenernya bagus?" tanyanya pelan.

"Biar tidak ada yang curiga," ulang Arkan lembut. Dia mendekat sedikit, suaranya makin pelan. "Saya tidak mau nanti ada yang bilang saya memanjakan mahasiswa saya sendiri. Itu berbahaya buat jabatan saya, dan juga buat kamu."

Karin mengangguk pelan, mengerti maksudnya. "Iya deh... maaf ya tadi aku udah salah sangka."

"Nggak apa-apa. Wajar kok," Arkan menatapnya lama, lalu menunjuk jam tangan di pergelangannya. "Nanti sore jangan lupa kunjungi ruang arsip lantai dasar ya. Ada berkas yang harus diambil buat tugas kelompok. Biasanya sore itu sepi, aman."

"Baik, Pak."

Sore harinya Karin berjalan menuju ruang arsip. Benar saja, lorong lantai dasar sepi sekali, cuma terdengar suara langkah kakinya sendiri. Dia menemukan berkas yang dimaksud di rak paling bawah, lalu berniat segera pergi. Tapi begitu dia hendak berbalik, pintu ruang arsip tiba-tiba tertutup rapat karena tertiup angin kencang dari jendela yang terbuka.

Karin mencoba memutar gagang pintu, terkunci. Dia menghela napas kasar, lalu mengetuk pintu pelan berharap ada penjaga yang lewat. Tak lama terdengar suara langkah mendekat, dan pintu terbuka dari luar.

Arkan berdiri di sana, memegang kunci cadangan. "Kamu lama sekali? Saya takut kamu terkunci di sini."

"Pintu ini tiba-tiba tertutup dan terkunci sendiri," jawab Karin lega.

Mereka berjalan beriringan di lorong yang masih sepi itu. Tanpa sadar bahu mereka saling bersentuhan. Arkan tidak menjauh, begitu juga Karin.

"Tadi di kelas... kamu terlihat percaya diri sekali," ucap Arkan tiba-tiba. "Saya senang melihatnya."

"Bapak aja yang bikin saya deg-degan setengah mati," balas Karin sambil tertawa kecil.

"Deg-degan karena saya?"

"Iya. Takut salah ngomong, takut Bapak marah, takut... takut terlihat aneh di depan Bapak."

Arkan berhenti melangkah, menatap Karin di bawah cahaya matahari sore yang masuk lewat jendela koridor. "Kamu tidak perlu takut salah di depan saya. Justru saya yang selalu berharap kamu berani tampil sebaik mungkin. Kamu itu hebat, Karin. Lebih hebat dari yang kamu kira."

Kalimat itu terucap begitu tulus, membuat Karin merasa seolah semua lelah dan cemasnya hari ini lenyap begitu saja. Di momen itu, dia sadar sikap tegas Arkan di kampus bukan karena dingin atau tidak peduli, melainkan bentuk perlindungan agar hubungan rahasia mereka tetap aman. Dan di balik sikap kaku itu, ada perhatian yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan.

1
Ariany Sudjana
dosen kok bodohnya kebangetan kamu itu Laras, kamu kalah kelas dibanding Karin, Karin itu perempuan baik-baik, sedangkan kamu itu pelacur murahan 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
pasti ini si pelacur murahan Laras yang ketemu Rio
Ariany Sudjana
semoga Arkan bisa mengungkap siapa pelaku pembunuhan
Ariany Sudjana
pasti ini kerjaan si pelacur murahan Laras
Mbak tii: mari kita liat nanti 🤭
total 1 replies
Ariany Sudjana
puji Tuhan, finally Karin and Arkan together forever 😄
Mbak tii: hehe Harus dong
total 1 replies
Ariany Sudjana
mampus kamu Laras, terima saja kamu kalah kelas dibanding Karin. heh jalang, karin itu perempuan baik-baik dan cerdas, sedangkan kamu hanya pelacur murahan yang ga tahu diri dan bodohnya kebangetan... kamu itu harus dibunuh... ga ada gunanya pelacur murahan seperti kamu itu hidup
Mbak tii: hihi🤭😄
total 1 replies
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Laras, kamu kalah kelas dibanding Karin dan perempuan sampah seperti kamu cocoknya di rumah bordil 😂😂🤣🤣
Mbak tii: iyapsss🤭
total 1 replies
falea sezi
lacur gatel🤣
Mbak tii: kk tahan🤭🤣
total 1 replies
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Laras, kamu kalah jauh dibandingkan Karin, yang kamu bilang kampungan itu.... perempuan sampah seperti kamu lebih cocok di rumah bordil 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
kenapa Arkan bukannya bilang kalau Karin sudah punya suami? tapi jangan bilang kalau Arkan itu suaminya
elief
lanjut thor
Mbak tii: siap kk
total 1 replies
elief
Luar biasa👍
Mbak tii: mksih kk
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!