Bagi Karin, dosen pembimbingnya yang bernama Pak Arkan adalah monster nyata di dunia perkuliahan. Dingin, kaku, dan tidak segan mencoret draf skripsinya sampai penuh tinta merah. Karin bertekad untuk segera lulus agar bisa terbebas dari pria menyebalkan itu.
Namun takdir berkata lain. Demi melunasi utang pengobatan ibunya yang menumpuk, Karin terpaksa menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Pak Arkan sebuah rencana perjodohan rahasia yang diatur oleh keluarga mereka.
Kini, Karin tidak hanya harus berhadapan dengan Pak Arkan di ruang dosen yang menegangkan, tapi juga harus berbagi atap di apartemen yang kamarnya saling bersebelahan. Di kampus mereka harus pura-pura tidak kenal, sementara di rumah, Karin perlahan menemukan sisi lain sang dosen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak tii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu piring nasi goreng
Bel pintu berbunyi tepat saat Karin baru saja selesai menyeka keringat di leher. Tas ranselnya masih tersampir di bahu, sepatu ketsnya belum sempat dilepas sepenuhnya. Hari ini jadwal kuliahnya selesai telat, ditambah lagi dia harus antri panjang di koperasi kampus untuk mengambil buku yang kurang, jadi perutnya sudah terasa melilit lapar sejak tadi.
Dia berjalan mendekati pintu, membukanya perlahan. Di balik pintu berdiri Arkan, dengan seragam kemeja kerah tegap yang biasanya selalu terlihat kaku dan rapi, tapi kali ini lengan bajunya sudah digulung sampai siku. Di tangannya ada dua piring berisi nasi goreng hangat yang baunya langsung menyergap hidung, bikin perut Karin makin berisik.
"Belum makan?" tanya Arkan singkat, matanya melirik ke arah sepatu Karin yang masih satu kaki terpasang.
Karin mengangguk pelan, lalu menyadari posisinya yang terlihat berantakan. Dia buru-buru menyingkirkan badan agar Arkan bisa masuk. "Belum sempat masak. Tadi di jalan pengen beli, tapi antriannya panjang banget," jawabnya sambil menggaruk pelipis yang tidak gatal kebiasaan lama kalau lagi canggung.
Arkan berjalan menuju meja makan kecil di ruang tengah, meletakkan piring-piring itu dengan hati-hati. "aku sudah buat. Kebetulan tadi pulang lebih cepat."
Karin melongo sedikit. Biasanya kalau Arkan yang memasak, dia cuma menaruh piring di depan pintu kamar Karin lalu pergi tanpa banyak bicara. Ini pertama kalinya laki-laki itu mengajaknya makan bersama di meja yang sama.
"Kamu... nggak makan?" tanya Karin saat melihat hanya ada dua piring di sana, padahal dia kira Arkan sudah makan duluan.
"Masih panas. Duduk saja," perintah Arkan lembut, sambil menarik kursi di sebelahnya.
Karin duduk dengan ragu, lalu mengambil sendok. Nasi goreng itu warnanya pas, tidak terlalu gelap, tidak terlalu pucat. Ada potongan telur dadar yang dipotong rapi, sedikit irisan timun, dan taburan bawang goreng yang masih terlihat renyah. Saat suapan pertama masuk ke mulut, matanya langsung membelalak. Rasanya pas sekali asinnya pas, gurihnya pas, sedikit pedas yang bikin lidah terasa segar.
"Wah... enak banget," serunya tanpa sadar. Dia menoleh ke arah Arkan, dan melihat sudut bibir laki-laki itu sedikit terangkat. Senyum yang sangat tipis, hampir tidak terlihat, tapi cukup bikin jantung Karin berdetak sedikit lebih kencang.
"Kamu sering bilang masakan kampus keasinan," ucap Arkan pelan, sambil menyuap nasi pelan-pelan. "Jadi aku buat yang jumlah garamnya dikurangi."
Karin berhenti mengunyah sejenak. Dia tidak menyangka hal sepele seperti itu diingat oleh Arkan. Waktu itu dia cuma sekadar mengeluh pas sedang makan di kantin, dan Arkan kebetulan lewat. Dia pikir laki-laki itu tidak mendengar sama sekali.
"Kamu... ngingat itu?" tanyanya pelan.
Arkan menoleh sekilas, lalu kembali menunduk melihat piringnya. "Hal yang sering kamu keluhkan, biasanya aku ingat."
Suasana sejenak hening, hanya terdengar suara denting sendok yang menyentuh piring dan suara kipas angin di sudut ruangan. Karin menunduk, berusaha menyembunyikan wajah yang terasa makin panas. Dia tidak mengerti kenapa hal-hal kecil seperti ini bisa bikin dadanya terasa penuh. Di kampus, Arkan adalah dosen yang dingin, jarang senyum, dan kalau berbicara selalu tegas tanpa banyak basa-basi. Tapi di sini, di dalam rumah yang sama, laki-laki itu terasa... manusiawi.
Selesai makan, Karin buru-buru ingin mengambil piring kotor untuk dicuci, tapi Arkan lebih dulu bergerak.
"Kamu istirahat saja. Aku yang cuci," katanya sambil menumpuk piring ke arah wastafel.
"gak apa-apa, Pak Arkan. Kan saya yang numpang makan, seharusnya saya yang bantu," tolak Karin sambil berjalan mendekat.
"Sudah, tidak usah repot," jawab Arkan tanpa menoleh, tangannya sudah sibuk membuka keran air. "Bukannya nanti kamu malah menyiram lantai sampai basah semua?"
Karin terdiam sejenak, lalu tertawa kecil. Dia ingat sekali kejadian minggu lalu saat dia menawarkan diri mencuci piring, tapi karena tidak hati-hati, airnya memercik ke mana-mana sampai lantai dapur basah kuyup. Arkan yang akhirnya membersihkan semuanya sambil menatapnya dengan tatapan tidak percaya, tapi tidak marah sama sekali.
"Itu kan cuma kecelakaan sekali aja!" protesnya sambil bersandar di ambang pintu dapur. "Lain kali pasti bisa lebih rapi."
Arkan menggeleng pelan, tapi senyum tipis masih terlihat di bibirnya. "Nanti kalau sudah lebih rapi, baru boleh pegang sabun cuci piring."
Saat Arkan sedang menyeka tangan dengan handuk, tiba-tiba ponsel di meja makan berdering. Itu telepon dari pihak kampus. Arkan langsung berubah sikap wajahnya kembali tenang dan tegas, nada bicaranya menjadi singkat dan profesional persis seperti saat dia berdiri di depan kelas.
"Baik, saya akan ke ruang sidang sebentar lagi," ucapnya sebelum menutup telepon. Dia menoleh ke arah Karin. "Ada urusan mendadak. Saya harus ke kampus sebentar. Kalau ada apa-apa, kunci pintu rapat-rapat, jangan buka untuk orang asing."
"Siap, Pak!" jawab Karin dengan gerakan hormat konyol yang bikin Arkan terdiam sejenak sebelum akhirnya tersenyum tipis dan mengambil kunci mobil.
Keesokan harinya, suasana di kampus terasa sedikit lebih sibuk dari biasanya. Ada acara rapat persiapan ujian akhir, sehingga banyak dosen yang terlihat berjalan terburu-buru menuju gedung administrasi. Karin sendiri baru selesai meminjam buku di perpustakaan, dan saat berjalan melewati lorong ruang dosen, dia melihat pintu ruangan Arkan sedikit terbuka.
Dia berniat lewat begitu saja, tapi tiba-tiba ada suara panggil dari dalam.
"Karin?"
Langkahnya terhenti. Dia menoleh, dan melihat Arkan berdiri di ambang pintu, wajahnya terlihat cemas.
"Boleh kesini sebentar?" tanyanya pelan, sambil melirik ke kiri dan kanan memastikan tidak ada mahasiswa lain yang lewat.
Karin mengangguk ragu, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan. Begitu pintu ditutup rapat, Arkan langsung menyerahkan sebuah amplop tebal ke tangannya.
"Ini berkas revisi skripsimu. Tadi kamu lupa bawa saat saya kembalikan kemarin," jelasnya cepat. "Tadi pagi saya coba kirim pesan, tapi tidak ada balasan."
Karin memegang keningnya. "Ah, iya! Maaf Pak, tadi pagi ponsel saya mati total, lupa dicas."
Arkan mengangguk pelan, tapi matanya tiba-tiba menatap ke arah pintu dengan tatapan waspada. "Sembunyi di balik lemari sebentar. Ada Pak Dosen lain yang mau ke sini."
Belum sempat Karin bertanya, suara langkah kaki sudah terdengar mendekat. Tanpa pikir panjang, dia langsung menyelinap ke balik lemari arsip besar di sudut ruangan. Pintu ruangan terbuka, dan terdengar suara sapaan akrab dari salah satu dosen senior.
"Arkan, kamu sudah siap rapat?"
"Sebentar lagi, Pak. Masih beres-beres berkas," jawab Arkan dengan nada tenang, seolah tidak ada orang lain di ruangan itu.
Jantung Karin berdegup kencang. Dia menahan napas, berusaha tidak membuat suara sekecil apa pun. Dia bisa melihat punggung Arkan dari celah lemari, dan melihat bagaimana laki-laki itu berdiri santai sambil memegang tumpukan kertas, seolah benar-benar sibuk.
"Ngomong-ngomong, tadi kalau saya gak salah lihat ada mahasiswi lewat sini," kata dosen senior itu lagi. "Bukan muridmu ya?"
"Kurasa cuma lewat saja, Pak. Biasanya mereka tidak berani masuk ke ruang dosen kalau tidak dipanggil," jawab Arkan santai.
Obrolan berlanjut sebentar lagi tentang jadwal ujian, lalu akhirnya suara langkah kaki menjauh. Begitu pintu tertutup rapat, Arkan langsung berbalik badan dan memberi isyarat agar Karin keluar.
Karin melangkah keluar dengan napas terengah-engah, tangannya memegang dada. "Waduh... hampir aja ketahuan," bisiknya.
Arkan tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangan menyentuh bahu Karin sebentar sebelum menariknya kembali seolah tersadar. "Hati-hati. Kalau sampai ketahuan, nanti susah menjelaskannya."
"Makasih ya, Pak," ucap Karin sambil memegang erat amplop di tangannya. "Saya pamit dulu."
Saat Karin berjalan keluar ruangan, Arkan berdiri diam di tempat, menatap punggung gadis itu sampai menghilang di ujung lorong. Dia menghela napas pelan, lalu tersenyum sendiri tanpa sadar. Semakin hari, dia semakin merasa sulit untuk menganggap Karin sekadar sebagai kesepakatan di atas kertas.