NovelToon NovelToon
Hazelnut Di Dusun Teduh

Hazelnut Di Dusun Teduh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Romansa
Popularitas:938
Nilai: 5
Nama Author: Dzie Drafir

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.

Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.

Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.

Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.

Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.

Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ikhlaskan, Allah yang akan Ganti (part 1)

Sedari malam, hujan deras mengguyur Dusun Teduh yang berjarak 5 kilometer dari pusat Desa Sukamakmur. Aroma petrikor menguar, menyeruak memenuhi udara.

Di pusat pemerintahan Desa Sukamakmur, berdampingan dengan balai desa, berdiri kokoh rumah Kepala Desa. Dari kejauhan, rumah itu tampak anggun dengan atap joglo menjulang tinggi. Pendoponya luas dan bersih, disangga empat _soko guru_ dari kayu jati hitam yang tampak kokoh dan mengilap tertimpa cahaya.

Tanpa perlu banyak kata, kemegahan bangunan yang tertata rapi itu sudah cukup menunjukkan martabat dan kuasa besar yang bersemayam di dalamnya.

Namun pagi itu, di tengah rintik hujan yang belum sepenuhnya reda, kegaduhan justru pecah di rumah Raden Sastro, Kepala Desa Sukamakmur.

Dua jam setelah Pak Kades berangkat ke kantor desa, Arunika—putri keduanya yang tengah hamil tiga bulan—terpeleset saat hendak mengambil tas belanja yang tertinggal di mobil. Tubuhnya jatuh keras membentur lantai.

Darah mengalir melewati kedua kakinya. Rasa nyeri hebat merambat hingga ke perut, membuat pandangannya memburam. Dalam hitungan detik, Arunika kehilangan kesadaran.

Para pembantu omah ndalem yang berada tak jauh dari lokasi kejadian langsung berlarian menolong Arunika yang tergeletak di bawah rinai hujan.

______

“Baik, Pak. Segera dibawa ke Puskesmas kecamatan saja. Fasilitas kita belum memadai untuk menangani kasus ini,” sahut Azra tegas sebelum mematikan ponselnya.

“Mbak Siti, Mas Yanto, apakah pasien masih banyak?” tanya Dokter Azra kepada Siti dan Yanto di loket pendaftaran.

“Belum ada pasien daftar lagi, Dokter,” jawab Yanto cepat.

“Kalau begitu, tolong cukupkan pendaftaran untuk hari ini dan loket ditutup. Saya selesaikan pasien yang sudah terdaftar saja. Putri Pak Kades dilarikan ke Puskesmas kecamatan. Kondisinya darurat.”

“Innalillahi …,” ucap Siti dan Yanto serempak. “Siap, Dokter.”

Keduanya segera bergegas menutup loket dan menyelesaikan tugas yang masih tersisa.

Pak Tejo pun sigap mengumumkan kepada pasien yang baru datang bahwa ada kondisi darurat. Dokter Azra akan berangkat ke Puskesmas. Para pasien diminta datang kembali esok hari.

Setelah perjalanan kurang lebih satu jam, tepat pukul 10.00, Arunika yang pingsan tiba di Puskesmas Kecamatan menggunakan mobil milik Pak Kades. Beruntung, gerimis sudah berhenti.

Petugas Puskesmas yang dihubungi dokter Azra setengah jam yang lalu telah bersiap dengan brankar. Begitu pasien diterima, brankar segera didorong menuju ruang tindakan.

Beruntung Dokter Sari, Sp.OG sedang jadwal kunjungan ke Puskesmas tersebut. Tanpa berlama-lama, sang dokter langsung mengenakan apron, masker, dan handscoon steril sebelum memulai pemeriksaan dan menangani pasien. Tatapannya tertuju serius pada layar USG.

Setelah memastikan janin tidak dapat diselamatkan akibat perdarahan hebat saat terjatuh, dokter segera melakukan tindakan medis yang diperlukan dibantu satu perawat dan satu bidan yang biasa menangani ibu hamil di Puskesmas.

Empat puluh lima menit kemudian, Arunika sudah dipindahkan ke ruang rawat inap untuk menjalani observasi lanjutan. Dokter memberikan obat untuk membantu membersihkan rahim bila masih terdapat sisa jaringan, serta obat pereda nyeri untuk mengurangi kram perut. Jika tidak ada keluhan berarti, beberapa jam kemudian pasien diperbolehkan pulang.

Perlahan, Arunika tersadar dari pingsannya. Hal pertama yang ia lihat adalah suaminya yang duduk menunduk sambil menggenggam tangannya erat.

“Aku di mana, Mas?” tanyanya lemah sambil memandangi sekeliling ruangan. Bau obat dan alkohol menusuk hidung.

“Di Puskesmas, Dik. Alhamdulillah, kamu sudah sadar. Sebentar, Mas panggilkan dokter dulu ….”

Lukman hendak beranjak, tetapi lengannya ditahan kuat oleh Arunika.

“Sebentar, Mas," Arun berusaha duduk, tapi ditahan oleh suaminya, diminta berbaring kembali.

"Kenapa aku di Puskesmas, Mas?” Tanya Arun penasaran dan penuh selidik. Tatapannya menuntut penjelasan.

Lelaki itu kembali duduk. Ia menatap Arunika dalam diam. Sorot matanya menyiratkan kesedihan mendalam sekaligus kebingungan yang begitu berat.

“Mas Lukman, jawab Arun, Mas. Kenapa aku ada di sini?!” Suara Arunika mulai naik, wajahnya dipenuhi kecemasan yang mendesak.

Lukman menatapnya lembut. Berusaha tegar dan memilih kalimat yang pas untuk disampaikan. Namun, tak lama pertahanannya runtuh.

Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh saat melihat istrinya mulai cemas dan ketakutan. Ia langsung merengkuh tubuh lemah Arunika, memeluknya erat.

“Sabar, Dik. Tenang ya … tenang dulu,” bisiknya dengan suara bergetar.

Arunika terpaku dalam pelukan suaminya. Ia merasakan tetesan air hangat membasahi pundaknya. Perlahan, potongan-potongan ingatan sebelum dirinya pingsan mulai berputar kembali di kepala.

Tiba-tiba tubuhnya menegang.

“Mas … anak kita baik-baik saja, kan? Dia nggak apa-apa, kan? Jawab Arun, Mas! Jangan diam saja!" Arun mulai berontak dari pelukan suaminya, "Bicara, Mas! Anak kita selamat, kan?!”

“Arun ….”

Saat Lukman baru hendak membuka suara, langkah kaki tergesa terdengar memasuki ruangan. Raden Sastro dan istrinya melangkah masuk dengan raut wajah cemas.

“Sudah siuman kamu, Nduk?”

Pria senja berambut perak itu bergegas menghampiri ranjang Arunika, lalu mengusap lembut kepala putrinya, “Alhamdulillah … kamu selamat. Sabar, ya, Nduk. Kita sedang diuji Gusti Allah. Insya Allah akan diganti dengan yang lebih baik. Kamu kuat. Kamu pasti bisa.”

Raden Sastro memeluk putrinya yang perlahan mulai menyadari kenyataan pahit yang baru saja terjadi.

Pertahanan Arunika runtuh sepenuhnya.Tangisnya pecah menjadi ratapan pilu yang menyayat hati.

Lukman, suami Arunika juga tergugu dalam tangis kesedihan yang tidak bisa dibendung.

“Jadi dia benar-benar pergi, Romo? Setelah lima tahun aku menunggu, dia cuma mampir sebentar lalu pergi secepat ini? Aku harus bagaimana, Romo?!" Tangis Arun makin menjadi dalam pelukan romonya.

"Ya, sabar ya Nduk. Insya Allah diganti sama Gusti Allah dengan yang lebih baik..." Ibu Kades ikut mendekat, mengusap lembut kepala Arun dengan tangan gemetar menahan kesedihan.

"Apa Arun benar-benar tidak pantas memiliki anak, Bu? Apa Arun benar-benar sudah dikutuk sama mereka?"

"Ssst... tidak boleh berucap sembarangan, Arun. Tidak boleh bicara seperti itu.." Raden Sastro makin mempererat pelukannya. Air matanya sudah menggantung di pelupuk mata. Berusaha dia tahan, agar putrinya bisa tegar melewati ujian itu.

"Romo, Arun memang ditakdirkan mandul yaa...?"

Kalimat itu berujung pada rintihan menyakitkan. Detik berikutnya, tubuh Arunika meluruh dan kembali kehilangan kesadaran.

Ruangan seketika panik.

Lukman berlari keluar ruangan hendak mencari Dokter.

Belum terlalu jauh, Lukman berpapasan dengan dr. Sari beriringan dengan dr. Azra.

Melihat kepanikan Lukman, mereka berdua bergegas menuju ruang Arunika.

Dokter Sari segera memeriksa kondisi pasien, meminta perawat melakukan cek tensi dan serangkaian tindakan lain terhadap pasien.

Kemudian dr. Sari menghampiri dr. Azra dan berbicara singkat tentang kondisi fisik dan kejiwaan Arunika. Lalu dia pamit meninggalkan ruangan.

Dokter Azra mengambil napas dalam. Dia baru saja sampai dari Dusun Teduh, setelah menyelesaikan tugas di Pustu. Saat langkahnya baru memasuki koridor kamar rawat inap, dia melihat dr. Sari bergegas menuju kamar Arunika. Dia paham sesuatu terjadi kepada Arunika.

Langkah kaki dr. Azra memberat, tapi dia tetap maju perlahan menghampiri keluarga Arunika, “Kondisi fisiknya masih sangat lemah, ditambah syok yang menguras emosinya. Biarkan dia beristirahat dulu. Kalau hatinya sudah lebih tenang, insya Allah fisiknya ikut membaik,” ujar Dokter Azra lirih.

Setelah itu, ia berpamitan meninggalkan ruangan dengan mata memerah, menahan air mata yang hampir jatuh.

1
ensu77
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!