NovelToon NovelToon
The Emerald And Her Four Mates

The Emerald And Her Four Mates

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Hidup Evelyn hancur sejak kepergian ayahnya. Diasingkan ke Kota Vespera yang kumuh dan divonis mati dalam hitungan bulan, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya. Tapi seutas tali tambang yang lapuk justru menggagalkan niatnya, menyeretnya masuk ke dalam dunia supranatural yang selama ini tersembunyi.

Darah Evelyn membawa rahasia besar. Ia adalah seorang Multi-Mate yang terikat pada empat penguasa ras immortal terkuat: Naga, Demon, Elf, dan Mermaid.

Di tengah sisa umurnya yang kian menipis, Evelyn terjebak dalam perebutan takdir cinta, perebutan kekuasaan antar-ras, dan konspirasi masa lalu yang perlahan terkuak. Ikuti kisah megah sekuel ketiga dari semesta Alan the Pegasus dan Mnemosyne: The Lost Memory dalam: The Emerald and Her Four Mates.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31. Pria Gila

"Duduklah di sini... Mi amor," perintah pria itu lembut. Suaranya mengalun berupa bisikan pelan yang bergaung sensual, namun anehnya terasa begitu menenangkan di telinga Evelyn.

Evelyn tertegun, tubuhnya mendadak membeku mendengar panggilan asing dari bibir si pria misterius.

Perlahan tapi pasti, pria itu menurunkan tudung hoodie-nya ke belakang pundak. Detik itu juga, terpampang-lah dengan sangat jelas sebuah wajah tampan dengan rahang tegas bak pahatan mahakarya dewa di depan wajah Evelyn.

Pria itu memiliki kulit putih bersih yang kontras dengan pakaian gelapnya, berhidung mancung sempurna, dengan rambut berwarna pirang keemasan sebahunya yang tampak diikat rapi di bagian atas. Di salah satu daun telinganya, sepasang anting perak berkilau indah, memberikan kesan modis layaknya seorang idol papan atas.

Namun, yang paling membuat napas Evelyn tercekat adalah sepasang manik matanya. Hijau zamrud yang jernih dan menyala terang—warna mata supranatural yang persis seperti miliknya dan juga milik sang naga, Benjamin.

Pria rupawan itu tidak lain adalah Aelias Vance. Sesosok entitas agung yang kebetulan sedang menyeberang dimensi datang ke Kota Vespera demi mencari keberadaan seorang Mage.

Namun, alih-alih menemukan Mage yang dicarinya, di dalam bus umum yang kumuh ini, insting takdirnya justru malah menemukan sesuatu yang teramat istimewa. Pasangan belahan jiwanya.

"Lepaskan saya, Tuan. Saya bisa berdiri sendiri dengan baik," tegas Evelyn, mencoba mengeraskan suaranya meskipun detak jantungnya sudah berpacu gelisah tak karuan.

Aura maskulin dari pria pirang ini benar-benar kuat, bahkan getaran intimnya terasa mampu mengalahkan dominasi ketiganya pria gila yang selama ini mengusik hidupnya. Siapa lagi jika bukan si pangeran merman bajingan Kaelen, si naga Mage ketus nan cerewet Benjamin, dan si Raja Demon menyebalkan Damian Dexter.

"Tetaplah seperti ini sebentar. Aku... sangat merindukanmu," ucap pria itu dengan nada suara yang teramat dalam, sukses membuat Evelyn bingung setengah mati.

Bus pun mulai berjalan kembali membelah aspal jalanan kota. Namun, dikarenakan posisi mereka yang teramat intim, sepasang mata dari orang-orang di dalam bus mulai tertuju lurus pada pasangan tersebut. Bisikan-bisikan tipis mulai terdengar di sekeliling mereka.

"Mereka semua melihat ke arah kita, Tuan! Aku malu sekali," gumam Evelyn, buru-buru menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangan. Harga diri manusianya benar-benar sudah runtuh menghadapi situasi memalukan ini.

Mendengar keluhan sang gadis, pria pirang itu mendongak. Ia melemparkan tatapan malas ke arah kerumunan penumpang.

Ctak!

Ia menjentikkan jemarinya dengan santai. Seketika itu juga, hawa dingin yang mistis berdesir memotong kabin bus. Dalam satu kedipan mata, seluruh penumpang di dalam bus tersebut lenyap tanpa bekas, termasuk sang sopir yang sedang memegang kemudi! Alhasil, kabin bus mendadak kosong melompong dan menyisakan mereka berdua saja.

Tanpa adanya sopir, bus itu otomatis melaju tanpa kendali manusia. Namun anehnya, kendaraan besar itu tetap meluncur stabil membelah persimpangan jalan, seolah-olah ada sepasang tangan tak kasat mata berenergi magis yang sedang menggerakkan setirnya dari balik bayangan.

Evelyn refleks membuka tangannya dari wajah, lalu membelalakkan mata horor. "Ke mana semua orang?!" tanyanya panik setengah mati.

"Bukankah itu kemauanmu, Sayang? Kau bilang malu karena dilihat oleh orang-orang. Untuk itu, aku melenyapkan mereka semua dari pandanganmu," sahut pria itu tanpa beban.

Evelyn semakin melotot sempurna. Seluruh ekspektasi logikanya runtuh seketika. Ia baru menyadari satu fakta krusial; bahwa setiap kali ia bertemu dengan pria berwajah tampan rupawan di dunia ini, selalu saja ada hal gila yang membuat kepalanya ingin pecah.

Lebih tepatnya, pria pirang di hadapannya ini sudah pasti agak gila, dan jelas bukan manusia biasa—melainkan sejenis makhluk supranatural seperti Damian dan Kaelen.

Baru pertama kali bertemu saja, pria ini sudah berani melontarkan kata-kata manis seolah-olah mereka adalah sepasang kekasih yang telah lama berpisah. Dia jelas tipe pria obsesif yang sangat gila!

Evelyn meratapi nasibnya dalam hati. Bagaimana bisa jiwanya terjebak di antara empat pria supranatural yang tidak satu pun dari mereka bisa membantu meringankan beban hidupnya, melainkan justru menambah kesengsaraannya?

"Kau gila, ya?! Maksudku tidak seperti itu juga, Bodoh! Lihat, siapa yang akan mengendarai bus ini jika kau melenyapkan sopirnya?! Kau sengaja mau membunuhku, hah?!" amuk Evelyn, urat kesalnya putus seketika. Tanpa rasa takut, ia menarik kasar kerah jubah hoodie pria itu lalu mengguncang-guncang tubuh kokohnya dengan beringas.

"Tenang dulu, Nona. Tidak usah panik. Kita akan baik-baik saja, dan aku mana mungkin tega membunuh belahan jiwaku sendiri," rintih pria itu pasrah. Sepasang tangannya yang semula mengunci pinggang Evelyn terpaksa terlepas karena gadis itu tidak henti-hentinya mengguncang tubuhnya bagai kesetanan.

"Cepat kau yang jadi sopirnya! Aku tidak bisa menyetir bus sebesar ini!" bentak Evelyn, menyeret paksa lengan kekar pria itu dan memaksanya berdiri untuk berjalan ke arah kursi kemudi di bagian depan bus.

"Sudah kubilang, semuanya akan baik-baik saja. Bahkan tanpa adanya sopir pun, sihirku akan tetap memastikan kita selamat sampai tujuan," ucap pria itu, mulai terdengar sedikit muak karena didekte oleh seorang gadis manusia.

"Kalau begitu, kembalikan semua orang ke dalam bus ini sekarang juga! Aku tidak sudi hanya berdua saja di dalam kendaraan kosong dengan pria gila sepertimu!" tuntut Evelyn mutlak.

Pria pirang itu menatap Evelyn lekat-lekat, lalu seulas senyuman misterius yang teramat menawan terukir di bibirnya. "Baiklah jika itu yang kau mau, Sayang. Selamat tinggal, mi amor. Sampai berjumpa lagi di lain waktu. Jika saatnya telah tiba dan jiwamu sudah siap... aku sendiri yang akan datang untuk membawamu pulang ke tempat asalmu."

Ctak!

Petikan jari ghaib kembali bergema membelah sunyi.

Dalam sekejap, seluruh penumpang dan sang sopir bus mendadak kembali ke posisi semula. Suara riuh kembali mendengung. Namun, pria pirang beranting perak itu telah menghilang entah ke mana, menguap ditelan udara kosong.

Evelyn membeku di tempatnya berdiri, mencengkeram tiang besi bus dengan napas yang masih memburu ghaib di antara kerumunan manusia fana yang tidak tahu apa-apa.

‘Sebenarnya... siapa pria gila itu?’ batin Evelyn, dipenuhi tanda tanya besar.

****

Beberapa saat kemudian, bus yang ditumpangi Evelyn akhirnya berhenti di halte terdekat dari kediamannya. Ia turun dengan langkah gontai, menyusuri jalanan aspal yang sepi sebelum berbelok memasuki gang pedesaan terpencil—jalur menuju rumah sewa usangnya.

Dengan tangan yang sudah sangat lemas akibat kelelahan fisik, Evelyn memutar anak kunci, mendorong pintu kayu yang berderit, lalu melangkah masuk dan menutupnya rapat-rapat.

Ia langsung menjatuhkan tubuhnya, duduk bersandar pada sofa ruang tamu yang berdebu.

"Lapar sekali..." gumam Evelyn lirih.

Ia memaksakan diri untuk beranjak dari sana, melangkah terseok-seok menuju dapur. Fakta bahwa ia tidak sempat menyantap sarapan pagi ini membuat lambungnya mendadak melilit perih.

Namun, sial bagi Evelyn. Di atas meja dapur yang berantakan, ia sama sekali tidak menemukan bahan makanan apa pun yang bisa diolah.

"Di dalam kulkas juga tidak ada apa-apa. Isinya cuma satu botol air mineral sisa," Evelyn tertawa sarkas—sebuah tawa getir yang sarat akan kepedihan atas penderitaan hidupnya sendiri.

Ia memegangi perutnya yang meremas. "Perut sialan... tidak bisakah kau berhenti berbunyi?"

Lalu, sepasang netra hijaunya tidak sengaja menatap sepotong apel sisa di atas piring meja makan. Objek itu mungkin sudah bisa dibilang sampah karena kondisinya mulai membusuk, layu, dan hanya tinggal separuh bagian. Evelyn mendadak teringat bahwa potongan apel itu adalah sisa makanan yang sempat ia gigit sebelum berangkat mengikuti agenda study tour kemarin lusa.

Tangan Evelyn bergetar samar di udara. Jantungnya didera keraguan yang teramat besar.

‘Haruskah aku memakan apel busuk ini? Uangku benar-benar sudah habis total karena dipakai untuk membayar ongkos bus umum tadi. Sisa uang di dompetku tidak akan pernah cukup untuk membeli makanan yang layak.’

Set!

Dengan gerakan cepat yang didorong oleh rasa lapar yang menyiksa, Evelyn menyambar potongan apel tersebut. Ia berlari kecil menuju ke halaman belakang rumah sewa, berniat bersembunyi di sudut tembok yang remang agar tindakannya tidak terlihat oleh tetangga.

Namun, tepat pada saat ia membuka mulut dan bersiap menggigit permukaan apel yang mulai menghitam itu, sesosok wanita paruh baya mendadak muncul dari arah halaman samping.

"Apa yang sedang kau lakukan di sini, Evelyn?!"

Evelyn terlonjak kaget. Panik setengah mati karena harga dirinya terancam runtuh, ia secara refleks berjongkok, menggali tanah dengan jemarinya secepat kilat, lalu mengubur potongan apel busuk itu di sana.

"A-Ah... Nyonya Caroline. Saya... saya sedang menanam buah apel," dalih Evelyn gugup bukan main, mencoba membersihkan sisa tanah yang mengotori telapak tangannya.

Nyonya Caroline—sang pemilik rumah sewa yang kaku—menyipitkan sepasang matanya penuh selidik, sebelum akhirnya terkekeh sinis meremehkan. "Menanam apel? Bukankah kau sebenarnya berniat menyantap apel busuk yang sudah dibuang itu? Semiskin itukah dirimu sekarang, Evelyn?"

Wanita paruh baya itu bersedekap dada, menatap Evelyn dari ketinggian dengan pandangan menghina. "Lalu ke mana ibumu, hah? Bukankah selama ini dia bekerja sebagai wanita penghibur di klub malam kota? Pastinya dia mendapatkan banyak limpahan uang dari para lelaki hidung belang di sana. Apa dia begitu tega sampai tidak pernah peduli atau memperhatikan kondisi kelaparanmu ini?"

Evelyn mengeraskan rahangnya mendengar penghinaan keji yang dialamatkan pada mendiang ibunya. "Kau jangan sembarangan bicara, Nyonya Caroline! Ibuku bukan wanita penghibur! Dia bekerja halal sebagai seorang barista di bar klub tersebut!" bentak Evelyn, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan.

"Hahaha! Rupanya kau begitu bodoh, Evelyn. Apa ibumu tidak pernah mengatakan kenyataan yang sejujurnya padamu?" Nyonya Caroline tertawa mengejek, mengibaskan tangannya di udara. "Hey, dengar ya, Evelyn. Aku datang ke sini murni tidak ingin berbasa-basi, apalagi memberikan simpati murahan padamu. Katakan pada ibumu untuk segera melunasi uang sewa rumah ini. Jika sampai besok kalian belum membayarnya, kalian harus segera angkat kaki dan pergi dari rumah sewaku ini!"

1
Eka Putri Handayani
Benci banget aku sama karakter pangeran duyung sialan itu😭
Soobin Chan: harusnya di apain nih? karungin aja kali ya🤣
total 1 replies
Soobin Chan
yang suka sama ceritanya jangan lupa like, komen dan support author ya😍🙏
Janet Janet
double up Thor ceritamu bagus
Soobin Chan: jangan lupa baca juga cerita aku yang lain ya😄
total 2 replies
Eka Putri Handayani
Semangat thor lebih bnyk up lg dong, gayamu kael tunggu aja evelyn bertransformasi jadi lebih kuat uh bakal kelepek-klepek deh
Soobin Chan: makasih ya supportnya. maaf author cuma bisa up 1× sehari😄
total 1 replies
Soobin Chan
aslinya emang kuat ko dia, tahan banting pula🤣
Eka Putri Handayani
sumpah gak suka banget sm kael kasar, thor buat evelyn segera ninggalin raganya yg sakit² itu deh
Soobin Chan: iya di tunggu aja ya nanti di bab-bab selanjutnya🙏
total 1 replies
Eka Putri Handayani
thor lebih baik langsung buat evelyn kembali pada raga aslinya deh kesian bngt klo dia hrs menderita kya gtu🥺
Soobin Chan: sabar ya😄 nanti juga sembuh sendiri.
makasih banyak ya udah mampir dan mau baca cerita gaje dari author ini/Smile/
total 1 replies
Soobin Chan
masih sepi hihi/Sob/
Soobin Chan: komen dong guys🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!