Saat membuka mata kembali, Aruna mendapati dirinya hidup kembali, terbangun di masa lalu, tepat sebelum segala kehancuran dalam hidupnya dimulai.
Dengan ingatan yang masih utuh akan luka dan kematiannya, dia berjanji akan membuat Rafael dan semua orang yang menyakitinya merasakan penderitaan yang sama, bahkan berkali lipat lebih berat.
Di tengah rencananya yang penuh dendam itu, Aruna mencari kembali Zeffrano - pria dingin, misterius, dan berkuasa yang di kehidupan sebelumnya pernah dia tolak lamarannya.
"Kali ini bukan lagi aku yang ada di bawah kakimu. Kali ini, akulah yang akan berdiri di puncak tertinggi bersama orang paling berkuasa di kota ini." ~ Aruna Kirana Dirgantara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4
Hening melanda ruangan luas itu, hanya terdengar suara napas mereka yang saling bersahutan. Aruna tidak melepaskan pelukannya, justru jari-jarinya semakin mencengkeram kain kemeja hitam di pinggang Zeffrano.
"Zeff..." suara Aruna terdengar samar, bergetar oleh emosi yang meluap. "Aku tahu ini terdengar aneh. Setelah semua rasa sakit yang aku berikan padamu... tiba-tiba aku datang dan berdiri disini. Kamu berhak meragukanku. Tapi percayalah... apa yang aku rasakan saat ini... semuanya tulus. Aku ingin berada disisimu."
Aruna perlahan mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata hitam yang kini penuh keraguan dan pertanyaan besar. Matanya berkaca-kaca, sorotnya begitu jernih dan jujur, berusaha menembus dinding pertahanan yang masih tegak berdiri di hati Zeffrano.
"Dulu aku menolakmu karena aku buta. Aku buta karena penilaianku sendiri, aku buta karena ketidaktahuanku. Aku salah, Zeff. Aku sangat salah."
Aruna mengangkat satu tangannya, menyentuh pipi tegas Zeffrano dengan lembut, jari-jarinya mengusap kulit wajah itu perlahan.
"Aku sadar. Satu-satunya pria yang tulus padaku, satu-satunya pria yang benar-benar berharga dan pantas kujaga... hanyalah kamu, Zeffrano Devandra Mahesa."
Kerutan di kening Zeffrano semakin dalam, sorot matanya masih penuh kewaspadaan yang tinggi, bercampur rasa sakit yang belum sepenuhnya sembuh. Dia menatap Aruna lekat-lekat, meneliti setiap lekuk wajah wanita itu, berusaha mencari jejak kepura-puraan, berusaha menemukan celah kebohongan disana.
"Kata-kata yang sangat indah, Aruna..." ucap Zeffrano pelan, suaranya rendah dan penuh nada ragu, matanya menatap tajam. "Sangat indah hingga rasanya aku hampir percaya sepenuhnya mendengarnya."
Zeffrano melangkah mundur satu langkah, menjauhkan diri dari sentuhan Aruna yang membuat pertahanannya hampir runtuh sepenuhnya.
"Dua bulan lalu kamu pergi begitu saja tanpa menoleh ke belakang. Kamu menolakku seolah aku tidak ada harganya sama sekali bagimu. Dan sekarang tiba-tiba kamu muncul dan kata-kata manis itu?" Zeffrano menggeleng pelan, senyum miring yang getir terukir di bibirnya. "Terlalu banyak kebetulan, Aruna. Terlalu cepat perubahan sikapmu. Dan aku sudah pernah jatuh terlalu dalam hanya untuk mendapatkan rasa sakit yang luar biasa darimu. Aku tidak mau melakukannya lagi."
Dia menunjuk wajah Aruna dengan pandangan tajam penuh selidik.
"Katakan padaku, apa alasan yang sebenarnya. Apa yang membuatmu berubah pikiran secara drastis? Jangan berikan aku alasan tentang 'kamu baru sadar' atau 'kamu salah menilaiku'. Itu tidak cukup. Tidak cukup untuk menghapus rasa sakit dua bulan ini, dan tidak cukup untuk membuatku percaya sepenuhnya bahwa niatmu murni tanpa ada kepentingan lain."
"Aku tahu aku tidak pantas langsung dipercaya," ucap Aruna parau namun tegas, suaranya bergetar menahan tangis. "Dan aku tidak memintamu untuk langsung percaya begitu saja. Aku tidak memintamu untuk langsung melupakan semua rasa sakit yang aku berikan. Tapi aku akan membuktikan bahwa aku benar-benar ingin berada diisimu."
Aruna mengangkat tangannya, meletakkan telapak tangannya di dada kiri Zeffrano, tepat di atas jantung pria itu yang berdegup kencang.
Dia menelan salivanya, menatap lekat-lekat manik mata itu. "Ada hal-hal yang tidak bisa aku jelaskan sekarang, Zeff. Ada hal-hal yang mungkin terdengar gila jika aku ceritakan. Tapi percayalah... aku melihat betapa berharganya dirimu dan betapa hancurnya hidupku jika aku membiarkanmu pergi. Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama. Aku tidak mau kehilanganmu lagi."
Zeffrano menatap telapak tangan yang bertengger di dadanya, lalu perlahan mengangkat pandangannya kembali menatap wajah wanita itu. Dia menghela napas panjang, napas yang terasa berat dan penuh beban, lalu perlahan menyingkirkan tangan Aruna dari dadanya, menahannya sejenak di udara sebelum melepaskannya pelan-pelan.
"Semua ini sangat indah dan sangat memikat bagi siapa saja yang masih menyimpan perasaan. Tapi bagiku... saat ini semuanya hanyalah rangkaian kata-kata manis yang belum kubuktikan kebenarannya."
Dia melangkah mundur lagi, menjauhkan diri hingga jarak di antara mereka terasa cukup jauh, seolah membangun tembok tebal sekali lagi di antara keduanya.
"Pergilah, Aruna."
Dua kata itu terucap begitu tenang namun begitu menyayat hati, membuat napas Aruna tercekat di tenggorokan. Wajah wanita itu memucat seketika, matanya yang sudah berkaca-kaca kini mulai meneteskan butiran bening, tak percaya mendengar perintah itu.
"Zeff..." panggilnya lirih, suaranya pecah. "Kamu... kamu menyuruhku pergi? Setelah aku datang jauh-jauh kesini? Setelah aku mengatakan semuanya?"
Zeffrano mengangguk pelan, rahangnya mengeras menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang dadanya sendiri. Dia memalingkan wajah sejenak, menatap ke arah jendela kaca besar yang memandang keluar ke kota, berusaha sekuat tenaga agar tidak luluh melihat air mata wanita itu.
"Ya, aku menyuruhmu pergi," jawabnya dingin, lalu melangkah mundur kembali menuju kursi kebesarannya.
Aruna mengusap air matanya dengan kasar, mengangkat dagunya sedikit lebih tinggi.
"Baiklah, Zeffrano..." ucap Aruna parau namun tegas, suaranya bergetar namun penuh keyakinan. "Aku akan pergi dan membuktikan semuanya. Aku akan membuatmu percaya bahwa sekarang aku benar-benar menginginkanmu untuk tetap berada disisiku."
Setelah mengatakan itu, Aruna berbalik badan. Dia melangkah pergi menuju pintu kayu besar itu. Pintu terbuka, lalu tertutup kembali pelan di belakang punggungnya, meninggalkan Zeffrano sendirian kembali di ruangan luas itu, diiringi suara detak jam dinding yang kembali terdengar begitu nyaring.
Begitu sosok wanita itu lenyap di balik pintu, topeng dingin yang dikenakan Zeffrano seketika runtuh. Dia merosot kembali ke kursinya, tangannya terulur menutupi wajahnya yang tiba-tiba terasa lelah luar biasa.
"Sebaiknya kamu buktikan saja, Aruna. Jangan sampai kamu membuatku kecewa,"
-
-
-
Bersambung...
bangun woyyyy... bangun Tania... udah siang..... mimpinya dilanjut si balik jeruji aja... 🤣🤣
kisah balas dendam yang ditulis dengan apik. definisi wanita bisa melakukan apa saja setelah disakiti, bisa bangikit dan kuat dari rasa dakit yang sudah diterima.
kisah ini memang reinkarnasi, tapi mengajarkan jika kesempatan itu bisa datang dua kali,
karyamu luar biasa Kak..
semangat berkarya😍😍😍