DIJUAL SEBAGAI PELUNAS HUTANG.
SEKARANG DIA YANG MENENTUKAN HARGA NYAWA MEREKA.
Lima tahun lalu Zara diinjak harga dirinya oleh keluarga sendiri.
Hari ini, dia kembali sebagai Zevana Ardhani.
Bukan korban lagi. Tapi sang mafia wanita yang ditakuti di dunia korporat.
Misinya satu: BALAS DENDAM.
Sampai Arka muncul.
Putra dari guru Mafianya sendiri.
Polos. Tulus. Satu-satunya yang melihat Zevana sebagai manusia, bukan monster.
Antara nyawa, racun, dan cinta.
Zevana harus memilih: Menenggelamkan mereka semua dalam kebencian,
atau hancur karena satu-satunya pria yang bisa meluluhkan hatinya?
[MAFIA WANITA] [BALAS DENDAM] [DARK ROMANCE]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Key Kastara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan yang Janggal
Keheningan menyelimuti ruangan sejenak, sebelum akhirnya Garda kembali bersuara. “Meskipun kita memiliki banyak mitra dan orang-orang yang kompeten untuk memajukan bisnis dari berbagai bidang, hanya kalian berdua yang kuanggap dan percayai sepenuhnya. Hanya kalian yang benar-benar memahami cara kerja dan cara berpikirku.”
Jari-jari panjang Garda mengetuk pelan permukaan meja makan yang mengilap, satu per satu. Iramanya lambat, namun cukup membuat jantung siapa pun yang mendengarnya berdebar kencang.
“Terlalu banyak rasa kemanusiaan, terlalu sering mengasihani orang lain ... itulah kelemahan terbesar. Musuh yang jatuh, usaha yang bangkrut, kehidupan yang hancur ... lihatlah mereka. Rasa sakit, air mata, dan keputusasaan mereka itu bukanlah sebuah tragedi. Itu hiburan, Zevana. Itu obat. Itu ... dopamin yang membuat kita merasa hidup dan berkuasa. Selama ini kita bertahan dengan prinsip itu, bukan? Anggap saja ... kejatuhan mereka sebagai—”
“Dopamin untuk kita,” potong Zevana dengan cepat. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya, seolah sudah tertanam kuat di dalam dirinya. Matanya menatap tajam ke arah Garda, memancarkan kilatan dingin yang persis sama dengan milik pria itu.
“Tepat sekali,” jawab Garda dengan nada puas, lalu tersenyum lebar seolah baru saja mendengar melodi yang paling indah. “Ingatlah itu baik-baik. Tak ada ampun, tak ada belas kasihan. Itu hukum yang kita jalankan.”
"Kita," batin Zevana sambil melirik Bani dengan perasaan kecewa. Ia mulai menyadari bahwa permainan ini ternyata tidak lagi hanya miliknya sendiri.
Keesokan paginya, Zevana duduk di kantornya dengan semangat yang kurang dari biasanya. Ia menatap kosong ke layar komputernya, lalu menggulirkan daftar nama dan angka di layar itu berulang kali tanpa tujuan yang jelas. Informasi di depannya sama sekali tidak lagi menjadi perhatian, pikirannya terus berputar, terbayang ucapan, tatapan, dan keputusan mendadak Garda mengenai Bani.
Jujur saja, ada bagian kecil dalam hatinya yang merasa lega. Sangat lega. Tidak akan ada lagi Bani yang mengawasi setiap gerak-geriknya, melaporkan segala hal kepada Garda, atau membatasi langkahnya. Kini ia bisa bergerak lebih leluasa untuk menjalankan rencana balas dendamnya terhadap kerabat dari masa lalunya.
Namun rasa lega itu hanya bertahan sesaat, lalu tertutup rapat oleh rasa curiga dan was-was yang makin menekan pikirannya.
“Ada yang gak beres. Ada hal yang sangat janggal,” gumamnya dalam hati sambil mengerutkan kening. “Selama ini Bani adalah tangan kanan, mata, dan telinganya. Garda gak akan pernah membiarkan aset berharganya pergi jauh tanpa alasan yang kuat. Dia bukan orang yang sembarangan memberikan jabatan hanya karena rasa terima kasih.”
Zevana meremas kedua tangannya di atas meja hingga kuku jari-jarinya hampir menancap ke telapak tangan.
“Apakah dia benar-benar mampu memimpin perusahaan sebesar itu? Atau ... ini hanyalah sebuah akal-akalan semata?” bisiknya pelan, suaranya terasa bergetar.
“Jika bukan karena dia mempercayai Bani secara berlebihan ... berarti dia sedang menyiapkan sesuatu yang lain. Atau yang lebih buruk lagi ... dia justru menyingkirkan Bani dari sini karena ada urusan kotor yang ingin dia jalankan di dekatku. Urusan yang tidak boleh diketahui orang lain.”
Pikiran terakhir itu membuat bulu kuduk Zevana meremang merasa dingin. Meski ia selalu merasa bersyukur bahwa Garda telah menyelamatkan hidupnya dan mengangkat nilai dirinya, namun rasa waspadanya tidak pernah berkurang setitik pun, terutama pada Garda.
“Melepaskan Bani berarti ... Garda sudah menyiapkan 'mata' lain yang lebih baik, lebih baru, dan lebih dipercaya untuk mendampingiku sekarang. Siapa? Siapa orangnya?”
Segala kecurigaan itu berhasil menelan fokusnya. Zevana tak pernah bisa melepaskan diri dari rasa was-was, kekecewaan yang pernah dirasakannya sudah membelenggu kebebasannya sepenuhnya.
Tok! Tok!
Dua ketukan pelan namun tegas di pintu ruang kerjanya berhasil memecah lamunan gelap dan kecurigaan yang menyiksa itu. Zevana mendongak dengan tatapan tajam, matanya memancarkan kewaspadaan dingin, siap menilai siapa pun yang akan masuk.
“Masuk!” perintahnya singkat dan tegas.
Pintu terbuka sedikit. Desi, sekretaris mudanya, melangkah masuk dengan langkah yang terasa ragu. Gadis itu menunduk dalam, tidak berani menatap langsung ke arah tempat duduk Zevana. Di tangannya tergenggam sebuah map berwarna cokelat yang tebal, tersegel rapi dengan lilin yang memiliki lambang GZ Corporation, segel yang tampak belum pernah dibuka oleh siapa pun.
“Pe-Permisi, Bu Zevana ...” suara gadis itu bergetar hebat. “Ini ... ada kiriman berkas khusus dari Pak Bani. Beliau berpesan bahwa isinya sudah disetujui, berisi penyerahan tugas lengkap, serta data-data yang perlu Ibu ketahui sebelum beliau berangkat besok pagi.”
Jantung Zevana terasa berhenti berdetak sejenak. Ia menatap tajam ke arah map cokelat itu. Secepat ini? Besok pagi dia sudah pergi?
Dengan tangan yang sedikit gemetar—meski ia berusaha sekuat tenaga menyembunyikan kegelisahannya—Zevana meraih map tersebut. Kertasnya terasa kasar dan dingin di ujung jarinya. Segel lilinnya masih utuh, bahkan terasa sedikit hangat seolah baru saja dibubuhkan.
“Kau boleh pergi,” ucap Zevana dengan nada datar, berusaha menahan rasa penasaran yang meluap-luap di dadanya.
Begitu pintu tertutup kembali dan Desi pergi, keheningan di dalam ruangan terasa makin menyesakkan napas. Zevana menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Matanya tak lepas memandangi segel lilin berlogo perusahaan itu.
Perlahan-lahan, jari-jarinya menyobek segel tersebut. Suara kertas yang terlepas terdengar sangat jelas di ruangan yang sunyi. Ia membuka penutup map itu lebar-lebar, dan pandangannya langsung tertuju pada lembar paling atas yang tertulis dengan huruf tebal berwarna hitam pekat.
Detik berikutnya, napas Zevana terhenti di tenggorokan. Darahnya terasa membeku saat membaca judul besar yang tertera di sana:
DAFTAR TUGAS BARU & DATA LENGKAP: ASISTEN PRIBADI BARU – ARKA GARDIAN