NovelToon NovelToon
Dewa Pedang Malas

Dewa Pedang Malas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan sang Jenius dan Sparing Sambil Menguap

​Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur Kota Utama, memisahkan kabut tipis yang menyelimuti Paviliun Isolasi Tamu Agung. Namun, kedamaian pagi itu seketika hancur oleh derap langkah kaki yang agresif di halaman luar.

​"Ji Huang! Keluar dari kamarmu dan hadapi aku!"

​Sebuah teriakan lantang yang dipenuhi dengan gelombang energi spiritual murni menggelegar, membuat daun-daun bambu di sekitar paviliun rontok berjatuhan. Di tengah halaman, berdiri seorang pemuda bertubuh tegap dengan jubah tempur hitam sulaman elang emas. Dialah Huang Zhen, jenius kebanggaan eselon atas yang telah mencapai Tingkat Pengumpulan Qi Lapis ke-6. Di belakangnya, Huang Fu berdiri bersama beberapa murid inti pusat kota, memasang senyum licik yang penuh antisipasi.

​Wush!

​Tepat sebelum gema teriakan itu reda, seekor Kuda Kuku Api melompati pagar tanaman paviliun dengan dramatis. Ji Lan melompat turun dari punggung kuda sebelum hewan itu berhenti sempurna. Baju berburu hijaunya kotor oleh debu perjalanan semalam suntuk, napasnya terengah-engah, dan wajah cantiknya tampak sangat pucat karena kelelahan sekaligus kecemasan yang memuncak.

​Melihat Huang Zhen yang sudah menghunus pedang besarnya di halaman, Ji Lan tidak membuang waktu. Dia langsung melesat ke depan, pasang badan di antara pintu paviliun dan sang jenius Lapis ke-6, seraya menghunus pedang peraknya sendiri.

​"Huang Zhen! Tahan tanganmu!" bentak Ji Lan dengan suara serak namun sarat akan ketegasan. "Kamu adalah seorang jenius inti Lapis ke-6, sedangkan Ji Huang hanya murid cabang yang baru saja pulih dari cacat dantik! Menantangnya berduel di saat seperti ini sama saja dengan mencoreng nama baik klan utama! Jika kamu begitu haus akan pertarungan, hadapi aku dulu!"

​Huang Zhen melirik Ji Lan dengan pandangan meremehkan. "Sepupu Lan, ini adalah urusan internal klan utama. Mundurlah jika kamu tidak ingin terluka."

​Krieeek...

​Pintu jati paviliun perlahan terbuka, memotong ketegangan yang hampir meledak. Suara sandal rumah kayu yang longgar terdengar diseret dengan bunyi khas: pletag-pletog.

​Ji Huang melangkah keluar ke beranda paviliun dengan jubah linen compang-campingnya. Tangan kanannya sibuk mengucek sepasang mata yang masih sayu, sementara tangan kirinya mendekap erat sebuah bantal sutra biru muda yang sangat empuk. Dia memandang ke arah halaman dengan ekspresi polos yang kelewat lempeng.

​"Sepupu jutek... kenapa kamu berisik sekali sepagi ini?" ucap Ji Huang polos, mengabaikan atmosfer pembunuhan di halaman. Dia menatap wajah kotor Ji Lan dengan dahi berkerut. "Lingkar hitam di bawah matamu itu sangat tebal. Kamu terlihat persis seperti beruang gunung betina yang kekurangan tidur siang. Sangat tidak baik untuk estetika wajahmu."

​"Ji Huang! Dasar bodoh tidak tahu diri!" Ji Lan hampir saja menjatuhkan pedangnya karena gemas sekaligus kesal setengah mati. "Aku berkuda semalaman suntuk demi menyelamatkan nyawamu, dan kamu malah mengejek wajahku?! Cepat masuk kembali ke dalam kamar dan kunci pintunya!"

​Ji Huang hanya menghela napas malas. Dia melangkah turun dari tangga beranda, mendekati Ji Lan dengan santai. Sebelum gadis itu sempat memprotes, Ji Huang mengulurkan tangan kanannya, mencengkeram kerah belakang baju berburu Ji Lan, lalu menarik tubuh gadis itu ke belakang punggungnya dengan gerakan yang sangat halus namun tidak bisa dibantah.

​"Mundur sedikit, Sepupu," gumam Ji Huang lembut, menatap Huang Zhen yang mulai tidak sabar. "Menonton orang bodoh menari di pagi hari seperti ini tidak baik untuk kesehatan matamu. Biarkan aku menyelesaikannya dengan cepat agar aku bisa melanjutkan tidur."

​"Kurang ajar! Berani-beraninya sampah sepertimu meremehkanku!"

​Kemarahan Huang Zhen meledak seketika. Sebagai jenius Lapis ke-6, dia belum pernah dihina secara terang-terangan oleh murid cabang. Energi Qi hitam pekat mendadak bergejolak hebat di sekujur tubuhnya, melapisi bilah pedang besarnya dengan aliran angin yang tajam.

​"Teknik Pedang Pembelah Badai! Mampus kamu, sampah!"

​Huang Zhen melesat maju bagai badai hitam yang mengamuk. Kecepatannya begitu tinggi hingga menciptakan bayangan semu di udara, mengarah lurus ke arah pundak dan lengan Ji Huang dengan niat murni untuk menghancurkan seluruh jaringan meridian pemuda itu dalam satu tebasan.

​Ji Lan yang berada di belakang Ji Huang berteriak panik, "Ji Huang! Menghindar!!"

​Namun, di mata seorang mantan Dewa Pedang, gerakan "kilat" milik jenius Lapis ke-6 itu tidak lebih cepat daripada gerakan siput tua yang sedang merangkak. Seluruh celah mati dan aliran sirkulasi Qi dari teknik tersebut terpampang nyata tanpa rahasia.

​Ji Huang tidak menggunakan teknik pedang rumit, juga tidak mengerahkan energi spiritual yang besar. Memanfaatkan peningkatan kekuatan fisik dari Tingkat Pengumpulan Qi Lapis ke-3 yang baru diraihnya semalam, Ji Huang hanya menggeser kaki kanannya setengah senti ke arah samping—secara presisi menghindari jalur tebasan fatal pedang besar Huang Zhen.

​Tepat saat tubuh Huang Zhen melesat melewatinya, Ji Huang dengan ekspresi lempeng sambil menguap lebar, mengayunkan tangan kirinya. Dia mengetukkan ujung bantal sutra biru yang empuk itu ke pergelangan tangan kanan Huang Zhen yang sedang memegang gagang pedang.

​Pluk.

​Suara benturan itu terdengar sangat pelan, hampir tidak bervolume. Namun, ketukan bantal sutra Ji Huang menghantam tepat di titik simpul meridian Lingtai—pusat kendali aliran Qi di tangan Huang Zhen—ditopang oleh sepercik Niat Pedang kuno yang tak terlihat.

​BOOM!

​Detik itu juga, seluruh energi spiritual Lapis ke-6 yang sedang dikerahkan secara maksimal oleh Huang Zhen mendadak kehilangan arah. Energi tersebut berbalik arah secara brutal (backlash), menghantam balik organ dalam dan jalur meridian lengannya sendiri.

​"AAAKKKHHH!"

​Huang Zhen menjerit histeris. Pedang besarnya terlempar ke udara dan menancap dalam di tanah marmer. Tubuh tegap sang jenius pusat kota itu seketika limbung dan jatuh berlutut dengan bertumpu pada kedua lututnya tepat di atas tanah. Tangan kanannya gemetar hebat, lumpuh seketika akibat aliran energi yang hancur berantakan di dalam dagingnya sendiri.

​Suasana di halaman paviliun mendadak berubah menjadi sunyi senyap, sedingin kuburan.

​Huang Fu yang tadinya tersenyum licik langsung membatu di tempat dengan mata melotot hampir keluar dari kelopaknya. Para murid inti pusat kota yang ikut menonton kehilangan kemampuan bicara mereka. Sementara Ji Lan, yang masih memegang pedang perangnya, membuka mulutnya sedikit dengan pandangan kosong—merasa seluruh logika kultivasi yang dia pelajari selama belasan tahun runtuh dalam satu detik oleh sebuah bantal sutra.

​Ji Huang sama sekali tidak melirik ke arah Huang Zhen yang sedang mengerang kesakitan sambil memegangi tangannya di atas tanah. Dia berbalik, menatap bantal sutranya yang sedikit berkerut akibat benturan tadi dengan ekspresi sangat kecewa.

​Dia menoleh ke arah ambang pintu kamar, di mana Xiao Mei sedang berdiri dengan wajah cantik yang pucat karena syok.

​"Xiao Mei," panggil Ji Huang polos dengan nada malas yang konsisten. "Guncangan dari orang bodoh tadi membuat isi bulu angsa di dalam bantal sutra kesayanganku ini agak bergeser dan menjadi kurang simetris. Tolong bawa bantal ini, jemur di bawah sinar matahari sebentar, dan tepuk-tepuk agar kembali empuk, ya."

​"A-Ah... Baik, Tuan Muda Ji Huang," jawab Xiao Mei dengan suara bergetar, menerima bantal itu dengan tangan yang gemetar hebat karena ngeri melihat kekuatan mistis majikan barunya.

​"Baguslah," gumam Ji Huang puas. Dia berbalik membelakangi semua orang di halaman, melangkah kembali masuk ke dalam kamarnya dengan sandal kayu yang berbunyi pletag-pletog yang santai. "Aku mau melanjutkan ritual tidur siangku yang tertunda. Sepupu jutek, kalau kamu mau menumpang tidur di kursi empuk dalam kamar, masuk saja, tapi jangan berisik."

​Pintu jati paviliun kembali tertutup rapat, meninggalkan keheningan yang mencekam di halaman luar, sementara Ji Lan akhirnya menyadari dengan sangat pasrah bahwa kekhawatiran semalam suntuknya beneran salah alamat

1
Shen shandian luo
semua di labeli fana..tusuk gigi fana segala
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!