Karakter Utama:
Arga: Cowok yang biasanya tenang, rapi, dan selalu jadi "penjaga" kalau mereka nongkrong. Tapi malam itu, dia sama mabuknya.
Kinar: Cewek ceplas-ceplos, panikan, dan tipe sahabat yang tahu semua aib Arga dari zaman masih ngompol sampai sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Penghulu dan Kesepakatan di Atas Meterai
Dua minggu kemudian, di sebuah masjid kecil yang untungnya sepi dari kerumunan orang, Arga duduk dengan jas sewaan yang agak kesempitan di bagian bahu. Di sebelahnya, Kinar duduk mengenakan kebaya putih sederhana, wajahnya ditekuk sedemikian rupa sampai-sampai periasnya menyerah untuk menyuruhnya tersenyum. Suasana di dalam masjid terasa begitu tegang, kontras dengan dekorasi bunga-bunga melati yang harumnya malah bikin Kinar makin mual karena stres.
Arga menjabat tangan Papa Kinar dengan gemetar. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras dari pelipis cowok itu, membasahi kerah kemejanya.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Kinar Anindita binti..."
Arga mengucapkan kalimat sakral itu dalam satu tarikan napas panjang, suaranya agak serak tapi untungnya terdengar sangat tegas dan jelas.
"Bagaimana saksi? Sah?"
"SAAAH!"
Suara koor dari para saksi dan keluarga inti resmi mengubah status hubungan mereka dalam sekejap mata. Dari yang tadinya bersahabat dekat dengan kalimat andalan "Bro, pinjem seratus" kini berubah total menjadi "Saya terima nikahnya..." Kinar menatap cincin polos yang baru saja disematkan Arga di jari manisnya dengan pandangan kosong. Sungguh, tak pernah terlintas dalam skenario hidupnya kalau dia akan mengakhiri masa lajangnya secepat ini, apalagi bersama manusia yang tahu semua aib masa kecilnya.
Setelah acara salaman formalitas yang penuh kecanggungan tingkat dewa dan beberapa sesi foto keluarga dengan senyum yang dipaksakan, mereka berdua akhirnya ditinggal berduaan di rumah kontrakan baru mereka. Sebuah rumah kecil dengan cat dinding warna krem yang dipaksakan oleh orang tua mereka agar mereka bisa "belajar mandiri dan bertanggung jawab" atas tindakan nekat mereka semalam itu.
Begitu pintu depan rumah dikunci, Kinar langsung melepar sepatu hak tingginya ke sudut ruangan dengan kesal, lalu mengempaskan diri ke sofa ruang tamu yang masih bau toko.
"Gue masih gak percaya gue nikah sama cowok yang pernah nangis jerit-jerit di puskesmas gara-gara takut disuntik imunisasi pas SD," gerutu Kinar sambil memijat pelipisnya yang terasa pening.
Arga yang sedang melonggarkan dasinya mendengus kencang, melepas jas kesempitannya lalu melemparnya ke sandaran kursi. "Gue juga gak pernah mimpi punya istri yang kalau tidur mangap dan ngoroknya kaya mesin jahit rusak, Nar. Jadi tolong ya, jangan ngerasa lo doang yang rugi di sini!"
Kinar melempar bantal sofa dengan akurat, tapi Arga dengan cekatan menangkapnya menggunakan satu tangan. Cowok itu menghela napas panjang, lalu berjalan mendekat dan duduk di kursi kayu sebelah Kinar. Wajah jailnya mendadak menghilang, berganti raut serius yang jarang sekali dia tunjukkan.
"Sini deh, kita harus bicara serius," kata Arga, mengeluarkan selembar kertas HVS putih dari dalam tas ranselnya. "Karena kita udah terlanjur masuk ke lingkaran setan ini akibat kecerobohan kita sendiri, kita butuh Rules of Engagement. Peraturan resmi rumah tangga biar kita gak saling bunuh dalam waktu satu bulan ke depan."
Kinar menegakkan duduknya, melipat kedua tangan di dada karena tertarik dengan ide tersebut. "Oke. Bagus. Apa aja poinnya? Sebutin, biar gue yang koreksi kalau ada yang merugikan gue."
Arga mengambil sebuah pulpen hitam, lalu mulai menuliskan beberapa poin di atas kertas dengan tulisan tangannya yang agak cakar ayam.
SURAT PERJANJIAN RUMAH TANGGA ARGA & KINAR
Dilarang Baper. Kita menikah karena 'kecelakaan' mabuk semalam dan akibat paksaan orang tua. Status di luar tetap sahabat lama, di dalam rumah... kita adalah teman kos premium.
Bagi Tugas Domestik. Arga bagian cuci piring, bersih-bersih kamar mandi, dan buang sampah. Kinar bagian masak (asal gak bikin dapur rumah kebakaran) dan nyapu-ngepel.
Privasi Kamar. Kamar kita pisah. Lo di kamar utama depan, gue di kamar kecil bagian belakang. Gak ada yang boleh masuk kamar masing-masing tanpa izin tertulis atau ketukan pintu tiga kali.
Biaya Hidup. Patungan 50:50 untuk uang makan, token listrik, dan Wi-Fi. Gak ada istilah 'uangmu adalah uangku' di rumah ini. Semua harus transparan.
Kinar membaca poin-poin itu dengan teliti dari atas sampai bawah, lalu tersenyum puas. "Bagus juga otak lo kalau lagi kepepet. Tapi tambahin satu poin krusial lagi di bagian paling bawah."
"Apaan?" Arga mendongak, pulpennya sudah siap di atas kertas.
"Poin nomor lima: Kalau salah satu dari kita udah nemu jodoh yang beneran di luar sana, kita harus siap cerai secara baik-baik tanpa ada drama kekeluargaan atau tuntutan harta gono-gini."
Tangan Arga yang memegang pulpen sempat berhenti sejenak selama satu detik mendengar kalimat itu. Ada kilatan aneh yang melintas di matanya, sebuah rasa tidak nyaman yang mendadak muncul namun dengan cepat dia kuasai kembali. Arga berdeham kecil, lalu menuliskan poin kelima tersebut dengan tegas.
"Oke. Sepakat," ujar Arga sambil menyodorkan pulpen hitam itu ke arah Kinar.
Mereka berdua akhirnya menandatangani kertas itu di atas meterai Rp10.000 dengan mantap. Mereka merasa di atas angin, merasa bisa mengendalikan situasi gila ini hanya dengan logika "persahabatan" mereka yang sudah teruji kuat selama belasan tahun. Namun, mereka berdua melupakan satu hukum alam yang paling mendasar: tinggal satu atap dengan orang yang tahu segala hal tentangmu—termasuk cara membuatmu tertawa saat dunia sedang hancur—adalah resep utama dari runtuhnya sebuah pertahanan hati.
btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel saya juga ya. tinggal tekan profile, terima kasih /Smirk//Rose/