Pernikahan yang Ayra perjuangkan selama bertahun-tahun ternyata hanyalah kebohongan yang dibungkus cinta.
Dia begitu mencintai Arga, suaminya. Pria itu terlihat sempurna dimatanya—dewasa, perhatian, dan selalu mampu membuat Ayra merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Hingga suatu hari, semuanya hancur dalam sekejap.
Ayra menemukan fakta menyakitkan yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh Arga. Suaminya ternyata memiliki wanita lain dibelakangnya. Bukan orang asing… melainkan sekretaris pribadinya sendiri.
Yang lebih menghancurkan, hubungan terlarang itu telah melahirkan seorang anak laki-laki.
Anak yang selama ini Ayra rawat sepenuh hati. Anak yang dia peluk setiap malam. Anak yang dia anggap sebagai pelipur lara karena rumah tangganya belum juga dikaruniai buah hati.
Namun nyatanya… putra kecil itu adalah darah daging suaminya bersama wanita simpanannya.
Hati Ayra runtuh seketika. Semua kasih sayang, pengorbanan, bahkan cintanya terasa dipermainkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11 ~ Menyiapkan Makan Malam
Tak butuh waktu lama bagi Ayra untuk mengemasi beberapa pakaian miliknya.
Wanita itu hanya membawa seperlunya. Karena beberapa baju Samuel, obat-obatan, serta perlengkapan kecil yang biasa dipakai putranya sudah dibawa oleh Oma Ratna.
Setelah koper ditutup perlahan, Ayra sempat menatap kamarnya sekali lagi.
Sunyi.
Rasanya aneh meninggalkan rumah itu bukan karena keinginannya sendiri.
Namun akhirnya Ayra menghela napas pelan lalu berjalan keluar kamar sambil menarik koper kecil ditangannya.
Diluar, mobil sudah menunggu.
Samuel yang duduk disamping Nyonya Ratna langsung tersenyum begitu melihat mamanya masuk kedalam mobil.
“Mama sini…” panggilnya antusias sambil menepuk kursi disebelahnya.
Ayra tersenyum kecil lalu duduk disamping putranya.
Tak lama kemudian mobil mulai melaju meninggalkan rumah.
Sepanjang perjalanan Samuel tampak banyak berpikir. Bocah itu beberapa kali menatap keluar jendela sebelum akhirnya kembali menoleh pada Ayra.
“Ma…” panggilnya pelan.
“Hem?”
“Kenapa kita halus pindah?”
Ayra menatap wajah kecil itu beberapa detik sebelum mengusap rambutnya lembut.
“Tidak sayang… ini cuma sementara sampai Sam benar-benar sembuh.”
“Tapi kata doktel Sam sudah sembuh…”
Ayra tersenyum tipis. “Belum sembuh total. Lagipula kalau dirumah Oma, Sam jadi nggak kesepian.”
Samuel tampak berpikir lagi.
“Tapi Sam mau dikamal Sam yang sudah bagus…” rengeknya pelan. “Mama sudah hias capek-capek… masa ditinggal…”
Hati Ayra kembali terasa hangat sekaligus nyeri mendengar itu.
“Kalau begitu…” bisiknya lembut. “Nanti kita buat lagi kamar yang bagus dirumah Oma ya?”
Samuel akhirnya mengangguk kecil. Namun beberapa detik kemudian bocah itu kembali bertanya dengan polos.
“Papa juga ikut ke lumah Oma kan, Ma?”
Ayra sempat terdiam sepersekian detik.
“Iya…” jawabnya pelan sambil tersenyum tipis. “Papa pasti menyusul.”
Samuel terlihat lega setelah mendengar jawaban itu.
Tak lama kemudian mobil memasuki halaman rumah besar milik Nyonya Ratna.
Beberapa pelayan langsung keluar menyambut kedatangan mereka. Nyonya Ratna turun lebih dulu lalu memberi instruksi pada para pelayan.
“Bawa barang-barang Samuel ke kamar atas.”
“Baik, Nyonya.”
Samuel turun sambil menggenggam tangan Ayra.
“Sam, cucu Oma…” ucap Nyonya Ratna sangat lembut. “Naik ke atas dulu ya. Istirahat dikamar.”
Samuel mengangguk kecil.
Lalu bocah itu berjalan masuk bersama Ayra, mengikuti pelayan yang membawa koper mereka menuju lantai atas rumah besar tersebut.
Sampai dikamar Samuel, salah satu pelayan langsung membukakan pintu lebih dulu. Koper kecil milik Samuel dibawa masuk lalu diletakkan dekat lemari, sementara Bi Imah mulai merapikan beberapa barang bawaan bocah itu ketempat semestinya.
Samuel sendiri tampak sudah kembali ceria. Bocah kecil itu duduk diatas karpet sambil memeluk robot mainan barunya erat-erat, seolah tidak ingin lepas sedetik pun.
Ayra tersenyum kecil melihatnya.
“Sam… kamu disini dulu ya sayang,” ucapnya lembut sambil mengusap rambut halus putranya. “Mama mau siapkan makan malam. Sebentar lagi Samuel juga harus minum obat.”
“Iya, Ma…” jawab Samuel patuh.
“Nurut sama Bi Imah ya. Nanti kalau sudah selesai, mama kesini lagi.”
“Oke!” Samuel mengangguk semangat lalu memperlihatkan robot mainannya. “Sam mau main bentar!”
Ayra terkekeh pelan. “Iya, tapi jangan capek-capek.”
Setelah itu Ayra menoleh pada Bi Imah.
“Bi Imah, titip Samuel sebentar ya.”
“Iya Nyonya, tenang saja.”
Ayra mengangguk kecil sebelum akhirnya keluar dari kamar tersebut.
Langkah wanita itu kemudian berhenti didepan sebuah pintu kamar yang akan dia tempati. Atau lebih tepatnya… kamar Arga sebelum menikah dengannya.
Perlahan Ayra membuka pintu kamar itu lalu masuk kedalam. Dan seperti biasa, semuanya masih sama.
Interiornya masih didominasi warna gelap yang tenang. Rak buku besar dipojok ruangan masih tertata rapi. Bahkan aroma khas Arga seolah masih melekat kuat disetiap sudut kamar itu.
Ayra menatap sekeliling beberapa saat, lalu berjalan pelan menuju jendela lalu membuka gordennya.
Cahaya senja masuk menerangi ruangan.
Tatapannya jatuh pada halaman rumah yang luas diluar sana sebelum akhirnya wanita itu mengambil ponselnya.
Jemarinya mulai mengetik perlahan.
“Aku dan Samuel sudah dirumah Mama… pulanglah lebih cepat, aku akan masak makanan kesukaan kalian.”
Pesan itu terkirim.
Ayra tersenyum kecil sambil menatap layar ponselnya, menunggu seperti biasanya.
Dulu Arga selalu cepat membalas pesannya. Tapi kali ini…
satu menit.
Dua menit.
Lima menit berlalu.
Tak ada balasan.
Senyuman kecil diwajah Ayra perlahan memudar.
Akhirnya wanita itu meletakkan ponselnya diatas meja samping ranjang lalu masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
•••
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian rumah yang lebih nyaman, Ayra langsung turun menuju dapur.
Beberapa pelayan tampak cukup terkejut melihat dirinya masuk kedalam sana.
“Nyonya Ayra seharusnya istirahat saja…” ucap Bi Erna, kepala pelayan dirumah itu. “Biar kami yang menyiapkan semuanya.”
Ayra tersenyum tipis sambil mengambil celemek.
“Tidak apa-apa, Bi.” jawabnya lembut. “Aku ingin masak sendiri untuk Mas Arga dan Samuel.”
Bi Erna akhirnya mengangguk kecil.
“Kalau begitu jangan sungkan meminta bantuan.”
“Iya.”
Suasana dapur perlahan dipenuhi aroma masakan hangat.
Ayra mulai menyiapkan bahan-bahan dengan tangannya sendiri. Sesekali para pelayan membantu mengambilkan bumbu atau mencuci peralatan.
Untuk Arga, Ayra memasak cumi pedas manis asam, menu favorit suaminya sejak dulu.
Sementara untuk Samuel, Ayra menggoreng paha ayam kesukaan bocah itu hingga berwarna keemasan. Tak lupa, ia juga membuat sup iga sapi hangat.
Uap masakan perlahan memenuhi dapur. Dan ditengah kesibukan itu, untuk sesaat Ayra merasa begitu bersemangat. Bayangan makan malam bersama suami dan putra kecilnya yang hangat sudah terbayang, membuat hati Ayra sedikit menghangat.
Namun saat akan menyiapkan menu makan terakhir, tiba-tiba suara jeritan dari lantai atas terdengar begitu keras memekakkan telinga.
“AAAAKKKHHH…!!!”
Suara jeritan keras dari lantai atas mendadak memecah suasana rumah.
Ayra langsung berbalik, menengok tepat kearah kamar milik Samuel.