Satu sekolah tahu Lintang Gentariana adalah gadis paling gigih yang setiap hari memanggil nama Arka—atlet pencak silat kebanggaan sekolah yang sedingin es.
Dua tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, sebuah wasiat tiba-tiba memaksa mereka menikah secara rahasia di bangku SMA.
Lintang mengira impiannya jadi nyata. Namun, ia keliru. Arka menikahinya tepat ketika dunia cowok itu di ambang runtuh.
Di sekolah Lintang adalah gadis yang selalu terlihat mengejar Arka, tapi di rumah, Lintang harus menghadapi kemarahan dan luka terdalam Arka.
Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan rahasia mereka?
Sanggupkah Lintang bertahan, atau perpisahan justru menjadi jalan terbaik bagi keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyunr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Burung
"Stop, stop! Gue turun di sini aja. Nanti fans lu pada nyerang gue kalau liat pangerannya udah didapatkan oleh seorang Lintang," ujar Lintang sambil melirik gerbang sekolah yang masih kelihatan di kejauhan. Jaraknya sudah cukup dekat kalau dia mau lanjut jalan kaki.
Arka langsung menginjak rem, menghentikan Jaguarnya di pinggir jalan sepi. "Pulang sama gue."
Lintang yang sudah membuka pintu mobil langsung menoleh. "Nggak, ntar gue pulang bareng Pak Warno," ujarnya asal.
Arka tidak menjawab, tapi sepasang matanya langsung memelototi Lintang dengan tajam.
Melihat plototan itu, Lintang mendengus pasrah. "Ya pulang sama lu, lah. Gue nggak bawa mobil," sahut Lintang cepat. "Lagian nih... harusnya gue yang curiga ke elu, bakal ninggalin gue apa kagak nanti pas pulang."
"Kalau gue tinggal?" tantang Arka datar.
"Nebeng ke Leon. Wleeee!"
BRAK!
Lintang langsung menutup pintu mobil dengan kasar. Sebelum Arka sempat keluar dan menyemprotnya karena sengaja memanasi ego cowok itu, Lintang sudah berlari kecil menjauh, berjalan cepat menyusuri trotoar menuju gerbang sekolah.
Dari dalam mobil, Arka hanya menatap datar punggung Lintang yang makin menjauh, meski rahangnya sempat mengeras saat mendengar nama Leon disebut.
...----------------...
Lintang berjalan menyusuri koridor sekolah sambil bersenandung pelan. Langkah kakinya mendadak terhenti ketika telinganya menangkap suara cempreng yang sangat familiar. Suara bestie-nya.
"OYY!"
Lintang menoleh ke belakang, mendapati Zahiya yang sedang berlari kecil ke arahnya. Senyum Lintang langsung terbit menyambut kedatangan sahabatnya itu.
"Widih... Tumben udah dateng. Baru setengah tujuh pas lho ini, biasanya juga mepet bel," komen Lintang bernada meledek begitu Zahiya sudah berdiri di sampingnya.
"Yeuhh, lagi rajin ini gue. Nggak tau kesambet apaan," bela Zahiya sambil mengerucutkan bibirnya, tidak terima dituduh tukang telat.
Lintang terkekeh pelan. "Yaudah, ayo ke kelas."
Mereka berdua pun kembali melanjutkan langkah, berjalan beriringan menuju ruang kelas. Namun, baru beberapa meter melangkah, atensi mereka langsung teralihkan oleh kerumunan murid yang tampak heboh di depan papan mading koridor.
Langkah mereka kembali terhenti untuk kesekian kalinya pagi ini karena penasaran dengan kertas pengumuman besar yang baru ditempel oleh anak OSIS.
Di sana tertulis dengan huruf kapital yang mencolok:
📢 COMING SOON: GA NATIONAL GATHERING & CAMP! 📢
Halo seluruh warga Gelanggang Alam Pusat!
Acara kekeluargaan terbesar tahunan yang kita tunggu-tunggu antar cabang daerah (Kebumen, Klaten, Madiun, Bandung) sudah semakin dekat! Acaranya bakal digelar BULAN DEPAN di sekolah kita sebagai tuan rumah pusat.
Siapkan fisik kalian buat seru-seruan bareng di acara kompetisi siang hari, art night, sampai sensasi menginap (camping) bareng di sekolah!
Tempat Tidur Cewek: Area Blok Ruang Kelas.
Tempat Tidur Cowok: Area Tenda Besar Lapangan Lari.
Rundown Acara & Jenis Lomba: Silakan langsung SCAN QR CODE di bawah ini!
(Gambar Barcode OSIS)
“Berbeda Kota, Satu Jiwa. See you next month!”
— OSIS Gelanggang Alam Pusat
"Widihh! Udah mau silaturahmi lagi aje sekolah kita. Udah kayak lebaran," komen Zahiya sambil menatap pamflet mading itu takjub.
"Bener. Kayak kagak boleh banget kita berantem sama sodara sendiri, makanya tiap tahun suruh ketemu biar akrab," sahut Lintang menyetujui.
Zahiya langsung merogoh kantong, membuka ponselnya, lalu mengarahkan kamera untuk memindai QR code yang tertera di sana. Begitu tautannya terbuka, matanya langsung fokus membaca layar ponsel.
"Buset, lombanya cuman tiga doang?" tanya Zahiya heran.
Lintang ikut melongok ke layar HP sahabatnya. "Mana coba liat."
"Tuh, basket, voli, tarik tambang. Nggak asik anjir, masa cuman segitu," keluh Zahiya sambil mengerucutkan bibir.
Mendengar keluhan itu, Lintang langsung berkacak pinggang. "Heh, konyol! Tahun lalu ada enam lomba aja, lu ada yang ikut kagak?" tanya Lintang telak.
Zahiya langsung nyengir bego. "Kagak."
"Yeuh, sok-sokan ngeluh cuman tiga. Itu tiga lomba juga mainnya berkali-kali baru menang," komen Lintang jengkel.
"Ya... kan kalau banyak lomba jadi rame gitu," bela Zahiya sambil cengengesan.
"Upil lu tuh rame," komen Lintang telak yang langsung bablas jalan meninggalkan mading.
"Eh, Lintang! Tungguin!" Zahiya berlari kecil mengejar langkah sahabatnya yang sudah berjalan mendahului di koridor. "Btw, lu nggak disuruh nyanyi? Biasanya kalau ada acara pentas, pasti lu disuruh manggung."
"Belum disuruh, sih. Paling habis ini," ujar Lintang santai.
Zahiya tersenyum penuh arti, menyenggol lengan Lintang usil. "Kalau nanti lu nyanyi, kira-kira Van bakal ngasih bunga lagi nggak ya?"
Lintang mengerutkan kening. "Van siapa?"
"Ish, Van Madiun itu lho! Yang tahun lalu nembak elu, tapi lu tolak," ujar Zahiya gregetan sendiri melihat kepikunan sahabatnya.
Lintang tampak mengingat-ingat memori setahun lalu, sebelum akhirnya matanya membulat. "Ohh... yang bule Jawa itu?"
"Iya! Kira-kira dia bakal ke sini lagi nggak ya?" gumam Zahiya penuh harap.
"Kenapa? Lu kangen?" tanya Lintang menyelidik.
Zahiya cengar-cengir, lalu mengangguk tanpa tahu malu. "Gue berharap si Van masih jomblo, biar lu bisa jadi pacarnya, terus gue dicomblangin deh sama temennya yang Chindo itu."
Lintang mendengus geli. "Dih, jangan bawa-bawa gue. Mending lu ikutin cara gue naksir Arka. Kejar secara ugal-ugalan!"
"Emang lu dapet Arka?" tanya Zahiya polos.
Pertanyaan itu seketika membuat Lintang terdiam di tempat. Lidahnya mendadak kelu. Sial, dia hampir lupa kalau status pernikahan mendadaknya dengan Arka saat ini masih menjadi rahasia besar yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk sahabatnya sendiri.
Lintang berdeham cepat, mencoba menetralkan ekspresi wajahnya yang sempat tegang. "Ya enggak. Tapi setidaknya gue nggak diusir kayak Gardena," kilat Lintang cepat, mencari alasan paling aman.
Zahiya manggut-manggut mengerti, menerima alasan Lintang mentah-mentah.
Mereka pun melanjutkan langkah kaki menuju ruang kelas. Begitu sampai di dalam, keduanya langsung berjalan ke arah meja mereka dan duduk bersebelahan di kursi masing-masing. Suasana kelas masih agak sepi karena bel masuk belum berbunyi.
Zahiya tiba-tiba menggeser kursinya lebih dekat, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Lintang. "Lu tau nggak? Semalem pas gue lagi mau balik ke rumah, gue liat si Arka sama Leon di pinggir jalan," bisik Zahiya dengan nada super rahasia.
Lintang spontan menoleh seketika. "Semalem?"
"Iya, semalem!" Zahiya mengangguk heboh. "Si Arka keliatan kayak habis mabok gitu, terus diseret sama Leon. Terus gue liat si Arka muntah-muntah."
"Terus?" tanya Lintang penasaran.
"Ya gitu, gue nggak tau lagi kelanjutannya. Kan gue liat dari dalem mobil," ujar Zahiya.
Cewek itu terdiam sebentar, menatap Lintang dengan pandangan prihatin sekaligus cemas. "Lu yakin masih mau nge-crush-in dia? Dia cowok nggak bener tau, ternyata. Masih sekolah udah berani mabok-mabokan."
"Kalau guru ada yang tau, pasti harga dirinya sebagai atlet langsung merosot," tebak Zahiya lagi, meramal nasib buruk Arka.
Tak lama kemudian, pintu kelas terbuka lebar. Sosok Arka berjalan sendirian memasuki ruangan, melangkah santai menuju deretan bangku belakang tanpa memedulikan sekitar.
Melihat objek pembicaraan mereka melintas, Zahiya refleks mencondongkan tubuhnya ke depan.
Matanya menyipit tajam, memperhatikannya lamat-lamat bak seorang intel yang sedang mengintai buronan.
"Tuh, liat. Matanya masih ada sisa-sisa ampas vodka-nya," bisik Zahiya super pelan, menyenggol lengan Lintang dengan heboh.
Lintang menarik lengannya menjauh. "Diem. Pagi-pagi jangan ghibah."
"Ish, tapi coba liat deh. Auranya jadi agak gelap, bjir! Kayak ada aura setannya gitu," bisik Zahiya masih terus berlanjut, sama sekali tidak bisa menahan rasa penasarannya melihat penampilan Arka yang terasa berbeda hari ini.
Lintang memutar bola matanya jengah. Ia menoleh, menatap Zahiya dengan pandangan memperingatkan. "Kalau lu masih ngomong, gue aduin komentar lu ke dia."
"Eheheh, jangan dong! Gue kan cuman menganalisa," ujar Zahiya langsung ciut sambil nyengir tanpa dosa.
"Analisa mana yang ngomongnya kayak julidin tetangga hamil di luar nikah," komen Lintang telak, sukses membungkam mulut sahabatnya itu seketika.