NovelToon NovelToon
DI BALIK LUKA

DI BALIK LUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nathasya90

Hannah pernah kehilangan segalanya—rumah tangga, impian menjadi seorang ibu, dan kepercayaan pada cinta. Saat ia mulai menata hidupnya kembali, Rayyan hadir tanpa memaksa, hanya perlahan membuktikan bahwa cinta yang tulus tidak pernah lahir dari paksaan. Namun ketika masa lalu kembali muncul, Hamnah harus memilih, tetap hidup bersama luka, atau memberi kesempatan pada hati untuk percaya sekali lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nathasya90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DBL6

HARAPAN DAN REALITA 3

Romi tidak lagi berusaha menahan air matanya. Bahunya bergetar pelan. Selama ini ia selalu berpikir bahwa laki-laki harus terlihat kuat. Tidak boleh menangis. Tidak boleh memperlihatkan kelemahannya kepada siapa pun. Namun sore itu, semua benteng yang selama ini ia bangun runtuh begitu saja.

Hannah tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menggeser duduknya sedikit lebih dekat, lalu menggenggam tangan suaminya dengan kedua tangannya. Genggaman itu hangat. Cukup hangat untuk membuat Romi perlahan membuka wajahnya yang sejak tadi tertutup kedua telapak tangan.

"Aku malu, Na."

Suara itu begitu lirih hingga hampir tertelan oleh angin sore yang berembus pelan di taman rumah sakit.

Hannah menggeleng.

"Kenapa harus malu?"

"Karena aku laki-laki."

"Iya."

"Tapi ternyata aku bahkan nggak bisa ngasih kamu anak."

Hannah menarik napas pelan. Ia tahu, seberapa pun ia mencoba menyangkal ucapan itu, Romi tetap akan merasa harga dirinya sedang hancur. Luka seperti ini tidak mungkin sembuh hanya karena beberapa kalimat penghiburan.

"Aku nggak pernah menikah sama kesuburanmu, Mas."

Romi kembali menatapnya.

"Aku menikah sama kamu."

Kalimat itu membuat dada Romi kembali terasa sesak.

"Kalau suatu hari nanti ternyata Allah belum kasih kita anak, apa kamu nggak bakal nyesel?"

Hannah tersenyum tipis.

"Kalau aku mau nyesel, harusnya dari dulu aku udah nyesel."

"Maksudnya?"

"Selama ini semua orang nyalahinnya aku."

Romi terdiam.

"Mereka bilang aku yang mandul. Katanya aku terlalu sibuk kerja. Ada juga yang bilang mungkin aku kurang berdoa. Padahal mereka nggak pernah tahu bagaimana setiap sujudku, setiap tangisku saat meminta sama Allah. Dan yang paling sakit... ada yang terang-terangan nyuruh Mas nikah lagi."

Hati Romi seperti diremas. Selama ini ia tahu Hannah sering mendapat pertanyaan-pertanyaan itu. Namun ia tidak pernah benar-benar menyadari betapa berat semua yang sudah ditanggung istrinya sendirian.

"Aku tetap bertahan."

Hannah tersenyum lembut.

"Bukan karena aku kuat."

"Lalu?"

"Karena aku percaya, pasangan itu saling menjaga, bukan saling meninggalkan waktu salah satunya lagi jatuh."

Romi menundukkan kepalanya lagi.

"Tapi aku nggak pantas buat kamu."

Hannah langsung menggeleng.

"Jangan pernah ngomong begitu lagi."

"Tapi ini kenyataannya?"

"Enggak."

Hannah menggenggam tangan suaminya lebih erat.

"Yang jadi kenyataan adalah kita sedang diuji."

"Bukan kamu. Bukan juga aku, tapi kita."

Romi memejamkan mata. Kalimat sederhana itu perlahan membuat napasnya yang sejak tadi terasa sesak mulai kembali teratur.

Untuk pertama kalinya sejak hasil pemeriksaan itu keluar, ia merasa tidak sedang memikul semuanya sendirian.

Perjalanan pulang berlangsung nyaris tanpa percakapan. Romi mengemudikan mobil dengan pandangan lurus ke depan. Sementara Hannah duduk di sampingnya sambil sesekali melirik ke arah suaminya. Tidak ada musik yang diputar. Tidak ada obrolan ringan seperti biasanya. Hanya suara mesin mobil yang mengisi keheningan di antara mereka.

Sesampainya di rumah, keduanya langsung masuk tanpa banyak bicara. Hannah menuju dapur untuk menyiapkan makan malam, sedangkan Romi memilih masuk ke kamar dan mengurung diri beberapa saat.

Malam itu terasa jauh lebih panjang daripada biasanya. Mereka makan dalam diam. Tidak ada yang benar-benar berselera. Namun Hannah tetap memaksa Romi menghabiskan makanannya meski hanya beberapa suap.

"Mas."

Romi mengangkat kepala.

"Makan sedikit lagi."

"Aku nggak lapar, Na."

"Kalau, Mas sakit, nanti aku tambah sedih."

Romi akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah."

Hanya karena satu kalimat itu. Hanya karena ia tidak ingin membuat Hannah semakin terluka.

Menjelang pukul sebelas malam, lampu kamar akhirnya dipadamkan. Keduanya sudah berbaring di tempat tidur, tetapi tidak satu pun benar-benar mengantuk.

Hannah memandangi langit-langit kamar cukup lama sebelum akhirnya memiringkan tubuhnya menghadap Romi.

"Mas."

"Hm?"

"Aku boleh jujur nggak?"

Romi ikut memiringkan tubuhnya dan mengangguk. "Boleh."

"Aku juga sedih."

Romi menatap istrinya tanpa berkedip.

"Tapi aku sedih bukan karena hasil pemeriksaannya."

"Lalu?"

"Karena lihat, Mas hancur kayak tadi."

Kalimat itu membuat Romi mengembuskan napas panjang.

"Aku nggak pernah ngebayangin bakal jadi laki-laki yang gagal."

"Siapa bilang, Mas gagal?"

"Aku sendiri."

"Berarti Mas yang salah."

Romi tersenyum hambar.

"Mas masih bisa bercanda?"

"Aku lagi serius, Na."

Hannah mengusap pelan pipi suaminya.

"Dengerin aku."

Romi mengangguk.

"Aku memang pengin punya anak."

"Banget malahan."

"Mas juga tahu itu."

"Iya, tapi kalau suatu hari nanti Allah bilang belum waktunya..."

Hannah berhenti sejenak.

"...aku tetap milih hidup sama Mas."

Mata Romi mulai memanas kembali.

"Na..."

"Aku menikah sama laki-laki yang aku cintai. Bukan sama hasil laboratoriumnya."

Seketika air mata Romi kembali jatuh. Ia tidak sanggup lagi berkata-kata.

Dengan gerakan perlahan, ia menarik tubuh Hannah ke dalam pelukannya. Pelukan itu begitu erat, seolah ia takut perempuan yang ada di hadapannya benar-benar pergi jika ia melepaskannya.

"Maaf." Suara Romi bergetar.

"Maaf karena tadi ninggalin kamu sendirian."

Hannah menggeleng sambil membalas pelukan suaminya.

"Aku udah maafin."

"Maaf karena aku egois."

"Aku juga minta maaf kalau belum bisa selalu ngerti perasaan Mas."

Romi mengusap pelan punggung istrinya.

"Terima kasih."

"Untuk apa?"

"Karena masih milih bertahan."

Hannah tersenyum di balik pelukan itu.

"Aku belum ke mana-mana."

"Tapi aku takut."

"Aku tahu."

"Takut kamu berubah pikiran. Aku takut kamu suatu hari sadar kalau kamu bisa dapat laki-laki yang lebih baik."

Hannah mengangkat wajahnya hingga tatapan mereka kembali bertemu.

"Aku nggak akan ke mana-mana."

"Janji?"

"Janji."

Romi mengangguk pelan. Perlahan ia mengecup kening istrinya dengan penuh rasa syukur. Malam itu tidak ada lagi pembahasan tentang hasil laboratorium, terapi, ataupun kemungkinan yang masih tersisa. Yang ada hanyalah dua hati yang sama-sama terluka, tetapi memilih untuk tetap saling menguatkan.

Di dalam keheningan kamar, pelukan itu tak kunjung terlepas. Kehangatan yang sejak beberapa hari terakhir terasa menghilang perlahan kembali mereka temukan. Tidak banyak kata yang terucap setelahnya. Mereka membiarkan rasa rindu, kasih sayang, dan cinta yang selama ini tertahan berbicara melalui keheningan yang hanya dimengerti oleh sepasang suami istri.

Menjelang pukul tiga dini hari, keduanya akhirnya terlelap dalam pelukan satu sama lain.

Luka itu memang belum sembuh.

Namun setidaknya, mulai malam itu mereka tidak lagi harus menanggungnya sendirian.

1
Nathasya90
rakus sih ini. mau dua-duanya 🤣
Nathasya90
nggak sabar juga pengen ketok pala Romi/Hammer/🤣
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
iih ternyata jelita nih maksa ya orgnya
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
wah enak ini makan siangnya
Eneng Farida
romi sm jelita memang cocok sm2 busuk nya hanna wanita baik cocoknya sm laki2 baik jga buruan cepat ketahuan atuh thor perselingkuhan romi laki2 tak thu dri
Nathasya90: setuju
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
aku juga pasti mikir yg ngga2 kalau jadi hannah
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
lihat jelita nih
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
aku juga. lebih milih kerja drpd masak. 😄
Nathasya90: setuju
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
aku jd hannah pasti mikir macam2 liat reaksi suami begitu
Nathasya90: nah iya kk, kentara banget sih itu.
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
kok aku jd deg2an ya. lanjut deh
Nathasya90: lanjut ka bacanya😍
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
lantas.. hanna yg dihujat terus masa ga kasian😞
Nathasya90: lalu tega gitu namanya dong ya. lebih milih jaga biar dia nggak terluka tapi nggak apa2 kalau istrinya yang terluka?
total 3 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
swmoga selalu baik2 aja seterusnya
uhen: mampir kk ke cerita aku 🙏🗿
total 1 replies
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
memang begitu harusnya. menikah itu krn untuk mendapatkan pendamping hidup. senang dan susah bersama. hanya saja ada saja kerikil2 yg mengganggu. seperti pertanyaan mertua atau org2 disekitar kita. yang tadinya hati kita tidak apa2 lama kelamaan menjadi gelisah dan merasa minder
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
ayo romi.. periksa.
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
lelah sih kalau berjuang sendirian. lanjut
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
pasti lama kelamaan tekanan batin rasanya
Eneng Farida
romi laki2 tak tau dri udh untung ada istri yg mau nerima apa adanya ini mlh kesemsem sm org naru pantes nanti d tinggal hanna
Nathasya90
Haii guys... othor kembali lagi dengan judul buku baru. Semoga suka ya dengan anak baru aku🫰🏻❤️🥰

Jangan lupa kasih ⭐⭐⭐⭐⭐ biar othor makin semangat up nya ya.

Ditunggu semua komenannya.

Love sekeboon buat kalian💐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!