Hubungan Serena dan Heeseung selalu berada di antara lembut dan mencekik.
Setiap kali badai berlalu, Heeseung datang membawa janji dan ketenangan yang membuat Serena ingin percaya lagi. Tapi di balik perhatian dan perlindungan itu, ada rasa memiliki yang terlalu kuat untuk diabaikan.
Serena terjebak antara takut kehilangan dan takut tinggal.
Cinta yang awalnya terasa aman, perlahan berubah menjadi sesuatu yang sulit untuk dilepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menahan diri
Di kampus, Serena baru saja berpisah dengan Jake ketika ponselnya bergetar di saku.
Ia mengeluarkan ponsel itu dengan tangan sedikit gemetar.
Revan: Lo di mana?
Satu baris pesan. Singkat, dingin, tapi mengandung tekanan yang membuat dada Serena sesak.
“Aku masih di kampus, Kak. Mau ke perpustakaan bentar,” balasnya pelan.
Balasan datang hampir seketika.
Revan: Gue jemput sekarang. Jangan ke mana-mana.
Serena menatap layar ponselnya lama.
Ia tahu, pertemuan singkat dengan Jake tadi pasti sudah ketahuan.
Dan ia tahu, malam ini bukan malam yang akan berlalu dengan tenang.
Hujan mulai turun rintik-rintik saat Serena keluar dari pintu utama kampus.
Langit sudah benar-benar gelap, lampu jalan menyala satu per satu, memantulkan genangan air di aspal.
Ia langsung melihat mobil hitam Revan berhenti tepat di depan tangga.
Pintu pengemudi terbuka. Revan berdiri di sana, jasnya basah sedikit di bagian bahu, wajahnya datar tapi matanya tidak bisa menyembunyikan badai di dalamnya.
Serena menelan ludah. Ia berjalan mendekat, mencoba menenangkan napasnya.
“Kak Re…”
Revan tidak menjawab. Tatapannya melewati Serena, berhenti pada sosok yang baru saja keluar dari gedung belakang—Jake.
Jake juga melihat mereka. Ia berhenti, tidak mendekat, hanya berdiri beberapa meter dari sana.
Suasana seketika berubah kaku. Suara hujan jadi satu-satunya yang terdengar.
Revan maju satu langkah. Tangannya terulur, menggenggam pergelangan tangan Serena pelan tapi pasti.
“Lo gapapa?” tanyanya pelan, suaranya rendah.
Serena mengangguk. “Gapapa, Kak. Aku baru aja mau pulang.”
Revan mengangguk sekali, singkat. Baru kemudian ia menoleh ke Jake.
Matanya menyipit, rahangnya mengeras, tapi ia tidak bergerak maju.
Ia menahan diri. Dengan susah payah.
“Jake,” ucapnya pelan.
Satu kata itu saja sudah cukup membuat udara di antara mereka terasa panas.
Jake mengangkat kedua tangannya pelan, tanda tidak ada niat untuk berkelahi.
“Gue cuma mau pastiin dia baik-baik aja, Revan. Udah itu doang.”
Revan tertawa pendek, tapi tidak ada lucunya sama sekali.
“Lo pikir gue percaya?”
Ia meremas pelan tangan Serena, seolah menegaskan kepemilikan itu tanpa perlu bicara panjang.
“Serena udah punya gue. Jadi urus urusan lo sendiri.”
Jake menghela napas panjang. Ia menatap Serena sekali, lalu mengangguk pelan.
“Oke. Gue ngerti.”
Tanpa kata lagi, Jake berbalik dan pergi, menghilang di balik hujan yang makin deras.
Revan tetap diam sampai sosok Jake benar-benar tidak terlihat lagi.
Baru setelah itu ia menoleh ke Serena. Tatapannya melunak, tapi masih ada sisa ketegangan di sana.
“Masuk mobil,” katanya singkat.
Serena tidak membantah. Ia duduk di kursi penumpang, tangan masih digenggam Revan sampai pintu mobil ditutup.
Di dalam mobil, suasana menjadi hening. Hanya suara wiper yang menyapu kaca dan hujan yang mengetuk atap.
Revan menyalakan mesin, tapi tidak langsung melajukan mobilnya.
Ia menatap Serena lama, seolah memastikan gadis itu benar-benar ada di depannya.
“Gue nahan diri, Na,” ucapnya akhirnya, suaranya serak.
“Gue pengen banget narik lo masuk mobil, bawa lo pulang, terus ngunci pintu biar nggak ada yang bisa deketin lo lagi.”
Ia menghela napas berat.
“Tapi gue inget janji gue. Gue nggak mau bikin lo takut sama gue.”
Serena menatapnya, dadanya sesak.
“Kak…”
Revan menggeleng pelan.
“Gue nggak marah sama lo. Gue marah sama diri gue sendiri. Karena gue takut kehilangan lo.”
Serena tidak menjawab. Ia hanya mengulurkan tangan, menyentuh punggung tangan Revan yang masih menggenggam setir terlalu erat.
Kontak itu membuat Revan menutup mata sejenak.
Ketika ia membuka lagi, ada sesuatu yang luluh di wajahnya.
“Jangan bikin gue nyesel udah nahan diri, ya,” gumamnya pelan.
“Karena kalau lo pergi, gue nggak tahu gue bakal jadi apa.”
Serena mengangguk pelan.
“Aku nggak akan pergi, Kak.”
Mobil mulai bergerak pelan, membelah hujan malam.
Untuk pertama kalinya, Revan sadar bahwa menahan diri itu sakitnya lebih besar daripada meledak.
Pesan dari Serena masuk hari Jumat sore.
Kak, minggu depan libur kampus. Aku pulang ke rumah orang tua dulu ya. Kangen Mama juga.
Revan membaca pesan itu dua kali.
tidak ada kata putus. tidak ada kata capek. hanya libur kampus dan kangen Mama.
Tapi tetap aja dadanya terasa sesak.
Dua tahun terakhir Serena hampir tidak pernah berpisah lama dari dia. Apartemen yang diberikan Revan ke Serena sudah menjadi rumahnya juga. Sekarang tiba-tiba kosong lagi.
Ia langsung menelepon. Tidak diangkat.
Ia menelepon lagi. Masih sama.
Di telepon ketiga, yang menjawab adalah Ibu Serena.
“Serena ada di sini, Revan. Dia bilang butuh istirahat.”
Suara itu tenang, tapi ada peringatan halus di dalamnya.
“Jangan datang malam ini. Biar dia tenang dulu.”
Telepon terputus.
BANGSAT!
Revan melempar ponselnya ke sofa. Dadanya sesak, kepalanya panas.
Semua kontrol yang ia pegang selama ini, lepas dalam satu pesan.
“Gue nggak percaya ini beneran terjadi,” gumamnya pelan.
Ia berdiri, berjalan mondar-mandir di ruang tamu apartemen yang tiba-tiba terasa terlalu besar dan terlalu sunyi.
Tanpa Serena, tempat ini cuma kotak kosong.
Bagian dari dirinya berteriak untuk langsung pergi ke rumah orang tua Serena, menarik gadis itu pulang, dan mengunci pintu lagi.
Tapi bagian lain—bagian kecil yang mulai tumbuh perlahan dan menyuruhnya mengerti.
Gue janji nggak akan bikin lo takut, Na.
Janji itu menggantung di kepalanya seperti pisau.
Malam itu Revan tidak tidur.
Ia duduk di tepi ranjang, menatap sisi kasur yang kosong, dan untuk pertama kalinya ia ngerti rasanya kehilangan kontrol tanpa bisa berbuat apa-apa.
Pagi harinya ia mengirim pesan lagi.
"Gue nggak maksa lo pulang. Tapi kabarin gue kalau lo makan. Gue nggak bisa tenang kalau nggak tahu lo oke."
Balasan datang 6 jam kemudian. Hanya satu kata:
"Oke."
Itu cukup membuat Revan bisa bernapas lagi, tapi tidak cukup untuk menenangkan rasa takutnya.
Di kantor, Bu Maya melihat bosnya datang dengan mata merah dan jas kusut.
“Pak Direktur… mau saya ambilkan kopi?”
Revan hanya menggeleng.
“Jangan ganggu saya hari ini."
Dan untuk pertama kalinya sejak dua tahun, dia ngerti. Bahwa kepercayaan itu mudah hilang, namun susah didapat.