Ada alasan kenapa banyak orang menyebutnya Perfect Husband.
Leo J memiliki semua yang diimpikan seorang wanita. Ia setia, bertanggung jawab dan mencintai istrinya dengan cara yang membuat siapa pun iri.
Namun, cinta itu tidak pernah sederhana.
Leo J mencintai dengan cara yang berlebihan. Terlalu melindungi, terlalu posesif, terlalu takut kehilangan. Hingga terkadang, cintanya itu terasa menyesakkan.
Di masa lalu, pria yang kini begitu memuja istrinya itu... pernah mencintai wanita lain hingga rela memberikan seluruh dunianya.
Pada suatu hari, mereka dipertemukan dalam satu meja. Keheningan berubah menjadi sesak ketika Leo J menatap wanita yang pernah menjadi alasan hidupnya.
"Sekarang, Leo ada di depanmu, Kiara. Apa yang ingin kau katakan padanya?"
Yuna mengizinkan mereka berbicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perfect Husband 2
Di sisi lain...
Ada De Vano Mahaeswara. Perfect Husband berikutnya.
Pria yang tidak pernah sekalipun menuntut apa pun dari istrinya, Neva. Bahkan ketika suara-suara di sekeliling mereka terus mempertanyakan satu hal.
"Kapan punya anak?"
Lima tahun usia pernikahan mereka berlalu. Namun, belum ada tangisan bayi yang mengisi istana mereka.
Di tengah rasa putus asanya, Neva akhirnya memberanikan diri mengutarakan sebuah usul pada Vano.
"Bagaimana kalau kita mengadopsi saja?"
Vano menggenggam tangan Neva. Ia tahu, pertanyaan itu lahir bukan dari keinginan semata, melainkan dari luka yang telah lama dipendam oleh istrinya ini.
"Kita tunggu sebentar lagi ya, Sayang," jawab Vano lembut.
Neva menunduk. "Kata orang, kalau mengadopsi bayi, itu bisa jadi pancingan. Barangkali... aku bisa cepat hamil." Suaranya bergetar di akhir kalimat.
Vano mengusap punggung tangan Neva penuh pengertian. Dia tidak menyalahkan pemikiran itu.
"Mengadopsi seorang anak bukan perkara sederhana," ucapnya. "Ada banyak hal yang harus kita pikiran saat mengadopsi bayi dan aku tidak siap untuk itu," lanjut Vano.
Neva menatapnya. "Kenapa?" tanya Neva tercekat.
Vano membalas tatapan Neva dengan teduh. "Karena aku takut," jawabnya. "Aku takut tidak bisa mencintainya seperti anakku sendiri."
Neva terdiam, mengigit bibirnya pelan.
Vano melanjutkan, "Aku juga takut, jika suatu hari kita dikaruniai anak kandung, tanpa sadar aku membedakan kasih sayangku. Dan aku tidak ingin ada seorang anak yang tumbuh dengan merasa kurang dicintai oleh orang tuanya."
Neva langsung menghamburkan pelukannya pada tubuh suaminya, memeluk Vano dengan erat. Tangisnya pecah di dada pria itu.
"Maafkan aku," bisiknya lirih. "Maaf karena aku tidak berpikir sejauh itu."
Vano mengusap punggung istrinya dengan penuh kasih. "Jangan menangis lagi, ya."
Neva menggeleng, tetapi air matanya justru semakin deras.
Vano tersenyum tipis. "Ada aku. Aku akan selalu menemanimu. Ada ataupun tidak ada malaikat kecil di antara kita." Ia mengecup pelan puncak kepala Neva. "Jadi, mari kita berjanji. Apa pun yang terjadi, kita tidak akan saling meninggalkan. Kita akan tetap hidup bahagia... bersama. Ada ataupun tidak ada malaikat kecil yang Tuhan titipkan kepada kita."
Neva semakin terisak dalam pelukan Vano.
"Terima kasih," ucapnya tercekat. "Terima kasih karena sudah mencintaiku sedalam ini. Aku... wanita yang tidak sempurna ini."
"Sst..." Vano mengangkat dagu istrinya perlahan. "Jangan pernah mengatakan itu."
Ia menatap Neva dengan senyum yang begitu hangat. Mencoba menenangkan gejolak wanita yang ia cintai. "Di mata orang lain, mungkin kamu memiliki kekurangan, tapi di mataku... Kamu selalu sempurna. Sempurna untukku. Bukankah itu sudah lebih dari cukup?"
🍃🍃
Berbagai usaha sudah mereka lakukan tapi sekali lagi... Tentang keturunan bukanlah ranah manusia. Mereka hanya seorang hamba, yang meminta.
Neva selalu menguatkan hatinya karena selalu ada Vano yang menjadi sandarannya.
Namun siang itu... Vano pulang dengan tangan yang terkena darah. Neva pikir, tangan Vano terluka tapi ternyata tidak.
Darah itu adalah darah seorang gadis yang di tolong Vano beberapa menit yang lalu.
"Bagaimana kalau ini adalah pertanda bahwa akan ada wanita lain di hidupmu." Pikiran itu masuk begitu saja. Air mata Neva menetas.
"Aku hanya menolongnya. Itu bukan pertanda apapun, Sayang," sahut Vano segera. Hatinya kembali sakit melihat Neva menangis dengan pikiran yang selalu sama. Takut dirinya memiliki wanita lain.
Neva menggeleng. "Aku ini bukan wanita yang sempurna jadi kamu memiliki alasan untuk memilih wanita lain." Rasa rendah diri kembali mengenggam hatinya dengan kuat.
"Tapi aku tidak akan memilih wanita lain. Aku hanya ingin kamu," sahut Vano meyakinkan.
"Tapi aku tidak bisa memberimu gelar seorang ayah," sahut Neva. Bibirnya bergetar menahan isak. Kedua matanya menatap Vano dengan sendu. Air mata masih jatuh di pipinya.
"Aku tidak perduli. Aku menikah denganmu karena aku mencintaimu. Aku tidak perduli apakah akan ada anak atau tidak di dalam pernikahan ini." Vano merengkuh Neva dalam pelukannya. Memeluknya penuh kasih. "Aku hanya ingin kamu, Neva D'isha Menghabiskan sisa hidupku bersamamu."
Neva membalas pelukan Vano dengan erat.
Dalam perjalanan hidup ini, mereka akhirnya sadar bahwa restu Tuhan terletak pada kepasrahannya. Mereka harus yakin bahwa keadilan Tuhan tersimpan disetiap sejarah hidup manusia. Bahwa pena Tuhan adalah akalnya yang suci.
boleh request gk kak... kpan² klo kiara ketemu yuna pas ada leo juga,pasti seru..