Di alam para Dewa, aturan sudah tertulis sejak zaman dahulu kala: Laki-laki adalah Dewa, Wanita adalah Malaikat. Namun, Lisa adalah pengecualian. Dalam darahnya mengalir kekuatan agung sang Raja Dewa, dan tanda suci terukir di tubuhnya membuktikan dia layak menyandang gelar "Dewa", bukan sekadar "Malaikat".
Sayangnya, dunia tak siap menerima itu. Lisa tumbuh dengan anggun, lemah lembut, namun kesepian. Ayahnya, sang Penguasa Langit, bersikap dingin dan menghilang sejak ia berusia 5 tahun. Lisa mengira dirinya dibenci dan ditolak.
Namun, kenyataannya berbeda. Sang Ayah bukan tak punya hati, ia justru menyembunyikan Lisa demi melindunginya dari kecemburuan dan bahaya maut dari Dewa-Dewa lain. Ketika Lisa dewasa dan menuntut haknya, ia harus menempuh jalan berdarah, menguasai sihir terkuat, dan memimpin perubahan sejarah. Di tengah pertarungan memperebutkan takdir, ia juga akan menemukan cinta, memecahkan kesalahpahaman besar, dan akhirnya mengerti arti pengorbanan sang Ayah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Liss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 11
Kael berjalan mengikuti langkah Lisa, matanya tak lepas dari sosok gadis itu. Semakin banyak Lisa bicara, semakin dalam rahasia yang terungkap, semakin Kael sadar bahwa gadis di sampingnya ini bukanlah sosok biasa. Pengetahuannya tentang energi, tentang negara-negara lain, bahkan tentang hal-hal yang seharusnya hanya diketahui oleh kalangan tertinggi kerajaan... semuanya dia kuasai seolah itu adalah pengetahuan dasar yang sudah dia hafal sejak lahir.
"Lisa..." panggil Kael pelan, suaranya bergetar karena rasa penasaran yang meluap-luap. "Dari mana kau tahu semua ini? Tentang Energi Suci, tentang Kekaisaran Suci, tentang bagaimana cara kerja racun dan energi gelap itu? Hal-hal ini... bahkan aku sebagai seorang Pangeran saja baru mendengarnya sekilas dalam buku sejarah kuno yang terbatas aksesnya. Bagaimana kau bisa tahu sedetail ini?"
Langkah Lisa melambat sedikit, tapi wajahnya tetap lurus ke depan, tidak menoleh sedikit pun ke arah Kael. Ekspresinya tetap datar, seolah pertanyaan Kael tadi hanyalah angin lalu yang tak berarti.
"Kau terlalu banyak bertanya, Kael," jawabnya dingin, nada bicaranya tenang namun berjarak. "Apa gunanya kau tahu asal usul pengetahuanku? Yang penting kau sudah tahu jawabannya. Orang itu tidak bisa diselamatkan. Nasibnya sudah tertutup."
"Tapi bagiku itu penting!" seru Kael berhenti, lalu ia memberanikan diri menarik pelan ujung lengan baju Lisa, memaksa gadis itu berhenti dan menatapnya. "Semua hal tentangmu rasanya selalu menjadi teka-teki besar bagiku. Kau kuat secara fisik, kau pintar, kau punya barang berharga yang tak dimiliki orang lain, kau tahu hal-hal yang tak diketahui ... Siapa sebenarnya kau, Lisa? Apa asal usulmu yang sebenarnya?"
Di mata Kael, terpancar kerinduan dan ketulusan. Dia ingin masuk lebih dalam, ingin membuka selubung misteri yang menyelimuti gadis itu. Baginya, semakin Lisa berusaha menutup diri, semakin kuat dorongan hatinya untuk mendekat, untuk memahami, dan untuk melindungi sosok yang terlihat kokoh itu, namun entah kenapa terasa begitu kesepian.
Lisa melepaskan pelan cengkeraman tangan Kael dari lengan bajunya. Gerakannya lembut namun tegas, tidak kasar, tapi cukup jelas untuk memberi batas. Dia menatap mata Kael dengan manik matanya yang tajam namun kosong, seolah ada ribuan rahasia yang tersembunyi di balik kedalaman tatapan itu.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku, Kael," ucap Lisa pelan, suaranya rendah namun anggun. "Anggap saja aku hanya seorang murid biasa yang kebetulan membaca banyak buku dan memiliki sedikit keberuntungan. Tidak ada yang istimewa."
"Tidak ada yang istimewa?" Kael tertawa kecil, tapi tawanya terdengar getir dan tak percaya. Dia menggeleng pelan, menatap Lisa lekat-lekat. "Lisa, mataku tidak buta, dan akal sehatku masih berjalan. Tidak ada 'murid biasa' yang bisa mengalahkan petarung tingkat tinggi secepat kilat tanpa berkeringat. Tidak ada 'murid biasa' yang punya obat dari Gunung Es. Dan tidak ada 'murid biasa' yang bisa menjelaskan seluk-beluk kekuatan suci dan kegelapan seterang siang hari seperti barusan."
Kael melangkah selangkah lebih dekat, mengurangi jarak yang sebelumnya sengaja dibuat Lisa.
"Kau terus bilang kau orang biasa, kau terus bertindak seolah semua hal hebat yang kau lakukan itu hanyalah hal sepele... tapi semakin kau bersikap seperti itu, semakin aku sadar betapa besarnya jurang pemisah antara kau dan kami semua. Kau seperti berdiri di puncak gunung yang tinggi, sementara kami masih merangkak di bawah sana."
Hati Kael berdebar kencang. Ada rasa takut, kagum, dan rasa suka yang bercampur menjadi satu.
"Dan anehnya... Lisa, semakin aku tahu betapa hebat dan misteriusnya dirimu, semakin aku tidak ingin melepaskanmu. Meskipun kau dingin, meskipun kau menjauh, meskipun kau selalu membatasi diri... justru itu yang membuatku ingin terus ada di dekatmu. Aku ingin tahu, apa yang ada di balik tembok dingin yang kau bangun itu? Siapa Lisa yang sebenarnya?"
Lisa diam saja. Angin koridor berhembus pelan, menerbangkan ujung rambut hitam panjangnya. Dia tidak marah, tidak tersipu malu, tidak senang. Wajahnya tetap seperti permukaan danau yang tenang tanpa riak air.
Dia hanya menatap Kael dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara rasa kasihan, ketidakpedulian, dan sedikit rasa terhibur karena kegigihan pemuda di hadapannya ini.
"Kau orang yang aneh, Kael," jawab Lisa akhirnya, mengalihkan pandangannya kembali ke jalan di depannya. Dia kembali melangkah, melewati sisi tubuh Kael. "Sudah kubilang, kita sebaiknya menjaga jarak. Kau akan terluka jika terlalu dekat denganku. Rahasia yang kubawa... bukanlah hal yang bisa kau tanggung, bukan hal yang bisa kau pahami, dan bukan hal yang aman untuk kau ketahui."
"Biarkan aku yang menanggung risikonya!" seru Kael berbalik dan kembali mengikutinya, tidak mau menyerah. "Aku bukan anak kecil lagi, Lisa. Aku Pangeran negara ini. Aku punya tanggung jawab, aku punya kekuasaan, dan aku punya perasaan. Jangan perlakukan aku seolah aku orang asing yang tidak berarti apa-apa di matamu."
Lisa berhenti tepat di depan pintu perpustakaan. Dia memegang gagang pintu, lalu menoleh sedikit ke arah Kael yang berdiri tepat di belakangnya, napas pemuda itu sedikit memburu karena emosi yang meluap.
"Dengar baik-baik, Kael," ucap Lisa dengan nada yang sedikit lebih serius dan rendah. "Dunia ini tidak seindah yang kau bayangkan. Di luar sana ada kegelapan yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar obat terlarang atau energi kotor. Aku ada di sini bukan untuk bermain-main, bukan untuk berteman, dan bukan untuk jatuh cinta."
Dia membuka pintu, cahaya remang dari dalam ruangan menyinari separuh wajahnya, membuat bayangan di wajahnya terlihat makin misterius.
"Kalau kau ingin tetap ada di dekatku... ingat satu hal saja. Jangan terlalu banyak bertanya. Jangan terlalu berharap. Dan jangan pernah berusaha mengubahku. Karena kau tidak akan pernah berhasil menaklukkan angin atau mengurung langit, Kael. Begitu juga denganku."
Tanpa menunggu jawaban, Lisa masuk ke dalam perpustakaan dan menutup pintu perlahan-lahan, meninggalkan Kael yang berdiri terpaku sendirian di koridor.
Pintu kayu itu tertutup rapat, tapi jejak kehadiran Lisa masih terasa di udara.
Kael menatap pintu tertutup itu lama sekali. Jantungnya masih berdebar kencang, bukan karena takut, tapi karena rasa penasaran dan kekaguman yang kini sudah mengakar sangat dalam di hatinya.
"Dunia yang mengerikan... kegelapan yang lebih besar..." gumam Kael pada dirinya sendiri, senyum tipis namun penuh tekad terukir di bibirnya. "Kalau begitu... biarkan aku yang menjadi perisaimu, Lisa. Biarkan aku yang menemani menghadapi semua itu. Kau mungkin langit yang tinggi dan angin yang liar... tapi aku tidak akan berhenti berusaha meraihmu." Berteriak
Dia menepuk dadanya sendiri pelan, menegakkan punggungnya kembali. Meski Lisa terus mendorongnya menjauh, meski gadis itu penuh rahasia yang menakutkan, justru itulah yang membuat Kael semakin yakin: Lisa bukan sekadar gadis biasa, dan dia tidak akan membiarkan gadis itu berjalan sendirian menghadapi segala ancaman besar yang dia sebutkan tadi.
Di dalam perpustakaan, Lisa duduk di sudut paling gelap, di balik tumpukan buku-buku tebal kuno. Dia menatap keluar jendela, ke arah Kael yang masih berdiri di koridor sana. Di matanya, terlintas kilatan cahaya samar yang bukan milik manusia biasa.
"Kau memang gigih, Pangeran..." bisiknya pelan, nyaris tak terdengar. "Tapi kau belum tahu... bahwa rahasia yang kubawa bisa mengguncang seluruh dasar kerajaanmu. Teruslah penasaran... sampai nanti kau sadar, bahwa gadis yang kau kagumi ini... mungkin adalah bahaya terbesar yang pernah kau temui dalam hidupmu."
Lisa membuka sebuah buku tebal berkulit hitam, namun matanya tidak benar-benar membaca tulisan di sana. Pikirannya sudah melayang jauh, ke pertanda buruk yang dia rasakan kemarin malam—getaran energi gelap itu makin kuat, dan dia tahu... masa damai di akademi ini tidak akan bertahan lama. Ancaman yang lebih besar sedang bergerak mendekat, dan hanya dia yang tahu dari mana bahaya itu mungkin datang.
POV Kael :
"Baiklah..." ucap Kael tegas. "Aku akan melaporkan semua ini pada Ayahku, Kaisar. Kita tidak bisa membiarkan hal ini menyebar dan membahayakan kerajaan. Aku akan mengurusnya sampai tuntas. Terima kasih sudah memberitahu kebenarannya, Lisa."
Kael pun segera berbalik pergi untuk menyiapkan laporan dan langkah selanjutnya.
KEDATANGAN UTUSAN SUCI
Beberapa hari kemudian, suasana akademi menjadi heboh dan hormat. Datanglah sebuah rombongan megah mengenakan jubah putih keemasan dengan lambang salib suci.
Pemimpinnya adalah Uskup diosesan cain, seorang pemuka agama tertinggi di wilayah barat yang ditunjuk langsung oleh Kekaisaran Suci. Dia datang untuk memenuhi perjanjian kerja sama dan memeriksa penyebaran energi gelap di wilayah ini.
Segera setelah tiba, Uskup diosesan langsung menuju ruang medis untuk memeriksa kondisi si cowok berotot itu.
Uskup diosesan menaruh tangannya di atas kepala pasien. Cahaya keemasan yang hangat dan menyilaukan memancar dari telapak tangannya. "Sakral Light..." gumamnya pelan.
Cahaya itu menyelimuti tubuh si cowok. Namun...
Uskup diosesan mengerutkan kening dalam, lalu menarik tangannya kembali dengan wajah serius dan pucat.
"Ya Tuhan... sungguh keji..." gumam Uskup. "Energi kotor ini sudah mengakar sangat dalam. Bukan hanya di darah, tapi sudah menyatu dengan urat nadinya."
"Bagaimana Yang Mulia? Bisakah disembuhkan?" tanya gurunya dengan cemas.
"Organ dalam dan lukanya bisa kusembuhkan... aku bisa menetralkan racunnya agar dia tidak kesakitan," jawab Uskup pelan. "TAPI... inti permasalahannya tidak bisa hilang. Noda hitam di jiwanya tetap ada."
Uskup cain menatap pasien itu dengan pandangan sedih.
"Jadi, dia bisa hidup berapa lama?"
"Dengan bantuanku, dia bisa bertahan hidup normal... paling lama hanya 5 tahun ke depan."
😱😱😱
"Lebih dari itu... kekuatan hidupnya akan habis terkuras oleh energi gelap itu. Dan pada akhirnya, dia akan tetap mati. Itu adalah batas maksimal yang bisa kulakukan."
Semua orang yang mendengarnya terkejut dan terdiam.
Dengan langkah berat, Uskup diosesan Cain keluar dari ruang medis. Pikirannya penuh dengan masalah besar yang baru saja dia temukan.
Namun, tiba-tiba...
'Hah?!' 🤯
Uskup cain terhenti mendadak di tengah koridor. Seluruh tubuhnya tergetar hebat. Matanya terbelalak menatap ke arah seorang gadis yang sedang berjalan santai di ujung koridor.
Itu Lisa.
Dari tubuh gadis itu... memancarkan aura yang begitu murni, tenang, dan SANGAT SUCI. Aura itu bahkan lebih bersih dan lebih hangat daripada cahaya yang dia miliki sendiri! Bahkan lebih suci daripada cahaya di altar Kuil Utama!
'Ini... ini aura apa?! Sehalus embun, seagung langit...' batin Uskup cain gemetar. 'Di dunia ini mana mungkin ada manusia yang memiliki aura semurni ini?! Dia... dia seperti sumber dari segala cahaya!'
Tanpa sadar, kaki Uskup cain berjalan mendekat.
Lisa yang mendengar langkah kaki mendekat sebenarnya ingin menghindar. Dia tidak suka diperhatikan atau diperiksa auranya. Dia mencoba belok kanan, tapi Uskup malah belok kiri. Dia mau jalan cepat, tapi Uskup malah mempercepat langkah.
Akhirnya... jalan Lisa terhalang.
Uskup diosesan Cain berdiri tepat di hadapannya, menatap Lisa dengan tatapan takjub, hormat, dan bingung campur aduk.
"Non... Nona muda..." suara Uskup cain bergetar. "Maafkan keberanianku... tapi bolehkah aku tahu... siapakah gerangan sebenarnya engkau?"
Lisa berdiri diam, wajahnya datar tapi di dalam hati dia mendengus kesal. 'Sialan... tua ini punya indra penciuman yang tajam juga.'
Merasakan aura yang begitu murni dan menenangkan dari tubuh Lisa, hati Uskup diosesan Cain seakan dipenuhi cahaya. Rasa hormat yang luar biasa muncul secara alami, melebihi rasa hormatnya pada Kaisar sekalipun.
Tanpa sadar, lututnya melunjak dan dia hampir bersimpuh di hadapan gadis muda itu!
"Maafkan hamba, Nona!!" suara Uskup bergetar hebat, tangannya terangkat ingin menyentuh tapi takut berbuat dosa. "Hamba... hamba merasakan ada kekuatan yang sangat besar dan suci di dalam diri Nona! Aura ini... ini bukan aura manusia biasa!"
Lisa mundur selangkah dengan sigap, menghindari sentuhan dan sikap berlebihan itu. Wajahnya tetap datar dan dingin.
"Saya hanya murid biasa, Yang Mulia," jawab Lisa tegas. "Tidak ada kekuatan aneh seperti yang Anda katakan. Silakan beri jalan, saya ingin lewat."
"Tapi Nona—"
Belum selesai Uskup bicara, tiba-tiba sosok kecil melesat dan berdiri kokoh di depan Lisa!
Itu Floyen!
Dia langsung menatap Uskup itu dengan mata melotot galak, tangannya mengepal di samping badan.
"HEI TUA-TUA!!" teriak Floyen keras. "Jangan ganggu Kakakku dong! Ngapain sih natap-natap terus?! Mau nyihir apa gimana?!"
Floyen mendorong bahu Uskup itu pelan tapi tegas, "Minggir dong! Kakakku mau lewat! Jangan sok akrab segala mau sujud-sujud gitu! Aneh tau!"
Uskup diosesan tertegun, kaget bukan main melihat bocah kecil yang berani menyuruhnya minggir begitu saja. Tapi saat dia melihat wajah Floyen... dia lagi-lagi merasakan getaran energi yang kuat dan murni juga!
'Dua orang?!' batin Uskup makin bingung. 'Bocah ini juga punya aura yang tidak wajar! Mereka ini keluarga apa sih sebenarnya?!'
Lisa menarik tangan Floyen pelan. "Sudah Floyen, jangan kasar pada orang tua. Ayo kita pergi."
"Tapi Kakak! Dia natap Kakak aneh banget!" gerutu Floyen masih kesal.
"Biarkan saja. Dia hanya salah paham."
Lisa pun berjalan melewati sisi Uskup tanpa menoleh lagi, meninggalkan pria itu yang masih berdiri mematung di tengah koridor dengan jutaan pertanyaan di kepalanya.
'Murid biasa katanya...' batin Uskup sambil mengusap dadanya yang masih berdebar. 'Bohong besar. Itu gadis itu... pasti ada hubungannya dengan ramalan. Aku harus melaporkan ini ke pusat segera!'
saat Lisa dan floyen ingin pergi ke ruangan ramuan ingin membuat obat dia melewati ruangan pasien dia melihat
keluarga pria berotot itu menangis karena si pria berotot itu keadaannya walaupun dia sembuh secara fisik dia tidak memiliki mana satupun dalam tubuhnya manusia biasa aja memiliki sedikit mana dalam tubuhnya sedangkan dia tidak memiliki satu pun mana.
yang akan membuat diasakit-sakitan dan harus berhenti dari akademi kedua orang tuanya menangis.
lisa salfok sama adik dari pria yang tidak tahu malu itu adik nya sangat imut dia laki laki yang imut berambut biru tapi putih dengan mata berwarna biru langit dia menangis senduh membuat Lisa ibah
Bersambung.....