NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Hati

Reinkarnasi Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:974
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Setelah bertahun-tahun menanti buah hati, badai besar menghancurkan rumah tangga Lani.
Ia diceraikan oleh suaminya, Alex, yang berselingkuh dengan sahabat karib Lani sendiri.
Di tengah usaha menyembuhkan luka hati dan bangkit dari keterpurukan, takdir mempertemukan Lani dengan Afrain—pria berjiwa bebas yang merupakan mantan suami dari kakak Alex.
Sama-sama membawa trauma masa lalu, pertemuan tak sengaja itu perlahan berubah menjadi ikatan emosional yang dalam.
Afrain menjadi tempat bersandar yang memahami kepedihan Lani, dan benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara mereka. Namun, hubungan baru ini berada di lingkaran keluarga yang rumit dan penuh kecanggungan.
Di hadapan restu yang dipertanyakan dan bayang-bayang masa lalu yang saling berkaitan, akankah Lani berhasil melepaskan diri dari jerat trauma dan menemukan kebahagiaan sejatinya bersama Afrain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Di kediaman mewah Afrain, suasana terasa jauh lebih tenang dan damai. Afrain berjalan menyusuri koridor rumahnya yang berlantai marmer, lalu berhenti di depan sebuah pintu kayu jati yang kokoh.

Tok... tok... tok.....

Afrain mengetuk pintu kamar Lani dengan ritme yang pelan namun pasti.

Tak butuh waktu lama, daun pintu terbuka sedikit, menampilkan sosok Lani yang sudah tampak jauh lebih segar.

Rambutnya yang hitam legam dibiarkan tergerai rapi.

"Ada apa, Mas? Mas nggak kerja?" tanya Lani heran, menatap jam dinding di ruang tengah yang menunjukkan hari masih sangat produktif untuk seorang direktur seperti Afrain.

"Hari ini aku libur," jawab Afrain santai, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menyandarkan bahu di bingkai pintu. "Dan sekarang lekas ganti pakaian dan ikut aku."

Lani berkedip beberapa kali, dahinya berkerut bingung melihat gaya santai pria di hadapannya.

"Kemana, Mas?"

"Rahasia," sahut Afrain pendek.

Sebelum Lani sempat melayangkan protes atau pertanyaan lebih lanjut, Afrain mengedipkan sebelah matanya dengan senyum tipis yang penuh teka-teki, lalu berbalik badan dan melangkah pergi begitu saja meninggalkan Lani yang mematung di ambang pintu.

Melihat tingkah tak biasa dari pria yang biasanya selalu bersikap formal dan kaku itu, sudut bibir Lani perlahan terangkat.

Ada rasa penasaran sekaligus letup-letup kebahagiaan kecil yang mulai tumbuh di hatinya.

Tanpa membuang waktu, ia segera menutup pintu kembali untuk bersiap-siap.

Setelah mengganti pakaiannya dengan baju yang rapi, segera Afrain melajukan mobilnya membelah jalanan kota menuju ke sebuah mall mewah.

Lani yang duduk di kursi penumpang hanya bisa menebak-nebak dalam hati ke mana pria itu akan membawanya pergi.

Setibanya di mall, Afrain langsung menggandeng lembut pergelangan tangan Lani, menuntunnya melewati deretan gerai barang-barang bermerek.

Afrain mengajak Lani ke butik langganannya yang terkenal eksklusif.

Tanpa menunggu lama, Afrain langsung meminta pramuniaga butik untuk mengeluarkan koleksi terbaik mereka.

Dengan seleranya yang berkelas, Afrain mulai memilihkan pakaian kerja yang anggun, pakaian harian yang nyaman, tas kulit elegan, sepatu hak tinggi yang pas, hingga satu set kosmetik dari merek ternama.

Semua barang itu ditumpuk di atas meja kasir atas perintahnya.

Lani yang melihat tumpukan barang mewah itu mendadak merasa pusing.

Ia menarik pelan ujung kemeja Afrain dengan wajah cemas.

"Mas, ini banyak sekali. Pasti mahal," bisik Lani dengan suara bergetar, merasa tidak enak hati karena nominal yang harus dibayar pastilah sangat besar.

"Sshh..." Afrain meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, memotong kalimat ketakutan Lani dengan tatapan mata yang teduh namun penuh ketegasan.

"Tidak ada yang mahal untuk kamu. Dan sekarang lekas kamu pilih, apa lagi yang belum lengkap?" lanjut Afrain sembari mengedarkan pandangan ke sekeliling butik, siap membelikan apa saja asalkan senyuman di wajah Lani tidak luntur lagi.

Lani tertegun di tempatnya, matanya berkaca-kaca menatap Afrain.

Perlakuannya yang teramat royal dan protektif ini membuat Lani merasa benar-benar dihargai sebagai seorang wanita—sebuah perasaan yang sempat direnggut paksa dan dihancurkan oleh Alex di masa lalu.

Lani melihat sebuah blazer berwarna moka yang tergantung di salah satu sudut butik.

Potongannya yang tegas namun elegan tampak sangat cocok untuk dipakai ke kantor lusa nanti.

Lani menoleh ragu ke arah Afrain.

"Mas, aku boleh ambil ini?"

"Ambillah," jawab Afrain tanpa ragu sedikit pun, disusul anggukan ramah dari pramuniaga yang langsung mengambilkan ukuran yang pas untuk Lani.

Setelah Afrain membayar semua belanjaan yang jumlahnya mencapai puluhan juta rupiah itu tanpa berkedip, mereka berdua berjalan beriringan keluar dari butik.

Afrain membawa beberapa kantong belanjaan besar di kedua tangannya, sementara Lani berjalan di sampingnya dengan perasaan campur aduk antara haru dan bahagia.

Namun, baru beberapa langkah keluar dari pintu butik, langkah mereka mendadak terhenti.

Di hadapan mereka, berdiri seorang wanita dengan pakaian mencolok yang tengah menatap mereka dengan mulut setengah terbuka.

Dia adalah Sisil—kakak kandung Alex, sekaligus mantan istri Afrain di masa lalu sebelum pria itu sukses seperti sekarang.

Sisil tidak mengedipkan matanya saat melihat mantan suaminya yang kini berubah menjadi pria mapan, tampan, dan kaya raya.

Penampilan Afrain yang mengenakan jam tangan mewah dan pakaian bermerek benar-benar membuat Sisil dilanda syok berat.

"Mas Afrain? Apa kabar, Mas?" sapa Sisil dengan suara yang dibuat-buat semanis mungkin, mencoba menarik perhatian mantan suaminya.

Namun, begitu matanya beralih ke samping Afrain, wajahnya langsung berubah sinis. "Dan kamu wanita mandul, kenapa ada di sini?!"

Mendengar hinaan itu terlontar untuk Lani, rahang Afrain seketika mengeras.

Sorot matanya menajam, memancarkan aura dingin yang sangat mengintimidasi.

Alih-alih meladeni ucapan murahan wanita dari masa lalunya itu, Afrain justru mengabaikan keberadaan Sisil sepenuhnya.

Afrain menggenggam tangan Lani dengan erat, memberikan kehangatan dan ketenangan agar Lani tidak terpengaruh oleh ucapan Sisil.

"Ayo kita cari makan di food court," ajak Afrain lembut kepada Lani, membalikkan tubuhnya dan menuntun Lani melangkah pergi begitu saja melewati Sisil seolah wanita itu hanyalah angin lalu.

Sisil yang merasa diabaikan lantas berteriak histeris, tidak peduli dengan pandangan orang-orang di sekitar mall.

"Mas Afrain!! Kok aku dicuekin sih?!" jerit Sisil dengan kaki menghentak kesal, menatap kepergian mereka dengan dada yang bergemuruh penuh rasa iri dan tidak terima melihat mantan suaminya kini justru menggandeng mesra mantan adik iparnya.

Di food court, Afrain segera memesan beberapa menu makanan untuk mereka berdua: nasi goreng porsi besar, koloke ayam dengan saus asam manis yang segar, dan dua mangkuk es teler yang menggugah selera.

Setelah makanan dihidangkan, suasana hangat kembali menyelimuti meja mereka, meski bayang-bayang pertemuan dengan Sisil tadi masih sedikit tersisa.

Lani mengaduk es telernya perlahan, lalu menatap pria di hadapannya dengan pandangan khawatir.

"Mas Afrain baik-baik saja? Maksudku... setelah tadi ada Mbak Sisil."

Afrain menghentikan sendoknya sejenak, lalu mendongak dan menatap Lani dengan seulas senyum tipis yang tulus.

"Aku baik-baik saja, Lani. Dia masa lalu yang sangat menyakitkan bagiku. Dan kamu tahu sendiri bagaimana perlakuan Sisil dan keluarganya saat aku menjadi suaminya dulu."

Lani menganggukkan kepalanya pelan, menyendok es teler ke mulutnya dengan hati yang terasa mencelos.

Ia masih ingat betul hinaan dan cacian saat

Afrain membawa uang dari hasil kerjanya dulu.

Kenangan beberapa tahun lalu berputar otomatis di kepala Lani. Waktu itu, Afrain yang belum menjadi direktur sukses sering kali dihina habis-habisan oleh Sisil, Ibu Narti, bahkan oleh Alex sendiri. Mereka selalu mengejek hasil keringat Afrain yang dianggap terlalu kecil, tidak becus menjadi suami, dan memperlakukannya seperti orang asing di rumah mereka sendiri.

Melihat pria yang dulu diinjak-injak harga dirinya itu kini tumbuh menjadi sosok yang begitu protektif, berwibawa, dan sukses, Lani merasa takdir sedang menunjukkan keadilannya.

"Mas sudah membuktikannya sekarang," ucap Lani lirih, menatap Afrain dengan binar kagum.

"Mas tidak seperti apa yang mereka katakan dulu."

Afrain terkekeh pelan, rasa hangat menjalar di dadanya mendengar kalimat Lani. "Dan sekarang, giliran aku yang akan memastikan mereka tidak bisa menyentuh atau menghina kamu lagi, Lan. Sudah, ayo dimakan kolokenya keburu dingin."

"Iya, Mas," sahut Lani sembari tersenyum manis.

Lani menikmati makanannya dengan lahap, sambil sesekali bercanda dengan Afrain.

Tawa-tawa kecil mengalir di antara mereka, mengikis habis sisa-sisa kesedihan yang sempat menggelayuti perasaan Lani.

Setelah selesai makan dan memastikan semua barang belanjaan tidak ada yang tertinggal, mereka berdua pun pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah mewah milik Afrain, malam mulai menjemput.

Sebelum Lani melangkah masuk ke dalam kamarnya, Afrain menghentikan langkah wanita itu sejenak.

"Lani, besok hari pertama kamu bekerja. Banyak-banyak istirahat ya, jangan begadang," ucap Afrain dengan nada baritonnya yang lembut namun penuh perhatian.

"Iya, Mas," jawab Lani patuh, menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya menutup pintu kamar dengan hati yang diselimuti kedamaian.

Di sisi lain kota, suasana kontras terjadi di rumah keluarga Alex.

Sisil, yang terpaksa naik angkutan umum karena tidak memiliki kendaraan pribadi, melangkah masuk ke dalam rumah dengan wajah yang ditekuk masam.

Rasa iri dan dengki telah menyumbat akal sehatnya. Begitu sampai di dalam rumah, ia langsung membuang tas belanjaannya yang hanya berisi barang-barang murah ke atas sofa dengan kasar.

Brak!

"Ada apa dengan kamu, Sisil? Datang-datang kok langsung banting barang begitu," tanya Bu Narti yang baru saja muncul dari arah dapur dengan dahi berkerut heran.

"Aku tadi bertemu dengan Mas Afrain, Bu!" sungut Sisil, mendudukkan dirinya dengan kasar sambil mengipasi wajahnya yang kepanasan.

Bu Narti mendengus remeh, melambaikan tangannya di udara.

"Oh, mantan suami kamu yang miskin itu? Memangnya kenapa kalau ketemu dia? Paling-paling dia cuma jadi kuli atau sales di mall."

"Sekarang dia tidak miskin, Bu! Dia sangat kaya raya!" jerit Sisil frustrasi, membuat ibunya seketika menghentikan gerakannya.

Bu Narti mengernyitkan dahi, menatap putrinya dengan pandangan tidak percaya.

"Maksud kamu?"

"Aku melihat sendiri dengan mata kepalaku, Bu! Jam tangannya sangat mewah, pakaiannya berkelas, dan dia membawa beberapa tas belanjaan dari butik mahal yang ia belikan untuk wanita mandul itu!" ucap Sisil dengan napas memburu.

Mendengar nama menantu yang baru saja diusirnya disebut, mata Bu Narti langsung membelalak bulat.

"Apa?! Jadi si wanita mandul itu sekarang bersama Afrain?!"

Sisil menganggukkan kepalanya dengan cepat, membenarkan dugaan sang ibu.

"Aku ingin rujuk dengan dia, Bu. Aku tidak mau hidup miskin lagi!" ucap Sisil dengan mata yang berbinar penuh keserakahan, melupakan segala hinaan kejam yang dulu pernah ia dan keluarganya semprotkan ke wajah Afrain.

Di otaknya kini hanya ada bayangan gelimang harta dan kemewahan yang dimiliki mantan suaminya itu.

1
Dew666
🪭🪭🪭🪭
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Dew666
💟💟💟
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹🌹
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Dew666
🔮🔮🔮🔮
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!