Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.
Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
"Di bawah kepemimpinan saya, Pak Amar, setiap rupiah yang keluar dari kas Baskara Group harus memiliki pertanggungjawaban administratif yang sah secara hukum," Kirana memajukan tubuhnya, menatap Amar dengan pandangan yang mengunci pergerakan pria itu. "Saya mungkin mantan sekretaris yang terbiasa menyeduh kopi, tetapi selama lima tahun menyeduh kopi itu, saya adalah orang yang memeriksa setiap draf audit forensik yang masuk ke meja CEO. Saya tahu persis di mana Anda menyembunyikan selisih dana operasional tersebut".
Kirana menutup tabletnya dengan gerakan anggun namun berwibawa.
"Tuntutan saya sangat sederhana untuk rapat pertama kita ini. Lengkapi laporan pertanggungjawaban dana empat miliar itu dalam waktu 24 jam. Jika tidak, saya tidak akan ragu untuk meminta Divisi Kepatuhan Internal untuk membekukan seluruh anggaran operasional wilayah Anda besok pagi. Apakah ada pertanyaan lain mengenai kompetensi saya, Pak Amar?"
Seluruh kepala sub-divisi di dalam ruangan itu tertunduk, tidak berani menatap mata Kirana. Amar Wijaja mengepalkan tangannya di bawah meja, napasnya memburu menahan amarah sekaligus rasa takut karena kartu asnya telah terkunci di hari pertama wanita itu menjabat.
"Rapat hari ini selesai. Selamat bekerja kembali," pungkas Kirana tegas seraya bangkit berdiri dan melangkah keluar dari ruangan dengan kepala tegak, meninggalkan faksi regional yang kini gemetar menghadapi kekuatan sang COO baru.
___
Kemenangan telak Kirana di ruang rapat lantai 29 menyebar seperti api dalam sekam di seluruh gedung Baskara Group. Julukan 'Sekretaris Robot' kini resmi berganti menjadi 'Nyonya Besi Operasional'. Namun, Kirana terlalu berpengalaman untuk tahu bahwa orang seperti Amar Wijaja tidak akan merenungi kesalahannya begitu saja. Pria dengan ego setinggi langit itu justru akan mencari cara yang lebih kotor untuk membuktikan bahwa seorang wanita kantoran tidak akan bertahan di bawah kerasnya tekanan lapangan.
Pukul tujuh malam, kantor Divisi Operasional sudah mulai sepi. Kirana masih duduk di balik meja kerjanya, menatap draf revisi anggaran yang akhirnya diserahkan oleh tim Amar satu jam lalu, tentu saja dengan nominal yang sudah disesuaikan secara ajaib setelah gertakan Kirana.
Tok... Tok...
Pintu terbuka, menampilkan Radit yang sudah menanggalkan jasnya, hanya menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku. Wajah tampannya tampak sedikit lelah, namun senyumannya langsung mengembang begitu melihat Kirana.
"Kerja bagus untuk hari pertamamu, Direktur Kirana," ujar Radit, berjalan mendekat dan meletakkan sebuah kotak martabak manis di atas meja kerja Kirana. "Aku mendengar dari beberapa staf bahwa wajah Amar Wijaja berubah sewarna kertas semen setelah keluar dari ruang rapatmu".
Kirana terkekeh pelan, sambil menutup laptopnya.
"Dia hanya kaget karena mantan sekretaris yang sering dia abaikan ternyata memegang buku kas rahasianya, Radit. Tapi saya tidak yakin dia akan menyerah begitu saja. Laporan ini memang bersih sekarang, tapi insting saya mengatakan ada sesuatu yang sedang dia persiapkan".
Radit duduk di sudut meja Kirana, melipat tangan di dada.
"Instingmu selalu benar. Dan sayangnya, insting itu terbukti malam ini juga" Radit mengeluarkan ponselnya, menggeser sebuah pesan teks dari kepala keamanan proyek koridor timur di Cikarang.
"Pak Radit, ada kendala di Lapangan Zona 3. Alat berat ekskavator utama kami mendadak mengalami kerusakan sistem hidrolik secara bersamaan malam ini. Selain itu, sekelompok warga lokal bentukan ormas setempat mulai berkumpul di depan gerbang proyek, menuntut penghentian aktivitas malam karena masalah kompensasi kebisingan yang diklaim belum dibayar".
Kirana langsung menegakkan punggungnya, matanya menyipit tajam.
"Zona 3 adalah area yang paling krusial untuk pengecoran fondasi minggu ini. Dan ormas itu... adalah ormas yang anggarannya baru saja saya pertanyakan tadi pagi".
"Tepat sekali," Radit menatap Kirana dengan pandangan yang dalam. "Amar sedang menunjukkan kekuatannya. Dia ingin membuktikan kepadamu dan kepada dewan direksi bahwa tanpa pengaruh dan uang taktisnya di lapangan, proyek koridor timur akan lumpuh total. Ini adalah sabotase terselubung".
"Lalu apa rencana Anda, Pak CEO?" Kirana menaikkan sebelah alisnya, memantulkan kembali tantangan itu kepada Radit.
Radit berdiri, mengambil kunci mobilnya dari saku celana. Seringai tajam yang biasa dia gunakan saat berburu mangsa bisnis kembali muncul di wajahnya.
"Rencanaku? Aturan Baru Pasal 2. Kita hadapi musuh bersama-sama. Malam ini, aku akan mengantarmu ke Cikarang. Mari kita lihat seberapa dalam lumpur proyek yang dibanggakan oleh Amar Wijaja itu".
___
Perjalanan menuju kawasan industri Cikarang memakan waktu satu jam membelah kegelapan malam. Di dalam SUV hitam Radit, suasana terasa tegang namun fokus. Kirana sibuk melakukan panggilan telepon dengan tim hukum internal dan memesan mekanik independen dari luar jaringan rekanan Amar Wijaja untuk memeriksa kerusakan alat berat.
Pukul sembilan malam, mobil mereka tiba di depan gerbang seng raksasa Zona 3 Proyek Koridor Timur. Suasana di sana tampak kacau. Sorot lampu tembak proyek menerangi sekitar tiga puluh orang pria berjaket hitam yang sedang berteriak-teriak di depan gerbang, menahan dua truk molen semen yang ingin masuk.
Di sudut lain, beberapa mandor proyek tampak kebingungan di dekat tiga unit ekskavator yang mesinnya mati total.
Begitu SUV hitam Radit berhenti, Kepala Proyek Lapangan, seorang pria paruh baya bernama Joko, bergegas berlari mendekat dengan wajah penuh keringat.
"Pak Radit! Ibu Kirana! Maaf, situasinya agak tidak terkendali" ujar Joko panik saat Radit dan Kirana turun dari mobil. Udara malam di area proyek terasa panas, berdebu, dan sarat akan ketegangan.
"Di mana Amar Wijaja?" tanya Kirana langsung, matanya memindai sekeliling area proyek.
"Pak Amar... beliau menginfokan sedang ada pertemuan dengan dinas terkait di Jakarta dan ponselnya mendadak tidak bisa dihubungi sejak dua jam yang lalu, Bu" jawab Joko ragu-ragu.
Kirana mendengus dingin. Klasik. Amar sengaja menghilang agar Kirana terlihat tidak berdaya menangani krisis lapangan ini sendirian.
"Pak Joko, bawa mekanik independen yang baru saja tiba di gerbang belakang langsung ke area alat berat. Periksa apakah ada unsur kesengajaan atau sabotase pada sistem hidroliknya, " perintah Kirana tegas tanpa keraguan sedikit pun. "Dan untuk orang-orang di depan gerbang... biar saya yang hadapi".
"Kirana," Radit menahan lengan Kirana sejenak, matanya memancarkan rasa khawatir yang jarang dia tunjukkan. Lapangan malam hari dengan puluhan massa yang emosional bukanlah tempat yang aman untuk wanita. "Biar aku yang maju ke depan gerbang".
Kirana menatap tangan Radit di lengannya, lalu memberikan senyuman menenangkan yang penuh keyakinan.
"Radit, Amar Wijaja ingin melihat saya gagal karena saya seorang wanita dan mantan sekretaris. Jika Anda yang maju, dia akan tertawa di balik layarnya karena merasa pembuktiannya berhasil. Biarkan saya menyelesaikan ini dengan cara saya. Anda cukup berdiri di belakang saya sebagai kekuatan hukum Baskara Group".
Radit menatap mata bulat Kirana yang berkilat berani di bawah cahaya lampu proyek. Perlahan, dia melepaskan genggamannya, memberikan anggukan takzim.
"Aku selalu di belakangmu, Kirana".
Kirana melangkah mantap menuju gerbang depan, diikuti oleh Radit dan beberapa petugas keamanan internal proyek yang membawa senter besar. Di depan gerbang, seorang pria berbadan tegap dengan tato di lengannya yang tampaknya menjadi pemimpin ormas tersebut, langsung berteriak saat melihat Kirana mendekat.
"Siapa ini?! Kami tidak mau bicara dengan staf humas! Mana pimpinan proyeknya?! Selesaikan kompensasi warga sekarang atau truk-truk ini tidak akan pernah keluar!" teriak pria bertato itu sambil memukul gerbang seng.
Kirana berdiri tepat di hadapan pria itu, dipisahkan hanya oleh pagar besi gerbang. Dia melipat tangannya di dada, sama sekali tidak gentar oleh gertakan fisik tersebut.
"Saya Kirana Larasati, Direktur Operasional Utama Baskara Group," suara Kirana yang lantang dan stabil seketika memotong kegaduhan massa. "Saya adalah orang yang menandatangani semua aliran dana untuk proyek ini, termasuk dana kompensasi lingkungan".
Pria bertato itu tertegun sejenak mendengarkan jabatan Kirana, namun dia segera mencoba mengembalikan dominasinya.
"Oh, jadi Anda bosnya? Kalau begitu bayar sekarang! Janji Pak Amar dari dulu dana taktis akan cair setiap bulan, tapi bulan ini kenapa macet?!".
Kirana tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terasa sangat berbahaya. Dia mengeluarkan tabletnya, menyalakan pelantang suara, dan memutar sebuah rekaman audio yang baru saja dia dapatkan dari tim hukum internal mengenai perjanjian legal pembebasan lahan daerah tersebut.
*"Bahwa seluruh kompensasi warga Zona 3 sebesar lima ratus juta rupiah telah dibayarkan lunas kepada perwakilan desa pada Januari 2026, sah secara hukum dan ditandatangani di atas meterai"*
"Dengar itu?" Kirana menatap pemimpin ormas tersebut dengan pandangan yang menusuk. "Baskara Group sudah melunasi semua kewajiban kepada warga secara sah. Uang yang dijanjikan Pak Amar secara pribadi kepada Anda setiap bulan itu bukan uang kompensasi warga, melainkan uang suap taktis untuk mengamankan posisi pribadinya. Dan sejak tadi pagi, saya sudah membekukan dana tersebut".
Massa di belakang pria bertato itu mulai saling berbisik, menyadari bahwa mereka hanya dijadikan alat politik korporat oleh Amar Wijaja.
"Anda semua sedang dimanfaatkan oleh Amar Wijaja untuk melakukan tindakan kriminal sabotase objek vital nasional," lanjut Kirana, suaranya naik satu oktaf penuh otoritas. Dia menunjuk ke arah kamera CCTV besar yang bertengger di atas gerbang. "Wajah Anda semua sudah terekam dengan jelas. Di belakang saya ada Pak Raditya Baskara, CEO kami, bersama tim pengacara yang siap melaporkan tindakan pemerasan dan penghalangan proyek ini ke Polres Cikarang dalam waktu sepuluh menit dari sekarang jika Anda tidak membubarkan diri".
Pria bertato itu melihat ke arah Radit yang berdiri tegap di belakang Kirana dengan tatapan dingin yang mematikan, lalu beralih ke arah kamera CCTV. Nyalinya seketika ciut. Mereka bersedia demo karena dijanjikan perlindungan oleh Amar Wijaja, namun jika harus berhadapan langsung dengan jajaran direksi tertinggi dan ancaman pidana nyata, taruhannya terlalu besar.