Di SMA Nusantara Jaya, aturan mainnya sangat sederhana: Uang adalah hukum, dan E4 (The Elite Four) adalah penguasanya. Dipimpin oleh Alvaro Pramudya, pewaris tunggal konglomerat terbesar di Indonesia yang angkuh dan tak tersentuh, geng E4 mengendalikan sekolah dengan sistem "Kartu Merah"—sebuah vonis perundungan kejam yang membuat siapa pun targetnya memilih untuk putus sekolah.
Namun, roda takdir berputar secara instan ketika Kayla Shaqueena, seorang gadis tangguh anak pemilik laundry kiloan, masuk ke sekolah elit tersebut lewat beasiswa jalur khusus. Kayla bukan tipikal gadis yang akan tunduk pada intimidasi. Ketika kartu merah mendarat di mejanya, alih-alih menangis dan memohon ampun, Kayla justru merobek kartu tersebut dan melayangkan
Di antara benturan kasta, harga diri, cinta segitiga yang rumit, dan intrik keluarga kaya yang kotor, akankah Kayla bertahan sebagai rumput liar yang merusak taman indah E4?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERLAWANAN RUMPUT LIAR
Kayla terpaku sejenak menatap sapu tangan biru muda yang disodorkan Devan. Di tengah koridor yang penuh dengan manusia tanpa hati ini, kehadiran Devan dengan suara lembutnya terasa sangat tidak nyata. Aroma maskulin yang menenangkan dari tubuh Devan perlahan mengikis bau amis air pel yang menempel di tubuh Kayla.
Namun, rasa defensif Kayla segera bangkit kembali. Ia teringat logo emas di leher jaket Devan. "Kamu... anggota E4 juga, kan?" tanya Kayla dengan suara bergetar, menatap Devan penuh selidik. "Kamu ke sini untuk ikut menonton dan menertawakanku seperti teman-teman kayamu itu?"
Devan tidak langsung menjawab. Ia justru mengulurkan tangannya, memungut beberapa lembar halaman buku pelajaran Kayla yang robek dan basah di lantai, lalu menyatukannya dengan rapi sebelum menyerahkannya kepada Kayla.
"Aku tidak suka keributan. Dan aku tidak pernah setuju dengan permainan kartu merah Alvaro," ujar Devan pelan, menatap lurus ke dalam mata Kayla. "Tapi sekolah ini adalah wilayah kekuasaan keluarganya. Alvaro tidak terbiasa ditolak, dan dia akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang dia mau. Menantangnya secara terbuka adalah pilihan yang berbahaya."
"Aku tidak menantangnya, aku hanya membencinya," sahut Kayla ketus sambil menyambar sapu tangan dari tangan Devan. Ia menggunakannya untuk mengeringkan wajah dan lehernya yang basah dengan gerakan kasar.
Devan berdiri kembali, memasukkan tangannya ke dalam saku jaket rajutnya. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman tipis yang sangat samar. "Lebih baik kamu ganti bajumu di ruang UKS sekarang. Di lemari belakang ada beberapa seragam cadangan bersih yang belum dipakai. Jika kamu terus berdiri di koridor ini, mereka tidak akan berhenti mengganggumu."
Sebelum Kayla sempat mengucapkan terima kasih, Devan sudah berbalik dan berjalan pergi dengan langkah santai, membelah kerumunan murid yang langsung memberikan jalan dengan penuh rasa hormat. Sosoknya menghilang di tikungan koridor seolah-olah ia hanyalah hantu pelindung yang muncul sesaat untuk menyelamatkan Kayla dari titik terendahnya.
---
Sore harinya, setelah melewati hari pertama sekolah resmi yang menyerupai medan perang psikologis, Kayla pulang ke rumah dengan tubuh yang remuk redam. Seluruh persendiannya terasa kaku karena dingin, dan hatinya luar biasa lelah. Namun, begitu langkah kakinya sampai di depan ruko laundry milik orang tuanya, ia memaksakan sebuah senyuman lebar di wajahnya. Ia menarik napas dalam-dalam, menepuk-nepuk pipinya agar terlihat segar. Ia tidak boleh menunjukkan setitik pun penderitaan di depan ayah dan ibunya.
"Kayla sudah pulang, Bu!" seru Kayla sambil melangkah masuk, menggeser pintu ruko.
Sarah, ibunya, langsung menghentikan aktivitasnya memilah pakaian kotor dan menyambut Kayla dengan wajah yang berseri-seri penuh kebanggaan. "Wah, anak Ibu yang cantik sudah pulang! Bagaimana hari pertamamu di sekolah elit, Nak? Teman-temannya baik dan ramah, kan? Fasilitasnya pasti luar biasa mewah!"
Kayla menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokannya. Ia mati-matian menahan rasa sesak dan air mata yang mendesak ingin keluar dari dadanya.
"Bagus kok, Bu. Teman-temannya... sangat unik dan dinamis. Fasilitasnya luar biasa mewah, melebihi apa yang Kayla bayangkan. Kayla tadi bahkan sempat membaca buku di perpustakaannya yang besar sekali," bohong Kayla, mencoba membuat suaranya terdengar seceria mungkin.
"Alhamdulillah... Ibu senang sekali mendengarnya," sahut Sarah sambil mengusap lembut kepala Kayla dengan tangan yang terasa kasar karena detergen. "Ayahmu tadi siang bisa makan agak banyak karena terlalu senang memikirkan kamu sekolah di sana. Kamu harus belajar yang rajin ya, Nak, biar bisa mengubah nasib dan mengangkat derajat keluarga kita."
Kalimat ibunya bagai gada berat yang menghantam kesadaran Kayla. Di satu sisi, seluruh ego dan tubuhnya yang memar berteriak ingin menyerah dan keluar dari sekolah terkutuk itu. Namun di sisi lain, senyuman hangat ibunya dan semangat hidup ayahnya yang sedang sakit adalah satu-satunya alasan mengapa ia harus tetap berdiri tegak.
Malam itu, di dalam kamar kecilnya yang pengap dan hanya diterangi lampu lima watt, Kayla menatap cermin di atas meja belajarnya. Ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. *Aku tidak akan menyerah. Aku akan bertahan di sekolah itu sampai lulus demi Ayah dan Ibu. Alvaro Pramudya, kamu belum tahu siapa Kayla Shaqueena yang sebenarnya.*
---
Hari kedua di SMA Nusantara Jaya tidak menjadi lebih mudah bagi sang rumput liar. Alvaro tampaknya mulai frustrasi karena hingga bel masuk berbunyi, Kayla belum juga datang merangkak ke ruang E4 untuk memohon ampun kepadanya. Oleh karena itu, sang tuan muda memberikan lampu hijau kepada seluruh murid untuk menaikkan tingkat perundungan ke level berikutnya.
Siang itu, saat jam istirahat kedua, Kayla sedang berjalan sendirian di koridor luar yang menghubungkan gedung utama dengan kantin terbuka. Tiba-tiba, tiga orang siswa bertubuh besar dan tegap sengaja menghadang jalannya. Tanpa ada aba-aba atau kata-kata, salah satu dari mereka mendorong bahu Kayla dengan sangat kasar hingga gadis itu kehilangan keseimbangan dan jatuh terjerembap di atas rumput taman.
"Hei! Apa-apaan kalian?!" teriak Kayla kesal, menatap tajam ketiga siswa tersebut sambil berusaha bangkit.
Namun, sebelum Kayla bisa berdiri tegak, Cindy dan gengnya muncul dari balik pilar gedung. Mereka membawa beberapa kotak telur yang sudah membusuk dan satu kantong plastik besar berisi tepung terigu. Wajah mereka dipenuhi oleh ekspresi kedengkian yang amat sangat.
"Ini hadiah spesial dari kami karena kamu sudah berani membuat pangeran Alvaro marah besar kemarin!" seru Cindy dengan tawa melengking yang memuakkan.
*Prak! Prak! Prak!*
Telur-telur busuk dilemparkan secara bertubi-tubi ke tubuh Kayla. Telur itu pecah di blazer dan rambutnya, menimbulkan bau busuk menyengat yang langsung mengundang rasa mual. Tak cukup sampai di situ, Cindy membuka kantong plastik di tangannya dan menuangkan seluruh tepung terigu ke atas kepala Kayla, membuat gadis itu kini terlihat mengenaskan seperti adonan kue yang gagal di tengah taman.
Murid-murid lain yang berada di sekitar koridor luar segera berkerumun. Mereka tertawa terbahak-bahak, bertepuk tangan, sambil menunjuk-nunjuk kondisi Kayla yang kotor dan berbau busuk. Kamera ponsel kembali menyala dari berbagai sudut, mengabadikan momen kehancuran sang anak beasiswa.
Di balkon lantai dua yang menghadap langsung ke arah taman, berdiri Alvaro Pramudya. Ia memegang segelas jus jeruk dingin di tangan kanannya, menatap ke bawah dengan senyum kepuasan yang sedingin es. *Rasakan itu, rumput liar. Kamu pikir kamu bisa menang melawanku dan uangku?* pikir Alvaro angkuh.
Namun, senyum di wajah tampan Alvaro perlahan-lahan memudar ketika ia melihat apa yang dilakukan Kayla selanjutnya.
Kayla, yang seluruh tubuhnya kini dipenuhi noda telur dan putihnya tepung, perlahan-lahan bangkit berdiri. Tubuhnya tegak. Ia menyeka sisa tepung yang menghalangi matanya dengan sentakan tangan yang kasar. Alih-alih menangis, menjerit histeris, atau melarikan diri untuk menyembunyikan wajahnya yang hancur, Kayla justru mendongakkan kepalanya ke atas.
Sepasang matanya yang tajam dan dipenuhi oleh api kemarahan yang membara langsung mengunci pandangan mata Alvaro yang berada di balkon lantai dua. Kayla menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh tenaga di dadanya, lalu berteriak dengan suara yang begitu lantang hingga memotong seluruh suara tawa di taman itu.
"ALVARO PRAMUDYA!!! TURUN KAMU, DASAR PENAKUT!!!"
Suara lantang Kayla membuat suasana seketika menjadi hening mencekam. Alvaro yang berada di atas tersentak kaget hingga hampir menjatuhkan gelas jusnya. Ia meletakkan gelas itu di atas pembatas balkon, menatap Kayla dari kejauhan dengan kening berkerut dalam dan rasa tidak percaya yang membuncah.
Kayla tidak menunggu Alvaro untuk turun. Dengan langkah-langkah besar yang penuh dengan amarah mutlak, mengabaikan fakta bahwa tubuhnya sangat bau dan kotor, ia berjalan masuk menerobos gedung sekolah dan menaiki anak tangga menuju lantai dua. Murid-murid yang semula menertawakannya kini ketakutan melihat aura kegelapan dan keberanian yang memancar dari tubuh gadis laundry itu; mereka langsung mundur teratur memberikan jalan.
Kayla sampai di balkon lantai dua dalam hitungan menit. Alvaro masih berdiri di sana, didampingi oleh Rafael dan Galang yang kini menatap Kayla dengan ekspresi waspada sekaligus sangat penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Kamu berani meneriakiku di depan umum?" tanya Alvaro, mencoba mempertahankan nada suaranya yang angkuh dan berwibawa, meski sebenarnya jantungnya berdegup aneh melihat keberanian Kayla.
"Ya! Aku meneriakimu, Alvaro Pramudya yang terhormat!" kata Kayla, melangkah maju hingga jarak di antara mereka hanya tersisa setengah meter. Bau telur busuk yang menyengat dari tubuh Kayla langsung menusuk hidung Alvaro, membuat cowok itu refleks mundur satu langkah sambil menutup hidungnya dengan ekspresi jijik.
"Jangan mendekat! Kamu bau!" usir Alvaro ketus.
"Kenapa? Tuan muda yang kaya raya ini ternyata takut pada bau telur?" Kayla terkekeh sinis, sebuah suara tawa yang penuh ejekan balik. "Kamu ini pengecut, Alvaro. Kamu punya segalanya di dunia ini—uang, kekuasaan, pengawal, dan nama besar keluarga—tapi kamu tidak punya sedikit pun keberanian untuk menghadapiku sendirian! Kamu selalu bersembunyi di balik kaki tanganmu dan menggunakan murid-murid lain untuk melakukan pekerjaan motormu!"
"Jaga bicaramu, Kayla Shaqueena!" bentak Alvaro, wajahnya memerah padam karena merasa sangat terhina di depan kedua sahabatnya sendiri.
"Aku tidak akan menjaga bicaraku sebelum kamu mendengar ini baik-baik," kata Kayla, matanya berkilat tajam bagai mata pisau. "Kamu pikir kartu merahmu bisa menghancurkanku? Kamu pikir telur dan tepung ini bisa membuatku berlutut memohon ampun di kakimu? Dengar ya, Alvaro Pramudya... aku adalah rumput liar. Semakin kamu menginjak dan menghancurkanku, semakin aku akan tumbuh kuat untuk merusak taman indah istanamu ini! Aku tidak akan pernah keluar dari sekolah ini, dan aku bersumpah akan membuatmu menyesal seumur hidup karena telah mengusik hidupku!"
Sebelum Alvaro sempat mencerna seluruh kalimat Kayla atau melayangkan balasan, Kayla melakukan sesuatu yang tidak akan pernah dilupakan oleh siapa pun yang berada di SMA Nusantara Jaya hari itu.
Kayla memajukan tubuhnya satu langkah, mengambil tumpuan yang kokoh, lalu dengan kecepatan dan kekuatan penuh, ia melayangkan sebuah tendangan memutar yang sangat kuat tepat ke arah dada Alvaro Pramudya.
*BUM!!!*
Tendangan kaki kanan Kayla telak mengenai dada Alvaro. Hantaman itu begitu keras hingga membuat pemuda bertubuh tinggi besar itu kehilangan keseimbangan mutlaknya. Alvaro terlempar ke belakang dan jatuh telentang di atas lantai marmer yang mengilat dengan bunyi deburan tubuh yang sangat keras.
"Andra—maksudku, Alvaro!" Galang Saputra berseru kaget, hampir salah menyebut nama saking syoknya melihat sahabatnya tumbang di lantai. Ia dan Rafael segera maju dengan terburu-buru untuk membantu Alvaro yang kini terengah-engah, memegangi dadanya yang kesakitan dan menatap langit-langit dengan ekspresi syok yang luar biasa. Seorang dewa sekolah baru saja ditumbangkan oleh satu tendangan fisik.
Kayla berdiri tegak di atas tubuh Alvaro yang tak berdaya, menatapnya dengan pandangan dingin yang mematikan dari atas. "Itu untuk jas pelanggan ibuku yang kamu injak minggu lalu. Kita sekarang impas, Tuan Muda."
Setelah mengatakan hal itu, Kayla berbalik dengan sentakan anggun dan berjalan pergi meninggalkan balkon lantai dua dengan kepala tegak, meninggalkan keheningan yang mencekam dan sejarah baru yang telah ia ukir dengan kekuatannya sendiri.
Alvaro masih berbaring di lantai, napasnya memburu cepat. Dadanya terasa nyeri, namun ada sesuatu yang lebih aneh yang sedang terjadi di dalam rongga dadanya. Jantungnya berdegup dengan kecepatan yang tidak wajar. Perasaan ini bukan lagi sekadar amarah... melainkan sebuah perasaan asing yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya kepada wanita mana pun.
Perasaan tertantang. Perasaan terpesona yang bercampur aduk dengan ego yang terluka.
"Gadis itu..." desis Alvaro perlahan sambil berusaha bangkit berdiri dibantu oleh Galang. "Dia benar-benar... sudah gila."
Rafael Mahardika menatap Alvaro yang sedang meringis, lalu tersenyum lebar, menyadari bahwa kehidupan sekolah mereka tidak akan pernah sama lagi. "Tampaknya, untuk pertama kalinya dalam hidupmu yang membosankan ini, kamu akhirnya menemukan lawan yang sepadan, Alvaro."
Dari kejauhan selasar, Devan Narendra yang menyaksikan seluruh drama tendangan memutar itu dari balik pilar marmer hanya tersenyum tipis. Sambil memutar lagu di pemutar musiknya, ia bergumam pelan pada diri sendiri, "Menarik. Rumput liar ini ternyata memiliki duri yang sangat tajam dan mematikan."
---
Bersambung ke Episode 3