"Ayo mengaku, Mas Sholeh! Kamu bisa lihat aku, kan?! Jangan bohong, bohong itu dosa, nanti masuk neraka loh!"
Bagi Arash, menjadi cowok indigo itu melelahkan. Makanya, dia pakai trik keramat: Pura-pura buta huruf soal hal gaib. Mau ada pocong kayang pun, Arash bakal tetap lempeng.
Strategi itu sukses bertahun-tahun, sampai dia ketempelan sesosok roh cewek misterius yang punya jiwa "cegil" (cewek gila) akut. Bukannya nakutin, roh genit ini malah rusuh mengintil kemana-mana, bahkan nekat narik kerah jaket Arash demi minta perhatian.
Arash mati-matian bertahan demi menjaga iman dan aktingnya. Tapi saat teror mistis yang mengancam nyawanya datang, si hantu cegil justru pasang badan paling depan dengan cara yang paling bar-bar.
Gimana jadinya kalau cowok sholeh berkharisma harus menghadapi musuh gaib bersama hantu cegil yang ternyata... belum sepenuhnya mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
‘Allahuakbar, Allahuakbar!’
Kumandang azan Subuh sayup-sayup terdengar membelah keheningan rimba bambu, bersahut-sahutan dari beberapa pengeras suara masjid di sekitar perbatasan desa.
Gema suci itu seolah menjadi penanda mutlak bahwa kegelapan malam yang sarat akan teror dan manipulasi ghaib telah resmi berakhir.
Bersamaan dengan bait-bait panggilan sholat yang berkumandang indah, kabut tebal yang menyelimuti area sekitar pancuran air perlahan-lahan mulai terangkat, menyingkap rona fajar keperakan yang samar-samar menyemburat di ufuk timur.
Tepat pada momen yang suci itu, langkah kaki yang tenang dan berwibawa terdengar mendekat dari balik jalan setapak hutan.
Kyai Hasan dan Kyai Umar telah datang kembali untuk menjemput sang cucu pilihan.
Arash yang masih duduk bersila dengan sisa-sisa air dingin yang menetes dari ujung rambutnya perlahan membuka kelopak matanya.
"Sudah, Le," sebuah suara bariton yang berat namun sarat akan kelembutan mengalun di dekatnya.
Arash mendongak, mencoba mengulas senyum tulus meski bibirnya masih sedikit gemetaran.
"Eyang Umar...’’ gumamnya pelan, suaranya terdengar jauh lebih mantap dan matang daripada malam sebelumnya.
‘’Alhamdulilah, kamu kuat Le,’’
Kyai Hasan yang berdiri di samping Kyai Umar memandang cucu sulungnya dengan mata yang berkaca-kaca menahan rasa haru sekaligus bangga yang luar biasa.
Kekhawatiran yang sempat menggelayuti pundak sepuhnya semalam suntuk kini menguap tanpa bekas, digantikan oleh rasa syukur yang mendalam kepada Sang Khalik.
Cucu kesayangannya tidak hanya bertahan, dia telah lulus dengan nilai kesabaran dan keteguhan iman yang sempurna.
‘’Ayo mandi dulu,’’
Tanpa membuang waktu lagi, Kyai Hasan segera merangkul pundak Arash yang masih basah.
Beliau menuntun dan membawa cucunya itu melangkah masuk ke dalam gubuk kayu kecil yang berdiri tegak di samping bukit batu.
Di dalam gubuk yang tampak sangat sederhana dari luar itu, suasananya ternyata terasa sangat hangat dan nyaman.
Tidak ada hembusan angin malam yang bocor, dan udara di dalamnya dipenuhi oleh aroma wewangian kayu gaharu yang menenangkan jiwa.
Ternyata, gubuk kecil ini dibangun tepat di atas sebuah mata air hangat alami yang suhunya selalu terjaga dengan baik berkat pagar ghaib dan rekayasa alam yang dibuat oleh Kyai Umar puluhan tahun silam.
"Masuklah ke dalam air itu, Arash. Bersihkan sisa-sisa energi dingin dan penat di tubuh raga kamu," kata Kyai Umar sembari mempersiapkan selembar kain handuk bersih dari atas amben kayu.
Tanpa menunggu perintah dua kali, Arash yang sudah merindukan rasa hangat segera menanggalkan kain sarung basah yang melekat di pinggangnya, lalu melangkah turun masuk ke dalam kolam air hangat tersebut.
Begitu seluruh tubuhnya terendam hingga sebatas dada, Arash refleks memejamkan matanya sembari menghela napas lega yang teramat sangat.
Rasa hangat dari air suci itu seolah-olah memijat setiap urat syarafnya yang tegang, meluruhkan sisa-sisa rasa perih akibat cengkeraman "Vella palsu" dan hawa anyir darah ghaib yang sempat meneror batinnya semalam penuh.
Kyai Hasan mendekat, membawa secangkir air ramuan herbal hangat yang dicampur madu murni, menyodorkannya ke arah Arash.
"Minum ini dulu, Le, biar badanmu hangat dari dalam."
Arash menerima cangkir tersebut dengan kedua tangan yang kini sudah tidak lagi gemetar, lalu meneguknya hingga tandas.
Rasa hangat menjalar dari kerongkongan langsung menuju ke lambungnya, mengembalikan stamina fisiknya dalam waktu singkat.
Setelah dirasa cukup, Arash menyudahi mandinya dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk.
Di atas amben kayu, Kyai Hasan sudah mempersiapkan satu set pakaian baru yang bersih dan harum, sebuah baju koko putih berbahan katun lembut, celana kain hitam, kain sarung baru yang senada, serta peci hitam yang rapi.
Arash mengenakan pakaian baru tersebut dengan cekatan.
"Alhamdulillah... penampilanmu sudah gagah, cucuku," puji Kyai Hasan sembari merapikan kerah baju koko Arash dengan senyuman bangga yang tak putus-putus.
Kyai Umar yang berdiri di dekat pintu gubuk ikut mengangguk setuju, sepasang mata sepuhnya menatap Arash dengan pandangan penuh rasa hormat.
"Malam ini kamu sudah membuktikan bahwa wadah ruhanimu layak, Arash. Kamu tidak goyah oleh ketakutan, dan kamu tidak tumbang oleh godaan nafsu semu. Langkah pertamamu menjadi benteng bagi sesama telah dimulai dengan baik."
"Ini semua berkat doa Eyang dan bimbingan Eyang Umar. Arash tidak akan bisa kalau sendirian," sahut Arash dengan sikap merendah yang tulus, melipat kedua tangannya di depan dada sebagai tanda takzim.
"Ya sudah, ayo kita segera kembali ke pondok pesantren sebelum matahari naik tinggi. Kita laksanakan sholat Subuh berjamaah di sana," ajak Kyai Umar sembari membuka pintu gubuk kayu, membiarkan cahaya fajar yang kian terang benderang masuk menyinari ruangan.
Mereka bertiga kemudian melangkah keluar dari gubuk kecil tersebut, berjalan pulang menyusuri kembali jalur hutan bambu, menyeberangi jembatan sungai, hingga melewati hamparan persawahan hijau yang kini mulai diselimuti embun pagi yang segar.
Perjalanan pulang ini terasa jauh lebih ringan dan damai; tidak ada lagi pasang mata merah yang mengintip, dan tidak ada lagi suara-suara rintihan mengerikan.
Hutan itu seolah-olah menaruh rasa hormat yang mendalam kepada pemuda indigo yang kini berjalan di antara dua ulama sepuh terkemuka tersebut.
Arash melangkah dengan dada tegak dan hati yang mantap, siap kembali ke dunia nyata untuk menyongsong hari-harinya yang baru dengan tingkat kekuatan spiritual yang jauh lebih tinggi.
...❤️🔥❤️🔥❤️🔥...
Usai melaksanakan sholat Subuh berjamaah yang berlangsung dengan begitu khusyuk di Masjid Pondok Pesantren Al-Falah, Arash segera melangkah pulang menuju ke rumahnya.
Begitu sampai di depan pintu rumah utama, Arash memutar knop pintu kayu jati tersebut dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara bising yang dapat mengganggu penghuni rumah lainnya yang mungkin masih beristirahat.
"Assalamualaikum," sapa Arash lembut sembari melangkah masuk ke dalam ruang tengah.
"Waalaikumussalam. Astaghfirullah, kamu ini, Rash! Kenapa nginep di pondok gak pamit dulu sama Bunda?"
Sebuah suara bernada omelan khas seorang ibu langsung menyambut kedatangan Arash.
Fatimah rupanya sudah berdiri di dekat meja makan, mengenakan mukena putihnya yang baru saja dilepas sebagian.
Wajah wanita paruh baya itu memancarkan rona kekhawatiran yang sangat kentara, meskipun ekspresinya buru-buru melunak begitu melihat anak sulungnya pulang dalam kondisi segar bugar, bahkan terlihat jauh lebih bersih dan berseri-seri dari biasanya.
Arash meringis lebar, menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali untuk mencairkan suasana.
"Hehehe... maaf ya, Bunda. Semalam itu Arash benar-benar gak sempat pulang buat ambil HP atau kirim pesan. Eyang yang langsung ngajak dan sedikit maksa Arash buat tinggal di pondok setelah tadarusan selesai."
Fatimah menghela napas panjang, meletakkan gelas berisikan teh hangat ke atas meja.
Jika sudah menyangkut perintah dari ayahnya Fatimah tentu tidak bisa memprotes lebih jauh lagi.
"Iya kamu sama eyang kamu itu sebelas dua belas. Suka bikin orang khawatir,’’
'Bener kata Eyang, sampai rumah pasti kena omel Bunda,' gumam Arash terkekeh dalam hati.
u benar-benar ya bikin harapan makin palsu aja bukannya benar ekh malah amburadul..
wah wah benar-benar s cengil kocak u ya.. hahahaha
Hayooohhh buruan,,anterin tuh si Poci ke salon Ghoib,,
malah di interogasi dlu🤣🤣🤣