Arkanendra adalah seorang jaksa penuntut yang berdinas di kejaksaan agung, sepak terjangnya sebagai jaksa yang dingin dan tegas juga sering memenangkan kasus besar dan sulit, membuat Arka menjadi populer di kalangan penjahat. karena profesinya itu Arkanendra menghadapi bahaya yang sangat fatal, dia nyaris saja mati di racun oleh musuh nya.
sebuah pertolongan datang dari underworld, dia bisa tertolong namun dewa Hades memberikan syarat mutlak, Arkanendra harus menghisap energi hidup dari dewi Athena sebelum 40 hari, jika tidak maka dia akan mati dan binasa.
Dewi Athena yang tak pernah tertarik dengan pria, Dewi Athena yang lebih memilih menjadi Perawan seumur hidupnya, lalu apa yang terjadi ketika bagian dari kepingan jiwanya jatuh cinta pada Arkanendra yang notebene adalah kepingan jiwa dari Dewa Hades.
Apa sejarah akan berubah, atau jeratan cinta itu membuat Dewi perawan tak berdaya, cinta memang memiliki keajaiban luar biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Tetap tenang ketika berada di lokasi itu!
"Jangan lepas! Bajunya bagus ini, nanti aku kasih pelindung bajunya, kamu mau—"
Nayyara langsung menggeleng cemas dan segera mengenakan jaket panjang yang disodorkan Arka.
"Ayo kita berangkat, aku bisa terlambat kalau begini terus."
"Tapi kita mau ke mana sih mas—" Nayyara belum selesai bicara, mulutnya langsung dibungkam oleh ciuman singkat Arka.
"Masih banyak bicara lagi? Tumben sih bawel, kan keluarnya sama aku?" Arka takut Nayyara menolak jika dia kasih tau tujuan mereka akan kemana.
Nayyara buru‑buru menggeleng lagi. Dalam hati dia mengeluh, kenapa dia harus punya pacar yang segenit ini.
"Ayo berangkat, tak perlu kuatir sama vampir aku bakal lindungi kamu sayang" Dengan gerakan canggung, Nayyara mengikuti Arka berjalan keluar dari kamar di apartemen ini, Arka masih menggenggam tangannya saat mereka turun ke lantai dasar dengan lift, lalu menuju parkiran basement di apartemen ini.
Mobil BMW hitam yang dikemudikan Arka melesat membelah jalanan yang masih ramai di ibukota, jam sudah hampir berada di angka sepuluh malam tapi mereka malah keluar dari rumah. Di kursi penumpang, Nayyara masih tampak bingung ke mana sebenarnya ia akan dibawa.
"Mas, sebenarnya kita mau ke mana sih? Ini mobil siapa?" Arka tak menjawab celotehannya, malah mulai berbicara dengan seseorang lewat alat komunikasi yang terselip di telinganya.
"Marc, aku sudah meluncur ke lokasi. Di mana posisi pak Rangga dan yang lain?"
"Siap, Pak Arka. Jangan lupa pakai kacamata nanti," Sahut Henry dari seberang.
Arka menghela napas lega. "Baiklah, aku paham. Semoga misi malam ini berjalan lancar." Dia melanjutkan konsentrasinya.
Nayyara ternganga makin bingung. Ketika Arka memperlambat kendaraannya, dia meraih sesuatu dari jok belakang, sebuah revolver.
"Ngggh… mas, buat apa senjata itu? Kok kamu pake siapin senjata?" Nayyara mulai gemetar. Dia tahu Arka memang berhak membawa revolver karena profesinya sebagai jaksa, tapi belum pernah dia melihat kekasihnya hendak menggunakannya seperti ini. Dia menatap tak lepas saat Arka memasukkan peluru ke dalam ruang peluru senjata itu.
"Hanya untuk berjaga‑jaga. Dengar Nay, sesampainya di sana, jangan buka mulut sedikit pun. Tetap diam dan ikuti semua perintahku, jangan takut dan gugup, Oke."
"Tapi di sana itu dimana mas? Di mana sebenarnya kamu mau ajakin aku?"
Nayyara makin bingung dan menggeleng takut saat Arka kembali menginjak gas dengan cepat.
****
Sesampainya di area parkir khusus mobil sebuah klub malam yang sangat besar, wajah Nayyara seketika pucat. Dia tak pernah datang ke tempat seperti oni, tapi Arka malah membawanya kesini, jujur Nayyara takut menyaksikan bentrokan hebat antara polisi dengan penjahat. Kali ini dia tak tahu apa yang akan terjadi nantinya.
"Mas....!"
"Jangan sampai melepaskan genggamanmu dariku, sht jangan berisik, tetap berada di sampingku saja. Paham?"
"Tapi kenapa kita harus ke sini? Aku takut—"
"Tenang saja, ada aku di sini. Ingat, jangan bicara pada siapa pun, cukup tetap di dekatku dan bersikap santai." Nayyara mengangguk pelan. Dia meremas tangan Arka yang menggandengnya masuk ke dalam gedung dan berusaha menenangkan diri, setelah Arka berbisik sesuatu kepada petugas di depan pintu saat pemeriksaan berlangsung.
"Widianto Jatmiko dan ini wanitaku." Penjaga itu memeriksa kartu emas yang disodorkan Arka. Langsung Nayyara menjadi salah tingkah saat tatapan pria penjaga itu menyapu seluruh tubuhnya, dengan pandangan yang penuh nafsu.
"Silakan masuk, Tuan Widianto. Omong-omong wanita Anda sangat cantik sekali." Arka tersenyum, lalu langsung merangkul pinggang Nayyara semakin erat, begitu petugas itu tersenyum nakal dan berbisik pelan. Arka menyelipkan selembar uang lima puluh ribu ke tangan pria berjas hitam itu.
Suasana di dalam klub malam sangat ramai dan bising. Tercium bau minuman keras bercampur asap yang pekat. Di mana‑mana tampak wanita‑wanita cantik mengenakan pakaian minim berlalu-lalang, sementara pasangan pria‑wanita saling berdekatan dengan gerakan yang terlihat panas dan tak tahu malu. Sofa‑sofa empuk berwarna merah tua hampir semuanya terisi, menjadi tempat sekadar berciuman, hingga berpelukan erat dengan tubuh yang nyaris tak berbusana.
"Aku takut… kenapa Kamu membawaku ke sini mas?"
"Jangan dilihat, cukup peluk saja aku." Arka membalikkan tubuh gadis itu agar wajahnya menempel rapat di dada bidangnya, lalu menuntunnya berjalan menuju sebuah sofa kosong dan duduk di sana.
"Marc, loe di mana?" Tanya Arka pada rekannya.
"Aku melihatmu masuk tadi bang. Posisiku arah jam tiga." Arka segera menoleh dan tersenyum penuh percaya diri saat melihat Marcus dari kejauhan. Pria itu sedang duduk bersama seorang wanita berpakaian gaun merah menyala, pasti itu Ririn, keduanya saling berciuman seolah sedang menikmati malam sepenuhnya.
"Di mana lokasi pertemuan itu?" Tanya Arka lagi lewat alat komunikasi pada Henry yang mengawasi gerak‑gerik mereka dari tempat tersembunyi.
"Pertemuan utama ada di lantai lima. Tunggu saja di sana, nanti orang suruhan Ta Xhelin akan mendatangi Anda pak Arka"
"Baik, aku mengerti Hen...." Nayyara berkedip‑kedip gelisah. Dia baru sadar betapa berat dan berbahayanya tugas kekasihnya. Karena terus berpelukan, dia bisa mendengar percakapan Arka dengan seluruh anggota tim lewat alat komunikasi kecil, di telinga pria itu.
"Pak Arka, ada sasaran baru di arah jam sembilan. Kamu harus mengurusnya."
Marcus berbisik lagi dengan terkekeh, dan seketika Arka menoleh sambil tersenyum ke arah seorang pria bertubuh besar berkepala botak.
"Anda Tuan Widianto Jatmiko?" Tanya pria botak itu.
"Benar. Kode empat‑empat‑enam‑delapan," Jawab Arka tenang.
Arka juga duduk dengan santai sambil membiarkan Nayyara tetap berada di pangkuannya, membuat gadis itu memunggungi pada pria asing tadi. Nayyara makin mempererat pelukannya pada Arka, karena takut melihat suasana di sekitar klub yang semakin menyeramkan.
"Ini barang pesanannya. Silakan dibaca dulu."
Pria botak itu terkekeh lalu menyodorkan sebuah map tebal ke tangan Arka. Jaksa muda itu segera mengenakan kacamata baca dan meneliti lembaran‑lembaran kertas yang baru saja diterimanya.
"Tiga puluh lima untuk pengiriman lusa? Apakah kualitasnya bisa dijamin? Kalian tidak berniat menipuku, kan?" Tanya Arka dengan nada serius, benar‑benar menghayati peran samarannya, dia seperti fokus totalitas berakting saat ini.
"Tentu saja, Tuan Widi. Kami berani menjamin kualitasnya, barang yang dikirim bukan barang buangan atau rongsokan."
"Baiklah, aku percaya. Tapi ingat, awas saja kalau hasilnya tak sesuai kesepakatan."
"Saya jamin kualitasnya terbaik, bahkan nyaris setara dengan wanita yang ada di pangkuan Anda itu."
"Cih, kualitas wanitaku ini jauh lebih tinggi. Aku takkan sudi memilih yang lain." Dengus Arka arogan. "Hahaha, saya percaya. Dia pasti sangat mahal harganya, sangat seksi dan cantik....." Pria botak itu tertawa keras, tatapannya makin penuh nafsu dan keinginan liar menatap gadis cantik yang terus meringkuk di pelukan Arka sejak tadi. Di balik jaket lebar hitam yang dikenakannya, terlihat jelas paha mulus Nayyara yang terekspos. Dalam hati, gadis itu berharap semuanya segera berakhir, dia sudah gemetar hebat sejak langkah pertama masuk ke tempat itu.