Bagaimana jadinya jika hubungan yang telah dibina selama ini yang tampak begitu harmonis dan penuh kasih sayang ternyata hanyalah didasari rasa kasihan semata?
Wanita yang dinikahinya adalah seorang yatim piatu yang harus menanggung beban kehidupan kedua adiknya. Karena rasa iba , ia berinisiatif menikahi perempuan tersebut, padahal keduanya baru saling mengenal selama satu tahun. Namun, yang ada di dalam hatinya bukanlah istrinya, melainkan mantan kekasih yang pernah memutuskannya tanpa alasan yang jelas, namun masih sangat dicintainya hingga saat ini.
Apa yang akan terjadi jika kelak sang istri mengetahui kenyataan ini? Akankah ia tetap menerimanya, atau memilih untuk mundur, meski harus melepaskan kehidupan yang sudah terjamin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sah
Beberapa minggu kemudian, pernikahan itu benar-benar terjadi. Amira dan Farhan sudah sah menjadi sepasang suami istri. Pernikahan mereka diadakan secara sederhana. Orang-orang yang ada di lingkungan Amira datang memberikan selamat di kediamannya, sementara dari pihak keluarga Farhan hanya diwakili keluarga inti saja, seperti orang tua, adik, dan beberapa kerabat dekat dari keluarga Mama dan Papa Farhan.
Ayumi merasa tidak terima dengan situasinya saat ini. Melihat putra yang ia banggakan harus menikah dengan perempuan biasa saja, Ayumi sangat menyayangkan keputusan Farhan. Sementara itu, keluarga yang lain terlihat pro dan kontra, namun tak berani bersuara karena Arhan sudah mewanti-wanti untuk tidak membuat masalah.
"Kami pulang dulu, Farhan. Jangan lupa ajak istri dan adik-adiknya pulang ke rumahmu. Papa yakin kamu bisa menjadi laki-laki yang bertanggung jawab. Tolong jangan kecewakan kami yang sudah merestui pernikahan ini," ucap Arhan pada putranya. Farhan hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada Arhan dan juga keluarga yang lainnya.
"Terima kasih, Pah. Aku akan ingat nasihat Papa."
Semua keluarga Farhan berpamitan dan pulang ke rumah mereka masing-masing. Sementara itu, Amira dan kedua adiknya sedang merapikan rumah yang sejak mereka pulang dari KUA dikunjungi banyak tamu.
Farhan menghampiri mereka untuk menyampaikan niatnya membawa mereka pindah ke rumahnya.
"Aku boleh minta waktunya sebentar?" ucap Farhan, membuat ketiganya menghentikan aktivitas.
"Ada apa, Mas?" tanya Amira.
"Hm, hari ini kemasi barang-barang kalian. Kita pindah ke rumahku."
Ketiganya lumayan terkejut. Mereka tidak pernah membayangkan akan tinggal di rumah Farhan secepat ini. Mereka beranggapan kalau Farhan hanya akan membawa Amira saja, ternyata dugaan mereka salah. Farhan justru meminta mereka berkemas.
"Mas, apa tidak terlalu cepat?" tanya Amira memastikan.
"Tentu saja enggak. Kalian sudah jadi bagian keluargaku. Kalian harus tinggal di mana aku tinggal, kalian harus makan apa yang aku makan, dan kalian harus menikmati apapun yang aku miliki. Jadi, berkemaslah," ucap Farhan, membuat ketiganya langsung menuruti perintah Farhan.
Mendengar ucapan Farhan, Amira merasa terharu dan memeluk suaminya secara spontan. Hal itu membuat Farhan sedikit tidak nyaman karena terlalu mendadak. Tapi Farhan membalas pelukan Amira dengan penuh kehangatan.
Farhan seolah sedang membuktikan kalau dia sangat peduli terhadap keluarga Amira, dan itu berhasil. Rumah yang Amira gadai sudah berhasil ditebusnya dari uang mahar yang Farhan berikan. Bahkan, Farhan menjanjikan akan merenovasi rumah Amira nanti. Farhan benar-benar ingin membuat keluarga itu sejahtera dengan cara mengambil alih peran sebagai pencari nafkah.
Pukul 5 sore, datang beberapa tetangga yang akan mengantar kepindahan keluarga Amira. Mereka senang kalau Amira mendapatkan suami yang bertanggung jawab dan menerima keadaan Amira.
"Sering-sering mampir, Amira. Jangan sampai melupakan kami. Kami senang melihat kamu menikah. Setidaknya kamu tidak perlu terlalu kerja keras untuk menghidupi adik-adikmu."
"Aku pasti akan lebih sering mampir ke sini. Lagi pula, masih di satu kota kok. Tujuanku menikah bukan untuk memanfaatkan Mas Farhan, tapi karena aku menyukainya sejak lama."
"Apapun itu, semoga hidupmu selalu diberikan kebahagiaan dan kemudahan," ucap Bu RT dengan bijaksana. Mereka pun mengantar kepergian Amira dan kedua adiknya.
Amara begitu bahagia karena akan tinggal di rumah Farhan. Dia sudah membayangkan rumah megah dengan AC dan kamar yang luas. Sementara Ammar hanya diam tanpa ekspresi. Ammar banyak berdoa untuk kakaknya, dan doanya yang paling utama adalah kebahagiaan kakaknya.
Empat puluh lima menit kemudian, mereka sampai di rumah Farhan. Rumah minimalis yang tidak bisa dikatakan sederhana karena rumah itu berdiri di kawasan elite. Bangunannya berdiri kokoh dengan 1 lantai, lalu desainnya menyesuaikan kepribadian pemilik rumah. Lihatlah warna cat yang dominan abu-abu muda dan putih, lampu yang temaram, bukan yang terang benderang, lalu taman yang luas ini hanya berisi tanaman hijau tanpa pohon bunga berwarna-warni.
"Silakan masuk. Di rumah ini terdapat empat kamar. Kamar utama ada di ujung sebelah kanan, dan kamar satunya adalah ruang kerjaku. Jadi, kalian tidak bisa memilih kamar di sebelah kanan. Mas sudah mengatur kamar kalian masing-masing 1 kamar di sebelah kiri dengan fasilitas yang diperlukan anak sekolah. Nanti kalau rumah ini tidak cukup, kita bisa pindah ke rumah yang lebih besar," ucap Farhan menjelaskan tata letak kamar dan hal lainnya. Ketika berbicara ingin mengganti rumah, ucapannya terdengar sangat ringan sekali orang tuanya memang beda.
"Baik, Mas. Terima kasih," ucap kedua adik kembar Amira.
"Sama-sama. Oh iya, di garasi ada motor baru yang bisa kalian gunakan untuk sekolah, dan di kamar kalian Mas sudah belikan masing-masing satu HP dan laptop untuk keperluan belajar. Besok asistenku akan mengantar kartu ATM untuk kalian masing-masing. Jangan sungkan, silakan gunakan."
Sejak tadi, ketiganya cukup tercengang dengan ucapan Farhan. Lagipula, ia terlalu royal padahal masih hari pertama, tapi mereka sudah dimanjakan oleh fasilitas mewah yang diberikan Farhan.
"Mas, apa tidak terlalu berlebihan?" tanya Amira.
"Iya, Mas. Kita masih bisa belajar tanpa itu semua. Kami belum terbiasa dengan semua ini," ucap Ammar, sedangkan Amara hanya menerima dengan senang.
"Tidak. Ini semua adalah rencana yang sudah aku susun setelah aku dan Amira menikah. Kalian hanya perlu menikmati dan belajar dengan sungguh-sungguh. Aku yakin kalian akan memiliki masa depan yang cemerlang. Jangan pikirkan masalah apapun, kalian cukup belajar saja. Termasuk kamu, Amira, cukup jadi istriku saja."
Farhan benar-benar memanjakan ketiganya. Mereka sampai tidak bisa berkata-kata selain mengucapkan terima kasih. Amira hanya mengangguk dan bersyukur.
"Oiya, aku tidak pakai asisten rumah tangga yang menginap. Biasanya ada orang yang akan merapikan rumah ini seminggu dua kali. Kalau soal masak, aku biasanya masak sendiri atau pesan dari restoran langgananku. Kalau Amira memerlukan asisten rumah tangga yang datang setiap hari, aku akan mengaturnya."
Amira langsung buru-buru menolak.
"Jangan, Mas. Urusan rumah biar aku yang tangani. Kamu sudah melakukan banyak hal, sekarang aku yang akan ambil peran untuk mengurus rumah."
"Baiklah kalau begitu. Sebaiknya kalian membersihkan diri dan istirahat. Untuk makan malam, aku sudah pesan."
"Baik, Mas. Terima kasih," ucap ketiganya.
"Kalian terlalu banyak mengucapkan terima kasih. Kita ini sudah menjadi keluarga, ingat itu."
Farhan berjalan ke arah kamarnya tanpa mengajak Amira. Setelah beberapa saat, dia baru sadar kalau Amira tidak ada di belakangnya.
"Kenapa kamu diam saja? Kamar kamu ada di ujung sana, sama aku."
Amira terlihat gugup dan mengikuti langkah Farhan. Setiap langkah kakinya membuat jantungnya berdebar kencang. Apakah malam pertama itu akan terjadi?