Aruna mencoba segala cara agar pertunangannya dengan seorang Panglima TNI bernama Axel dibatalkan. Tapi semua cara yang ia lakukan itu justru tidak membuahkan hasil sama sekali. Axel justru semakin menyukai dirinya, dan memberikan apapun yang dia mau. Bagaimana kelanjutan kisahnya? ikuti terus hanya disini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 : Pasrah.
Matahari pagi mulai menyelinap masuk melalui celah gorden kamar. Aruna bangun tidur dengan wajah yang segar dan senyum yang tak pernah pudar dari bibirnya. Hari ini ia merasa sangat ceria, seolah beban berat di pundaknya sudah hilang tak berbekas.
Setelah mandi dan merapikan diri dengan dandanan yang cantik namun simpel, Aruna turun menuju ruang makan. Di sana, kedua orang tuanya, Pak Hadi dan Ibu Melati, sudah duduk menunggu sarapan.
"Pagi semuanya.." sapa Aruna ceria, lalu mendekat dan mencium pipi Ayah dan Ibunya bergantian dengan penuh kasih sayang.
"Ceria sekali putri kami hari ini," sahut Pak Hadi sambil tersenyum melihat semangat anak gadisnya.
"Iya dong, biar makin cantik," balas Aruna santai sambil mengambil roti dan mulai melahapnya dengan lahap.
Suasana terasa hangat, hingga tiba-tiba Ibu Mawar membuka suara yang membuat suasana berubah drastis.
"Aruna... soal pertunangan kamu, semuanya sudah disiapkan. Prosesnya sudah jalan, hampir selesai dan kamu tinggal bersiap saja," ucap Ibu Melati lembut namun tegas.
Aruna hanya mengangguk-angguk santai, mulutnya masih mengunyah. Dalam pikirannya ia bergumam.
'Biarin aja sibuk... sebentar lagi juga batal kok. Pasti Axel kan merasa bersalah dan membatalkan semuanya,' pikirnya yakin.
"Dan hari ini... kamu temani Axel ya," tambah Ibu Melati lagi.
BRUUSS!!
Air putih yang baru saja diminum Aruna langsung menyembur keluar begitu saja. Ia terbatuk-batuk kaget, matanya membelalak lebar.
"Temenin Axel? Kemana?" tanya Aruna panik, wajahnya langsung berubah kaget bukan main.
"Iya, katanya dia mau ngajak kamu ke toko perhiasan buat ambil cincin pertunangan kalian. Kan kalian belum fitting ukurannya," jelas Pak Hadi santai.
Mood Aruna langsung hancur seketika. Senyumnya hilang berganti dengan cemberut. Ia menghela napas panjang, pasrah. 'Gak jadi batal dong?! Apa-apaan sih si Batu ini!,' gerutunya dalam hati.
Dengan langkah yang berat dan malas, Aruna menyeret tubuhnya kembali ke kamar untuk bersiap. Kali ini ia menolak bantuan Ibunya, ingin bersiap sendiri dengan wajah yang tak bersemangat.
Setelah siap, Aruna berdiri menunggu di teras rumah. Posturnya tampak malas sekali, sandal-sandalnya dihentakkan pelan, menunggu kedatangan calon suaminya. Niat jahilnya sudah hilang entah kemana, ia merasa lelah dan seolah sudah mengalah total pada keadaan.
Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah. Pintu terbuka, dan Axel keluar dengan tampilan yang sangat gagah dan berwibawa. Aura karismanya begitu kuat meski hanya mengenakan kasual.
Axel menyapa Pak Hadi dan Bu Melati dengan sopan, bersalaman dengan penuh hormat. Setelah basa-basi singkat, ia mengajak Aruna masuk ke mobil.
Tapi Aruna malah berdiri mematung, lalu memasang wajah paling manja sedunia.
"Gendong aku dong!!" serunya dengan nada tinggi yang jelas terdengar oleh kedua orang tuanya.
Axel sontak menengok ke arah Pak Hadi dan Bu Melati, wajahnya sedikit salah tingkah dan gugup. Namun kedua orang tua itu malah langsung berbalik badan dan berjalan masuk dengan cepat, pura-pura tidak mendengar dan membiarkan anaknya berbuat sesuka hati.
"Kamu yakin mau digendong di sini?" tanya Axel rendah, mendekatkan wajahnya ke telinga Aruna.
"Kenapa? Kamu gak mau atau... gak mampu?" tantang Aruna sambil mendongak menatap manik mata pria itu.
Axel terdiam sejenak, lalu tanpa berkata apa-apa, tangannya langsung melingkar di pinggang dan punggung Aruna. Cuss! Dalam satu gerakan halus namun kuat, ia mengangkat tubuh mungil itu ke dalam gendongannya, lalu membawanya masuk ke dalam mobil dengan gagah.
Namun, sifat manja Aruna tak berhenti sampai di situ. Begitu pintu mobil tertutup, Aruna langsung bergeser dan duduk nyaman di atas pangkuan Axel.
"Aku mau duduk di sini.." ucapnya polos sambil melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu.
"Aruna... ini..." Axel mencoba protes, napasnya mulai tidak beraturan.
"Ini apa?" potong Aruna cepat, wajahnya mendekat sangat dekat dengan wajah Axel, menatapnya dengan mata bulat yang polos namun penuh godaan.
Axel menarik napas panjang, sangat berat. Posisi itu benar-benar membuat jantungnya berdegup kencang tak karuan. Tubuh gadis itu yang hangat dan aroma wanginya yang menusuk indra, seketika membuat hasrat dan rasa sayangnya di dada makin menggunung tinggi. Ia sangat ingin menyentuh, memeluk lebih erat, bahkan melakukan hal-hal lain yang lebih dari itu.
Dengan sisa kekuatan fokus yang tersisa, Axel mencoba menyalakan mesin dan mulai menyetir. Sementara itu, Aruna hanya bersantai tenang di sana, menikmati posisinya di pangkuan sang Jenderal, seolah itu adalah singgasana miliknya.
"Axel.. aku cantik gak? " Tanya Aruna tiba-tiba, suaranya lembut namun penuh rasa ingin tahu, seolah-olah jawaban dari pertanyaan itu adalah hal yang paling penting di dunia baginya saat ini.
Axel menelan ludahnya dengan kasar, tenggorokannya terasa kering mendadak. Matanya yang biasanya tenang dan dingin kini bergerak gelisah, seolah mencari tempat untuk bersembunyi dari tatapan tajam namun manis gadis di depannya itu.
"Kenapa tanya itu tiba-tiba.. " gumamnya, suaranya terdengar sedikit serak.
"Katakan saja apa jawabannya.. " desak Aruna, tidak mau tahu alasan apa pun. Dia mendekatkan wajahnya sedikit lagi, membuat jarak di antara mereka semakin sempit.
"Cantik.. " jawab Axel dengan tegas, namun ekspresi wajahnya masih tetap datar, seolah-olah dia baru saja mengatakan hal yang paling biasa saja. Padahal di dalam hatinya, dia tahu bahwa kata itu jauh dari cukup untuk menggambarkan betapa mempesonanya, Aruna saat ini.
"Hanya itu? " Aruna mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata hitam Axel. Matanya yang bulat dan indah itu memancarkan rasa tidak puas yang jelas terlihat. Dia ingin mendengar lebih dari sekadar kata sederhana itu.
Axel menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu lebih cepat dari biasanya. Dia memandang wajah Aruna lekat-lekat, melihat setiap detail kecil yang membuat gadis itu begitu istimewa.
"Sangat cantik.. " ucapnya lagi, kali ini dengan nada yang sedikit lebih lembut dan penuh penekanan.
"Hm.. " Aruna seketika mendelik malas, bibirnya sedikit manyun. Dia jelas tidak puas dengan jawaban Axel barusan. Baginya, pujian itu masih terdengar terlalu kaku dan kurang romantis.
Dan Axel tahu betul bahwa gadis di depannya itu tidak akan mudah puas.
"Aku tak terlalu pandai memuji orang Aruna.. " ucapnya kemudian, mencoba memberikan alasan yang masuk akal. Wajahnya yang tampan itu kini terlihat sedikit memerah karena rasa malu dan canggung.
"Ya... kamu emang kaku. " Ucap Aruna sambil tersenyum miring. Tanpa rasa takut, dia mengalungkan kedua tangannya ke leher Axel, menarik tubuh pria itu semakin dekat dengannya. Aroma parfum lembut yang khas dari tubuh Aruna langsung menyeruak masuk ke hidung Axel, membuat pikirannya semakin kacau dan jantungnya makin berdegup kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari rongga dadanya.
"Aruna.. kamu terlalu dekat. " bisik Axel, suaranya terdengar berat dan serak. Matanya menatap intens ke mata Aruna, campuran antara rasa ingin menjaga jarak dan keinginan untuk terus berada di dekatnya.
"Gak masalah dong, lagian kita akan menikah juga kan pada akhirnya.. " jawab Aruna santai, namun kata-katanya itu berhasil membuat seluruh tubuh Axel terasa membeku sesaat, sebelum kemudian dipenuhi oleh perasaan hangat dan bahagia yang luar biasa.
Axel menginjak rem mendadak, membuat mobil itu berhenti dengan halus namun tegas di pinggir jalan yang sepi. Mesin dimatikan, dan suasana di dalam kabin seketika menjadi hening, hanya menyisakan detak jantung yang berpacu kencang.
Dengan gerakan cepat dan refleks seorang prajurit, tangan kokoh Axel mendorong pelan tubuh Aruna agar sedikit menjauh, memberinya sedikit ruang untuk bernapas. Wajahnya tampak serius, matanya menatap tajam namun suaranya terdengar sangat lembut.
"Aruna... aku tidak bisa fokus menyetir kalau kamu terus begini di sini..." ucapnya pelan, napasnya terdengar berat dan tidak beraturan.
Mendengar itu, Aruna langsung manyun. Perasaannya tersinggung sedikit.
"Oh jadi aku ganggu ya?" sahutnya ketus dengan nada kesal. "Kalau gitu kita pergi terpisah aja deh. Aku mau pesan taxi online aja biar kamu bisa fokus nyetir tenang tanpa gangguan."
Tanpa menunggu jawaban, Aruna langsung bergerak cepat mencoba membuka pintu mobil dan turun. Ia ingin menunjukkan protesnya dengan cara kekanak-kanakan.
Namun, mana mungkin Axel membiarkannya pergi?
Dalam sekejap mata, tangan Axel mencengkeram pergelangan tangan Aruna dan menariknya kembali dengan kuat namun lembut. Gadis itu terpental kembali ke dalam pelukan, dan kembali mendarat dengan sempurna tepat di atas pangkuan pria itu.
"Gak ada yang nyuruh kamu pergi..." bisik Axel tepat di telinga Aruna. Suaranya berat, bergetar, dan terdengar sangat mendesak, seolah ia tidak sanggup jika harus berpisah walau hanya sedetik pun.
Aruna terpaku. Tubuhnya kembali menempel erat di dada bidang itu. Ia bisa merasakan betapa kencangnya jantung Axel berdetak, dan sadarlah ia bahwa jantungnya sendiri pun melakukan hal yang sama, bahkan jauh lebih parah.
"Eh sialan... malah senam aerobik ni jantung..." gumam Aruna dalam hati, wajahnya mulai memanas. Ia mencoba bersikap cuek, tapi tubuhnya sendiri yang mengkhianati perasaannya, bergetar hebat karena kedekatan yang begitu intens ini.
***