Niat baik tidak selamanya berakhir baik, hal ini terjadi pada rumah tangga Hanna dan Rizal
Malam itu keduanya menyelamatkan seorang wanita yang mendapat kekerasan dari suaminya
Mereka membawa tubuh lemah itu kerumah dan memberikan perawatan hingga wanita bernama Arum itu pulih
Namun nasib buruk menghampiri Hana, wanita yang telah ia selamatkan ternyata menjadi racun bagi rumah tangganya bersama sang suami
Pada akhirnya Rizal terjerat oleh pesona wanita lugu bernama Arum itu, hingga pernikahannya yang telah dikaruniai dua buah hati berakhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Persalinan Hanna semakin dekat, Hanna memilih untuk belanja perlengkapan bayi dan Hanin sang adik yang menemani
Rizal sangat sibuk hari ini hingga pria itu tidak bisa menemani. Dua wanita itu sudah berada disebuah pusat perbelanjaan
"Gimana sama yang ini mbak?" Tanya Hanin seraya memperlihatkan sebuah selimut berwarna merah muda
"Bagus, mbak suka warnanya"
Hanna hanya duduk disebuah kursi yang disediakan dan Hanin yang memilihkan barangnya
"Kita makan dulu yaa mbak, aku laper" Keluh Hanin pada sang kakak
"Ya udah ayo!"
Keduanya masuk kesebuah restoran lalu duduk dan memesan makanan, sambil menunggu keduanya berbincang
"Mbak mau bicara tentang kontrakan yang mau ditempati Arum" Hanin menatap sang kakak dengan kening yang mengkerut
"Ada apa mbak? Dia gak suka?"
"Bukan gitu, Arum mau pulang kampung. Dia mau menempati rumah mendiang orang tuanya" Jawab Hanna
"Bukannya kata mbak Hanna dia udah gak punya keluarga? Kok tiba-tiba aja ada rumah mendiang orang tuanya!"
Hanin sepertinya ragu, sejak awal ia melihat wanita bernama Arum itu, entah kenapa ia merasa ada yang salah dari wanita itu
Hanin hanya tidak ingin jika rumah tangga sang kakak terusik. Hanna begitu mencintai suaminya, entah apa yang akan terjadi jika dirinya mendapat pengkhianatan
"Mbak juga gak tau, tapi Arum akan pulang kampung" Kata Hanna "Mungkin memang sebaiknya Arum tinggal jauh dari sini"
"Mbak Hanna tau sesuatu tentang wanita itu?" Tanya Hanin dan Hanna menganggukkan kepalanya
"Waktu itu, mbak gak sengaja liat Ipul masuk ke kamarnya Arum sambil mindik-mindik"
Hanin terkejut, itu berarti apa yang ia curigai tentang wanita itu adalah benar "Mbak kasih tau itu ke mas Rizal?"
Hanna menggeleng "Sebagai sesama perempuan, mbak hanya ingin menjaga Marwah Arum dan tidak membuka aibnya saja"
"Bagaimana kalau perempuan itu juga menggoda mas Rizal?" Hanna menatap sang adik dengan tatapan tak suka
"Maksud kamu apa, dek?"
"Kalau dia bisa merayu si Ipul, bukan gak mungkin kalau dia juga merayu mas Rizal!"
Hanna diam, apa yang Hanin katakan tidak salah. Namun ia yakin sekali jika Rizal tidak akan pernah berpikir untuk melakukan itu
"Dia bisa merayu Ipul, tapi mas Rizal gak mungkin tergoda sama Arum" Ujar Hanna dengan begitu yakin
"Mbak yakin?" Hanin menatap lekat sang kakak
"Kita gak pernah tau apa yang terjadi dibelakang, maksud aku, mas Rizal itu pria normal, lagian mbak, kucing mana yang gak tergoda kalau disodorin ikan asin"
Hanna diam, apa yang Hanin ucapkan tidak salah. Tapi ia begitu yakin pada suaminya, Rizal bukanlah pria seperti itu
"Apa aku boleh tanya?"
"Apa?"
"Apa mas Rizal menyentuh mbak Hanna?" Sebenarnya pertanyaan ini bersifat pribadi, namun rasanya Hanin perlu tahu
"Selama kehamilan mbak masuk trimester terakhir, mas Rizal mulai menahan diri. Dia takut kalau aktifitas itu akan membahayakan bayi kami" Ucap Hanna
"Mbak Hanna yakin? Bagaimana kalau mas Rizal melampiaskannya pada Arum?"
"Itu gak mungkin, mas Rizal sudah menahan diri dari sebelum Arum datang kerumah kami"
Hanna sangat percaya pada suaminya. Selama ini Rizal bukan laki-laki yang mudah tergoda. Bahkan Hanna kerap memeriksa ponsel suaminya dan memang tidak ada yang mencurigakan
"Aku harap mas Rizal selalu setia sama mbak! Aku cuma mau mbak Hanna bahagia" Ujar Hanin dengan tulus
"Makasih yaa dek, kamu sudah peduli sama mbak" Hanna menggenggam tangan sang adik dengan lembut
"Kamu gak perlu terlalu khawatir, mas Rizal tidak akan pernah melakukan itu" Ujar Hanna dengan penuh keyakinan
"Semoga saja mbak"
Saat makanan pesanan mereka tiba, dua wanita cantik itu menikmati makan siang mereka lalu meninggalkan mall
Sementara itu dirumah, Arum tengah bersama Saipul yang kebetulan hari ini tengah libur, ini karena Hanna yang pergi bersama adiknya dan Hanin menyetir sendiri
"Kamu yakin mau pulang kampung?" Tanya Ipul pada wanita pujaannya
"Iya bang, aku gak mungkin kan tinggal dirumah mas Rizal sama mbak Hanna terlalu lama" Ujar Arum sembari bersandar pada dada Ipul
Keduanya tengah berada di taman belakang rumah, semua orang sedang pergi, hingga membuat mereka bebas melakukan apa saja
"Abang sebenarnya mau nikahin kamu!" Arum terkejut, ia menatap wajah pria berkulit sawo matang itu dengan lekat
"Abang serius sama aku?" Tanya Arum
"Abang sudah menyentuh kamu, kamu harus tau kalau Abang tidak menyentuh wanita sembarangan"
Saipul menggenggam tangan Arum "Abang cinta sama neng Arum, Abang mau hubungan kita lebih serius"
"Tapi aku kan janda bang? Apa Abang gak keberatan bersama wanita seperti aku?" Arum terlihat ragu, namun sepertinya pria ini bisa diharapkan untuk hidupnya kedepan
"Abang gak peduli mau kamu janda, Abang akan menganggap Hafiz sebagai anak Abang sendiri" Saipul mengatakan itu dengan sungguh-sungguh
"Jujur aja aku masih ragu, dan aku juga belum kepikiran untuk menikah lagi dalam waktu dekat" Arum menunduk
"Bahkan perceraian aku sama mantan suami ku belum selesai, bang"
Ipul tersenyum lalu menggenggam tangan Arum "Abang akan menunggu sampai kamu siap!"
"Abang punya rumah?" Jika Ipul bisa memberikan tempat berlindung maka Arum akan bersama pria ini
Mengharapkan Rizal juga percuma, pria itu lebih memilih kembali bersama istrinya. Setelah ini, ia akan menjual rumah pemberian Rizal dan menikmati uangnya
"Kalau neng Arum mau jadi istri Abang, nanti Abang akan beli rumah untuk kita bertiga, tabungan Abang cukup kok buat beli rumah walaupun kecil"
Arum tampak berpikir, tidak ada ruginya mencoba. Apa yang kurang dari Saiful? Pria ini cukup manis dan memiliki permainan yang menakjubkan, Arum suka itu
"Aku pikirin dulu yaa bang, aku tetap akan pulang kampung dulu"
Supir pribadi Hanna itu mengangguk "Abang akan menunggu sampai kamu siap!"
Arum tersenyum, jemari lentiknya mengusap rahang tegas pria manis itu "Tapi jangan sampai mas Rizal sama mbak Hanna tau tentang hubungan kita!"
"Kenapa emangnya?" Tanya Saipul tidak mengerti
"Jangan sekarang bang, biar aku yakin dulu, baru kita kasih tau semua orang!"
Ipul mengangguk, pria itu mendekatkan wajahnya hingga bibirnya menyentuh bibir ranum Arum dan melumat nya dengan tidak sabaran
Keduanya menikmati kebersamaan itu tanpa takut akan ketahuan oleh penghuni rumah lainnya
Arum dan Ipul melakukannya di taman belakang rumah lalu berlanjut hingga ke kamar Arum
Pria itu memang selalu berhasil membuat Arum melayang. Wanita itu selalu berada di angkasa jika sudah bersama pria kekar ini
Ahhh
Suara desahan itu mengisi setiap sudut kamar, menandakan jika Arum telah hanyut dalam kenikmatan hingga beberapa jam berlalu dan keduanya telah sampai pada puncaknya
Saipul merasa begitu puas, pria itu lalu memunguti pakaiannya dan keluar dari kamar tamu
Ia harus keluar sebelum penghuni yang lainnya datang, sebelum pergi Ipul lebih dulu mengecup kening wanitanya
Sesampainya diluar suara seorang wanita mengejutkan nya "Ipul!"
Pria itu menegang, sejak kapan wanita paruh baya itu ada disana "M-mbok?"
semoga byk yg baca