NovelToon NovelToon
PELET LAKNAT

PELET LAKNAT

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Kutukan / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

kisah pemuda yang terobsesi cinta
memutuskan untuk mengambil jalan lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan Mira yang dulu

BAB 11

Bukan Mira yang Dulu

Pagi harinya, cahaya matahari menyelinap masuk melalui celah gorden, membawa serta hawa segar yang merayap dari sela pintu kamar Mira. Perlahan, Mira terbangun dan beranjak duduk di tepi tempat tidur. Namun, ada sesuatu yang terasa sangat ganjil. Tubuhnya tegak namun tampak kaku, kedua tangannya terlipat rapi di pangkuan seolah sedang dipatungkan. Sorot matanya kosong melompong, seolah seluruh gairah hidupnya telah menguap begitu saja sejak matahari terbit.

"Mira? Kamu sudah bangun, Nak?" suara ibunya terdengar dari balik pintu, disusul ketukan pelan.

Mira tidak menjawab. Ia bahkan tidak menoleh sedikit pun. Namun perlahan, kepalanya miring ke arah pintu dengan gerakan yang patah-patah, seakan ada sendi yang macet di lehernya.

"Mira… kamu sudah bangun?" seru ibunya sekali lagi, mulai merasa heran.

Karena tak kunjung mendapat jawaban, rasa penasaran mulai menyelimuti hati sang ibu. Kreeek… suara engsel pintu terdengar saat ia mendorongnya perlahan.

"Nak, kamu tidak apa-apa? Kamu sakit sampai diam saja begini?"

Mira hanya menoleh ke arah ibunya. Sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya, namun wajahnya tampak begitu pucat—pasi dan layu, persis seperti orang yang tidak tidur sama sekali semalam.

Tanpa sepatah kata pun, Mira bangkit dari duduknya lalu berjalan perlahan menuju meja rias. Langkahnya terasa berat namun pasti, seolah dipaksa oleh sesuatu yang tak terlihat.

"Nak, kamu mau ke mana?" tanya ibunya, mulai merasa cemas melihat gelagat putrinya yang berbeda dari biasanya.

"Aku mau bertemu Indra. Aku sudah kangen padanya," sahut Mira. Nadanya datar, tanpa nada perasaan sedikit pun, seolah kata-kata itu keluar bukan dari keinginan hatinya, melainkan hanya rekaman suara yang diputar ulang.

Ibu terdiam sejenak, dahinya berkerut bingung. Selama ini, Mira tidak pernah bercerita apalagi mengenalkan seorang teman pria kepadanya. Nama itu terdengar asing sekaligus mengejutkan telinganya.

"Indra? Siapa itu? Maksudmu… teman sekolahmu dulu?"

Mira tidak menjawab. Ia hanya melirik sekilas melalui pantulan cermin, lalu kembali menyisir rambut panjangnya dengan gerakan yang sangat lambat—ritme yang monoton dan membosankan, seolah dunia di sekitarnya tidak lagi penting. Saat itu, yang ada di benaknya hanya satu nama: Indra.

Ibu terpaku di sisi tempat tidur, jemarinya meremas pinggiran daster dengan gelisah. Ada sesuatu yang salah—sangat salah. Hawa segar pagi yang tadi sempat masuk ke kamar, kini seolah tersedot hilang, digantikan oleh aroma tanah basah yang samar dan hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang.

"Tapi Nak… kamu kan sedang tidak enak badan, lebih baik istirahat saja di rumah ya," ujar Ibu, suaranya bergetar mencoba membujuk.

"Sudah, kamu diam! Jangan ikut campur urusanku!" sahut Mira dengan nada yang tiba-tiba meninggi dan tajam.

Ibu tersentak hebat, dadanya terasa sesak karena terkejut. Seumur hidupnya, Mira tidak pernah membentak, apalagi bicara sekasar itu kepadanya. Mira adalah anak yang lembut, penurut, dan sangat sopan. Perubahan drastis ini membuat sang ibu semakin yakin bahwa ada sesuatu yang telah mengambil alih tubuh dan jiwa putrinya.

Mira kembali menatap cermin, namun kali ini ia berhenti menyisir. Ia hanya memandangi pantulannya sendiri dengan tatapan tajam yang terasa asing dan dingin.

"Indra benci orang yang suka mengatur," gumam Mira pelan, hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri, namun cukup jelas terdengar hingga membuat bulu kuduk ibunya meremang.

Tanpa menunggu lebih lama, sang ibu bergegas keluar menuju ruang keluarga, lalu menghampiri suaminya yang sedang menikmati kopi pagi sambil membaca koran.

"Pak! Pak, Mira aneh sekali!" ujar Ibu terengah-engah, wajahnya pucat pasi dan napasnya memburu. "Mukanya putih sekali seperti orang sakit, terus… dia berani membentak Ibu, Pak!"

Ayah Mira menurunkan korannya perlahan, lalu menatap istrinya dengan dahi berkerut heran.

"Bu, tenang dulu jangan panik begitu," sahut Ayah mencoba meredam kegelisahan istrinya. "Coba tarik napas pelan-pelan, ceritakan dari awal. Mungkin dia cuma sedang kurang enak badan atau masih mengantuk."

"Bukan, Pak! Ini beda sama biasanya!" potong Ibu cepat, suaranya naik satu nada. "Dia bilang mau ketemu Indra. Dia terus-terusan menyebut nama itu sambil menyisir rambutnya dengan tatapan yang… yang ngeri sekali. Kamu tahu kan, Mira tidak pernah seperti itu sebelumnya?"

Mendengar nama Indra disebut, tangan Ayah yang sedang memegang cangkir kopi mendadak kaku. Keheningan dingin yang tadi dirasakan di kamar Mira seolah merambat hingga ke ruang keluarga, membuat suasananya mendadak mencekam.

"Indra?" bisik Ayah, matanya mengerjap bingung. "Indra siapa? Bapak tidak kenal ada teman atau kenalan yang namanya begitu."

"Sudahlah, Bapak lihat saja sendiri ke kamarnya! Cepat, Pak!" sahut Ibu dengan napas memburu, ketakutan semakin menebal di matanya.

Ayah Mira meletakkan cangkir kopinya dengan tangan yang sedikit bergetar. Bunyi denting cangkir yang beradu dengan meja kaca terdengar sangat nyaring di tengah keheningan itu. Tanpa sepatah kata pun, ia bangkit dan melangkah menuju kamar putrinya, diikuti oleh sang ibu yang mengikuti dari belakang dengan perasaan was-was.

Sesampainya di ambang pintu, langkah Ayah mendadak terhenti. Angin pagi bertiup pelan, membawa bau tanah basah sisa hujan semalam bercampur dengan aroma amis yang sangat menyengat. Aroma itu menyeruak menusuk hidung, seolah memberi firasat buruk yang membuat dada keduanya terasa sesak dan berat. Saat pintu didorong perlahan, sepasang mata mereka terbelalak lebar kaget—ternyata kamar itu kosong. Mira sudah tak ada di sana.

"Pak… di mana Mira, Pak?" suara Ibu bergetar, kepanikan mulai merayapi setiap kata yang keluar dari mulutnya.

Ayah menghela napas kasar, tangannya mengepal kuat menahan cemas yang mulai memuncak. "Ibu ini bagaimana sih? Malah balik bertanya sama Bapak? Mana Bapak tahu ke mana dia pergi!" sahutnya sedikit meninggi, "Bukankah tadi Ibu sendiri yang bilang Mira ada di dalam kamar?"

"I-iya… Ibu tadi meninggalkannya di sini, dia sedang duduk di depan meja rias," jawab Ibu terbata-bata, matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis.

"Terus sekarang di mana dia?!" nada suara Ayah berubah tegas, namun di balik ketegasannya itu tersembunyi kekhawatiran yang mendalam.

"Sudah, jangan saling tuduh begini! Mari kita cari, periksa setiap sudut rumah ini sekarang juga!" perintah Ayah, mencoba mengambil kendali situasi meski tangannya masih terasa dingin dan gemetar.

Mereka berdua pun bergerak cepat, memeriksa setiap ruangan dan menyisir seluruh sudut rumah. Kamar mandi, ruang tamu, dapur, hingga kolong meja pun diperiksa, namun hasilnya tetap nihil. Mira lenyap tanpa jejak, seolah-olah ia menguap begitu saja bersama bau amis yang masih tertinggal samar di udara kamarnya.

BERSAMBUNG

1
HERMAWAN 505
jadi kebahagian indra itu di singkat, jatuhnya indra bahagia cuma 3 bulan bersama Mira, kalau sakitnya karena ilmu pelet yang di pakai, kini berbalik menggerogoti tubuhnya sendiri. begitu kaka.👍
makasih atas koreksinya, ini sangat membantu buat kedepannya.🙏
Mega Arum
semoga karya kedepanya lbh bagus lg y Thor...
HERMAWAN 505: gimana pendapatmu tentang novel pertama saya? dan bagai mana perasaan kamu saat membaca novel pelet laknat ini?
total 2 replies
Mega Arum
msh tanda.tanya kak...knp.Indra bs tau2 sakit, blm juga ada bahagianya dg Mira.. ceritanya monoton tntg pertempuran dg dukun
Mega Arum
dr awal krg jelas..dr mana Indra tau keberadaan paranormal di tengah hutan itu, dan skt hati berlebihan sprti apa sbrnya Indra
HERMAWAN 505: makasih Mega Arum sudah mengikuti alur cerita saya sampai sejauh ini.
total 1 replies
Mega Arum
kasihaan Aguuus 😀
ÑIÇÃ
di tunggu lanjutannya💪
Wulandari Ayuningtyas
halo kak
mampir y ke novelku 😁
HERMAWAN 505: makasih sudah berkunjung ke novelku
total 1 replies
Aswad Us
kerennn👍
Raihan
di tunggu lajutan nya bang
HERMAWAN 505: makasih atas kunjungannya.
total 1 replies
Raihan
kak mampir juga la di novel ku 😄
Aswad Us
👍👍
Aswad Us
di tunggu bab berikutnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!