NovelToon NovelToon
Istri Polos Untuk Sang Mafia Dingin

Istri Polos Untuk Sang Mafia Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Xavier Volkov, adalah seorang pemuda tampan yang dikenal dingin dan sangat sulit didekati. Namun ia memiliki sisi gelap sebagai seorang mafia yang ditakuti banyak orang. Meski banyak wanita yang mendekatinya, Xavier sama sekali tidak tertarik pada cinta ataupun hubungan serius. Namun hidupnya berubah saat sang ibu memaksanya untuk segera menikah. Karena tidak ingin dijodohkan dengan wanita hasil pilihan keluarganya, Xavier akhirnya memilih menikahi seorang mahasiswi polos yang bernama Lyko. Bagi Lyko, pernikahan itu bukan tentang cinta. Ia membutuhkan uang untuk bayar hutang dan pengobatan ibunya. Dengan terpaksa gadis itu menerima tawaran Xavier dan masuk ke dalam kehidupan pria yang sama sekali berbeda dari dunianya. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Xavier tetap bersikap dingin dan cuek pada Lyko. Tetapi semakin lama tinggal bersama, Xavier mulai merasa ada sesuatu yang tumbuh dihati. Di saat perasaan itu mulai tumbuh, berbagai macam bahaya mulai datang menganggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 02 : Liontin

Mobil melaju meninggalkan kafe itu. Hanya deru mesin yang halus dan jalanan yang perlahan berubah sepi.

Di kursi belakang, Xavier menyandarkan tubuhnya, menatap lurus ke depan tanpa benar-benar melihat apa pun. Ia kemudian menghembuskan napas panjang, lalu membatin pelan pada dirinya sendiri.

‘Selalu saja harus sesuai keinginan mereka, ck,’ tangannya mengepal di atas paha.

Ia tidak mengerti mengapa mereka selalu merasa punya hak untuk mengatur urusan yang bahkan ia sendiri tidak pernah memintanya.

Mengapa harus selalu dipaksa, selalu harus sesuai keinginan mereka, yang sebenarnya mereka tidak pernah tahu

Xavier bahkan tidak tahu cara memperlakukan seorang pasangan dengan benar. Tidak tahu cara memuliakan seseorang yang katanya harus dicintai. Sejak dulu, hidupnya tidak pernah mengenal arti cinta dan kasih sayang.

Perempuan, kata itu saja terkadang seperti pemicu yang membuat dadanya mengeras, masa lalu yang terlalu gelap untuk dibicarakan serta yang membuat kata cinta terasa seperti jebakan.

Xavier menutup mata sebentar, mencoba menenangkan dadanya yang tiba-tiba terasa sesak dan kepalanya yang terasa pusing dan sakit.

Felix yang sedang sibuk menyetir, akhirnya memberanikan diri untuk berbicara, “tujuan sekarang, Tuan?”

Xavier membuka mata perlahan. Tatapannya tajam, namun sedikit lelah, “hutan,” jawabnya singkat.

Felix menoleh sedikit melalui kaca spion, “hutan tempat biasa, Tuan?”

Xavier mengangguk pelan, “aku perlu melampiaskan amarahku.”

Felix langsung mengerti dan mengangguk, “baik, Tuan.”

Mobil berbelok menuju jalur yang lebih sepi. Dimana lampu-lampu kota mulai menghilang, digantikan bayangan pepohonan tinggi dan aspal yang kini terganti menjadi tanah yang tak pernah dilewati para pengendara.

Tak lama kemudian mereka tiba.

Hutan latihan itu sunyi, yang seharusnya tidak ada siapa pun selain hewan-hewan. Tempat itu milik Xavier, tempat yang hanya dipakai untuk melatih diri dan menenangkan kepala dengan caranya.

Begitu mobil berhenti, Xavier turun tanpa menunggu pintu dibuka.

Angin kencang langsung menghantam wajahnya, mantel hitamnya berkibar, rambut putihnya berantakan tertiup angin sore, namun ia tidak peduli.

Felix tetap di dalam mobil, karena ia tahu bahwa Xavier sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun saat ini.

Xavier berjalan beberapa langkah, lalu menarik pistol dari balik jasnya. Ia mengangkat pistol tersebut, kemudian membidik pohon besar di depannya.

Dengan satu tarikan napas...

DOR! DOR! DOR!

Suara itu memecahkan sunyi dihutan. Serpihan kayu beterbangan, batang pohon itu berlubang, burung-burung langsung terbang panik dari dahan.

Xavier terus menembak, amarahnya butuh tempat untuk dilampiaskan. Matanya tajam, ia hanya melihat sekitar dengan jelas dan langsung hafal dimana saja letak pohon didekatnya.

Angin semakin kencang, membuat rambutnya semakin liar beterbangan, membuat mantelnya berkibar seperti sayap. Xavier tidak berhenti, ia terus menarik pelatuk.

DOR! DOR! DOR!

Sampai tiba-tiba...

KREK

Suara ranting terpijak. Mungkin memang kecil. Tapi telinga Xavier mendengar itu dengan jelas, walau ia sedang menembak. Dan di detik itu juga, Xavier berhenti menembak.

Mata merah bercampur birunya langsung menajam, menoleh cepat ke arah sumber suara itu.

“SIAPA DI SANA?!” teriaknya kencang.

Namun, hening tanpa suara. Lalu terdengar suara langkah cepat… seperti seseorang berlari menjauh menembus semak-semak dan dedaunan.

Xavier langsung berlari, pistol masih di tangannya, ia berlari ke arah suara itu, menembus ranting-ranting rendah dan daun kering yang berhamburan tertendang.

Namun saat ia sampai, tidak ada siapa pun. Hanya jejak kaki yang masih terlihat samar di tanah yang lembap, disampingnya terlihat sebuah benda kecil yang tergeletak di antara rumput.

Xavier membungkuk dan mengambilnya. Itu sebuah liontin berbentuk bintang. Ia menatapnya lama, rahangnya mengeras lagi.

“Berani sekali mengintip ku, dan langsung pergi begitu saja,” gumamnya pelan namun suaranya dingin.

Ia menggenggam liontin itu kuat-kuat, lalu berbalik kembali menuju mobil.

Felix masih di dalam, menunggu dengan wajah datar, namun jelas ia menangkap sesuatu yang berbeda dari langkah Xavier kali ini.

Xavier masuk ke dalam mobil dan pintunya tertutup keras, “ke markas,” kata Xavier singkat.

Felix mengangguk dan menjawab, “baik, Tuan.”

Mobil kembali melaju, meninggalkan hutan. Xavier menatap liontin bintang itu di telapak tangannya, lalu menyipitkan mata, ‘aku harus mencari tahu, siapa orang itu,’ batinnya.

****

Kini mobil memasuki kawasan markas dengan tenang. Gerbang besi terbuka otomatis, lampu sorot menyapu jalanan seperti mata yang mengawasi setiap sudut.

Begitu berhenti, Xavier turun tanpa menunggu siapa pun.

Langkahnya cepat, tegas, naik melewati tangga menuju lantai atas. Mantel hitamnya berkibar, dan wajahnya tetap dingin, namun kali ini ada kemarahan disana.

Sesampainya di depan pintu ruangan itu, ia masuk karena pintu sudah dibuka oleh Felix. Begitu pintu ditutup. Hanya suara napasnya sendiri yang terdengar.

Xavier berjalan ke meja kerjanya, lalu berkata tegas kepada Felix yang masih berdiri menunggu instruksi, “panggil ketua tim penyelidik dan ketua tim komputer,” perintah Xavier singkat.

Felix mengangguk, “baik, Tuan.”

Ia langsung pergi, langkahnya cepat mencari dua orang yang dimaksud. Begitu Felix menghilang dari ruangan itu, Xavier menghembuskan napas panjang.

Ia merogoh saku dalam mantelnya, mengambil sebungkus rokok.

KLIK

Api menyala. Lalu ia menyesap rokoknya itu dalam-dalam, asap tipis keluar dari bibirnya perlahan. Namun matanya tidak lepas dari liontin bintang yang kini ia pegang.

Benda kecil itu terlihat sederhana, namun Xavier menatapnya tajam, ia merasa familiar dengan liontin itu. Mungkin terlalu familiar seolah ia pernah melihatnya dalam masa yang tak pernah ia ingat.

Kurang dari beberapa menit kemudian, pintu ruangannya terbuka.

Felix masuk lebih dulu, diikuti dua pria yang langsung menunduk hormat begitu melihat Xavier.

Xavier tidak ingin membuang waktu.

Ia mengangkat tangan, menunjukkan liontin itu di antara jemarinya, “barang ini ditemukan di hutan, tempat biasanya aku latihan sore tadi,” ucapnya datar, namun ada tekanan yang membuat ruangan terasa lebih dingin.

Kedua ketua tim itu langsung menatap liontin dengan serius dan detail.

Xavier melanjutkan, “aku yakin ada orang yang mengintip, lalu ia kabur sebelum aku berhasil menangkapnya.”

Ia meletakkan liontin itu di atas meja, suaranya kecil namun seperti palu yang memecah ketegangan.

TING!

“Aku ingin kalian mencari siapa pemiliknya,” perintah Xavier. “Aku ingin tahu siapa dia dan apa alasannya ada di sana.”

Ketua tim penyelidik menelan ludah, “baik, Tuan. Kami akan telusuri area sekitar hutan dan jalur keluar jalan raya.”

Ketua tim komputer menambahkan cepat, “Kami juga bisa lacak CCTV sekitar, data kendaraan yang lewat, dan mencari kecocokan identitas dari barang itu.”

Xavier mengangguk pelan.

“Dan satu hal lagi...” katanya sebelum mereka pergi. “Aku mau orang itu dibawa ke hadapanku… dalam waktu satu minggu.”

Ruangan itu langsung terasa lebih dingin dan mencekam, keduanya menunduk lebih dalam, “dimengerti, Tuan.”

“Pergi sekarang.”

Mereka langsung berbalik dan keluar dengan langkah cepat, seolah takut untuk berlama-lama didalam ruangan itu. Felix masih berdiri tegak disana, seperti menunggu instruksi berikutnya.

Xavier menatap Felix sekilas, kemudian berkata, “kumpulkan semua data sekecil apa pun dari hutan tadi yang sudah didapatkan oleh tim penyelidik, dan langsung serahkan padaku.”

Felix mengangguk, “baik, arahan dimengerti Tuan,” lalu ia pergi, meninggalkan Xavier sendirian di ruangannya.

Ruangan kembali terasa sunyi, hanya lampu meja yang menyala redup, memantulkan kilauan cahaya kecil pada liontin bintang itu. Xavier duduk perlahan, menatap liontin itu sekali lagi. Semakin lama ia memandang, semakin kuat rasa itu menekan kepalanya.

Kali ini rasa yang sangat-sangat familiar, namun sama sekali ingatan apapun tidak muncul dikepalanya. Namun saat tiba-tiba serpihan ingatan mulai terlintas...

TENG!

Namun kepalanya terasa seperti ditusuk. Xavier mengerang pelan, tangannya refleks menekan pelipis. Napasnya mendadak berat.

Dadanya langsung sesak. Keringat dingin mulai muncul di pelipis dan badannya.

Ia mematikan rokoknya dengan kasar, menekannya hingga padam.

“Sial…” umpatnya.

Xavier lalu berdiri, berjalan ke arah balkon, membuka pintu kaca, dan menatap kearah luar yang mulai terlihat senja. Angin itu menyapu wajahnya.

Pemandangan kota terlihat jauh di bawah sana, pemandangan langit yang berwarna jingga itu membuat hatinya sedikit tersentuh.

Namun bukan kota yang ia lihat, melainkan bayangan masa lalu yang kembali menyeretnya turun.

Cinta, kata itu seperti racun. Racun yang pernah ia percaya, dan berharap itu bisa membuatnya bahagia.

Namun pada akhirnya… ia dihancurkan. Sakitnya bukan sekadar luka, itu seperti pengkhianatan yang ditanam di dalam tulang.

Xavier menggertakkan giginya, tubuhnya melemas. Ia mundur beberapa langkah, lalu berjalan menuju kamar istirahat yang ada di sudut ruangan.

Begitu masuk, ia menutup pintu dengan keras. Xavier duduk di tepi kasur, tangannya gemetar halus. Ia membuka laci kecil di samping ranjang, lalu mengambil botol obat yang ada disana.

Pil-pil putih itu dituang ke telapak tangannya, lalu ia langsung menelan beberapa butir sekaligus tanpa air, seperti sudah sangat terbiasa melakukan itu.

Lalu berbaring, memandang langit-langit kamar. Ia mencoba mengosongkan kepala. Namun percuma, wajah itu muncul lagi. Samar… tapi mampu membuat dadanya sesak dan kepalanya sakit. Orang itu adalah orang yang pernah ia percaya.

Seseorang yang pernah ia pikir akan menyelamatkannya, namun justru sebaliknya, orang itu malah menjadi alasan kenapa hatinya membeku sampai detik ini.

Xavier menutup mata kuat-kuat, napasnya berat, dadanya masih terasa sesak. Bayangan itu tetap tidak mau berhenti, ia tetap di sana, menghantuinya.

1
Raicy Starmoonix
bnr lgi/Facepalm/
It's me Sky: efek trlalu kaya bgtu tuh/Proud/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
bohongnya nyambung lagi/Facepalm/
It's me Sky: bkn skrip dlu mrka/Slight/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
gmna g terpesona Lykonya aja cantik gituu/Sly//Rose/
It's me Sky: //Chuckle//Chuckle/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
tegang tor, aura mafianya ada bgt/Shame/
It's me Sky: bulu kudup aman?/Blush/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
bagusss bgt ceritanyaa/Kiss//Kiss/
Raicy Starmoonix
si mc ganteng bgt tor/Drool/
It's me Sky: kiww🤭
total 1 replies
Raicy Starmoonix
Xavier tanggung jwb anak orng salting/Facepalm/
It's me Sky: xavier aja salting sendiri/Proud/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
salting.... saltingg/Smirk/
It's me Sky: gengsi... gengsi/CoolGuy/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
omak, terbakar cemburu dan posesif/Doubt/
It's me Sky: shhtt/Shhh/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
astaga diksih black card.../Doubt/
It's me Sky: iya dong/Casual/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
lyko nya polos bgt pilss/Proud/
It's me Sky: hu um, soalnya dya bukan batik/Tongue/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
pingin punya cowok spek Xavier ihh, royal bgt😍/Rose/
It's me Sky: heii aku jg mau lohh/Proud/
total 1 replies
Raicy Starmoonix
wahh alurnya keren/Joyful/
Arditya
luar biasa mantap thor
It's me Sky: makasihh/Hey/
total 1 replies
Arditya
Mampir baca thor😍
It's me Sky: yuk¹ mampir/Proud/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!