NovelToon NovelToon
Tolong Sayangi Aku

Tolong Sayangi Aku

Status: tamat
Genre:Dunia Masa Depan / Balas Dendam / Ketos / Tamat
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: canny***

"Duniaku gelap, tapi aku tidak butuh lampu. Aku hanya butuh seseorang yang tidak memalingkan wajah saat aku memanggil 'Papa'."
Di kediaman Tenggara yang megah, Aurora Alandriana adalah sebuah anomali. Di tengah kesuksesan sang Ayah dan dominasi keempat kakak laki-lakinya—Eros, Gavin, Juna, dan Arvin—Aurora hidup seperti hantu. Baginya, rumah itu bukan tempat berteduh, melainkan sebuah pengadilan yang menghukumnya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan: lahir ke dunia.
Tiap sudut rumah adalah pengingat akan kebencian. Meja makan adalah tempat penghinaan, dan lorong sekolah adalah tempat ia harus berpura-pura tidak mengenal darahnya sendiri. Terutama Arvin, kakak keempatnya yang paling dekat jarak usianya, yang memilih untuk menjadi perundung paling kejam di sekolah hanya untuk membuktikan bahwa Aurora tidak punya tempat di hidupnya.
Namun, saat sebuah rahasia besar di balik kematian sang Ibu mulai terkuak, dan saat tubuh Aurora yang rapuh mulai mencapai batas kemampuannya untuk ber

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Suara mesin detak jantung yang ritmis di ruang perawatan mendadak kalah oleh suara langkah kaki yang angkuh di koridor rumah sakit. Pintu kamar rawat Aurora terbuka dengan kasar. Bukan perawat yang datang, melainkan sosok Bramantyo Tenggara. Pria itu berdiri di ambang pintu dengan setelan jas mahal yang masih rapi, namun wajahnya menyiratkan kemarahan yang tertahan.

Di belakangnya, Eros dan Gavin mengekor dengan ekspresi yang sama dinginnya. Arvin, yang masih duduk di samping tempat tidur Aurora sambil menggenggam tangan adiknya yang dingin, segera berdiri.

"Pa..."

"Lepaskan tangannya, Arvin," perintah Bramantyo telak. Matanya bahkan tidak melirik ke arah Aurora yang masih terpasang masker oksigen. "Berhenti bersikap seolah-olah kamu sedang menjaga pahlawan. Dia hanya seorang gadis yang sedang menghancurkan jadwal kerja Papa dengan sandiwara murahan ini."

"Sandiwara? Pa, Dokter bilang jantung Aurora—"

"Dokter hanya bicara berdasarkan apa yang dia lihat saat itu! Stres, kelelahan, itu hal biasa untuk anak manja yang tidak mau berusaha," potong Bramantyo. Ia berjalan ke depan brankar, menatap Aurora yang kini membuka matanya perlahan.

Tatapan mata Aurora yang sayu dan penuh luka justru membuat Bramantyo semakin muak.

"Bangun. Kita pulang sekarang."

"Tapi Dokternya bilang—"

"Papa sudah mengurus administrasinya. Papa sudah menyewa dokter pribadi untuk memantaumu di rumah. Di sini terlalu banyak orang, terlalu banyak wartawan yang bisa mencium bau busuk dari 'insiden' lapanganmu itu. Papa tidak mau reputasi Tenggara hancur hanya karena anak yang lahirnya saja sudah bermasalah," ucap Bramantyo dingin.

Aurora mencoba melepas masker oksigennya dengan tangan gemetar. Suaranya terdengar sangat parau, nyaris seperti bisikan angin. "A-aku... mau pulang, Pa..."

Bagi Aurora, rumah sakit atau rumah mewah mereka tidak ada bedanya. Keduanya adalah penjara. Namun, jika ia mati di rumah, setidaknya ia bisa mati di dekat satu-satunya orang yang menyayanginya: Nenek Lastri.

Kepulangan Aurora disambut dengan keheningan yang mencekam di kediaman Tenggara. Ia tidak dibawa ke kamarnya yang layak, melainkan kembali ke kamar sempit di dekat area servis. Bramantyo melarang ada perawat khusus yang menginap, ia hanya menyuruh Bi Inah untuk memberikan obat yang diresepkan dokter setiap pagi dan sore.

Malam itu, saat seluruh rumah sudah sunyi, Nenek Lastri masuk ke kamar Aurora dengan membawa segelas air hangat. Beliau menemukan Aurora sedang duduk bersandar di tumpukan bantal, wajahnya pucat pasi di bawah temaram lampu meja.

"Cah ayu... makan sedikit ya? Nenek buatkan bubur halus," ucap Nenek lembut.

Aurora hanya menggeleng lemah. Ia meraih tangan keriput neneknya dan mengecupnya. "Nek, kalau Aurora tidur dan nggak bangun lagi, Nenek jangan sedih ya?"

"Hus! Jangan bicara begitu, Ra!" Nenek Lastri terisak. Beliau kemudian mulai merapikan barang-barang di atas meja kecil Aurora. Saat itulah, tangan Nenek menyentuh sebuah botol obat kecil yang tersembunyi di balik tumpukan buku catatan.

Nenek mengerutkan dahi. Label obat itu bukan dari rumah sakit tadi siang. Labelnya sudah agak usang dan namanya sangat asing. "Ini obat apa, Ra? Ini bukan yang dari dokter tadi, kan?"

Aurora tersentak, mencoba meraih botol itu namun terlambat. Nenek Lastri sudah membacanya dengan bantuan kacamata. Wajah Nenek seketika berubah pucat. "Ini... ini obat penguat jantung dosis tinggi. Ra,

kamu sudah minum ini sejak kapan?"

Aurora menunduk, air matanya jatuh. "Sejak SMP, Nek. Aurora sering sesak napas kalau habis dibentak Papa atau Kakak. Aurora beli sendiri di apotek kecil pakai uang jajan yang Nenek kasih. Aurora nggak mau mereka tahu... Aurora nggak mau dibilang lemah lagi."

Nenek Lastri terduduk di lantai, memeluk kaki cucunya sambil menangis tersedu-sedu. Hati beliau hancur menyadari bahwa selama bertahun-tahun, cucu kecilnya ini berjuang sendirian melawan maut hanya agar tidak dianggap sebagai beban.

Sementara itu, di lantai dua, Arvin sedang duduk di balkon kamarnya, menatap ke arah taman belakang. Ia tidak bisa menghilangkan bayangan darah yang keluar dari hidung Aurora hari ini. Pikirannya kacau. Tiba-tiba, ia melihat Juna berjalan keluar dari perpustakaan pribadi Papa dengan membawa sebuah map tua.

"Lo lagi apa?" tanya Arvin ketus saat berpapasan dengan Juna di tangga.

Juna berhenti, menatap Arvin dengan tatapan datarnya.

"Mencari data medis Mama. Dokter tadi bilang penyakit Aurora kemungkinan genetik. Aku ingin tahu apakah Papa menyembunyikan sesuatu."

"Dan?"

Arvin mendekat, rasa penasaran mulai mengalahkan egonya.

Juna membuka map itu, menunjukkan sebuah dokumen bertanggal 17 tahun yang lalu.

"Mama punya riwayat kelainan katup jantung. Dokter saat itu menyarankan Mama untuk tidak hamil. Tapi Mama bersikeras. Jadi, kematian Mama... itu memang pilihan Mama sendiri untuk mempertahankan Aurora. Papa tahu ini, tapi dia memilih untuk menyalahkan Aurora karena dia tidak sanggup menyalahkan dirinya sendiri yang gagal mencegah Mama."

Arvin terdiam membeku. Dunianya seolah jungkir balik. Jadi selama ini, kebencian yang mereka pupuk adalah sebuah kebohongan besar?

"Tapi jangan salah paham, Vin," sela Juna dingin, menutup map itu. "Mengetahui fakta ini tidak mengubah fakta bahwa Mama tetap tidak ada sekarang. Aurora tetaplah penyebab fisiknya. Aku hanya memberitahumu agar kamu tidak terlalu emosional seperti tadi siang. Kita tetap harus menjaga martabat Papa."

Juna pergi begitu saja, meninggalkan Arvin dalam badai penyesalan yang mulai tumbuh. Arvin menatap ke arah kamar Aurora di lantai bawah. Ia ingin turun, ingin meminta maaf, ingin memeluk adiknya. Namun, bayangan wajah ayahnya yang murka dan ego yang telah mengakar selama belasan tahun kembali menahannya.

"Lo harus bertahan, Ra... setidaknya sampai gue tahu cara buat sayang sama lo," gumam Arvin parau, tanpa menyadari bahwa waktu yang dimiliki Aurora tidak sebanyak yang ia kira.

Di dalam kamar bawah, Aurora kembali terbatuk. Kali ini, kain sprei putihnya ternoda bercak merah yang lebih banyak. Ia melipat sprei itu agar tidak terlihat oleh Nenek, lalu memejamkan mata, membiarkan kegelapan membawanya pergi sejenak dari dunia yang begitu kejam.

1
Emily
bapaknya biang keroknya udah tua Bangka kelakuan macam iblis
Emily
salah lu sendiri nyet
Emily
pesong
Emily
keluarga goblok gak waras pikirannya sinting penampilan aja mentereng
Emily
wah keluarga odgj kah
Emily
apa itu keluarga psikopat dgn anak dan saudara kandung berperilaku kejam
ArchaBeryl
Terimakasih kak untuk ceritanya
Banyak pelajaran yg bisa kita ambil dari cerita kk
sungguh sangat sedih dan menguras air mata🥹🥹🥹
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭🥹🥹🥹🥹
Neneng Lesmana
sedih
ArchaBeryl
😭😭😭😭😭😭😭
ArchaBeryl
Alur ceritanya bagus kak
tapi gak kuat bacanya
soalnya sedih banget 😭😭🥹🥹
ArchaBeryl: Pastinya kak💪💪💪
total 1 replies
ArchaBeryl
sedih pakek banget😭😭😭😭
syina chan
hi
ArchaBeryl
sedih kak🥹🥹🥹🥹🥹
ArchaBeryl
lanjut kak tetap semangat 💪💪💪
ArchaBeryl
lanjut kak penasaran
ArchaBeryl
mana lanjutnya kak
merry
hbs in hdp dgn baik Rora nikmati kekayaan kluarga mu 😄😄😄 ,,, ksh kesempatan buat abng mu Bpk mu yg bodoh Percy takhayul itu wlpun gk mudah ya 🙏🙏🙏
merry
aihh sedih yaa /Sob//Sob//Sob//Sob/kluarga kaya raya tp Rora hrs gmbr di akun rahasia y supaya dpt uang,, emng kluarga latnah ra kluarga mu
merry
harusnya ada 1 palwan setelah in bw Rora pergi dr mrkk krn percm dekt dgn abng y nyata y abng y monster bagi Rora ap Bpk y
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!