Di saat fisiknya yang sawo matang selalu dihina oleh geng Ivanka, Alisha membuktikan bahwa kecerdasan dan rasa percaya diri jauh lebih memikat daripada standar kecantikan dunia. Namun, ketangguhannya diuji oleh Reyshaka, rival abadi berotak encer yang hobinya berdebat, tapi diam-diam selalu pasang badan paling depan saat Alisha direndahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumus Fisika dan Detak yang Keliru
Ruang laboratorium fisika SMA Pelita Bangsa siang itu terasa lengang. Hanya ada suara putaran kipas angin tua di langit-langit dan derit halus pulpen yang beradu dengan kertas. Di meja panjang pojok ruangan, Alisha dan Reyshaka duduk berhadapan, dipisahkan oleh tumpukan buku tebal bertuliskan Mekanika Kuantum dan Termodinamika.
Sudah dua jam mereka berkutat dengan soal-soal simulasi olimpiade tingkat provinsi. Dan selama dua jam itu pula, atmosfer di antara mereka terasa seperti medan magnet bertegangan tinggi.
"Jawaban lo di nomor lima salah," celetuk Shaka memecah keheningan. Suaranya datar, tanpa mendongak dari kertasnya sendiri.
Alisha yang sedang memijat pelipisnya langsung menoleh tajam. "Salah dari mana? Gue udah pakai rumus hukum kekekalan energi, hasilnya pas sepuluh Joule."
Shaka akhirnya meletakkan pulpennya. Ia menyandarkan punggung ke sandaran kursi, melipat tangan di dada sambil menatap Alisha dengan senyum miring yang super menyebalkan.
"Lo kurang teliti, Alisha. Lo lupa masukin koefisien gesek lintasannya. Di soal dengan jelas tertulis lintasannya kasar, bukan licin. Otak encer lo mendadak nge-blank gara-gara semalem kebanyakan begadang, ya?" sindir Shaka telak.
Alisha menyambar kertas coret-coretannya, memeriksa kembali soal nomor lima. Sial. Shaka benar. Ia melewatkan satu kalimat kecil di baris ketiga. Alisha menggigit bibir bawahnya yang penuh, merasa kesal pada dirinya sendiri—dan lebih kesal lagi karena Shaka yang menemukan kesalahan itu.
"Cuma kurang satu variabel, gak usah sombong," gerutu Alisha sambil sibuk menghapus jawabannya dengan kasar.
"Di olimpiade nanti, kurang satu variabel itu artinya lo pulang bawa tangan kosong," balas Shaka. Cowok itu tiba-tiba mencondongkan badannya ke depan, memangkas jarak di antara mereka.
Alisha refleks menahan napas. Dari jarak sedekat ini, ia bisa mencium aroma samar sabun maskulin yang segar dari tubuh Shaka. Sepasang mata tajam Shaka menatap langsung ke manik mata Alisha, mengunci pergerakan gadis itu.
"Gue gak mau kalah cuma gara-gara partner gue ceroboh. Target gue itu juara satu, bukan sekadar partisipasi," ucap Shaka rendah, suaranya terdengar sangat serius.
Alisha mendengus, mencoba menyembunyikan detak jantungnya yang mendadak berdegup agak tidak beraturan. Ia menantang balik tatapan Shaka dengan berani. "Lo pikir gue bakal biarin lo menang sendiri? Taruhan sama gue, nilai individu gue di babak teori bakal lebih tinggi dari lo."
Shaka menaikkan satu alisnya, tampak tertarik dengan tantangan Alisha. "Oke. Siapa yang kalah, harus nurutin satu permintaan pemenang. Gimana?"
"Deal!" sahut Alisha cepat.
Shaka kembali menarik badannya, mengambil pulpennya lagi dengan senyum tipis yang hampir tak terlihat. Namun, mata tajamnya sempat melirik ke arah jemari Alisha yang kini kembali lincah menuliskan rumus. Di matanya, Alisha yang sedang serius dan penuh ambisi seperti ini terlihat... berkali-kali lipat lebih menarik daripada gadis-gadis lain di sekolah yang hanya peduli soal penampilan.
"Eh, Sha," panggil Shaka lagi, kali ini nadanya sedikit berubah, tidak seformal tadi.
"Apa?" sahut Alisha tanpa menoleh dari bukunya.
"Adik lo... si Aleta. Tadi pas istirahat dia nyariin gue di depan kelas."
Gerakan tangan Alisha spontan terhenti. Ia mendongak, menatap Shaka dengan kening berkerut. "Aleta nyariin lo? Mau ngapain?"
Shaka mengangkat bahu acuh tak acuh. "Ngasih kotak susu stroberi sama gantungan kunci. Katanya makasih buat yang kejadian kemarin pagi di koridor."
Jantung Alisha terasa mencos sesaat. Pikiran tentang obrolan di rumah semalam—tentang bagaimana Aleta memuja Shaka dan bagaimana Ibu mencemaskan penampilan fisiknya—kembali berputar di kepalanya. Alisha meremas pulpennya sedikit lebih erat.
"Terus? Lo terima?" tanya Alisha, mencoba terdengar se-cuek mungkin.
Shaka menatap Alisha lekat-lekat, membaca perubahan ekspresi di wajah gadis sawo matang itu yang mencoba bersikap tegap. Shaka mendengus pelan, lalu melempar sebuah kotak susu stroberi yang masih utuh ke atas meja Alisha.
"Gue gak suka susu manis. Nih, buat lo aja. Bilangin ke adik lo, gak usah repot-repot. Gue kemarin nolongin lo bukan karena mau jadi pahlawan, tapi karena lo partner olimpiade gue. Kalau lo sampai babak belur dihajar Ivanka, draf fisika gue gak bakal selesai," ucap Shaka ketus, kembali ke mode tsundere-nya.
Alisha menatap kotak susu di depannya, lalu beralih menatap Shaka yang sudah kembali fokus membaca buku. Di balik kata-kata ketusnya, Alisha tahu Shaka sedang menjaga jarak dari Aleta demi dirinya—atau mungkin itu hanya perasaan kegeeran Alisha saja?
Apapun itu, senyum tipis akhirnya terbit di bibir Alisha. Ia membuka sedotan susu itu, lalu meminumnya. "Makasih susunya, Rival."
Shaka tidak menjawab, tapi ujung telinganya mendadak memerah samar, sibuk menyembunyikan fakta bahwa dadanya berdesir hangat hanya karena melihat senyuman di wajah manis Alisha.