Menikahi pria paling berkuasa di kota ini adalah mimpi buruk bagi semua orang, tapi bagi Nara, ini adalah tambang emas untuk novelnya."
Nara adalah seorang penulis berbakat yang sedang terjebak dalam krisis kreatif. Demi mendapatkan riset nyata untuk novel terbarunya, ia nekat masuk ke dalam kehidupan Aris, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis yang dikenal dingin dan tak tersentuh.
Sebuah tawaran pernikahan kontrak selama satu tahun menjadi pintu masuk yang sempurna bagi Nara. Di mata dunia, Nara adalah istri yang patuh dan penuh cinta. Namun di balik pintu kamar, Nara diam-diam mencatat setiap detail perilaku Aris—mulai dari cara pria itu menatapnya dengan tajam hingga sisi rapuh yang tak pernah diperlihatkan kepada siapa pun—lalu menerbitkannya sebagai bab baru di aplikasi novel yang viral.
Keadaan menjadi rumit ketika novel fiksi Nara meledak di pasaran dan para pembaca mulai menyadari kemiripan karakter utamanya dengan sang CEO legendaris. Di sisi lain, Aris mulai merasa ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benang yang Tak Lagi Kusut
Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden hotel terasa berbeda hari ini. Bukan lagi cahaya yang menuntutku untuk bangun dan menghadapi sandiwara baru, melainkan cahaya yang tenang—seperti tanda titik di akhir sebuah kalimat yang panjang dan melelahkan. Aku mengerjapkan mata, menatap langit-langit kamar yang asing, lalu menoleh ke samping. Di kursi sofa, Bimo masih tertidur dengan posisi yang pasti bakal bikin lehernya kaku saat bangun nanti. Dia masih memakai kemeja yang sama, hanya saja sekarang lengan kemejanya digulung sampai siku.
Aku bangkit perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara. Map di atas nakas masih di sana. Kertas-kertas yang kemarin terasa seperti bom waktu, kini hanyalah tumpukan dokumen yang sedang menunggu proses hukum. Aku berjalan ke jendela, menatap jalanan kota yang mulai sibuk. Di bawah sana, dunia tetap bergerak, tidak peduli pada kerajaan Wijaya yang baru saja diguncang gempa besar.
"Nara? Kamu sudah bangun?" suara serak Bimo memecah keheningan.
Aku berbalik dan melihatnya sedang memijat tengkuknya. Dia tersenyum tipis, jenis senyum lelah tapi lega. "Kenapa nggak bangunin aku? Kamu harusnya istirahat lebih lama."
"Aku sudah cukup tidur, Bim. Justru kamu yang kayaknya kurang tidur berbulan-bulan," balasku sambil berjalan mendekatinya. "Gimana kabarnya? Panji sudah ada kabar?"
Bimo mengambil ponselnya, memeriksa pesan yang masuk. "Panji sudah di kantor polisi pusat. Kakek resmi ditahan, dan Ibu... dia sedang dalam perawatan di bawah pengawasan ketat pihak berwajib. Tim pengacara sudah aku instruksikan untuk tidak menghalangi proses apa pun. Semua bukti yang kamu bawa sudah masuk ke sistem."
Aku mengangguk. Ada rasa puas yang aneh, tapi juga ada rasa hampa. "Lalu... Ayah?"
Bimo berdiri, berjalan mendekat dan memegang kedua bahuku. Matanya menatapku dengan intensitas yang lebih lembut dari biasanya. "Ayahmu sedang dalam perjalanan ke rumah aman di pinggiran Bogor. Dia ingin bertemu kamu hari ini. Kamu siap?"
Jantungku berdegup kencang. Siap? Aku sudah menunggu momen ini selama dua puluh tahun, tapi sekarang setelah momen itu ada di depan mata, aku merasa takut. Takut kalau ternyata kami tidak punya apa-apa lagi untuk dibicarakan selain tragedi.
"Aku siap," kataku mantap. "Tapi sebelum itu, aku mau kita mampir ke satu tempat."
Tempat itu adalah sebuah makam kecil yang tenang. Bukan makam keluarga Wijaya yang mewah, melainkan makam sederhana tanpa nama yang selama ini aku yakini sebagai tempat peristirahatan Ayahku. Aku menaruh seikat bunga lili putih di sana.
"Dulu, aku sering ke sini kalau lagi mentok nulis atau kalau lagi sedih banget karena merasa sendirian," ceritaku pada Bimo yang berdiri di sampingku. "Ternyata, selama ini aku bicara pada tanah kosong."
Bimo menatap nisan itu. "Mungkin bukan tanah kosong, Nara. Mungkin doa-doamu selama ini tetap sampai ke Ayahmu, dimanapun dia bersembunyi. Itu yang membuatnya tetap bertahan hidup."
Aku tersenyum kecil. "Mungkin juga. Tapi mulai sekarang, aku nggak perlu ke sini lagi buat bicara sama dia."
Kami kembali ke mobil. Perjalanan menuju Bogor memakan waktu sekitar dua jam. Di sepanjang jalan, kami lebih banyak diam, tapi bukan diam yang canggung. Kami saling menggenggam tangan—sesuatu yang sederhana, tapi terasa begitu nyata dibandingkan kontrak ratusan halaman yang pernah kami tanda tangani.
Sesampainya di sebuah rumah kayu yang asri di kaki gunung, aku melihat seorang pria berdiri di teras. Dia memakai kemeja flanel sederhana. Rambutnya putih, dan meski tubuhnya tidak lagi tegap, tatapannya masih penuh dengan kehidupan.
"Nara..."
Aku berlari ke arahnya. Pelukan kali ini terasa berbeda dengan pelukan di dermaga yang penuh asap. Kali ini, aku bisa mencium aroma sabun dan teh, aroma yang seharusnya aku rasakan sejak kecil. Aku menangis, tapi kali ini tangisku adalah tangis bahagia yang tuntas.
"Maafkan Ayah, Nak. Maafkan Ayah karena sudah membiarkanmu tumbuh sendiri," bisiknya di telingaku.
"Ayah nggak perlu minta maaf. Ayah sudah bertahan, itu sudah cukup buat aku," balasku sambil melepaskan pelukan dan menatap wajahnya.
Kami menghabiskan siang itu dengan bercerita. Ayah bercerita tentang bagaimana Ayah Bimo diam-diam mengiriminya buku-buku dan kabar tentangku (meski sangat terbatas) selama dia dalam persembunyian. Ternyata, selama ini ada jaring-jaring kebaikan yang bekerja di balik layar kegelapan keluarga Wijaya.
Bimo duduk agak jauh dari kami, memberikan kami ruang privasi. Dia tampak sibuk dengan laptopnya, mungkin sedang mengurus pengunduran dirinya atau pembentukan yayasan yang dia janjikan.
"Dia pria yang baik, Nara," kata Ayah sambil melirik ke arah Bimo. "Dia sangat mirip dengan ayahnya, tapi dia punya keberanian yang jauh lebih besar. Ayahnya dulu tidak berani melawan Kakek secara frontal. Bimo... dia menghancurkan segalanya demi kamu."
Aku menatap Bimo dari kejauhan. "Aku tahu, Yah. Tapi aku masih takut. Darah Wijaya itu... aku takut sejarah akan terulang."
"Sejarah hanya akan terulang kalau pelakunya menutup mata," sahut Ayah bijak. "Bimo sudah membuka matanya lebar-lebar. Dia memilih untuk keluar dari lingkaran itu."
Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat, Bimo mengajakku berjalan-jalan di sekitar kebun teh belakang rumah aman itu. Udara dingin pegunungan membuatku merapatkan jaket yang dipinjamkan Bimo.
"Jadi, surat pengunduran dirinya sudah dikirim?" tanyaku memulai pembicaraan.
Bimo tertawa pelan. "Sudah. Dan kamu tahu apa reaksi dewan direksi? Mereka panik. Mereka pikir perusahaan bakal hancur tanpa 'besi dingin' sepertiku. Tapi aku sudah menunjuk Panji sebagai pelaksana tugas sementara sampai struktur baru terbentuk."
"Panji jadi CEO?" aku terbelalak. "Wah, dia bakal makin sibuk dan makin nggak punya waktu buat cari pacar."
"Itu hukumannya karena sudah terlalu sering membantu rencanaku yang gila," canda Bimo. Dia kemudian berhenti melangkah dan berbalik menghadapku. "Nara, soal yayasan itu... aku serius. Aku ingin kamu yang mengelolanya. Bukan sebagai bagian dari kontrak, tapi sebagai bagian dari hidupmu."
Aku menatap hamparan hijau kebun teh di depan kami. "Aku akan melakukannya, Bim. Tapi aku tetap ingin jadi penulis. Aku punya cerita baru yang harus diselesaikan."
"Tentang apa?"
"Tentang seorang gadis yang belajar bahwa cinta sejati bukan tentang tanda tangan di atas materai, tapi tentang keberanian untuk jujur meski kejujuran itu menyakitkan."
Bimo menarikku ke dalam pelukannya. "Judul yang bagus. Boleh aku jadi pembaca pertamanya?"
"Hmm, kita lihat saja nanti. Bergantung pada seberapa rajin kamu bantuin aku riset," balasku sambil tertawa.
Tiba-tiba, Bimo melepaskan pelukannya dan merogoh saku celananya. Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna beludru biru tua. Jantungku serasa melompat ke tenggorokan.
"Bim, jangan bilang kalau ini..."
Dia membuka kotak itu. Sebuah cincin emas putih dengan berlian kecil yang sangat elegan berkilau di dalamnya. "Ini bukan bagian dari kesepakatan keluarga. Ini bukan untuk menenangkan Kakek. Ini juga bukan properti untuk konferensi pers."
Bimo berlutut dengan satu kaki di atas tanah merah kebun teh itu. "Nara, maukah kamu menulis sisa bab hidupmu bersamaku? Tanpa kontrak, tanpa skandal, hanya ada kita."
Aku menatap cincin itu, lalu menatap pria yang sudah melewati neraka bersamaku dalam waktu yang sangat singkat. Aku teringat semua ketakutanku, semua keraguanku. Tapi di saat yang sama, aku melihat masa depan yang cerah, seperti fajar yang kulihat di dermaga, namun kali ini tanpa rasa takut.
"Iya, Bimo. Aku mau," jawabku pelan namun pasti.
Bimo memasangkan cincin itu di jariku. Dia berdiri dan mencium keningku lama sekali. Rasanya seperti sebuah janji suci yang lebih kuat dari hukum apa pun di dunia ini.
Namun, di tengah momen romantis itu, ponsel Bimo berbunyi nyaring. Dia mendesah kesal, tapi saat melihat layarnya, wajahnya kembali serius.
"Dari Panji?" tanyaku.
"Bukan. Dari kepolisian," jawab Bimo. "Kakek... dia menolak bicara pada siapapun. Dia bilang dia hanya mau bicara padamu, Nara. Secara pribadi."
Aku terdiam. Kakek Wijaya. Sosok yang memulai semua kekacauan ini ingin bertemu denganku? Ada rasa ngeri yang merayap di punggungku, tapi aku tahu aku tidak bisa lari selamanya. Untuk benar-benar menutup buku ini, aku harus menghadapi sang antagonis untuk terakhir kalinya.
"Aku akan menemanimu," kata Bimo tegas.
Aku menggenggam cincin di jariku, merasakan kekuatannya. "Nggak, Bim. Dia minta aku secara pribadi. Aku harus menghadapi dia sendirian. Ini adalah cara terakhirku untuk mengambil kembali kendali atas hidupku."
Bimo tampak ragu, tapi akhirnya dia mengangguk. "Aku akan menunggumu di depan pintu selnya. Satu langkah saja kamu merasa nggak nyaman, aku akan tarik kamu keluar."
Aku tersenyum, merasa bersyukur memiliki seseorang yang akhirnya benar-benar menjagaku. Kami berjalan kembali ke arah rumah aman, bersiap untuk menghadapi sisa-sisa badai yang belum sepenuhnya reda. Aku tahu, bab ini belum benar-benar berakhir sampai aku melihat mata pria tua itu dan mengatakan padanya bahwa dia tidak lagi memiliki kuasa atas diriku.
Tinta hidupku kini mengalir lebih bebas, dan untuk pertama kalinya, aku tidak sabar untuk menulis bab selanjutnya—bab di mana aku bukan lagi korban, melainkan pemenang dari ceritaku sendiri.