Andra dan Diana sudah menikah selama lima tahun. Namun selama itu pula Diana memilih untuk menunda kehamilannya. Dengan alasan jika saat ini sedang berada di puncak karir yang selama ini dia impikan.
Selain karena tekanan dari kedua orang tua Andra yang ingin segera punya cucu. Dalam hati kecilnya, Andra juga ingin segera punya anak. Hingga akhirnya dia bertemu sahabat lamanya bernama Nadhira.
Entah ada pikiran dari mana hingga tiba-tiba Andra meminta Nadhira hamil anaknya. Jelas Nadhira menolak apalagi Andra sudah menikah.
Apakah rencana Andra aka berhasil untuk mendapatkan anak dari keturunannya sendiri. Apakah Nadhira akhirnya akan setuju? Lalu bagaimana dengan Diana dan keluarga Andra?
Konflik apa lagi yang akan terjadi setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahim Untuk Sahabat 19
"Silahkan ikuti saya Bu Nadhira!" pinta suster.
Nadhira masih terpaku di tempatnya. Rasanya dia ragu untuk masuk ke dalam ruang pemeriksaan apalagi di saksikan oleh Bu Viona dan Ardan langsung.
"Ada Apa? Jangan bilang sekarang kamu berubah fikiran!" Ketus Bu Viona.
"Dhira ..." panggil Andra lemah.
Tatapannya campuran antara kasihan dan juga keinginan menggebu untuk segera punya anak. Lima tahun dia juga sudah bersabar kepada Diana. Dan kini baru ada jalan, walau resikonya mengorbankan hati Nadhira.
Tanpa melihat ke arah mereka berdua, Nadhira melangkah ke dalam ruang pemeriksaan diikuti keduanya. Ada rasa canggung dan gugup yang menyerang Nadhira. Bahkan Nadhira memalingkan wajahnya ke arah tembok membuat hati Andra menceos.
Suasana di dalam ruang pemeriksaan mendadak berubah menjadi sepi yang mencekam. Hanya terdengar dengung halus dari mesin ultrasonografi (USG) dan detak pendingin ruangan.
Nadhira berbaring di atas ranjang ginekologi dengan kedua tangan mencengkeram sisi seprai begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia memejamkan mata erat-erat, membiarkan air mata penghinaan mengalir tanpa suara di pelipisnya. Pemeriksaan fisik dan dalam yang baru saja dilewatinya terasa seperti robekan besar pada harga diri yang selama ini dia jaga mati-matian.
Dokter Haryo perlahan melepas sarung tangan karetnya, ekspresi wajahnya yang semula datar dan profesional kini berubah menjadi kombinasi antara terkejut dan tidak percaya. Beliau menatap layar monitor, lalu beralih menatap berkas dokumen Nadhira, dan akhirnya menatap Viona serta Andra yang menunggu hasil di sana juga.
Andra terlihat tak tega melihat Nadhira seperti itu. Sungguh jika Diana bersedia hamil, dia tak akan memaksa dan juga memanfaatkan keadaan Nadhira seperti ini. Sedangkan Bu Viona yang sejak tadi melipat tangan di dada dengan tidak sabar langsung melangkah maju.
"Bagaimana, Dokter Haryo? Apa rahim wanita miskin ini cukup layak? Atau ada penyakit tersembunyi yang akan merugikan garis keturunan kami?" setelah mereka semua duduk.
Dokter Haryo berdeham, mencoba menetralkan suaranya yang sempat tercekat.
"Ibu Viona, Pak Andra! Begini, dari hasil pemeriksaan fisik luar, pemeriksaan dalam yang dilakukan dengan sangat hati-hati, serta pemindaian transva-ginal saya menemukan fakta yang cukup mengejutkan."
Andra menahan napas, jantungnya berdegup kencang karena khawatir ada masalah dengan kesehatan Nadhira.
"Apa ada masalah medis, Dok?"
"Tidak, justru sebaliknya," Dokter Haryo menggelengkan kepala perlahan, menatap Andra dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Rahim Ibu Nadhira sangat sehat, bersih, dan posisinya sempurna. Namun, sela-put da-ra Ibu Nadhira masih utuh sempurna. Secara medis, pasien belum pernah melakukan hubungan sek-sual sama sekali. Ibu Nadhira masih perawan."
DEEEEGHHH
DEEEEGHHH
Kata-kata Dokter Haryo seperti hantaman gada tak kasat mata yang meruntuhkan keangkuhan di dalam ruangan itu. Apalagi Andra, dia benar-benar merasa bersalah. Nadhira masih perawan? Bukankah dia seorang janda? Bukankah dia pernah menikah seperti pengakuannya terakhir kali.
Andra terpaku di tempatnya berdiri, matanya melebar menatap tirai tempat Nadhira yang baru saja melangkah keluar dari ruang pemeriksaan. Ada rasa bersalah yang teramat masif yang mendadak menghantam dadanya hingga dia merasa sesak.
Dia tahu Nadhira adalah wanita baik-baik, tetapi fakta bahwa sahabatnya itu masih menjaga kesuciannya dengan begitu rapat di usia mereka sekarang, membuat Andra merasa dirinya adalah bajingan paling keji di muka bumi. Dia telah memaksa seorang wanita suci untuk masuk ke dalam pernikahan siri rahasia dan menyewakan rahimnya demi ego pribadinya.
Sementara itu, Viona Antanagara tampak tersentak. Untuk pertama kalinya, ekspresi meremehkan di wajah wanita paruh baya itu luntur, digantikan oleh keterkejutan yang nyata. Di dunia pergaulan kelas atas yang penuh dengan kebebasan, menemukan wanita dewasa yang masih menjaga kesuciannya adalah hal yang sangat langka. Terlebih lagi, wanita itu adalah Nadhira, gadis yang selama ini dia cap sebagai wanita oportunis yang mendekati anaknya demi uang.
"Masih... perawan?" Viona mengulang kalimat itu, suaranya kehilangan sedikit keangkuhannya.
Mata tajamnya beralih menatap tirai yang perlahan terbuka, menampilkan Nadhira yang baru saja turun dari ranjang periksa dengan langkah gontai dan wajah yang seputih kapas.
Nadhira merapikan pakaiannya dengan tangan yang gemetar hebat. Dia tidak menatap siapa pun di ruangan itu. Dia merasa seluruh tubuh dan jiwanya telah ditelan-jangi bukan hanya secara medis, tetapi juga secara sosial di depan ibu dan anak yang egois ini.
Viona berjalan mendekati Nadhira, menatap gadis itu dengan pandangan yang kini dipenuhi oleh kalkulasi baru. Sifat perfeksionis dan gengsi tinggi Viona sebagai Nyonya Antanagara mendadak melihat "nilai" yang luar biasa dari diri Nadhira.
"Luar biasa..." bisik Viona, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman dingin yang penuh kepu-asan misterius. Dia menoleh ke arah Andra.
"Andra, pilihanmu kali ini ternyata tidak buruk. Benih murni Antanagara tidak akan dikandung oleh rahim yang pernah tersentuh oleh pria lain. Ini adalah jaminan kesucian yang bahkan tidak bisa diberikan oleh istrimu, Diana, sebelum kalian menikah."
Mendengar nama Diana disebut dalam konteks seperti itu, Andra mengepalkan tangannya. Walau Andra tahu jika ucapan ibunya adalah kenyataan yang tak bisa dia bantah.
"Cukup, Mah. Jangan bawa-bawa Diana."
Viona mengabaikan protes anaknya. Dia kembali menatap Nadhira, kali ini dengan tatapan yang lebih mengintimidasi namun sarat akan kepemilikan.
"Nadhira, karena kamu masih suci, saya sendiri yang akan memastikan seluruh proses medis ini berjalan tanpa cacat. Kamu akan mendapatkan fasilitas terbaik, dokter terbaik, dan uang kompensasi yang akan membuat ibumu hidup seperti ratu di sisa usianya. Tapi ingat, setelah anak itu lahir dari rahim perawanmu, kamu harus menghilang seolah kamu tidak pernah ada di dunia ini."
Nadhira mendongakkan kepalanya, menatap Viona dengan mata yang memerah penuh amarah yang tertahan. Air matanya sudah mengering, digantikan oleh kedengkian yang mendalam pada takdir.
"Saya tidak butuh pujian Anda, Ibu Viona," ucap Nadhira dengan suara yang dingin, tajam, dan bergetar karena menahan emosi.
"Saya melakukan ini bukan untuk dihargai oleh keluarga Anda. Saya melakukan ini untuk menyelamatkan ibu saya. Jadi, silakan lakukan prosedur medis apa pun yang Anda inginkan. Suntikkan benih anak dan menantu kesayanganmu yang tak mau hamil itu ke dalam tubuhku sekarang juga. Agar aku bisa cepat menyelesaikan transaksi menji-jikkan ini!"
Andra memejamkan mata mendengar keputusasaan Nadhira. Hatinya teriris melihat bagaimana sahabat lamanya yang dulu ceria kini telah berubah menjadi wanita yang penuh dengan kebencian akibat perbuatannya. Hubungan mereka kini tidak hanya rumit karena pernikahan siri, tetapi juga terikat oleh sebuah kenyataan bahwa rahim yang masih suci itu kini bersiap untuk menampung darah daging Andra.
percuma kaya raya tp ga punya penerus atau keturunan mh