"Tuhan!, tidak banyak yang ku pinta, hanya kuatkan hati ku, bimbing langkahku, agar aku selalu sabar dan ikhlas dengan semua kehendak dan ketentuan mu ini".
Kisah perjuangan hidup seorang anak manusia, seorang remaja miskin, putra dari seorang penderita odgj bernama Kaenan.
Hinaan, caci maki, fitnah dan perundungan bahkan kekerasan fisik, sudah menjadi lauk makan sehari hari.
Meskipun hidup dalam kemiskinan dan tak punya siapa siapa, satu hal yang masih di yakini Kaenan, dia masih punya Allah dan doa doa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Pria tua itu kembali berdiri dan melangkah ke arah jendela, menatap ke kejauhan, namun pikiran nya melayang entah kemana, sehingga suara pintu ruangan di ketuk pun dia tidak mendengarnya.
Sementara itu, pagi pagi setelah selesai sholat subuh, Kaenan sudah bersiap siap dengan pakaian bagus yang dahulu di belikan oleh Aisyah.
Hari ini dia akan ikut dengan Kiai Nuruddin dan ummi Nazeha, menyambut kedatangan Abang Isal, kakak sulung Aisyah dari Kairo Mesir, setelah menamatkan kuliah nya selama enam tahun di sana.
Syarif mengantarkan Kaenan ke rumah Kiai Nuruddin dengan motor metik milik Aisyah yang mereka pakai sementara, atas dan jin dari gadis itu juga, baru setelah itu, Syarif pergi ke proyek tempat kerja mereka.
Baru saja Kaenan tiba di tempat kediaman Kiai Nuruddin, pria paruh baya itu terlihat duduk di teras rumah nya, sambil menikmati secangkir kopi panas.
"Assalamualaikum pak Kiai, langsung saja, mau kerja dulu" ujar Syarif sambil menyalami tangan pak Kiai Nuruddin.
"Wa' alaikum salam warahmatullahi wa barakatuh, tindak ngopi ngopi dulu nak Syarif?" tawar pak Kiai.
"Terimakasih Kiai, langsung saja dulu, maklum tempat kerja agak jauh, assalamualaikum!" ....
"wa' alaikum salam warahmatullahi wa barakatuh!" ....
Tidak seberapa lama, ummi Nazeha keluar, membawakan secangkir kopi panas dan pisang goreng untuk Kaenan.
"Lama tidak mampir nak, sibuk kerja ya?, masih di tempat kakek atau di rumah nak Syarif?" tanya ummi Nazeha duduk di samping Kiai Nuruddin.
"Di tempat mas Syarif ummi, enakan di tempat mas Syarif, meski tidur di kasur tipis berhimpitan berdua, tapi hati tenang, beda sama di tempat kakek, hati rasa tidak tenang, lagi pula sekarang Kae ngajari mas Syarif ngaji ummi" sahut Kaenan.
Kiai Nuruddin tersenyum menatap kearah Kaenan, "apa Ayi pernah menelpon mu?" tanya nya.
Kaenan menggelengkan kepala nya sambil sedikit tertunduk, "tidak pernah kiai, mungkin kak Ayi sibuk" jawab nya.
"Ayi hanya empat tahun disana Kae, tidak lama, dia tidak mengambil es dua, nggak papa kan?" tanya ummi Nazeha melirik kearah Kaenan. Wanita cantik usia paruh baya itu seolah ingin melihat tanggapan dari anak muda dihadapan nya itu.
"Tidak apa-apa ummi!, Kae senang jika cita cita kak Ayi tercapai, Kae selalu mendoakan keselamatan kak Ayi!" sahut Kaenan tulus, tidak terlihat beban apapun pada wajah anak muda itu.
Hal itu, membuat ummi Nazeha menarik nafasnya dalam-dalam, dia menyukai anak muda sederhana yang saleh dihadapan nya ini, namun tidak pernah tahu tentang hati anak muda itu.
Kaenan terlampau rapi menyembunyikan perasaan hati nya, meskipun kerinduan nya kepada Aisyah begitu besar, dia tidak pernah mengatakan nya kepada siapapun juga, hanya diatas sajadah lusuh nya lah, saat di tiga perempat malam, dia curahkan semua nya kepada sang penguasa hidup nya.
Bagi Kaenan, cukup mencintai dan menyayangi dalam diam, sambil berdoa dan berharap kebahagiaan untuk wanita yang disayangi nya itu, meskipun kelak bukan bersama nya.
Bagi nya, dia hanya seibarat seekor Anai anai, yang sedang membangun Blambika, untuk mencapai Bulan.
Karena hal itulah, dia memendam seluruh rasa apapun, menggantinya dengan rasa kagum dan sayang kepada seorang saudara, karena takut terbentur dengan tebing kenyataan hidupnya yang pahit.
"Kenapa tidak mau kuliah di Al Azhar juga Kae, kan bisa sama sama Ayi disana?" pancing ummi Nazeha.
"Kae ingin mencari pengalaman kerja dahulu ummi, jalan Kae masih panjang kok" sahut Kaenan.
Kiai Nuruddin tersenyum menepuk punggung Kaenan, "kau benar nak, usia mu masih sangat muda, kesempatan masih banyak, tak ada salah nya belajar bekerja, tapi setidaknya kau harus kuliah juga" ....
"Insyaallah nanti jika ada kesempatan, Kae pasti kuliah juga Kiai" ....
Selesai menghabiskan kopi panas nya, Kaenan diajak Kiai dan ummi untuk sarapan pagi lebih dahulu sebelum pergi ke airport.
Saat mereka pergi ke airport, waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi, dimana lalu lintas mulai padat merayap.
Nyaris lebih dari satu jam, barulah mereka tiba di airport.
Setelah mobil parkir, ketiga orang ini berjalan perlahan kebagian internasional nya, duduk santai di ruang tunggu kedatangan.
Cukup lama Kaenan dan Kiai Nuruddin serta ummi Nazeha menunggu kedatangan Isal dari Mesir.
Setelah lebih dari satu jam, barulah terdengar pemberitahuan jika penerbangan dari Kairo akan segera tiba.
Dari pintu kedatangan, berjalan santai seorang pemuda usia kira kira dia puluh lima tahun, berwajah tampan dengan hidung mancung.
Melihat keberadaan Kiai Nuruddin dan ummi Nazeha, pemuda itu buru buru berlari kecil, seraya memeluk kaki Kiai Nuruddin dan ummi Nazeha, barulah dia berdiri memeluk dan menyalami kedua nya.
Setelah itu, barulah dia menoleh kearah Kaenan, "waaaoooo Kaenan sudah besar, sudah menjadi seorang remaja, salam khusus dari Aisyah untuk mu" ....
"Wa' alaikum salam warahmatullahi wa barakatuh" sahut Kaenan singkat sambil mencium tangan Salafudin atau Isal.
Setelah semua barang bawaan Salafudin terkumpul semua, mereka segera berjalan menuju kearah depan airport, dimana Kiai Nuruddin berjalan sendirian kearah ruang parkir mobil untuk mengambil mobil nya.
Mereka hanya menunggu mobil di depan airport, tanpa harus berjalan ke tempat parkir khusus mobil.
Beberapa saat kemudian, mobil yang di kemudikan oleh Kiai Nuruddin, sudah meluncur di jalan raya, menembus kemacetan yang cukup padat.
Setelah merambah kemacetan nyaris selama satu jam, akhirnya mereka tiba di rumah kediaman Kiai Nuruddin.
"Apa rencana mu selanjutnya Sal?" tanya Kiai Nuruddin saat mereka istirahat di ruang tengah.
"Yang pasti, istirahat satu atau dua hari, lalu mulai mengajar di pondok abi!, bolehkan Isal langsung mengajar saja?" tanya pemuda itu.
Kiai Nuruddin tersenyum, "tentu saja boleh Sal, justru Abi mempersiapkan kamu untuk ikut membesarkan pondok ini Sal, oh iya, bagai mana kabar adik mu Nasir dan Aisyah?" tanya Kiai Nuruddin.
"Alhamdulillah, Nasir lulus es satu ilmu Syari'ah, dan melanjutkan es dua, mungkin dua tahun lagi lulus, sementara Ayi katanya mau mengambil es satu saja, jadi setahun sesudah Nasir, menyusul Ayi balik ketanah air" jawab Isal sambil berdiri, melangkah kedalam kamar nya, beberapa saat kemudian, keluar dengan sebuah paper bag.
"Oh iya Kae, ini ada titipan dari Aisyah untuk mu, dia yang memilihkan khusus untuk mu Kae, terima ya" ujar Isal menyodorkan paper bag oleh oleh dari Aisyah.
Kaenan tertegun beberapa saat, gadis cantik jelita bak bidadari sorga itu menyempatkan diri mengirimkan sesuatu untuk nya.
Sebuah gamis putih, bersama tasbih dan sorban putih pula.
Ummi Nazeha nampak tersenyum bahagia melihat wajah Kaenan yang merah tersipu malu, "cie yang dapat kiriman dari Kairo nih ye!" ujar wanita cantik itu menggoda Kaenan.
Ummi Nazeha ini wanita asli Mesir, kenal dengan Kiai Nuruddin waktu sama sama kuliah di universitas Al Azhar, setelah sama sama lulus, mereka menikah dan ikut Kiai Nuruddin pulang ke tanah air.
Jadi di Mesir sana, Isal, Nasir, dan Aisyah tidak tinggal di kontrakan, tetapi tinggal di rumah kakek dan nenek nya, yaitu orang tua dari ummi nya sendiri.
Sebagai seorang laki-laki normal, Kaenan juga mengagumi Aisyah yang cantik jelita, tanpa cacat cela.
Kaenan sendiri merasa bahagia sekali mendapat kiriman gamis dari Aisyah, meskipun hati kecil nya sangat mengagumi gadis cantik jelita berkulit putih bersih dengan rambut panjang itu, tetapi dia berusaha meletakan semua nya, sesuai porsi nya pula.
Dia tidaklah berani berpikiran lebih dari hubungan persaudaraan saja, karena Dimata nya, Aisyah gadis terlampau agung dan sempurna, nyaris tanpa cacat cela. Memiliki wajah yang cantik jelita, berkulit putih bersih, hidung mancung khas wanita Mesir, yang lebih utama berbudi luhur, serta ramah tutur sapa nya. Selama mengenal Aisyah, tidak pernah sekalipun gadis itu bersuara tinggi kepada nya, apalagi berkata kasar.
"Aku menyayangi kak Aisyah, melebihi diri ku sendiri, aku menghormati nya sebagai wanita berakhlak mulia, memuja nya seperti seekor Anai anai memuja sang rembulan, tapi aku harus sadar diri, sampai kapan pun, Anai anai tidak mungkin bisa bersatu dengan rembulan, jarak kehidupan yang terlampau jauh untuk ku capai!" itulah yang selalu Kaenan bisikan didalam hati nya. Sehingga sedikitpun dia tidak berani berangan angan lebih dari itu.
"Biarlah aku mencintai dalam diam, mengagumi dalam sunyi, menyayangi mu tanpa berharap balas" bisik hati Kaenan ikhlas.
"Kok kau diam nak?" tanya Kiai Nuruddin menatap wajah Kaenan.
"Ah ti… tidak kiai, saya, saya hanya, hanya" suara Kaenan seperti tercekat di tenggorokan nya.
Dengan tersenyum, Kiai Nuruddin menepuk pundak Kaenan, "ingat!, kita hanya menjalankan peran yang sudah Allah tetapkan untuk kita semua, tidak ada kata pembangkangan dalam pandangan hakikat, semua mentaati kehendak dan ketentuan nya nak!, dosa dan pembangkangan hanya dalam syariat, bukan dalam pandangan hakikat" ucap Kiai Nuruddin.
"Inggih kiai, semoga saya bisa ikhlas menjalani lakon saya hingga akhir nya ya kiai!" sahut Kaenan.
Kiai Nuruddin tersenyum lebar mendengar sahutan dari Kaenan itu, entah kenapa, dari seluruh murid murid nya, hanya Kaenan yang sangat cepat tanggap dan mengerti kemana arah ucapan yang dia bawa.
"Kau rindu kak Ayi?" tanya ummi Nazeha menatap wajah Kaenan.
Kaenan tidak berani menjawab, hanya menundukkan wajahnya lebih dalam lagi.
Dia tidak berani berandai andai, terlalu sakit bila tahu dia ditolak, lebih baik seperti sekarang ini saja, berserah kepada sang pembuat cerita, mau kemana dibawa cerita nya.
Tanpa terasa hari mendekati lohor, Kiai Nuruddin buru bangkit berdiri, melangkah masuk kedalam kamar nya untuk mandi dan bersiap siap ke mesjid pesantren yang di dirikan di luar pondok pesantren Al Ilmi.
Sementara itu, Isal mandi di kamar mandi nya sendiri, hanya Kaenan yang mandi di kamar mandi luar.
Ummi Nazeha lama menatap Kaenan, dia kenal dengan anak ini sudah cukup lama, seorang anak dengan pribadi yang halus, lembut dan tidak pernah mengangkat suara dati orang lain. Suara nya selalu lebih rendah dari lawan bicara nya. Dan yg lebih utama, ummi Nazeha tidak pernah melihat Kaenan marah kepada siapapun juga, dia lebih memilih diam mengalah, atau menjauh, ketimbang berdebat.
Sambil menarik nafasnya dalam-dalam, ummi Nazeha berlalu masuk kedalam kamar, mempersiapkan pakaian Kiai Nuruddin untuk sholat.
...****************...