"Tuhan!, tidak banyak yang ku pinta, hanya kuatkan hati ku, bimbing langkahku, agar aku selalu sabar dan ikhlas dengan semua kehendak dan ketentuan mu ini".
Kisah perjuangan hidup seorang anak manusia, seorang remaja miskin, putra dari seorang penderita odgj bernama Kaenan.
Hinaan, caci maki, fitnah dan perundungan bahkan kekerasan fisik, sudah menjadi lauk makan sehari hari.
Meskipun hidup dalam kemiskinan dan tak punya siapa siapa, satu hal yang masih di yakini Kaenan, dia masih punya Allah dan doa doa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Memang tidak ada kata kata cinta dan sayang yang keluar dari mulut Aisyah dan Kaenan , namun dari sikap serta perilaku kedua nya, sudah mewakili berjuta kata kata itu.
Waktu berjalan terus, sudah beberapa bulan setelah hari pertunangan Kaenan dan Gracia waktu itu.
Kini tabungan Kaenan sudah mencapai lebih dari seratus empat puluh juta rupiah.
Dia berkeinginan untuk satu ketika, akan membeli sebidang tanah, yang akan dia bangun perumahan nanti nya.
Dia tidak lagi memakai motor metik milik Aisyah, karena kakek nya tuan besar Baskoro, membelikan sebuah mobil Alphard untuk nya, meskipun belum memiliki SIM.
Hubungan Kaenan dengan Syarif juga kembali pulih seperti semula, setelah Kaenan membelikan kakak angkat nya itu sebuah motor metik seken.
Namun satu hal yang membuat Kaenan bingung, Niken putri mang Hamit yang semula merendahkan Kaenan, kini setelah mengetahui jika Kaenan memiliki CV betulan, bukan CV fiktif, dara itu terlihat semakin gencar untuk mengejar Kaenan.
Setiap hari, dara itu menanyakan tentang Kaenan kepada Syarif. Memang antara Syarif dan Niken, belum ada kata kata resmi nya berpacaran, Syarif maupun Niken tidak pernah bicara terus terang.
Syarif yang tidak pernah mengenal wanita, mengira hanya dengan begitu saja, mereka sudah resmi pacaran.
Sementara Niken menunggu Syarif menembak nya terlebih dahulu, selaku wanita, dia tidak mungkin berkata terus terang.
Akhirnya, hingga tiba masa Niken mengetahui jika Kaenan adalah seorang pengusaha belia cucu kandung dari tuan besar Baskoro Hanggada, pandangan nya spontan berubah pada Kaenan.
Setiap kali Kaenan keRumah mang Hamit, berusaha menarik perhatian Kaenan dengan berbagai polah tingkah nya.
Namun Kaenan berusaha menghindari gadis cantik itu dengan berbagai alasan yang halus.
Beda dengan Syarif dan Niken, Kaenan mengira kedua nya sudah resmi pacaran semenjak nonton film bersama tempo hari.
Seandainya pun keduanya belum berpacaran, Kaenan pun tidak tertarik kepada gadis itu. Karena dihati Kaenan, hanya hadir seraut wajah cantik rupawan berjilbab putih, dengan senyum khas yang sangat manis, sehingga tidak menyisakan ruangan lain nya disana.
Dia mencoba beberapa kali meletakan wajah Gracia di sana, namun ruang hati nya seperti terlalu penuh oleh kenangan wajah jelita Aisyah, sehingga yang lain nya terasa begitu hambar.
Bahkan dia beberapa kali pertemuan, shoping, makan makan serta liburan yang mereka rencanakan bersama untuk menjalin kebersamaan, namun rasa itu tidak juga ter taut.
Begitu juga dengan Gracia, dia telah berusaha mencoba membuka hati pada Kaenan, namun hati nya sudah terlanjur mencintai Johan terlampau dalam, rasa nya tidak mungkin dicabut begitu saja dari sana. Ditambah lagi dengan sifat kedua nya yang terlalu berbeda, seibarat dia kutub yang tidak mungkin dipertemukan. Kaenan yang terlalu alim, dekat dengan bimbingan agama, dan Gracia yang terlalu bebas serta jauh dari bimbingan agama.
Malam itu, untuk kesekian kali nya, Kaenan memenuhi undangan makan malam dari paman Arifin.
Selesai makan malam, mereka berbincang bincang di ruang tengah, awal nya membicarakan hal tentang pekerjaan, lalu berlanjut ke masalah hubungan Kaenan dan Gracia.
"Begitu kau diputuskan oleh kakek menjadi ahli waris Hanggada group, dengan empat puluh persen saham Hanggada group itu sebagai mahar nya, kalian langsung paman nikahkan!" ujar tuan muda Arifin.
"Lalu apakah saham yang empat puluh persen itu sudah di serahkan oleh kakek mu Kae?" tanya nyonya Mona.
"Belum bi!, kakek tidak pernah lagi bicara masalah saham saham itu, lagi pula Kae juga tidak ingin menanyakan nya" sahut Kaenan.
"Kalau begitu tanyakan dong, kau kira Caca mau menikah dengan mu itu cuma cuma saja, hanya sekedar menyerahkan tubuh nya saja?, iya?, kau terlalu naif Kae, aku tidak akan melepaskan putri ku untuk hidup melarat seperti kamu, kau mungkin sudah terbiasa hidup melarat, kau kan di pelihara dan dibesarkan oleh seorang wanita odgj, tapi jangan samakan Caca dengan kau Kae!" semprot nyonya Mona kasar, karena sudah berkali kali dia bertanya tentang saham empat puluh persen itu, namun jawaban Kaenan tetap sama, membuat kesabaran wanita itu pupus juga akhirnya.
"Saya tidak berani menanyakan hal itu bi, jika bibi berani, silahkan bibi tanya sendiri, bagi Kae, ada atau tidak ada warisan itu, tidak ada pengaruhnya sama sekali pada kehidupan Kae!" sahut Kaenan.
Selama memimpin perusahaan kecil nya, Kaenan mendapatkan berbagai pengalaman hidup yang paling berharga, termasuk bagai mana menghadapi orang orang.
Jika dahulu dia minder dan takut menghadapi orang lain, kini berangsur angsur mulai berubah.
Mendengar jawaban dari Kaenan itu, wajah nyonya Mona menjadi merah padam.
"Kalau begitu, apa guna nya kau di jodohkan dengan Caca?, kalau tidak ada gunanya, mendingan batalkan saja!" ucap nya marah.
"Saya terserah bibi dan paman saja, sedari awal, saya tidak berminat dengan perjodohan ini, saya hanya menuruti kehendak kakek saja, apa yang paman dan bibi harapkan dari orang seperti saya ini?, aneh jika bibi berharap saya memberikan harta benda yang banyak demi perjodohan ini, seolah olah saya yang berkehendak!" jawab Kaenan pelan.
"Papah yang aneh, terlalu berharap warisan dari orang tua kikir itu, putri nya sendiri yang di korbankan, iya kalau dia benar benar dapat warisan, jika tidak?, apa yang papah dapatkan?, papah kan tahu bagai mana sifat kakek?, apa mungkin dia mau percaya begitu saja pada seorang anak tidak berguna yang dibesarkan oleh seorang wanita odgj!" suara Gracia meninggi, mengutara kan perasaan hati nya.
tuan muda Arifin terdiam membisu, baru terlintas di dalam pikiran nya, semua yang dikatakan putri nya itu benar adanya.
Jangankan orang yang baru di kenal oleh tuan besar Baskoro, sedangkan dia dan adik nya Irfan yang sudah dikenal oleh nya sejak lahir itupun tidak di percaya oleh juga.
Tuan muda Arifin bangkit berdiri, menatap kearah istri dan anaknya, "terserah kalian!, aku sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa" ujarnya seraya berjalan kearah ruang kerja nya.
Nyonya Mona menatap kearah Kaenan beberapa saat, lalu melengos memalingkan wajah nya, menatap kearah lain.
"Kae!, ku beri waktu kau dua minggu, jika tidak juga berhasil menyerahkan empat puluh persen saham Hanggada group itu, lebih baik jangan berkhayal kawin dengan putri ku ini!" teriak wanita itu.
Malam itu meskipun mendapat ultimatum dari nyonya Mona, tetapi aneh nya, hati Kaenan ke struktur merasa sangat senang. Jalan untuk membatalkan perjodohan itu, kini mulai terbuka lebar.
Namun satu hal yang tidak diketahui oleh Kaenan, bahwa yang di hadapi nya ini bukanlah manusia biasa, tetapi mahluk licik berujud manusia.
Sementara itu, di proyek, Syarif yang semula akrab dengan nya, tiba-tiba saja, akhir akhir ini menjadi agak menjauh, tidak lagi seperti biasa nya. Hal itu terjadi, semenjak Niken suka datang ke proyek dengan berbagai alasan yang di buat buat oleh nya. Entah mengantarkan bekal ayah nya, atau sekedar menanyakan sesuatu.
Saat Kaenan mengajak makan atau sekedar ngopi, anak muda itu selalu menghindar dengan berbagai alasan nya, yang terasa sangat di buat buat.
Kini Kaenan memiliki langganan toko bahan bangunan yang spesial menyuplai material bangunan yang di butuh kan nya.
Toko Sepakat jaya ini siap mengantarkan material bangunan yang di butuhkan setiap hari, ke proyek.
Hari itu Sabtu siang, setelah selesai mencek dan menotal semua utang di bon, Kaenan segera pergi ke Toko Sepakat jaya untuk membayar tarikan material Minggu ini.
Hari itu Kaenan membawa motor metik Aisyah ke toko material.
Baru saja Kaenan berniat masuk kedalam toko material bangunan itu, dari arah jalan raya, dia melihat Niken dan seorang gadis teman nya, sedang berjalan kearah nya.
"Niken?, nyari apa?" tanya Kaenan heran.
"Tidak nyari apa apa Mal, hanya kebetulan melihat kau disini, jadi sekalian mampir deh, kamu ngapain disini?" tanya Niken.
"Ah biasa, setiap Sabtu siang, bayar utang material bangunan!" jawab Kaenan.
"Eh Sarah!, ini kenalan Kaenan, dia ini bos muda tau tidak?" Niken memperkenalkan Kaenan kepada sahabat nya yang bernama Maysarah itu.
Gadis itu mengulurkan tangan nya, disambut oleh Kaenan sambil memperkenalkan nama nya.
"Maaf Niken, Sarah, ku tinggal dulu ya, aku mau setor mingguan dulu" ujar Kaenan sambil berjalan ke dalam Toko bahan bangunan itu.
"Eh Kaenan!, bos muda ini, ada apa?" tanya Koh Beni menyambut kedatangan Kaenan.
"Tidak apa apa koh, hanya mau setor mingguan saja, berapa Minggu ini ya koh?" tanya Kaenan.
Koh Beni membuka sebuah buku nota, lalu mulai menghitung semua nya.
"Semua nya delapan belas juta tujuh ratus ribu rupiah Kae, nih hitung sendiri deh" ujar koh Beni menyerahkan nota itu.
"Tidak usah koh, saya juga sudah ngitung kok, ini saya transfer langsung ya koh?" ujar Kaenan.
"Iya ya Kea, boleh boleh!" ....
Beberapa saat kemudian.
"Sudah koh, coba periksa, benar tidak?" ....
"Sip Kae!" ....
"Terimakasih koh, lunas ya?" ....
"Iya, ya lunas, makasih ya Kae atas kepercayaan nya menjadikan Toko kami sebagai supplier material nya" ucap kok Beni.
"Sama sama koh, semoga koh Beni tidak kapok sama saya!" ....
"Tidak dong Kae, semoga hubungan kerja kita bisa lanjut terus!" ....
"Semoga koh, Kae tinggal dulu ya" ....
Ternyata Niken dan Sarah masih berdiri di depan toko material bangunan itu.
"Kalian belum pulang?" tanya Kaenan heran.
"Belom Kae, temenin makan Bakso ya" pinta Niken.
"Hm, boleh, ayo, yang rada dekat aja ya?" sahut Kaenan.
Ketiga nya kemudian pergi dari tempat itu, menuju warung bakso yang agak dekat dengan tempat itu.
Beberapa saat kemudian, ketiganya sudah duduk di warung bakso.
Warung bakso sebenarnya hanya nama nya saja, ini lebih mirip sebuah resto besar, banyak saung saung disini, tempat orang menikmati makanan.
Kaenan, Niken dan Sarah segera mencari sebuah saung yang masih kosong setelah memesan makanan.
"Niken dan Sarah satu sekolah?" tanya Kaenan sesaat setelah mereka menemukan sebuah saung yang masih kosong.
"Dahulu iya, sekarang di SMA, tidak lagi" jawab Sarah.
"Tapi kami tetap temenan, Rumah juga tidak berjauhan" tambah Niken.
Diantara saung saung ini, ada beberapa yang berdinding kalsibort, yang dilapisi ijuk, sebagai ruang privasi kelas VIP yang bisa di pesan.
...****************...