Serena Roe tahu satu hal tentang cinta:
semua orang yang mendekatinya selalu membawa kehancuran.
Julian datang menawarkan ketulusan.
Damien membuatnya kecanduan.
Dan Axel, perlahan menghancurkan hidupnya tanpa ia sadari.
Tapi di antara mereka, siapa yang benar-benar mencintainya dan siapa yang betulan ingin memilikinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarice Diane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Welcome, Claire Beaumont
Claire Beaumont selalu membenci bandara. Terlalu ramai dan dingin. Terlalu penuh perpisahan dan kepulangan yang terasa tidak nyata.
Perempuan itu berdiri diam di depan jendela besar terminal VIP sambil memeluk coat krem panjangnya lebih rapat. Rambut cokelat gelapnya jatuh lembut di bahu, sementara wajah cantiknya terlihat sedikit lelah setelah penerbangan panjang dari Irlandia.
Kota ini masih sama seperti terakhir kali ia tinggalkan beberapa tahun lalu. Namun entah kenapa, malam ini terasa berbeda.
Claire menurunkan pandangannya pada layar ponsel sekali lagi. Tidak ada balasan dari Damien sejak semalam. Perempuan itu mengembuskan napas kecil. Ia seharusnya tidak terkejut. Damien Knox memang selalu seperti itu. Sulit dihubungi saat sedang tidak ingin bicara dengan siapa pun.
Dan tetap saja Claire menelepon pria itu semalaman, merasa bahwa pria itu harus tahu soal kedatangannya ke sini, lalu mereka akan bertemu sebagai sahabat lama.
Mungkin karena setelah bertahun-tahun tinggal di Irlandia, Damien selalu terasa seperti satu-satunya hal familier yang tersisa dari masa kecilnya. Mereka tumbuh bersama. Damien kecil yang pendiam dan dingin. Claire kecil yang selalu mengikutinya ke mana-mana. Orang-orang sering menganggap mereka akan bersama suatu hari nanti. Lucu sekali. Karena kenyataannya, Damien bagi Claire hanyalah sosok sahabat kecil yang mengetahuinya dengan sangat baik.
“Claire.”
Suara laki-laki itu membuat Claire langsung menoleh. Sesaat kemudian, senyum kecil muncul di wajahnya. Julian Hayes berjalan mendekat dengan mantel hitam panjang dan ekspresi hangat yang selalu membuatnya terlihat mudah dipercaya.
Berbeda dengan Damien yang selalu terasa sulit disentuh, Julian justru memberi rasa tenang sejak pertama kali Claire mengenalnya.
“Kau menunggu lama?” tanya pria itu sambil mengambil koper Claire dengan mudah.
Claire menggeleng pelan. “Baru beberapa menit.”
Julian tersenyum kecil sebelum menyampirkan syal hangat ke leher Claire tanpa berpikir panjang. Gerakan sederhana itu langsung membuat perempuan tersebut terkekeh pelan.
“Kau memperlakukanku seperti anak kecil.”
“Kau selalu lupa udara di sini lebih dingin dibanding Irlandia.”
Claire memperhatikan wajah Julian beberapa detik. Lembut sekali. Kadang Claire masih merasa bersalah. Karena pria sebaik Julian Hayes seharusnya dicintai dengan cara yang lebih besar daripada yang mampu ia berikan sekarang. Namun pernikahan mereka tetap harus berjalan. Keluarga Hayes dan Beaumont sudah terlalu lama menginginkan ini.
Dan Julian tidak pernah keberatan. Begitu pula Claire.
“Ada yang mengganggumu?” tanya pria itu tiba-tiba.
Claire tersadar dari lamunannya.
“Hm?”
“Kau terlihat banyak berpikir.”
Claire tersenyum tipis. “Aku hanya lelah.”
Julian tidak tampak sepenuhnya percaya. Namun seperti biasa, pria itu tidak memaksa. Dan Claire bersyukur untuk itu.
Mereka mulai berjalan keluar terminal bersama, hingga tiba-tiba langkah Claire sedikit melambat saat melihat sebuah sosok yang tak asing berdiri di ujung lorong VIP.
Tinggi. Rapi. Mengenakan mantel hitam panjang yang terlalu dikenalnya.
Damien Knox.
Jantung Claire langsung menegang sedikit. Karena bahkan setelah bertahun-tahun, ia melihat sahabatnya itu. Damien tetap selalu terlihat seperti kenangan yang tidak pernah benar-benar selesai.
...****************...
Sepanjang perjalanan menuju rumah keluarga Hayes, suasana di dalam mobil terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Claire duduk di kursi penumpang sambil menatap lampu-lampu kota yang bergerak samar di balik jendela. Tangannya memainkan ujung coat krem yang masih dikenakannya, sementara pikirannya terus kembali pada Damien.
Atau lebih tepatnya, cara Damien menatapnya tadi. Claire mengembuskan napas kecil. Ia terlalu mengenal tatapan itu untuk berpura-pura tidak menyadarinya.
“Jadi,” suara Julian akhirnya memecah keheningan, “Damien Knox.”
Claire langsung menoleh sedikit.
Nada suara Julian tetap lembut seperti biasa.
Namun Claire bisa mendengar rasa penasaran yang disembunyikan di sana.
“Kau tidak pernah menyebut namanya.”
Claire tersenyum tipis. “Aku tidak merasa itu penting.”
“Kalian terlihat dekat.”
Kalimat itu membuat Claire diam beberapa detik. Karena memang mereka dekat.
“Dia sahabat masa kecilku,” jawab Claire pelan. “Kami tumbuh bersama.”
Julian mengangguk kecil sambil tetap fokus menyetir. Namun Claire bisa melihat rahangnya sedikit menegang.
“Dan sekarang?”
Pertanyaan itu terdengar ringan. Hingga membuat Claire memalingkan pandangannya kembali ke luar jendela.
“Sekarang kami hanya jarang bertemu. Tapi kami selalu berkomunikasi di momen tertentu.”
Jawaban aman. Namun entah kenapa, itu justru membuat suasana semakin aneh.
Julian terdiam cukup lama sebelum akhirnya tertawa kecil. “Aku merasa seperti baru menemukan bagian besar dari hidup tunanganku yang tidak kukenal.”
Claire langsung menoleh cepat. “Aku tidak menyembunyikannya.”
“Aku tahu.” Julian tersenyum kecil lagi.
Dan itu yang membuat Claire semakin merasa bersalah. Karena Julian selalu terlalu baik. Pria itu tidak pernah menuduh. Tidak pernah memaksa. Bahkan saat sedang tidak nyaman sekalipun.
“Damien memang seperti itu,” gumam Claire akhirnya. “Dia selalu sulit dijelaskan.”
Julian melirik Claire sekilas.
“Kau mengenalnya dengan sangat baik.”
Mobil akhirnya memasuki kawasan elite tempat keluarga Hayes tinggal. Mansion besar bergaya klasik itu sudah dipenuhi beberapa mobil hitam di halaman depan.
Lampu-lampu rumah menyala hangat di tengah malam yang dingin.
“Keluargamu sudah datang lebih dulu,” ujar Julian sambil mematikan mesin mobil.
Claire mengangguk kecil. Ayahnya memang selalu datang lebih cepat untuk acara seperti ini. Pertemuan keluarga. Pembicaraan bisnis. Pernikahan. Semuanya terasa lebih seperti kesepakatan dibanding hubungan nyata.
Julian turun lebih dulu sebelum berjalan memutar untuk membukakan pintu bagi Claire. Gestur sederhana itu langsung membuat hati Claire terasa sedikit lebih ringan.
Julian selalu seperti ini. Tenang dan stabil. Tipikal pria yang seharusnya mudah dicintai.
“Claire.”
Perempuan itu mengangkat wajah. "Ya?"
Julian berdiri dekat sekali sekarang, cukup dekat hingga Claire bisa melihat keraguan samar di mata pria itu. “Apa ada sesuatu yang perlu kuketahui tentang Damien?”
Pertanyaan itu akhirnya keluar juga. Dan untuk pertama kalinya malam itu, Claire benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.
...----------------...
...To be continue...