NovelToon NovelToon
Mengandung Benih Kembar CEO Mandul

Mengandung Benih Kembar CEO Mandul

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / One Night Stand / Anak Kembar
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Ternyata kamu tidak lebih dari wanita sampah Kiana! Bagaimana bisa kamu hamil jika tidak berhubungan dengan laki-laki lain?! Kau tahu aku ini Mandul!

...

Kiana Mahira wanita 25 tahun yang terjebak malam panas bersama Pria 35 tahun bernama Ardan Arkatama. Malam itu Kiana terpengaruh obat yang di cekoki pacarnya, Dafa (28). Dafa berniat menjadikan Kiana tumbal pelunas hutang kepada seorang rentenir tua. Malam itu Kiana berhasil kabur dengan kondisi mabuk dan terpengaruh obat dosis tinggi. Namun justru dia jatuh ke pelukan Ardan Arkatama seorang CEO dingin yang sedang frustasi berat karena tuntutan ahli waris di tengah vonis kemandulannya.

Satu malam panas itu ternyata membuat Kiana mengandung anak kembar. Kiana yang sudah sepakat dengan Ardan untuk melupakan malam itu memilih diam karena takut Ardan pasti tidak akan mengakuinya karena pria itu sangat yakin dirinya mandul tanpa tahu semua ini hanyalah rekayasa dari pamannya yang haus kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 // MBKCM

​Kiana berjalan melewati posisi Bimo berdiri, asisten pribadi Ardan itu sempat mendengar isakan yang sangat menyesakkan keluar dari bibir yang bergetar tersebut. Itu bukan sekadar tangisan biasa, itu adalah suara parau dari seseorang yang hatinya baru saja dihancurkan hingga berkeping-keping.

​Melihat bahu yang berguncang hebat dan air mata yang terus menganak sungai di pipi pucat Kiana, Bimo merasa sangat tidak tega. Jantungnya berdenyut ngilu. Sebagai seorang pria yang bertugas menyelidiki latar belakang Kiana, dia tahu betul bahwa gadis ini tidak memiliki siapa-siapa lagi di kota besar ini untuk bersandar, selain sahabatnya. Ditambah lagi dengan fakta medis yang dia yakini bahwa Kiana tengah mengandung, perlakuan kasar bosnya malam ini terasa teramat sangat kejam. Bimo ingin sekali menahan langkah Kiana, setidaknya untuk menawarkan sebotol air atau kata-kata penenang, namun posisinya sebagai tangan kanan Arkatama Group menahannya untuk tidak bertindak gegabah.

​Kiana terus berjalan cepat, bahkan setengah berlari, meninggalkan mobil hitam itu tanpa menoleh ke belakang sama sekali. Setiap embusan angin malam yang menerpa wajahnya terasa seperti duri yang menusuk kulit. Dadanya terasa sangat sesak, seolah-olah pasokan oksigen di sekitarnya telah habis menguap bersama dengan harga dirinya yang diinjak-injak oleh Ardan.

​Sampah... Wanita murahan yang menjual diri...

​Kata-kata tajam dari Ardan terus berdengung di dalam kepala Kiana, berputar-putar bagaikan kaset rusak yang menyiksa batinnya. Kiana meremas dadanya yang terasa nyeri luar biasa. Air matanya terus mengalir tanpa bisa dibendung, membasahi baju tidur yang dikenakannya. Dia merasa dunia ini begitu tidak adil. Mengapa rentetan nasib buruk seolah tidak pernah berhenti mengejarnya? Mulai dari pengkhianatan Dafa, ancaman Pak Adnan, hingga malam penuh dosa yang berujung pada hinaan keji dari pria yang sebenarnya merupakan ayah dari janinnya.

"Kenapa aku tidak mati saja malam itu? Kenapa aku harus selamat? Aku tidak ingin hidup seperti ini!"

​Di tengah keputusasaan yang mendalam itu, Kiana sempat berpikir bahwa dia tidak ingin hidup lagi jika jalannya harus seberliku dan sesakit ini. Namun, tepat saat pikiran gelap itu melintas, sebuah kehangatan samar tiba-tiba merayap di area perut bawahnya. Kiana tersentak kecil, lalu perlahan menurunkan tangan kanannya untuk menyentuh perutnya yang masih rata.

​Dua jantung kecil...

​Suara detak jantung yang berirama cepat di ruang obgyn sore tadi mendadak terngiang kembali di telinganya. Suara itu seolah menjadi jangkar yang menariknya kembali dari jurang kehancuran. Kiana menarik napas panjang dengan susah payah, mencoba menenangkan badai di dalam dadanya. Tidak, dia tidak boleh menyerah. Dia tidak ingin hidup menderita seperti ini, tetapi dia harus tetap kuat. Dia wajib bertahan dan menegakkan kepalanya demi dua nyawa tidak berdosa yang kini sedang tumbuh dan menggantungkan hidup di dalam rahimnya. Jika ibunya menyerah, maka kedua malaikat kecil itu tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk melihat dunia.

"Tidak kiana, tidak, ada 2 nyawa yang harus tetap tumbuh sampai mereka lahir."

​Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, Kiana berhasil mencapai pintu kamarnya. Dia membukanya sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara yang dapat membangunkan Saskia di kamar sebelah. Begitu pintu tertutup dan terkunci rapat, pertahanan Kiana benar-benar runtuh total.

​Dia tidak sanggup lagi melangkah menuju kasur busa tipisnya. Tubuhnya merosot perlahan di balik pintu, hingga akhirnya dia meringkuk di atas lantai ubin yang sangat dingin. Kiana melipat kedua lututnya ke dada, menyembunyikan wajahnya di sana, dan menangis kuat-kuat tanpa mengeluarkan suara. Dia membekap mulutnya sendiri dengan telapak tangan, membiarkan tubuhnya berguncang hebat dalam keheningan malam. Rasa dingin yang menjalar dari lantai kosan seolah merepresentasikan betapa dingin dan kejamnya dunia luar terhadap dirinya saat ini. Di dalam kamar yang remang-remang itu, Kiana meratapi nasibnya yang malang, mengadukan segala kepedihan hatinya pada kesunyian yang menjadi saksi bisu kerapuhannya.

​Sementara itu, di dalam mobil hitam yang masih terparkir di ujung gang, keheningan yang tidak kalah mencekam juga terjadi. Ardan masih duduk terpaku di kursi belakang, posisinya sama sekali tidak berubah sejak Kiana keluar dari mobil. Tatapan matanya yang biasanya tajam dan mengintimidasi kini tampak kosong, menatap nanar ke arah jok kosong di sebelahnya yang masih menyisakan kehangatan samar dari tubuh Kiana.

​Di dalam benak Ardan, kata-kata terakhir yang diucapkan Kiana terus terngiang-ngiang dengan sangat jelas, menolak untuk pergi.

​'Jika Anda memang begitu menyesal telah pernah memiliki hubungan semalam dengan saya... harusnya malam itu, Anda biarkan saja saya jatuh dan tenggelam ke dalam sungai. Setidaknya... jika Anda membiarkan saya mati malam itu, hidup saya yang malang ini sudah berhenti...'

​Ardan memejamkan matanya rapat-rapat, namun ingatan tentang bagaimana air mata gadis itu menetes perlahan di pipinya justru semakin tercetak jelas di kegelapan. Wajah putus asa Kiana saat dihina sebagai sampah seolah terus membayangi kesadarannya. Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Ardan Arkatama yang terkenal berhati dingin dan tak kenal ampun, hatinya terasa sangat teriris. Ada rasa sesak yang asing dan menyakitkan yang tiba-tiba menyergap rongga dadanya.

​Ada secercah penyesalan yang mendalam yang mulai merayap di relung hatinya atas perkataan kasarnya yang terlampau kejam malam ini.

"Mengapa aku harus mengeluarkan kata-kata sehina itu? Mengapa aku begitu marah saat Kiana mengatakan anak itu tidak ada hubungannya denganku? Bukankah seharusnya aku lega karena itu berarti aku tidak perlu bertanggung jawab?

Namun, kenyataannya ego pribadinya menolak menerima bahwa ada pria lain yang menyentuh Kiana setelah malam itu, ditambah dia mengingat hasil medisnya sendiri yang menyatakan dia mandul. Ardan meremas dahinya yang terasa pening, merasa terjebak dalam labirin emosi yang dia buat sendiri.

​Bimo yang sejak tadi mengamati dari luar, akhirnya memutuskan untuk menyudahi keheningan tersebut. Dia membuka pintu kemudi dengan perlahan, lalu masuk ke dalam mobil. Bunyi klik dari sabuk pengaman yang dipasang Bimo sedikit memecah ketegangan di dalam kabin mobil yang sunyi.

​Bimo melirik sekilas ke arah kaca spion tengah, menatap wajah bosnya yang tampak mengeras dengan gumpalan emosi yang tertahan. Suasana hati Pak CEO saat ini jelas berada di titik paling berbahaya.

​"Kita... kita pulang sekarang, Pak?" tanya Bimo dengan nada suara yang sangat hati-hati, memastikan tidak ada nada mendesak atau menghakimi dalam pertanyaannya.

​Ardan tidak langsung menjawab. Dia menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan sembari membuang pandangan ke arah luar jendela, menatap deretan rumah kos yang mulai menggelap. "Ya. Pulang," jawab Ardan dengan suara baritonnya yang terdengar sangat datar, hampir menyerupai bisikan yang lelah.

​Mendengar perintah tersebut, Bimo tidak berani membahas atau menanyakan apa pun lagi terkait hasil percakapan dengan Kiana. Dia tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam seribu bahasa. Tangan Bimo dengan cekatan menghidupkan mesin mobil yang halus, lalu perlahan mulai melajukan kendaraan membelah jalanan malam yang sepi kembali menuju mansion megah keluarga Arkatama.

​Di sepanjang perjalanan, kedua pria di dalam mobil itu tenggelam dalam pikiran masing-masing, menyisakan penyesalan tersembunyi yang mulai membakar hati sang penguasa.

1
Lisa
Gmn tuh sadar atau g si Ardan klo twins benar² anaknya..
Lisa
Keras kepala banget si Ardan ini..msh blm mau mengakui klo twins adl anaknya
Lisa
👍 bagus Kiana..anggaplah si Ardan itu udh g ada..
Lisa
ya bener ceo koq g tegas sikapnya..periksa ke dokter yg lain donk..
Dewi Amalia
malass bca cerita nya msa ceo mudah di bohongi berkali-kali.. seharusnya gnti dg dokter yg lain...
jenny
menanti penyesalan Ardan 😁
Novaa: tunggu kelanjutannya ya, terimakasih sudah mampir 🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!