Rumah tangga Puann hancur seketika saat wanita dari masa lalu suaminya datang membawa kabar kehamilan, ditambah lagi fitnah bertubi-tubi yang membuatnya dikucilkan bahkan oleh keluarganya sendiri.
Di saat kepercayaannya sudah habis dan ia mulai bersandar pada laki-laki lain yang jauh lebih tulus, Bahlil, suaminya berjuang membuktikan bahwa semua itu hanyalah jebakan. Namun, kebenaran tentang masa lalu dan trauma besar yang disembunyikan Bahlil justru membuka luka yang jauh lebih dalam.
Di ambang perceraian dan di tengah pengakuan yang hampir menyatukan mereka kembali, sebuah skandal video pun muncul dan mematikan segala harapan.
Apakah cinta yang penuh kebohongan dan rasa sakit ini layak diperjuangkan, atau lebih baik diakhiri selamanya sebelum hati mereka benar-benar hancur lebur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perhatian Mas Gibran
Setiap pagi Gibran datang membawa makanan karena ia tahu Puann sering lupa makan atau kehilangan selera. Ia berusaha memastikan Puann tetap mendapatkan asupan yang cukup agar kesehatannya terjaga.
"Makan dulu, Puann. Jangan nyiksa diri gitu. Kalau kamu sakit, yang rugi kamu sendiri," kata Gibran saat meletakkan kotak makan di meja depan Puann.
"Makasih ya udah repot-repot. Tapi aku masih nggak nafsu," jawab Puann lirih, meski begitu ia tetap mengambil sedikit nasi sebagai wujud penghargaan atas perhatian itu.
"Santai aja. Anggap aku lagi cari kesibukan. Aku seneng kok bisa bantuin kamu dikit-dikit," balas Gibran sambil tersenyum tulus tanpa ada maksud tersembunyi apa pun.
Ketika Puann tiba-tiba menangis atau emosinya meluap karena teringat masalah yang dihadapi, Gibran selalu berada di sisinya. Ia tidak menyuruh Puann berhenti menangis, tidak menjelekkan Bahlil, dan tidak memaksa Puann untuk cepat pulih. Ia hanya duduk diam dan membiarkan Puann meluapkan segala perasaannya sampai merasa lega.
"Aku beneran capek banget. Kenapa ya rumah tangga nggak seindah di cerita orang? Harus ada kebohongan, masa lalu, dan orang ketiga. Kenapa aku yang selalu terluka?" isak Puann di bahu Gibran saat ia tak sanggup lagi menahan beban batinnya.
"Aku ngerti banget rasanya, Puann. kamu nggak salah apa-apa, cuma terlalu tulus dan sayang. Nanti lukanya akan sembuh pelan-pelan. Aku janji bakal nemenin sampai kamu beneran kuat lagi," bisik Gibran tenang sambil mengusap punggung wanita itu.
Saat Puann jatuh sakit akibat kelelahan dan tekanan pikiran, Gibran adalah orang yang paling sibuk mengurusnya. Ia mengantar ke dokter, membeli obat, memasakkan makanan, dan menjaga Puann hingga larut malam. Semua itu dilakukan tanpa pamrih dan murni karena ia sangat peduli.
Secara perlahan, kehadiran Gibran mulai mengubah suasana hati Puann. Di dekat Gibran, Puann merasa aman, tidak dihakimi, dan tidak dipersoalkan atas apa pun. Ia merasa didengar dan dihargai sebagai wanita biasa, bukan lagi sebagai istri yang harus berjuang sendirian.
Suatu sore Gibran baru saja pergi setelah mengantar obat dan makanan malam. Ririn langsung mendekat ke arah Puann dengan senyum jahil yang menyimpan makna mendalam. Ia menatap punggung Gibran yang menghilang di balik pagar, lalu menoleh kembali ke sahabatnya.
"Puan, aku pengen ngomong deh..." ucap Ririn sambil menyenggol bahu Puann pelan.
"Apa sih? Bilang aja langsung," jawab Puann santai sambil membereskan bungkus makanan.
"Kamu keliatan jauh lebih tenang sejak nggak sama Bahlil, apalagi kalau ada Gibran yang sering main ke sini," celetuk Ririn secara tiba-tiba tapi tepat sasaran.
Gerakan tangan Puann langsung terhenti sejenak. Ia diam tanpa menjawab, namun kalimat itu terus berputar berulang kali di dalam kepalanya. Ia pun menyadari kebenaran ucapan itu, sebab sejak menjauh dari Bahlil, beban di dadanya makin berkurang. Perhatian kecil dari Gibran juga membuatnya sadar bahwa hidupnya masih memiliki warna lain selain kesedihan.
Di sisi lain, Bahlil menatap layar ponselnya dengan pandangan kosong. Ia baru saja menerima kabar dari seseorang yang melihat Puann pada sore itu. Kabar itu menyebutkan Puann tampak tenang, terlihat lebih sehat, dan terasa sangat nyaman saat ditemani oleh laki-laki lain.
Bahlil duduk bersandar di dinding ruang tengah. Ia menatap ruangan yang kini terasa asing, kosong, dan tak bernyawa. Semua benda masih berada di tempatnya dan tetap rapi. Namun, kehangatan serta suasana hidup yang biasa ada sudah lenyap sejak Puann pergi.
Ia menghela napas panjang, lalu menatap meja makan di hadapannya. Dulu, di sana selalu tersedia teh hangat, terdengar suara obrolan, dan tawa setiap kali jam makan tiba.
Sekarang, meja itu kosong, dingin, dan sepi. Tidak ada apa-apa selain kesunyian yang terasa sampai ke tulang.
"Kenapa baru sekarang aku sadar?" gumam Bahlil pelan, suaranya nyaris tak terdengar. "Dulu aku sering kesel kalau kamu ngomel, atau pura-pura budek pas kamu ngajak ngobrol. Sekarang... Aku rela dengerin kamu marah seharian, asal kamu ada di sini."
Bahlil bangkit berdiri, lalu berjalan pelan menyusuri setiap ruangan. Ia seakan sedang menelusuri jejak terakhir wanita yang sangat dicintainya itu.
Ia masuk ke kamar tidur. Kasur dan bantal milik Puann masih ada di posisi semula, tetapi aroma tubuhnya yang menenangkan sudah hilang sama sekali. Di atas meja rias, masih tertinggal sisa bedak dan sisir bekas pakainya. Benda-benda kecil itu kini menjadi barang paling berharga yang tersisa di sana.
Ia teringat kebiasaan Puann yang selalu menyalakan lampu kamar hingga larut malam jika ia belum pulang. Wanita itu selalu menunggu meski kelopak matanya sudah terasa sangat berat.
Dulu, Bahlil menganggap hal itu sesuatu yang biasa saja, sekadar tanda cinta seorang istri kepada suaminya. Sekarang, ia paham bahwa hal itu merupakan bentuk kesetiaan besar yang telah disia-siakannya hanya karena gengsi dan rasa takut sendiri.
"Aku takut banget, Puann. Takut beneran kehilangan kamu," bisiknya ke udara kosong, berharap suaranya terbawa angin.
Pikiran Bahlil terasa sangat kacau. Ia yakin dapat membuktikan bahwa video itu palsu serta Arifatul dan Citra yang telah menjebaknya. Namun, rasa takutnya jauh lebih besar. Ia khawatir meski kebenaran terungkap, luka di hati Puann sudah terlalu dalam untuk disembuhkan.
Ia tidak tahan lagi diam di rumah ini lebih lama. Ia harus bertemu Puann, berbicara, dan memohon sekali lagi meski menyadari peluangnya sangat kecil. Bahlil mengambil kunci mobil, lalu bergegas keluar. Tekadnya sudah bulat; ia tidak akan pulang sebelum berhasil melihat wajah wanita itu secara langsung.
...***...
Sesampainya di depan rumah Ririn, jantungnya berdebar kencang. Ada rasa harap bercampur takut yang menyesakkan dada. Ia melangkah mendekat, lalu mengetuk pintu dengan pelan. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka sedikit dan menampakkan wajah Ririn yang tampak dingin dan tegas.
"Apa lagi, Bahlil? kamu tahu kan Puann ogah ketemu siapa-siapa, apalagi sama kamu?" ucap Ririn langsung tanpa basa-basi.
"Aku cuma mau ketemu sebentar aja, Rin. Tolong kasih tahu dia aku ada di sini," pinta Bahlil dengan nada memelas. "Nggak lama kok, cuma ada dua hal penting. Demi Tuhan, aku mohon banget."
"Nggak bisa. Puann udah bilang, ga bolehin kamu masuk," jawab Ririn ketus. "Dia lagi butuh ketenangan, kehadiran kamu malah bikin dia makin sakit hati. Pulang aja ya, udah cukup kamu bikin dia hancur sampai kayak gini."
Ririn hendak menutup pintu, tetapi Bahlil langsung menahannya dengan tangan. Wajahnya terlihat sangat putus asa.
"Tunggu! Satu detik aja! Bilangin aku ada di sini. Kalau dia tetep nggak mau keluar, aku janji bakal pergi dan nggak ganggu lagi sampai hari sidang!" serunya.
Ririn menghela napas kasar. Ia menatap Bahlil dengan pandangan kasihan namun tetap tidak mau mengalah.
"Tunggu di sini. Aku tanyain dulu, tapi jangan ngarep muluk-muluk ya."
Beberapa menit berlalu. Pintu terbuka kembali, Ririn menggeleng pelan dengan wajah pasrah.
"Dia bilang pergi aja. Nggak mau lihat wajah kamu sekarang atau sampai kapan pun. Katanya semuanya udah selesai."
Kalimat itu menghantam dada Bahlil. Ia mundur selangkah, kakinya terasa lemas dan tak bertenaga. Tanpa kata-kata lagi, ia mengangguk tanda mengerti, lalu membiarkan pintu tertutup rapat tepat di depan matanya.
Bahlil tidak langsung pergi dari tempat itu. Ia bersembunyi di balik pohon besar di seberang jalan, berharap dapat melihat sekilas bayangan Puann lewat jendela.
Ia berdiri diam sambil menahan dingin dan kelelahan. Matanya terus terpaku pada bangunan itu tanpa berkedip sama sekali.
Tak lama kemudian, pintu depan terbuka kembali. Kali ini, Puann yang keluar sendiri, membuat jantung Bahlil berdegup makin cepat. Harapannya sempat menyala sebentar, namun langsung padam saat ia melihat ada orang lain yang ikut keluar bersamanya.
Laki-laki itu adalah Gibran.
Gibran berjalan di samping Puann sambil membawa jaket dan tas milik wanita itu. Mereka berdiri di teras dan mengobrol dengan santai, meski suaranya tidak terdengar dari jarak jauh. Lalu, Bahlil melihat pemandangan yang membuat darahnya mendidih sekaligus hatinya hancur berkeping-keping.
Puann tersenyum. Bukan senyum terpaksa atau dibuat-buat, melainkan senyum kecil yang tulus dan tenang. Senyum yang sudah sangat lama tak pernah ia lihat sejak masalah datang bertubi-tubi.
Ia melihat Gibran tertawa pelan sambil mengusap lengan Puann, sedang menenangkannya. Sebagai balasan, Puann mengangguk sambil tersenyum dengan ekspresi yang sama persis.
Di mata Puann, tidak terlihat lagi rasa marah atau sedih saat bersama laki-laki itu. Yang tampak hanya kedamaian, sesuatu yang selama ini gagal diberikan oleh Bahlil.