NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Tuan Ares

Istri Rahasia Tuan Ares

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Aliansi Pernikahan / Pengganti / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: SkySal

Kekasih Lyra tiba-tiba menghilang seminggu sebelum pernikahan, membuat Lyra frustrasi apalagi kedua keluarga sepakat mengganti pengantin pria demi mempertahankan keuntungan masing-masing.

Lyra ingin menolak apalagi pengantin prianya adalah Ares-Kakak kekasihnya yang terkenal arogan, licik, penuh tipu muslihat, orang-orang menyebutnya Pangeran kegelapan. Selain itu, Ares juga memiliki kekasih seorang model papan atas. Akan tetapi, baik perasaan Lyra ataupun Ares tidak penting di depan keuntungan kedua keluarga sehingga keduanya terpaksa menikah meski menjadi pernikahan rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tiada Rasa Yang Salah

“Apa aku menggaji manusia atau patung bobrok?”

Semua orang di ruang rapat langsung tertunduk dalam melihat kemarahan Ares yang meluap, tak ada yang berani mengangkat wajah apalagi bersuara saat Ares melempar semua berkas laporan yang diterima diiringi caci maki yang seakan tiada habisnya.

“Kalau otak kalian nggak bisa digunakan dengan baik, sumbangkan saja!”

Lian menghela napas berat melihat emosi sahabatnya yang tak terkendali itu. Sementara Vano hanya bisa meringis. Sudah sekian tahun menjadi asisten pribadi Ares, ini kali pertama ia melihat tuannya itu mengamuk seperti dirasuki setan.

“Untuk saat ini sampai di sini saja,” seru Lian sebelum keadaan semakin kacau. “Kalian kembali bekerja.”

Secepat kilat semua orang di ruang rapat bergegas pergi, bahkan ada yang berlari karena tidak sanggup berada dalam satu ruangan dengan sang CEO yang sedang murka.

“Gila, Tuan Ares kerasukan iblis dari neraka apa?”

Mereka menggerutu saat sudah berada di luar ruang rapat.

“Selama ini dia memang dingin sama semua karyawannya, tegas dan nggak bersahabat. Tapi ini kali pertama dia marah-marah seperti orang kesetanan.”

“Aku juga heran, ruang rapat yang ber-AC sampai terasa panas gara-gara auranya yang menakutkan.”

Para staf bergidik ngeri saat kembali mengingat kemarahan sang CEO yang meledak, bahkan ada yang merasa hampir pingsan karena aura intimidasi yang pekat.

Sementara di ruang rapat, Vano segera memungut berkas-berkas yang berserakan sambil memebri isyarat pada Lian untuk menenangkan Ares.

“Ini pertama kalinya kamu nggak bisa mengendalikan emosi, Ares. Ada apa sih?”

Vano mendengkus pertanyaan basa-basi Lian, padahal ia sudah memberi tahu semua yang terjadi pada pria itu, tentang Ryan yang kembali dan Lyra yang terus berjaga di sisinya.

Ares sedang terbakar cemburu.

“Pecat semua orang yang memberikan laporan bermasalah hari ini!” Ares tidak lagi berteriak, tetapi nada bicaranya dingin menusuk, ia beranjak berdiri sambil membenarkan jasnya.

“Kamu sendiri yang merekrut orang-orang itu. Kamu tahu mereka sebenarnya sangat kompeten, bisa diandalkan.”

Ares terdiam.

Semua staf penting perusahaan memang direkrut langsung olehnya, Ares harus memastikan perusahaannya tidak menggaji orang yang hanya memiliki kemampuan standar. Hanya saja, saat ini ia benar-benar diliputi amarah yang tidak bisa dikendalikan. Ares ingin sebuah pelampiasan yang memuaskan, meski hanya untuk sementara.”

“Ryan belum sadar, kan?” tanya Lian yang tak Ares tanggapi. “Kalau memang kamu takut dia merebut lyra, buat saja dia nggak sadar selamanya.”

 “Aku bukan pembunuh,” kata Ares dengan tenang.

“Oh ya?” Lian berseringai dengan sorot mata yang mengejek. “Malaikat maut pasti sedang menertawakanmu sekarang.”

“Tuan Lian!” tegur Vano kesal. Saat ini seharusnya Lian menenangkan Ares, bukan justru memprovokasinya.

“Mau ke mana, Tuan?” tanya Vano saat Ares mengambil kunci mobilnya.

“Ke rumah sakit.”

“Menyetir sendiri?”

“Iya, ada tugas lain yang harus kamu kerjakan sekarang.”

*****

“Kamu lagi mimpi indah, ya? Betah banget tidurnya.”

Tiga hari sudah berlalu semenjak Ryan ditemukan, tetapi pria itu tidak kunjung membuka mata, membuat Lyra begitu sedih. Tapi tak ada yang bisa dia lakukan selain menemani Ryan di sisinya, merawatnya dengan penuh kasih sayang.

Lyra mengambil alih tugas perawat untuk mengelap tubuh pria itu, bahkan mengganti pakaiannya. Bagi Lyra, sebagai kekasih sudah seharusnya ia melakukan semua hal itu tanpa sadar bahwa apa yang dilakukannya melukai Ares.

Tidak … bukan hanya melukai Ares tapi menghancurkannya berkeping-keping.

Lyra begitu setia menemani Ryan selama tiga hari di rumah sakit, bahkan ia sampai tidak bekerja. Sedangkan Ares juga begitu setia menemani Lyra, mencemaskannya yang tidak tidur dengan baik dan tidak makan tepat waktu.

“Sudah jam setengah dua.” Ares meletakkan rantang di atas nakas. Walaupun nada bicaranya tenang, tetapi ketenangan itu seperti air di laut, menyembunyikan ancaman berbahaya yang siap menenggelamkan. “Kamu nggak sarapan tadi, setidaknya jangan lewatkan makan siang.”

“Aku nggak lapar,” kata Lyra seraya mengancingkan baju Ryan, tindakan kecil yang justru memicu kobaran api di dalam hati Ares. Mungkin bagi Lyra, keduanya hanya terikat pernikahan bisnis, tidak ada perasaan sedikit pun, mereka bebas melakukan apa pun dengan siapa pun. Tapi bagi Ares, Lyra adalah istrinya dan ia adalah suami sah wanita itu.

Namun, apa yang bisa dia lakukan sekarang dengan status tersebut?

Memarahi Lyra, memintanya menjauhi Ryan ataukah … membuat Ryan tidak akan pernah sadar selamanya?

“Tapi kamu bisa sakit, Lily.” Ares membujuk dengan lembut seraya mengusap kepala wanita itu. “Kalau memang Ryan mencintai kamu, dia pasti nggak mau kamu sampai nggak makan hanya untuk menjaganya, kan?”

Lyra mengangguk sambil tersenyum simpul. “Dulu dia memang selalu mengingatkanku untuk makan tepat waktu, bahkan Ryan sering memasak untukku. Aku nggak nyangka ternyata masakannya enak, kamu pernah coba?”

Ares hanya menyunggingkan senyum samar mendengar penuturan Lyra. “Oh ya, kamu udah makan?”

Ares menggeleng lemah. Tiga hari ini ia sering melewatkan makan, jika bukan karena Vano yang terus memaksanya memakan sepotong roti setiap hari, mungkin Ares sudah tumbang karena kelaparan.

Mau bagaimana lagi, nafsu makannya langsung musnah karena Lyra selalu sibuk menjaga cinta pertamanya.

“Kalau gitu makan bersama.”

Tentu saja Ares mengangguk dengan senang hati. Keduanya makan bersama di sofa, bahkan tanpa segan Ares mengelap sisa makanan di bibir Lyra dengan jarinya. “Aku bisa sendiri,” kata Lyra canggung apalagi saat ia melihat Ares menjilat jarinya.

“Kalau aku bisa melakukannya untukmu, kamu nggak perlu melakukannya sendiri.”

“Aku bukan anak kecil. Selain itu, orang tuaku sendiri nggak memanjakan aku, jadi aku nggak terbiasa dimanja oleh siapa pun,” tutur Lyra tanpa sadar yang Ares maksud bukan hanya sekadar membersihkan mulutnya.

Pria itu sangat rela melakukan apa pun untuknya, bahkan meski melanggar hukum atau melawan takdir.

“Oh ya, Ares. Bagaimana penyelidikanmu tentang kecelakaan Ryan? Sudah sampai mana?”

“Saat ini kami hanya tahu Ryan mengalami kecelakaan tunggal, mobil yang dia pakai plat nomornya palsu. Jadi kalau mau tahu apa yang sebenarnya terjadi, sepertinya kita hanya bisa bertanya pada Ryan.”

Lyra mengalihkan pandangannya pada Ryan. “Memang banyak kejanggalan,” gumamnya sedih. “Kamu bilang kecelakaan itu terjadi tanggal sepuluh tapi Ryan menghilang sejak tanggal delapan. Dua hari sebelum kecelakaan, apa kamu tahu di mana dan apa yang Ryan lakukan?”

Ares menggeleng sambil mengunyah makanannya dengan tenang.

“Hilang lalu kecelakaan. Jangan-jangan sebelumnya dia diculik?” Lyra menerka-nerka sambil mengingat kembali kejadian sebelum calon suaminya itu hilang bak ditelan bumi. “Bisa jadi ‘kan dia diculik, terus disekap. Lalu Ryan melarikan diri dan mencuri mobil milik penculiknya terus dia kecelakaan. Makanya plat mobilnya palsu, dia juga nggak bawa dompet, nggak ada kartu identitas yang polisi temukan.”

Ares manggut-manggut mendengar kesimpulan yang Lyra berikan, ia kembali mengusap kepala Lyra lalu memujinya. “Cerdas juga kamu, Lily.”

Lyra mendelik kesal mendengar Ares masih tak berhenti memanggilnya Lily. “Lyra, Ares. Namaku Lyra, hanya Lyra. Jadi panggil aku Lyra, oke? Satu lagi, jangan mengusap kepalaku seperti anak kecil. Aku sudah 25 tahun.”

“Segitu nggak sukanya aku panggil Lily?”

“Nggak suka. Kamu membuat aku merasa seperti pengganti Liana. Kamu manggil dia Lily juga?”

Ares merengut, seperti anak kecil yang dituduh mencuri permen. “Sembarangan, mana ada aku manggil dia Lily.”

“Terus kenapa kamu manggil aku Lily alih-alih Lyra?”

“Hanya terbiasa,” jawab Ares setengah menggumam membuat Lyra mendengkus. “Malam ini kamu pulang, ya?”

Lyra menggeleng tanpa ragu. Sejak Ryan di bawa ke rumah sakit itu, ia hanya pulang untuk mandi dan berganti pakaian, wanita itu menginap di rumah sakit hanya karena ingin ada di sisi Ryan ketika kekasih hatinya itu membuka mata.

Ares langsung mengepalkan tangan, rahangnya mengetat menahan amarah yang perlahan menguasai jiwanya. Istrinya lebih memilih menjaga pria lain dari pada pulang ke rumah bersama dengannya.

Tapi siapa yang bisa disalahkan?

Dalam sebuah hubungan asmara, yang tidak dicintailah yang merupakan orang ketiga.

“Apa aku cuma patung bagimu, Lyra?” desisnya yang membuat Lyra tertegun, apalagi saat menyadari ada luka di mata suaminya itu.

“Apa maksudmu, Ares?”

“Kamu … nggak bisakah kamu menghargaiku sebagai suamimu sedikit saja? Hanya sedikit, Lyra. Aku mohon.” Ares memohon dengan tatapan sayu, sesuatu yang tidak pernah dia lakukan seumur hidupnya.

Lyra menarik napas panjang, ia menatap Ares dan Ryan secara bergantian. Kedua pria di hadapannya ini memang seharusnya ia hargai dengan baik. Ryan sebagai kekasih yang ia cintai dan Ares yang ia seret dalam masalah pribadinya.

“Maafkan aku, Ares,” ucap Lyra dengan tulus. “Aku menyeretmu dalam masalah pribadiku, aku minta maaf dari lubuk hatiku yang paling dalam tapi aku nggak bisa benar-benar menganggapmu suami. Aku hanya mencintai Ryan, aku bahkan masih ingin menikah dengannya.”

Seperti ada ribuan anak panah yang menusuk tepat di jatung Ares mendengar pernyataan Lyra yang terucap dengan begitu lancar. Dadanya sesak hingga ia merasa tak bisa bernapas.

Ares tahu, tidak mungkin bisa menumbuhkan sebuah rasa dalam hati Lyra hanya dalam waktu sesingkat ini. Tapi dengan bodohnya ia tetap berharap dengan sepenuh hati.

“Saat Ryan sadar nanti, kita bisa membicarakan perceraian.”

“Apa?” Ares mendesis tak percaya, sorot mata yang biasanya dingin kini tampak kosong. “Kamu bercanda?”

Lyra menggeleng lemah. Baginya, pernikahan yang tak dilandaskan perasaan memang harus segera diakhiri. Jika pun nanti kedua keluarga menentang karena masalah bisnis, kali ini Lyra siap melawan mereka.

“Kenapa ….” Ares menekan dada Lyra dengan telunjuknya berkali-kali, matanya memerah dan berembuh. “Kenapa hatimu kejam sekali, Lily?”

1
Indra Kusuma
kayak nya si Ares ini pemilik dahar harta keluarga jatmika dehhh🤣
Arsyad Algifari.
jadi Ares anak kandung tuan tama
Mei 71
Apakah Ryan anak kandung juga?
Mei 71
Hubungan saling menguntungkan tapi tidak tulus...
🌺 Tati 🐙
wah ternyata ares anak kandung,...sampe sejauh ini belum ketebak alurnya,masih banyak pertanyaan😅
@ˢ⍣⃟ₛåÐïñÐå💜⃞⃟𝓛ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝✰
nah kan Ares anak dari tuan Tama,

duh giliran ada gratisan langsung ok hehwhe
Nata Abas
lanjut kak penasaran lanjutan y
Arsyad Algifari.
seperti ada dendam pribadi Ares pada keluarga Ryan
yulithong
tambah penisirin kita....lanjut kak
Milla
Lanjut thorrr cerita mu bagus kok g banyak yang baca yaa ??? 🥺😔 apa belum tau aja para pemirsah pembaca ini yaaaa 😔
Mei 71
Keren Lyra 👍
Kudukung kamu..
@ˢ⍣⃟ₛåÐïñÐå💜⃞⃟𝓛ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝✰
ada dendam apa kamu sama kluarga Ryan, kurasa bukan hanya kamu mencintai lyra ,, TPI ada hal lain di balik semua ini
Indra Kusuma
kayak nya novel ini bertema balas dendam yg tersebung dehh ,,, curiga nya GK habis"🤭
🌺 Tati 🐙
yang dikira baik belum tentu baik,yg dikira jahat blm tentu jahat...yg pasti aku penasaran di balik semua ini...lanjut
Arsyad Algifari.
gimana ini ly yang satu suamimu yang satu mantanmu .tapi sebaik baiknya Ryan dia tetap mantanmu
apa iya . hilangnya Ryan hari itu ulah ortunya lira
💥💚 Sany ❤💕
Jangan goyah ya Ly...., ingat apapun dan gimanapun sikap Ryan ke kamu tetap aja dia mantan.
💥💚 Sany ❤💕
Waduh... gawat ni, yang satu merasa masih kekasih Lyra dan yang satu emang suaminya.
💥💚 Sany ❤💕
Lyra dah mulai ada rasa ne ma Ares, cuma blom nyadar aja.
💥💚 Sany ❤💕
Balas aja Ly...., tangan ada nanti Ares rezeki banyak 😂😂😂
💥💚 Sany ❤💕
suka banget ma karakter Sena, enerjik dan lucu 😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!