NovelToon NovelToon
Driven By You

Driven By You

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Kensington Valerio (22th) adalah seorang "Raja Pesta" yang sinis terhadap cinta, namun terobsesi mengoleksi ribuan novel romansa.

Baginya, cinta hanyalah delusi dengan alur membosankan yang selalu bisa ia tebak ending-nya.

Di tengah kejenuhannya akan kepalsuan dunia, hadir Audrey Hepburn (19th)—mahasiswi hukum tingkat satu yang kaku, ambisius, dan membawa prinsip kesucian yang keras kepala.

Audrey bukan sekadar junior di fakultasnya, ia adalah variabel acak yang mengacaukan prediksi Kensington.

Saat rahasia pengkhianatan mulai mengikis pertahanan Audrey, Kensington justru merasa tertantang untuk menuliskan naskah hidupnya sendiri.

Apakah Audrey akan berakhir menjadi sekadar koleksi di rak bukunya, ataukah ia adalah satu-satunya wanita yang mampu memberikan Kensington sebuah akhir yang tak terduga?

Di arena balap liar dan koridor kampus yang dingin, Kensington mulai mempertanyakan: apakah cintanya juga akan menjadi klise, atau sebuah tragedi yang tak terlukiskan ?

🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#1

Malam itu, udara di pinggiran kota terasa lebih sejuk dari biasanya. Angin sepoi-sepoi menyusup melalui celah jendela kamar Audrey Hepburn yang setengah terbuka, membawa aroma tanah basah dan melati yang menenangkan. Namun, ketenangan di luar sangat kontras dengan hiruk pikuk di dalam kamar berukuran empat kali empat meter itu.

Audrey, gadis berusia sembilan belas tahun dengan rambut yang diikat asal, sedang berlutut di depan sebuah koper besar berwarna biru dongker.

Tangannya dengan cekatan melipat kemeja-kemeja flanel dan kaos polos, menyusunnya sedemikian rupa agar setiap inci ruang di dalam koper terpakai maksimal.

Besok adalah hari besar. Hari yang telah ia mimpikan sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ia akan berangkat menuju Universitas Los Angeles, institusi terbaik yang pernah ia bayangkan dalam daftar ambisinya.

"Drey, jangan lupa powerbank-mu, sayang," sebuah suara lembut memecah keheningan. Ibunya berdiri di ambang pintu, bersandar pada kusen kayu yang catnya sudah mulai mengelupas. Matanya menatap sang putri dengan campuran rasa bangga dan berat hati yang kentara.

Audrey mendongak, menyeka keringat tipis di dahi dengan punggung tangannya. Ia memberikan senyum kecil yang menenangkan. "Sudah, Bu. Aku sudah menaruhnya di ransel kecilku. Semuanya sudah siap."

Ibunya melangkah masuk, duduk di tepi ranjang Audrey yang sudah tampak kosong tanpa seprai. "Ibu hanya ingin memastikan. Kau tahu kan, di sana nanti kau akan sendirian. Tidak ada yang mengingatkanmu untuk makan atau mengisi daya ponsel."

"Aku tahu, Bu," Audrey bangkit dan memeluk bahu ibunya. "Ibu sudah mendidikku menjadi gadis yang mandiri, bukan? Aku akan baik-baik saja."

Keesokan paginya, suasana rumah sederhana itu terasa berbeda. Cahaya matahari pagi yang keemasan menyirami teras rumah, di mana sebuah mobil sedan perak sudah terparkir rapi.

Pintu kemudi terbuka, dan seorang pemuda jangkung keluar dengan langkah tegap. Sander, kekasih Audrey, datang lebih awal dari yang dijanjikan.

Sander tersenyum lebar saat melihat Audrey keluar membawa tas jinjing terakhir. Tanpa banyak bicara, ia mengambil alih tas tersebut dan menyusunnya ke dalam bagasi mobil. Gerakannya efisien, menunjukkan betapa seringnya ia membantu Audrey belakangan ini.

"Siap untuk memulai hidup baru di kota besar?" tanya Sander sambil menutup pintu bagasi dengan bunyi bum yang mantap.

Audrey menghela napas panjang, menatap rumah kecilnya untuk terakhir kali. "Antara siap dan takut, San."

Perjalanan dua jam menuju Los Angeles terasa begitu singkat namun penuh emosi. Ibunya duduk di kursi depan di samping Sander, sesekali memberikan instruksi jalan meski Sander sudah menggunakan GPS.

Di kursi belakang, Audrey hanya menatap pemandangan yang berubah dari pepohonan hijau menjadi hutan beton dan papan reklame yang menjulang tinggi.

Akhirnya, mobil itu berhenti di depan sebuah gedung asrama megah dengan arsitektur modern.

Universitas Los Angeles menyambut mereka dengan kemegahan yang sedikit mengintimidasi. Sander dan ibunya bahu-membahu membawakan koper-koper Audrey hingga ke depan pintu kamar nomor 302.

Sander memutar kunci yang diberikan oleh bagian administrasi. Saat pintu terbuka, sebuah pemandangan tak terduga menyambut mereka.

Gadis itu menoleh, matanya yang tajam dihiasi eyeliner hitam pekat menatap Audrey dari ujung kaki hingga ujung kepala.

"Kau teman sekamarku?" tanyanya dengan suara serak yang khas.

Audrey sempat terpaku sejenak, namun ia segera menguasai diri. "Ah, iya. Hallo, namaku Audrey."

"Vivian," jawab gadis itu singkat, lalu kembali mengisap rokoknya tanpa rasa bersalah.

Di belakang Audrey, wajah sang ibu berubah drastis. Matanya membelalak menatap kepulan asap dan gaya santai Vivian.

Bagi seorang ibu yang membesarkan putrinya dalam lingkungan yang disiplin dan akademis, Vivian tampak seperti peringatan bahaya yang nyata. Pengaruh buruk, pikir sang ibu seketika.

Tanpa berkata apa-apa, sang ibu menarik lengan Audrey keluar dari kamar, kembali ke koridor yang sepi.

"Drey, ini tidak bisa dibiarkan. Gadis itu... dia merokok di dalam ruangan! Ibu tidak mau kau terpengaruh. Ayo, kita ke kantor administrasi sekarang. Ibu akan mengajukan perpindahan kamar."

Audrey menahan langkah ibunya. Ia menatap mata wanita yang sangat dicintainya itu dengan saksama. "Tidak apa-apa, Bu. Pengurusan perpindahan kamar akan merepotkan sekarang. Ini hari pertama, semua orang sedang sibuk."

"Tapi Drey—"

"Aku bisa jaga diri, Bu," potong Audrey lembut namun tegas. "Selama ini aku bisa mengatasi pergaulan pertemananku. Ibu tahu itu. Merokok adalah pilihannya, tapi itu tidak akan mengubah siapa aku."

Sang ibu terdiam, menimbang-nimbang keberanian di mata putrinya. Akhirnya, ia menghela napas kalah. "Baiklah. Aku percaya padamu, sayang. Tapi tolong, jaga dirimu baik-baik. Jangan stres dengan pelajaran. Dan satu hal lagi..." Ibu meremas tangan Audrey. "Ibu tidak mau mendengar kata kegagalan. Kau adalah harapan keluarga kita."

Audrey mengangguk pelan, meski kata 'kegagalan' itu terasa seperti beban seberat satu ton yang tiba-tiba jatuh ke pundaknya. "Aku mengerti, Bu."

Sementara itu, di dalam kamar, Sander masih sibuk meletakkan koper terakhir Audrey di sudut ruangan. Ia mengabaikan aroma rokok yang memenuhi kamar itu, fokus pada tugasnya.

Vivian memperhatikannya dengan minat yang tiba-tiba bangkit. "Siapa namamu?" tanyanya sambil menyandarkan punggung ke dinding.

"Sander," jawabnya singkat tanpa menoleh.

"Kau kakaknya Audrey?"

Sander berhenti sejenak, lalu menatap Vivian dengan tatapan datar. "Tidak, aku kekasihnya."

Vivian menaikkan alisnya, tampak sedikit terkejut namun kemudian hanya mengangguk pelan. Ia meneruskan hembusan nikotinnya, membiarkan suasana hening kembali menyelimuti ruangan sampai Audrey dan ibunya masuk kembali.

"Sander, ayo kita pulang sekarang. Kita harus sampai rumah sebelum gelap," ajak sang ibu yang sudah tampak sedikit lebih tenang meski masih menjaga jarak dari Vivian.

Sander berdiri, mendekati Audrey. Ia menggenggam tangan kekasihnya itu erat-erat. "Jaga hatimu, sayang," bisiknya.

Audrey tersenyum tulus, sebuah senyuman yang selama ini menjadi penyemangat bagi Sander. "Kau juga. Fokuslah pada ujianmu."

Sebelum benar-benar pergi, Sander menarik Audrey ke dalam pelukan singkat dan mencium keningnya, lalu berlanjut ke sebuah ciuman perpisahan yang manis di depan pintu.

Pintu tertutup, dan tiba-tiba kamar itu terasa jauh lebih luas sekaligus lebih asing.

Vivian mematikan puntung rokoknya di asbak kecil di atas nakas. "Kekasihmu sangat tampan," komentarnya tiba-tiba.

Audrey tersenyum kecil sambil mulai membuka kopernya. "Ya, dia juga sangat baik."

"Dia kuliah di mana? Jurusan apa?" tanya Vivian lagi, rasa ingin tahunya mulai muncul.

"Dia... dia sebenarnya belum kuliah. Dia masih kelas 12 High School," jawab Audrey agak ragu.

Mata Vivian membelalak. Ia tertawa kecil, suara tawa yang terdengar jujur. "Wah, seleramu boleh juga. Memelihara 'brondong', eh?" Ia kemudian menyodorkan bungkus rokoknya ke arah Audrey. "Mau?"

"Tidak, terima kasih. Aku tidak merokok," tolak Audrey halus.

Vivian mengedikkan bahu, tidak merasa tersinggung. "Baguslah. Lebih banyak untukku." Dan setelah itu, obrolan mereka terhenti. Vivian kembali sibuk dengan ponselnya, sementara Audrey mulai menata buku-bukunya di rak kayu di atas meja belajar.

Sore harinya, cahaya jingga mulai masuk melalui celah gorden kamar. Audrey baru saja selesai merapikan tempat tidurnya ketika Vivian bangkit dari rebahannya.

Gadis pirang itu meregangkan tubuhnya, menampakkan beberapa tato kecil di lengannya yang tertutup jaket tadi pagi.

"Hei, Audrey," panggil Vivian. "Mau ke pesta denganku malam ini?"

Audrey menoleh, sedikit terkejut dengan ajakan yang begitu mendadak. "Pesta? Di mana?"

"Hanya pesta selamat datang di rumah persaudaraan dekat sini. Tidak terlalu gila, tapi cukup untuk merayakan hari pertama," Vivian menjelaskan.

Ternyata, Vivian adalah senior Audrey. Ia berada satu tingkat di atasnya, menjalani tahun keduanya di universitas ini. "Anggap saja ini inisiasi dari kakak kelasmu."

Audrey terdiam sejenak. Pikiran tentang buku-buku yang harus dibacanya dan pesan ibunya tentang 'jangan gagal' terlintas di kepalanya. Namun, ia juga sadar bahwa ia perlu bersosialisasi. Ia ingin berteman baik dengan Vivian agar suasana kamar ini tidak canggung selama Empat tahun ke depan.

"Boleh," jawab Audrey akhirnya sambil mengangguk. "Aku mau."

Mata Vivian berbinar, ia tampak sangat bersemangat mendengar jawaban Audrey. Ia melompat dari tempat tidurnya dan menepuk bahu Audrey dengan keras.

"Bagus! Begitu dong!" seru Vivian dengan suara lantang. "Ayo, girl! Kita akan mengguncang lantai dansa malam nanti! Jangan pakai baju yang terlalu 'kutu buku', aku akan meminjamkanmu sesuatu jika kau butuh!"

Audrey tertawa kecil, merasa bahwa mungkin, kehidupan universitasnya tidak akan semembosankan yang ia bayangkan, meskipun itu berarti ia harus sedikit keluar dari zona nyamannya. Malam pertama di Los Angeles baru saja dimulai.

...****************...

...Happy reading dear 🌷🌷🌷...

1
Zahra Alifia Hidayat
Yo bapakmu itu yg jadi nyamuk raksasanya max
Ros 🍂: wkwkwk🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
untung tersesatnya di toilet toko perhiasan coba klo tersesatnya di kedai kopi late alamat GK tau jalan pulang wkwkwk🤣🤣🤣
Ros 🍂: Hahhaa bahaya kalo nyasar kesana ya kak🤣🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Astagaaa,, kmna ken yg dingin dan angkuh itu dreyyy,,, knp skrng dia sengklek,,, 🤣
Ros 🍂: mabuk cinta kak🤣🤣🤣🤣😘
total 1 replies
Almeera
tinggalin jejak duluuuuuuuu yaaaa nyicil aku maraton kerja duluuu
Ros 🍂: Hehe siap Kak🫶🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
ingat Ken segera lenyapkan si kopi late lagian jadi cowok tuh harus bisa mengendalikan senjatanya ini malah tercelup ke kopi late🤭
Ros 🍂: Late Vera kak, Bukan Latte Coffee 🤣🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
akhirnya ,,,terharu aku thor😍😍😍
Ros 🍂: Huhuhu semoga Suka ya kak🫶🥰
happy reading 😍
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
pantesan Ken gendeng wong bapaknya klo ngasih saran diluar Nurul moga kegendengan mereka menurun ke max kelak🤭🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: hahhaa Daddy Felix asline kalem kak🤭🤣
total 1 replies
Murnia Nia
lagi seru ni ceritanya
Ros 🍂: ma'aciww komentar nya ya kak🫶
total 1 replies
Murnia Nia
lanjut thor
Ros 🍂: siap kak🫶
total 1 replies
Thee-na Tooth
puas bacanya kak,,,
terimakasih berkali² double up.
besuk lagi up nya kak,,,
kesehatannya di jaga
semangat 💪
Ros 🍂: Ma'aciww kak 🫶🫶😘
semoga kakak juga sehat selalu 🥰
total 1 replies
winpar
lgi kk 💪💪💪💪
Ros 🍂: sama-sama kak🫶
total 3 replies
Thee-na Tooth
ayoo up lagi🤭
nunggu kejutan dari kakak cantik 💪
Ros 🍂: Besok ya kak🫶 ditunggu 😍
total 1 replies
Thee-na Tooth
Alurnya bagus banget,,,
dari pemilihan kata kata bagus, mudah di pahami. Alur kata tidak melibet.
Padahal novel e bagus banget tapii kenapa peminat bacanya sedikit ya
Aku doain ya kak,, semoga novel e bisa banyak yang baca, bisa masuk rank
Ros 🍂: Ma'aciww banyak kak🫶🥰
sehat selalu ya kak😘
total 1 replies
Thee-na Tooth
semangat up kakak,,,
insha Allah setiap baca, aku kasih kopii. biar nulisnya tambah semangat, dan nggak ngantuk 🤭
Ros 🍂: uuuwwwwwhh 🫶🫶🫶
ma'aciww ya kak, sehat Selalu 🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
wes tambah gendeng ini Bang Ken,tak tunggu kegendenganmu selanjutnya Bang🤣🤣🤣
Ros 🍂: Nular Ya kak bucinnya 🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Gen valerio,, awal2 dingin, angkuh,, begitu bucin setrezzzz,,, bikin esmosi!! Mom kim&dad felix ceritanya judulnya apa thor??
Ros 🍂: hihihi Rekomendasi baca "The End Of Before" kak, Ndak kalah seru🥰
total 1 replies
nayla tsaqif
Gk knl cinta,, gk percaya cinta sekalinya cinta gueenndennng kowe ken,,, bisa2nya pengen jd simpanan,, emg mau di simpan dimna,, badanmu kn segedhe gaban,,, 😄
Ros 🍂: hahaha Dia senang jadi simpanan kak🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Q suka kalo para wanita2 itu sudah mengumpat,,, seperti briella kalo ngumpat fasih banget,,, "bringsiikkk" 🤣🤣
Ros 🍂: wkwkw iya kak🤭🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
gini ni klo jatuh cintanya datengnya terlambat jadi rada sinting kan?wes sak karepmu lah Ken Ken perutku kaku bacanya karena dirimu terlalu lawak.klo MBK Audrey ya GK mau mending jadi simpenanku Bang Ken🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: semoga suka cerita nya kak🫶
Happy reading 🥰
total 7 replies
Zahra Alifia Hidayat
kocak banget si Ken dulu aja mas bos bilangnya GK ada rasa sekarang malah teraudrey- audrey🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: ketok Gayung saja Kensington Kak🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!