Kaisar Pedang Langit, Cang Yue, menemui ajalnya di ujung bilah sang saudara seperguruan, Feng Jiantian. Alih-alih lenyap menjadi abu, jiwanya menyeberangi lautan reinkarnasi dan menetap di tubuh Yan Xinghe—seorang pemuda lumpuh dengan meridian hancur di Benua Tanah Spiritual. Tanpa keajaiban instan, Xinghe harus memulai dari titik terendah. Bermodalkan ingatan masa lalu dan tekad baja, ia merangkak naik, menahan penderitaan luar biasa untuk menempa ulang tubuh fana-nya. Ini adalah epik perjalanan darah dan keringat menembus benua demi benua, membelah Tiga Ribu Dunia, demi merebut kembali takhta keabadian yang terampas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28 ekstrasi kamar giok dan umpan berdarah di luar tembok
Ruang transaksi khusus di lantai dasar Paviliun Harta Karun Surgawi diselimuti oleh aroma wangi kayu gaharu penenang jiwa yang pekat. Yan Xinghe berdiri di tengah ruangan, wajah pucatnya setengah terselubung oleh bayangan caping bambu lebar. Di hadapannya, Master Alkimia Hong Yu secara pribadi menyerahkan sebuah kotak giok transparan berukir segel pelindung yang menyimpan botol kristal berisi *Cairan Air Mata Naga Emas*.
Xinghe menyerahkan cincin penyimpanan rampasan milik Jenderal Lei Zhan dan kantong sutra birunya ke atas meja giok transaksi. Petugas akuntansi paviliun menghitung takaran batu spiritual dengan gerakan konstan, mengangguk patuh pada Hong Yu setelah memastikan takaran tujuh ratus ribu keping batu spiritual tingkat tinggi tercukupi sempurna tanpa kurang sepeser pun koin.
"Transaksi tuntas, Penatua Lin," Hong Yu memberikan salam hormat yang dalam, matanya menatap tajam menembus bayangan caping Xinghe dengan rasa ingin tahu dan kewaspadaan yang tinggi. "Sebagai mitra dagang utama, saya berkewajiban memberikan satu peringatan gratis. Korps pembunuh Faksi Klan Mu bersama dengan Tetua Mo yang berada di Alam Pemadatan Inti telah mengosongkan ruang pribadi mereka sejak sepuluh menit lalu. Mereka telah memasang jaring laba-laba maut di sepanjang rute gerbang utara kota keluar. Paviliun kami bisa menyediakan jalur evakuasi rahasia melalui terowongan air bawah tanah jika Tuan memerlukan."
Xinghe menerima kotak giok cairan naga tersebut, memasukkannya ke dalam saku jubah hitamnya yang baru. "Jalur evakuasi air hanya untuk tikus penakut yang menyembunyikan wajah mereka dari matahari, Master Hong Yu. Singgahi serigala-serigala klan Mu itu dan katakan pada mereka; gerbang utara terlalu sempit untuk menjadi kuburan mereka semua. Aku akan menunggu kedatangan mereka di dataran tinggi *Lembah Maple Berdarah* di luar tembok kota satu jam dari sekarang."
Kata-kata tenang namun memancarkan arogansi kosmik mutlak tersebut membuat Hong Yu mematung kaku di tempatnya, tidak memercayai pendengarannya sendiri. Pemuda ini tidak hanya mengetahui jebakan pembunuhan yang menantinya, ia justru sengaja menentukan lokasi kuburan bagi para pengejarnya secara sepihak.
Setengah jam kemudian, di dalam ruang kultivasi rahasia penginapan kompleks pohon maple merah keluarga Yan.
Xinghe duduk bersila di tengah lantai batu giok yang memancarkan hawa hangat alami. Di hadapannya, botol kristal berisi Cairan Air Mata Naga Emas telah dibuka penutup kristalnya, melepaskan kepulan uap keemasan yang berputar menyerupai siluet naga mini yang memekek sunyi di udara kamar.
Ia tidak membuang waktu untuk mencicipinya sedikit demi sedikit; Xinghe menengadahkan kepalanya, menuangkan seluruh cairan kental berwarna emas murni itu langsung ke dalam mulutnya dalam satu tegukan tunggal yang berani.
*BLAAAM!*
Detik ketika cairan suci naga emas itu menyentuh dasar tenggorokannya, seluruh sistem kesadaran internal Xinghe seolah-olah dihantam oleh ledakan energi guntur kosmik berskala masif. Esensi cairan naga yang sarat akan hukum elemen logam dan tanah murni purba menyerbu masuk melalui dinding lambung, langsung menyebar membanjiri sembilan meridian petirnya dengan kebrutalan yang luar biasa merusak daging fana.
Keringat berwarna emas murni bercampur setetes darah segar menyembur keluar dari seluruh pori-pori kulit Xinghe, merendam jubah sutra hitamnya dalam hitungan detik. Wajah pucatnya menegang sekaku papan kayu, urat-urat keemasan menonjol keluar di pelipis dan lehernya seolah-olah ada puluhan cacing naga kecil yang sedang merangkak liar di balik kulitnya.
Rasa sakitnya berada di dimensi yang melampaui siksaan pembukaan meridian di perbatasan sebelumnya. Cairan Air Mata Naga Emas bertindak bagai lelehan cairan kuningan mendidih yang memaksa lautan energi Dantiannya untuk meluas, meretakkan dinding batas limit internalnya secara brutal untuk membangun ruang bagi penciptaan inti mistik sejati.
"Tekan! Tunduklah di bawah titahku!" jiwa sang Kaisar Pedang meraung keras di dalam inti kesadarannya, melepaskan seratus persen wawasan spiritual kaisarnya untuk mengunci pusaran energi naga tersebut.
Xinghe mengaktifkan putaran ketujuh dari *Seni Penempaan Tulang Sembilan Kesengsaraan: Rekonstruksi Inti Mistik Kosmik*. Sembilan Meridian Petir berlapis emas-biru miliknya dipaksa berputar berlawanan arah jarum jam, membentuk sebuah pusaran lubang hitam miniatur di pusat Dantian perut bawahnya.
Cairan naga emas yang liar dipaksa mengalir mengikuti pusaran lubang hitam tersebut, diperas, dipadatkan di bawah hantaman Niat Pedang absolut secara konstan selama setengah jam penuh. Struktur molekul energinya yang tadinya berupa gas spiritual cair yang tipis, kini dipaksa menyusut berkumpul membentuk satu titik partikel bundar yang padat menyerupai butiran mutiara perak-emas yang berkilau di tengah lautan energi.
*BOOM!*
Sebuah dentuman teredam yang memancarkan riak gelombang kejut spasial skala kecil meledak dari dalam dada Xinghe, mengguncang seluruh pondasi bangunan batu penginapan hingga retak halus.
Xinghe membuka sepasang manik mata gelap tak berdasarnya. Sepasang pupil matanya kini tidak lagi memancarkan pendar keperakan, melainkan sepenuhnya menyala memancarkan kilatan rona emas murni yang memancarkan kedaulatan mutlak seorang penguasa sejati.
Ia telah resmi menembus batasan fana, melangkah masuk melompati gerbang transenden sejati: **Alam Pemadatan Inti Mistik Tingkat Pertama**.
Pencapaian Inti Mistik di Tingkat Pertama ini, berkat fondasi *Tubuh Fana Tanpa Cacat* dan asimilasi Cairan Air Mata Naga, memiliki kemurnian dan ketebalan energi yang sanggup menyamai praktisi Tingkat Sempurna Inti Mistik biasa di wilayah dalam kekaisaran. Sembilan nadinya kini mampu mengalirkan energi campuran guntur, api Gagak Emas, dan esensi naga emas secara konstan tanpa batas waktu, memulihkan tiga puluh persen dari kapasitas teknik martial art masa lalunya.
Xinghe bangkit berdiri perlahan. Tubuh kurusnya tidak lagi memancarkan kelelahan fisik sedikit pun; posturnya tegak lurus seolah memancarkan wibawa pedang tajam yang sanggup membelah langit. Ia meraih lilitan kulit gagang *Pedang Berat Tanpa Bilah* seberat lima ribu kati di punggungnya, memutarnya santai di sela jemari sebelum menyarungkannya kembali ke dalam kanvas sutra hitam. Senjata itu kini terasa seringan bulu ayam di tangannya berkat peningkatan drastis kapasitas tenaga internal barunya.
"Waktunya membersihkan sisa lalat klan Mu," bisik Xinghe sedingin es abadi.
Ia melangkah keluar dari ruang kultivasi, berjalan menuju pelataran luar taman daun merah tempat Yan Qingshan dan Ye Ling’er telah menantinya di samping pedati logistik mereka. Qingshan memegang kapak besinya dengan kuda-kuda kokoh, auranya berada di Tingkat Kelima Penyempurnaan Tubuh, matanya menyala oleh kesiapan bertarung yang murni.
"Xinghe, kau... kultivasimu telah menembus batas pembukaan meridian?!" Qingshan terkesiap ngeri, merasakan tekanan aura emas pasif yang memancar dari tubuh adiknya membuat darah di nadinya bergerak melambat secara natural.
Xinghe mengangguk tipis. "Kakak, jaga Ibu dan Xiaoxiao di dalam formasi pekarangan ini. Jangan matikan perlindungan batu giok luar. Ling’er, bawa aku menuju Lembah Maple Berdarah di luar gerbang utara sekarang. Skenario umpan berdarah kita telah siap untuk dieksekusi di bawah langit malam ini."
Ye Ling’er mengangguk patuh penuh dengan pemujaan fanatik yang semakin mengakar kuat di jiwanya. Rombongan dua sosok itu melompat melesat membelah kegelapan malam kota provinsi, bergerak cepat menuju gerbang utara keluar, menyongsong badai pertumpahan darah berskala masif berikutnya yang akan meruntuhkan martabat klan bangsawan Mu wilayah dalam dari sejarah peradaban Kekaisaran Naga Langit. Roda takdir sang penakluk terus berputar cepat menembus awan tinggi kosmik Tiga Ribu Dunia.
Petualangan Yan Xinghe telah mencapai puncaknya di wilayah Provinsi Awan Darah dengan keberhasilannya menembus *Alam Pemadatan Inti Mistik*. Sumpah darahnya terhadap Klan Mu siap dieksekusi di Lembah Maple Berdarah.