NovelToon NovelToon
Ketika Sinta Memilih Rahwana

Ketika Sinta Memilih Rahwana

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Perjodohan
Popularitas:14.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rani

Hari penentuan tanggal pernikahan, Sinta memilih Wana untuk dijadikan suaminya. Semua itu bukan tanpa sebab. Melainkan, karena hati yang sudah lelah untuk berharap. Hati yang sudah sering terluka oleh sikap Rama yang mementingkan teman barunya.

Bagaimana jadinya saat Rama tahu, Sinta ternyata tidak memilih dia sebagai suami? Yuk! Ikuti kisah mereka di sini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 20

Jika mata hati sudah tertutup, yang baik pun akan jadi buruk. Begitulah perasaan Rama untuk Sinta saat ini.

"Baiklah. Abaikan saja Sinta dulu untuk masa sekarang. Karena kesembuhan Risa jauh lebih penting."

"Pernikahan itu juga tidak akan terjadi jika aku tidak datang. Lagian, aku sudah bilang untuk menunda. Harusnya, mereka mendengarkan apa yang aku katakan. Tapi jika mereka tetap tidak mendengarkan, jika pernikahan itu batal saat harinya tiba, itu bukan salah aku. Karena sebelumnya, aku sudah bilang akan menunda," ucap Rama panjang lebar bicara pada dirinya sendiri.

Rama pun melepas napas berat sesaat. Setelahnya, pria itu melangkah menuju kamar rawat Risa. Sudah ia putuskan, kalau dia akan merawat Risa dengan sebaik mungkin. Untuk urusan pernikahan, dia akan mengabaikannya dulu hingga waktunya tiba.

Di sisi lain, persiapan pernikahan Wana dan Sinta benar-benar sudah rampung. Tidak banyak yang tahu kalau yang akan menikah bukan Rama melainkan Rahwana. Bahkan, Dorin juga tidak tahu akan hal tersebut.

Singkatnya, pergantian dari Rama ke Wana benar-benar dirahasiakan oleh keluarga Hermawan. Mereka benar-benar mengabulkan apa yang Sinta minta pada saat tanggal penentuan pernikahan dua keluarga waktu itu.

"Hah. Akhirnya .... " Mama Dorin yang baru pulang dari kediaman Hermawan langsung menghempaskan bokongnya ke atas sofa.

Dorin yang melihat kepulangan mamanya itu langsung bergegas menghampiri. "Mama. Pernikahan, benar-benar akan dilanjutkan?"

Sang mama tentu saja langsung melontarkan tatapan tajam. Sama seperti saat Dorin bertanya di depan kediaman Hermawan tadi siang.

"Kamu menanyakan hal yang sama? Padahal kamu sudah tahu apa jawabannya, Dorin."

Dorin langsung mengambil posisi untuk duduk di samping mamanya. "Sumpah, Ma. Aku beneran gak tahu. Mama beneran yakin kalau pernikahan, benar-benar akan berlanjut?"

Si mama seketika menatap lekat wajah anaknya. Detik berikutnya, pukulan pelan mendarat di kepala Dorin. "Bawel."

"Aduh, mama ... kok malah pukul aku sih? Sakit, tau? Aku kan cuma bertanya untuk memastikan kalau-- "

"Apa yang ingin kamu pastikan? Sudah jelas tidak ada perubahan sedikitpun dari rencana pernikahan sepupumu itu. Tapi kamu bertanya seolah pernikahan itu tidak akan berlangsung. Kamu bikin mama mu yang lelah ini kesal, tau tidak?"

Wajah serius dari si mama membuat Dorin terdiam sejenak. Namun, batinnya masih tidak percaya, kalau pernikahan tetap akan berlanjut.

"Jadi, Ma. Beneran besok pernikahan itu akan dilaksanakan?"

"Nggak. Tahun depan deh kayaknya pernikahan sepupumu itu akan dilaksanakan."

"Mama .... "

"Sudah jelas besok. Kamu malah nanya." Kesal mamanya semakin tidak bisa di bendung lagi.

"Tapi kan-- "

"Tapi apa lagi? Sudah. Mama capek habis bantu-bantu. Jangan tambah rasa capek mama dengan ulah mu yang kekanak-kanakan itu, Dorin."

Sang mama langsung beranjak meninggalkan ruang tamu. Sementara Dorin, pria itu masih terpaku sambil memikirkan apa yang sedang terjadi.

Lalu, beberapa detik berikutnya, Dorin sadar akan satu hal. "Lho, kok malah aku yang mikir dengan keras? Yang mau nikah juga bukan aku 'kan? Yah ... meskipun aku adalah bagian dari keluarga Hermawan. Tapi, ya tetap saja, aku tidak punya kewajiban untuk berpikir."

"Tunggu! Kalau Rama tidak datang, bagaimana jika calon mempelai prianya di ganti? Ah, digantinya dengan aku. Lalu .... "

Dorin malah sibuk membayangkan hari pernikahan yang saat itu, Rama benar-benar tidak datang. Karena takut malu, keluarga Hermawan menggantikan Rama dengan dirinya. Senyum terkembang di bibir Dorin seketika saat ia membayangkan kalau dirinya yang sedang bersanding dengan Sinta.

Namun, senyum itu langsung sirna seketika. "Tidak," ucap Dorin sambil menggelengkan kepalanya. "Aku mungkin bahagia bisa menikahi Sinta yang cantik jelita, yang datang dari keluarga kaya raya itu. Tapi, bagaimana dengan Rama? Hubungan ku dengan Rama pasti akan rusak."

"Tapi .... "

"Ah, sudahlah. Apa yang kamu pikirkan, Dorin? Jangan gila. Jangan bermimpi yang tidak-tidak. Mana mungkin Sinta siap menikah dengan mu. Karena Sinta, sangat mencintai Rama."

Dorin pun langsung mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi Rama. Satu kali, dua kali, lalu ... tiga kali. Barulah panggilan itu Rama jawab.

"Halo, Dorin. Kenapa kamu menghubungi aku? Aku sedang menemani Risa sekarang. Jika tidak ada yang penting, sebaiknya, jangan hubungi aku dulu dalam waktu dekat."

Rama bicara panjang lebar saat panggilan terhubung. Ucapannya seolah ingin menegaskan pada Dorin untuk tidak membahas soal pernikahan yang sebelumnya sudah mereka bahas di kantor tadi siang.

"Ram. Kamu ... beneran yakin gak akan pulang ke kediaman Hermawan besok?"

"Tentu. Aku sibuk menjaga Risa. Kamu juga tahu bukan apa yang sudah Risa alami? Dan semua itu, gara-gara aku. Aku punya tanggung jawab yang besar terhadap Risa saat ini, Dorin."

"Bagaimana jika pernikahan mu benar-benar akan dilangsungkan besok, Rama?"

"Apa? Mana mungkin. Jika aku tidak datang, maka pernikahan itu tidak akan pernah terjadi, Dorin. Karena yang menikah adalah aku. Mana mungkin pernikahan akan tetap terjadi tanpa ada mempelai laki-kakinya."

"Bagaimana kalau di ganti?" Dorin berucap cepat.

Seketika, ucapan itu membuat Rama terdiam sejenak. "Di ... ganti? Apa maksudmu? Di ganti dengan siapa?"

"Dengan aku misalnya?"

"Kamu gila. Mana mungkin Sinta akan bersedia menikah dengan orang lain selain aku. Jangan bermimpi, Dorin. Itu tidak akan pernah terjadi."

"Bagaimana kalau iya, Rama?"

"Kamu gila ya. Jangan pernah berharap bisa menikahi Sinta. Aku tidak akan pernah membiarkannya." Nada bicara Rama kini berubah penuh dengan penekanan.

Jujur saja, hal itu cukup untuk membuat Dorin sedikit merinding. Hingga akhirnya, pria itu langsung mengalihkan suasana. "Aku hanya bercanda, Ram. Tidak perlu serius. Tapi sebaiknya, kamu pulang besok. Jangan sampai menyesal nantinya."

Panggilan itupun berakhir. Rama terdiam sejenak sambil memikirkan apa yang Dorin katakan. "Pulang besok agar tidak menyesal? Apakah aku harus pulang besok?" Rama bertanya pada dirinya sendiri.

*

Esok hari akhirnya tiba. Di depan kaca besar, Sinta duduk dengan anggun. Kebaya putih sudah melekat di tubuhnya. Wajah cantik di tambah polesan make-up terlihat semakin indah saja.

"Duh ... Tuhan. Anak mama cantik banget." Si mama memuji anaknya dengan rasa bangga.

"Mama."

Sang mama menyentuh bahu Sinta dengan lembut. "Sangat cantik."

"Sinta. Kamu gugup?"

"Sedikit, Ma."

"Semua akan baik-baik saja, Nak. Mama yakin, pilihan anak mama yang paling tepat. Jangan pernah melintas di hati kamu rasa menyesal yah. Syukuri saja apa yang kamu punya. Dengan begitu, kamu akan selalu merasa bahagia dengan apa yang telah kamu miliki, Nak."

Sinta melepas napas berat secara perlahan.

"Terima kasih banyak, Ma. Hanya mama yang tidak pernah meragukan apa yang telah Sinta pilih. Hanya mama yang percaya, kalau keputusan Sinta ini bukan keputusan yang salah."

1
wita salira
semoga cepet kebongkar kebusukan si Risa,,biar Rama menyesal
awesome moment
😄😄😄ternyata rama lbh ngezelin
Anonim
Ayo sinta perawanin wana 😄🤭
Soraya
lanjut
Patrick Khan
rama udah lupa kah sm risa🤔🤔🤔🤣🤣kok sekarang peduli sm sinta
Soraya
msih mbulet thor lanjut
partini
aihhh badan besar tapi gitu ,,yg kau butuhkan tuh seseorang yg bisa bikin hatimu yg panas jadi dingin
wana wana
partini
lah emang kamu yg di pukul semua orang juga tau dah lihat so what ?
aihhh Rama gendeng
aku
wkwkwkwk yg dihajar sopo yg ditanyai sopo 🤣🤣🤣 nyahokk kowe rama 🤣🤣🤣
Anonim
Rama bloon emang ,laki egois g tahu diri .ayo wana dan sinta harus tegas tunjukan sinta kamu itu milik wana sekaranf
Evy
gemes sama Rama ...pingin tak hiiiiih ajah 😅
partini
sejak kapan tunangan lebih berhak dari pada suami,,aihhh Ramayana emang rada"
Patrick Khan
risa sakit jiwa kah🤣🤣🤣🤣
Rani: wuahahahah.... sekarang masih belum. tapi sudah hampir mendekati🤣
total 1 replies
Patrick Khan
rama km ribet bgt sih🤣
Rani: jangan di kata. memang ribet dia
total 1 replies
Soraya
nex
Rani: sabar yuhu🫰🫰🫰🫰
total 1 replies
Anonim
Si intan ibu yg oon ko bisa pilih kasih begitu,tolol.anak salah ko malah di dukung ,blok
Rani: nama juga anak sayangan dia.
total 1 replies
partini
dulu pas th 90 an ada drama India Rama dan Sinta ini kembali nya nikahnya sama wana jadi penasaran
Rani: wkwkwkw.... iya lho. tahun ini Sintanya malah milih Wana. Iya kan?
total 1 replies
partini
udah unboxing belum sih
Rani: jawabannya, udah pasti belom dong yah. ini Si Wana lho yah. Wana. Lama prosesnys. 🤭
total 1 replies
Dew666
👄
Rani: makasih buanyak😘🫰
total 1 replies
Anonim
Ah g seru si wana masa cowo gitu sih lemah amat ,gugup mulu
Rani: iya, anak angkat aku yang ini kan hidupnya penuh dengan penyisihan. jadi, wajar kalo dia kek gini kan yah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!