NovelToon NovelToon
Sultan Desa

Sultan Desa

Status: tamat
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:49.9k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Menikahlah dengannya, atau kamu pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun!"

​Tepat dua hari sebelum pernikahan adiknya, Aira dipaksa menikah dengan pria kusam dari ujung desa demi membuang sial. Dewa, pria yang hanya bermodalkan motor tua dan pakaian lusuh, menjadi suaminya dalam semalam.

​Aira sudah bersiap hidup melarat. Namun, saat ia mulai tulus mencintai sang suami di tengah kemiskinan, sebuah iring-iringan mobil mewah datang menjemput.

​Siapa sangka, pria yang dihina keluarganya sebagai fakir itu ternyata pemegang tahta tertinggi di kota ini. Saat topeng terbuka, mampukah Aira bertahan di dunia suaminya yang penuh intrik, atau justru ia yang akan berbalik meninggalkan kemewahan itu?

Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Sultan Desa.
By - Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Pagi itu, sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah ventilasi kayu di kontrakan sempit mereka, menyinari partikel debu yang menari di udara. Suasana terasa sangat hangat, kontras dengan lantai semen yang masih terasa dingin di telapak kaki.

Kini yang ada hanyalah realitas sederhana sebuah pernikahan yang dibangun di atas keterbatasan, namun penuh dengan percikan emosi yang nyata.

Aira sedang sibuk di dapur kecil yang merangkap sebagai ruang cuci. Ia berdiri di samping mesin cuci, mengucek kemeja kerja Dewa yang sudah memudar warnanya. Bau sabun batangan menyeruak, bercampur dengan aroma kopi hitam yang baru saja ia seduh untuk suaminya.

"Aira, di mana kaos kaki hitamku yang lubang di jempolnya itu?" teriakan Dewa terdengar dari kamar mandi yang hanya tertutup pintu plastik tipis.

Aira tersenyum kecil. "Sudah aku jahit, Mas! Ada di tumpukan baju paling bawah di lemari plastik. Pakai yang itu saja, jangan pakai yang satunya, karetnya sudah molor!"

Dewa keluar dari kamar mandi dengan handuk yang hanya melilit pinggangnya. Tubuhnya yang atletis, tampak mengkilap terkena sisa air. Ia menghampiri Aira, lalu tanpa permisi menyandarkan dagunya di bahu sang istri yang masih asyik mengucek.

"Mas, geli! Sana berpakaian, nanti masuk angin," protes Aira, meski pipinya mendadak merona merah.

"Sebentar saja. Wangi sabunmu lebih enak daripada wangi debu di proyek nanti," gumam Dewa dengan suara berat yang selalu berhasil membuat jantung Aira berdegup tidak karuan. "Maaf ya, malam ini aku akan pulang telat lagi. Lembur angkut material itu melelahkan, tapi bonusnya lumayan buat tambahan tabungan."

Aira menghentikan kegiatannya. Ia membalikkan badan, menatap wajah Dewa yang terlihat letih namun tetap berusaha tersenyum. Ia mengusap sisa air sabun di tangannya ke daster, lalu menyentuh kening Dewa.

"Jangan dipaksakan, Mas. Kita makan tempe setiap hari pun aku tidak keberatan, asal kamu tidak sakit," ucap Aira tulus. Ada rasa haru yang menyelinap, ia merasa sangat dicintai oleh pria yang mau membanting tulang demi dirinya.

Dewa tertawa, tawa khasnya yang renyah dan sedikit nakal. "Makan tempe terus nanti pipimu jadi kotak seperti tempe. Sudah, sekarang bantu aku pakai dasi... eh, maksudku, bantu aku cari sabuk. Aku lupa taruh di mana."

Suasana haru itu pecah ketika Dewa mulai bersiap-siap. Sebenarnya, melihat Dewa bersiap berangkat kerja adalah hiburan harian bagi Aira. Pria itu bisa terlihat sangat berwibawa saat berbicara tentang struktur bangunan, namun menjadi sangat ceroboh saat berurusan dengan barang rumah tangga.

"Mas! Itu bukan sabukmu, itu tali jemuran yang tempo hari putus!" teriak Aira saat melihat Dewa mencoba melilitkan tali plastik berwarna biru ke pinggang celana kerjanya.

"Habisnya warnanya sama-sama gelap, Ai! Sabuk kulitku yang imitasi itu sudah mengelupas semua, malu kalau dilihat mandor," keluh Dewa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Aira tertawa terpingkal-pingkal sampai air matanya keluar. Ia bangkit, mengambilkan sebuah sabuk kain tua dari laci. "Sini, aku pasangkan. Makanya, kalau taruh barang itu pakai mata, jangan pakai perasaan."

Dewa berdiri tegak, membiarkan jemari mungil Aira lincah memasangkan sabuk di pinggangnya. Jarak mereka begitu dekat. Dewa bisa mencium aroma sampo sachet murahan dari rambut Aira, sementara Aira bisa merasakan napas hangat Dewa di puncak kepalanya.

"Kalau aku jadi orang kaya nanti," bisik Dewa tiba-tiba, suaranya berubah serius, "aku akan beli sabuk dari kulit buaya asli buat kamu. Bukan buat dipakai, tapi buat kamu cambuk kalau aku nakal."

"Hush! Ngomong apa sih, Mas. Memangnya aku pawang buaya?" jawab Aira sambil mencubit perut Dewa gemas. "Sudah, cepat habiskan kopinya. Keburu dingin."

Mereka duduk berhadapan di lantai beralaskan tikar pandan yang sudah mulai robek di pinggirannya. Sarapan mereka pagi itu sangat sederhana, nasi putih, dua potong tahu goreng, dan sambal terasi buatan Aira yang aromanya menggugah selera.

"Mas, nanti kalau pulang, jangan mampir-mampir ya. Aku mau masak tumis kangkung kesukaanmu," ujar Aira sambil menyuapkan nasi ke mulut Dewa.

Dewa mengunyah dengan lahap, seolah nasi dan tahu itu adalah hidangan bintang lima. "Pasti. Oh iya, Ai, tadi malam aku mimpi kita punya rumah yang besar sekali. Pintunya otomatis, lampunya dari kristal, dan kamu punya pelayan banyak sekali supaya kamu tidak perlu mencuci baju sampai tanganmu lecet begini, padahal sudah ada mesin cuci."

Aira terdiam sejenak. Ia menatap telapak tangannya yang memang sedikit kasar dan memerah karena deterjen. Ia tersenyum getir namun penuh kasih.

"Mas, punya rumah besar itu capek membersihkannya. Aku lebih suka di sini. Sempit, jadi kalau kamu tidur, kamu tidak bisa jauh-jauh dariku. Kalau di rumah besar, nanti kamu malah menghilang di ruangan lain."

Dewa tersedak kopi karena tertawa. "Kamu ini, bukannya mengaminkan doa suami malah takut kehilangan."

"Habisnya, aku takut kalau kamu jadi orang kaya, nanti kamu jadi sombong seperti Papa Surya atau Siska," bisik Aira pelan. Nama keluarganya selalu menjadi duri dalam daging bagi hubungan mereka.

Dewa meletakkan gelas kopinya. Ia meraih kedua tangan Aira, menggenggamnya erat di atas tikar. "Dengarkan aku, Aira. Mau aku jadi kuli, mau aku jadi tukang sapu, atau kalaupun suatu saat takdir membawaku jadi orang paling kaya di kota ini... hatiku tidak akan berubah. Aku tetap Dewa yang kamu rawat saat sakit, dan kamu tetap Aira yang menjadi alasanku untuk pulang."

Mata Aira berkaca-kaca. Di rumah kontrakan yang bocor jika hujan ini, ia merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Ia tidak butuh kemewahan, ia hanya butuh kepastian bahwa pria di depannya ini tidak akan pernah pergi.

Saatnya Dewa berangkat. Ia menuntun motor bebek tuanya yang suara knalpotnya sering diprotes tetangga. Aira mengikutinya sampai ke depan pintu.

"Mas, tunggu!" Aira berlari kecil kembali ke dalam, lalu keluar membawa sebuah kotak bekal plastik berwarna kuning. "Hampir lupa. Ini isinya nasi dan sisa tahu tadi. Jangan jajan di luar, mahal. Uangnya disimpan."

Dewa menerima kotak itu dengan pandangan yang sangat dalam. Ia menyalakan mesin motornya yang bergetar hebat. "Terima kasih, Istriku yang cantik. Doakan hari ini borongan-nya lancar, ya."

Dewa menarik tangan Aira, mencium punggung tangannya lama. Kemudian, dengan gerakan cepat yang tak terduga, ia mengecup kening Aira di depan umum, membuat seorang ibu tetangga yang sedang menyapu jalan berdehem keras karena iri.

"Mas Dewa! Malu dilihat orang!" seru Aira sambil menutup wajahnya dengan ujung hijab.

"Biar saja! Biar mereka tahu kalau kuli ini punya istri bidadari!" teriak Dewa sambil mulai melajukan motornya.

Aira melambaikan tangan sampai bayangan Dewa menghilang di tikungan gang yang becek. Ia kembali masuk ke dalam rumah dengan perasaan membuncah. Ia merasa semuanya akan baik-baik saja selama mereka bersama.

Menjelang siang, saat Aira sedang menyetrika baju, pintu kontrakan diketuk dengan sopan. Aira mengerutkan kening. Biasanya tetangga akan langsung berteriak, atau Siska akan menendang pintu jika datang.

Aira membuka pintu dan mendapati seorang kurir berpakaian rapi membawa sebuah kotak besar.

"Benar ini dengan Ibu Aira?" tanya kurir itu.

"Iya, saya sendiri. Dari siapa ya, Mas?"

"Dari suami Ibu. Katanya ini untuk merayakan tiga bulan pernikahan."

Aira bingung. "Mas Dewa? Dari mana dia punya uang ?"

Aira membawa kotak itu masuk dan membukanya dengan hati-hati. Di dalamnya ada sebuah daster baru berbahan sutra yang sangat lembut, jauh lebih mewah dari semua pakaian yang pernah ia miliki dan sepasang sandal rumah yang empuk.

Di atasnya ada secarik kertas dengan tulisan tangan yang berantakan.

"Aira, tadi aku dapat bonus awal dari mandor karena pekerjaanku rapi. Jangan tanya harganya, yang penting pakai ini supaya kakimu tidak dingin lagi di lantai semen. Tunggu aku pulang, ya. Aku sayang kamu."

Aira memeluk daster itu erat-erat. Ia menangis haru. Di tengah kemiskinan yang mencekik, suaminya selalu menemukan cara untuk memuliakannya.

Ia tidak menyadari bahwa di balik kelembutan daster itu, ada sebuah label kecil yang tersembunyi, sebuah brand eksklusif yang hanya dijual di mall paling mewah di Jakarta, mall yang dimiliki oleh Pradipta Group.

~~

Malam harinya, saat mereka sedang makan malam dengan tumis kangkung yang dijanjikan, suasana mendadak berubah tegang. Sebuah mobil mewah hitam berhenti di depan gang sempit mereka, lampunya yang terang menembus masuk melalui celah pintu kontrakan.

Dewa yang sedang menyuap nasi tiba-tiba membeku. Rahangnya mengeras. Ia meletakkan piringnya dengan tangan gemetar.

"Mas? Ada apa? Siapa yang datang?" tanya Aira cemas.

Sebelum Dewa bisa menjawab, pintu kontrakan digedor dengan keras. Kali ini bukan gedoran penagih utang, melainkan ketukan yang sangat berwibawa.

"Tuan Muda... mohon maaf, sudah mengganggu waktu Anda. Nyonya Besar jatuh sakit dan meminta Anda kembali ke kediaman Pradipta sekarang juga," suara seorang pria dari luar pintu terdengar sangat jernih.

Aira menatap Dewa dengan pandangan kosong. "Mas, ada apa ?"

...----------------...

To Be Continue ....

1
Rahmawati Amma
aku suka ceritanya ngak terlalu muter2 bagus thor 👍😍
Rahmawati Amma
iya kayanya 36 37 juga kayanya di ulang🤔😅
Estu Suet
memang g masuk akal seh,terlalu hiperbola kalimatnya
Estu Suet
ceo yang menyamar y, pura-pura miskin dan gembel 👍😍
Edy Kurnia
6 BAB hanya di habiskan oleh obrolan dewa & aira, sekali kali buk Widia.
rumah-kantor rumah-kantor rumah-kantor gtu² aja terus..
APA KABAR DENGAN ORANG² YANG MENGHINA DEWA & AIRA DULU.???
EMANG NYA GAK MAU BALAS DENDAM, KALO GAK MAU BALAS DENDAM YA TAMATIN AJA CERITA INI.
PARA PEMBACA TIDAK MAU TERUS²AN BACA YG ISINYA HANYA OBROLAN ITU² SAJA
Edy Kurnia
nulis ceritanya usahakan buat para pembaca nyaman bacanya Thor.
jangan bikin jengkel dengan alur ceritanya yg muter² di situ² aja.
memang nya per 3 bab hanya di isi oleh obrolan dewa dan Aira terus.
Edy Kurnia
mana balasan buat orang² yg dulu menghina mereka woooii.??
Edy Kurnia
mana pembalasan buat pak Surya dan Siska.??
cuma segitu doang Thor.?
Edy Kurnia
Naaah kalo ini baru top cer.
rahang mengeras, sorot mata tajam mengintimidasi nya di barengi dengan tindakan nyata.
Edy Kurnia
gak usah nyalahin musuh²nya.
dari awal Dewa nya sendiri yg cari penyakit.
CEO goblok ya dia.
Edy Kurnia
ini mah ceo goblok nama nya.
Edy Kurnia
alur ceritanya nii bikin bingung, selain gak nyambung juga muter² gak jelas.
kekonyolan dewa tidak menggambarkan sosok CEO cerdas, tegas, dan bertangan dingin seperti yg di gaung² kan dari awal.
Goblok iya.
Edy Kurnia
ceritanya bagus banget Thor mirip TAIK.
apa maksud nya "tinggal satu menit, kedatangan 10 mobil SUV" klo ujung²nya dewa belum buka identitas aslinya.
menuh²in halaman aja, gak nyambung banget.
Edy Kurnia
ekspresi kemarahan dewa jangan terlalu di ulang² Thor klo ending nya masih mau bersandiwara miskin.
bikin bosen bacanya + muak denger nya.
wajahnya gelap lah, rahangnya keras lah dan bla bla bla.
taik banget.
Rika
bagus
Rahmawati Amma
lah katanya dapat uang 50jeti kenapa ngak baikin kontrakannya 🤔😅
Rahmawati Amma
ceritanya masih baru jadi blm banyak yg baca sepertinya ceritanya bagus gaskun😁✌️
Hatijah Cantik
mungkin Aira bukan anak kandung
Hatijah Cantik
menarik
Hatijah Cantik
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!