NovelToon NovelToon
Clara Ingin Bercerai Dari Suaminya

Clara Ingin Bercerai Dari Suaminya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Saskiah Khairani

Setelah menikah selama tujuh tahun, Edward tetap saja begitu dingin, Clara hanya bisa menghadapinya dengan tersenyum. Semua karena dia sangat mencintainya. Dia juga percaya suatu hari nanti, dia bisa melelehkan es di dalam hatinya. Akan tetapi pada akhirnya Edward malah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap cewek lain. Clara tetap bersikeras menjaga rumah tangganya. Hingga di hari ulang tahunnya, putrinya yang baru saja pulang dari luar negeri, dibawa oleh Edward untuk menemani cewek itu, meninggalkannya sendirian di rumah kosong. Dia akhirnya putus asa. Melihat putri yang dibesarkannya sendiri akan menjadi anak dari cewek lain, Clara tidak merasa sedih lagi. Dia menyiapkan surat cerai, menyerahkan hak asuh anaknya, dan pergi dengan gagah, tidak pernah menanyakan kabar Edward dan anaknya lagi, hanya menunggu proses perceraian selesai. Dia menyerah atas rumah tangganya, kembal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Persis di detik ini, tiba-tiba ponsel Edward berdering.

Clara lantas menoleh, pandangannya jatuh pada ponsel yang tergeletak di meja. Di layar, terpampang jelas sebuah nama "Sayang".

Clara mengira dirinya tidak akan peduli lagi.

Namun, setelah mencintainya bertahun-tahun, dia tidak mudah melepaskannya.

Nama "Sayang" sukses membuat hatinya sakit. Dia pun mengalihkan pandangannya.

Sementara itu, Edward menangkap kesedihan yang tersembunyi di mata Clara. Namun, tanpa ragu sedikit pun, dia mengangkat telepon itu di depannya. "Ada apa?" ucap Edward lembut.

Elsa tentu juga memperhatikan gelagat ayahnya.

Dalam ingatannya, Edward hanya akan bersikap lembut jika berhadapan dengan Vanessa.

Seakan lupa Clara sedang bersamanya, dia bertanya dengan gembira, "Ayah, itu Tante Vanessa?"

"Ya," jawab Edward datar.

Elsa hendak berkata jika dirinya juga ingin berbicara dengan Tante Vanessa, tapi dia tersadar Clara sedang duduk bersamanya. Dia tahu ibunya tidak menyukai Vanessa. Jadi kata-kata yang ingin keluar dari mulutnya pun harus tertelan kembali.

Hal itu tentu membuat suasana hatinya berubah.

Dia mengernyitkan alisnya sembari berkata dalam hati, 'Andai saja ibu dan Tante Vanessa bisa akur.

Entah apa yang Vanessa ucapkan di ujung telepon. Edward yang mendengarnya langsung mengerutkan keningnya tampak khawatir. Sampai-sampai belum selesai sarapan, dia buru -buru pergi.

Hal itu tentu membuat Elsa juga ikut merasa khawatir.

Hanya saja, karena Clara sedang bersamanya, jadi dia tidak menanyakannya.

Selera makannya pun menghilang, dia menarik Clara untuk berdiri, lalu berkata, "Mama, aku sudah selesai makan, ayo kita cepat berangkat."

Meski tidak mengatakannya, Clara tahu apa yang Elsa rasakan dari sorot matanya.

Alasan Elsa ingin segera pergi tidak lain adalah karena dia ingin segera tahu apa yang terjadi pada Vanessa.

Tapi Clara memilih untuk diam.

"Kamu baru makan sedikit, bawa aja ke mobil." desak Clara.

"Nggak usah, Ma. Aku nggak lapar..."

Clara tertegun.

Dia tak lagi memaksa.

Begitu masuk ke dalam mobil, tanpa basa-basi lagi Elsa langsung mengambil ponselnya mengirim pesan pada Vanessa.

Clara tentu menyadarinya, tapi memilih untuk tidak mengatakan apa pun.

Tak lama kemudian, Vanessa membalas dan memberitahu kalau dia sedang demam saja, tidak perlu mengkhawatirkannya.

Namun, pesan suara yang Vanessa kirim terdengar serak. Hal itu tentu membuat Elsa khawatir. Dia pun membuat Elsa khawatir. Dia pun memberi kabar jika sepulang sekolah nanti akan langsung menjenguknya.

Ada rasa bersalah dalam dirinya saat pesan itu terkirim.

Dia sudah lama tidak makan masakan ibunya. Malam ini, sebenarnya dia berencana mąkan bersama ibunya.

Untungnya hal itu belum dia katakanı.

Saat memikirkannya, diam-diam dia melirik ke arah ibunya yang sedang fokus menyetir. Dia merasa lega karena ibunya tidak menyadari apa yang dilakukannya saat ini.

Sesampainya di sekolah, Elsa memeluk ibunya dengan erat, sambil berkata, "Ma, aku masuk dulu, ya."

"Ya."

Elsa tidak merasakan jawaban dingin Clara. Dia melangkah masuk ke sekolah dengan riang gembira.

Setibanya di kantor, Clara mendapatkan kabar kalau rapat yang seharusnya berlangsung pukul sepuluh pagi ditunda hingga sore karena Edward ada urusan mendesak.

Urusan mendesak yang dimaksud tentu saja menemani Vanessa yang sedang sakit.

Clara bersikap biasa saja, dia kembali fokus dengan pekerjaannya.

Menjelang pukul dua siang, harusnya Edward sudah berada di perusahaan. Makanya Farel menghubungi semua pemangku kepentingan untuk memulai rapat pukul tiga sore. Tentunya, Clara diminta untuk membuatkan segelas kopi untuk pimpinannya itu.

Rapat akan segera dimulai. Saat Edward memasuki ruang rapat, Clara yang tengah sibuk mengetik pun mendadak berhenti.

Edward mengganti pakaiannya.

Bukan pakaian yang dia lihat tadi pagi.

Pagi tadi, Edward pergi menemui Vanessa, tapi dia sedang sakit. Jadi harusnya tidak melakukan apa-apa. Mungkin saja karena kasihan pada Vanessa, dia menidurinya, agar Vanessa bisa çepat tidur.

Pemikiran ini membuat Clara tertegun sejenak..

Saat tersadar, dia mendapati Edward sedang menatapnya dengan tajam. Mungkin Edward mengira kalau barusan dirinya sedang terkesima menatapnya.

Clara tampak mengepalkan tangannya saat teringat sikap lembut pria itu pada Vanessa tapi justru kasar padanya. Dia pun mengalihkan pandangannya.

Tak lama setelah rapat berakhir, Farel datang menemuinya dan mengatakan bahwa proses serah terima sudah selesai, jadi besok dia sudah tidak perlu datang lagi.

"Baiklah," jawab Clara.

Meski Farel tidak mengatakannya, dia tentu akan mencari Farel untuk diizinkan keluar dari perusahaan setelah pekerjaannya selesai.

Justru bagus Farel datang menemuinya, menghemat waktu.

Farel tidak menyangka Clara akan setuju begitu saja.

.....

"Kamu..."

Clara mengulurkan tangannya seraya berkata, "Terima kasih atas bantuannya selama ini."

Farel masih belum tersadar, tapi tetap menjabat tangan Clara, lalu berkata, " Sama-sama."

Selesai membereskan barangnya di kantor, Clara pun pergi

Farel tidak percaya Clara akan benar-benar pergi.

"Ngapain bengong?" seru Rio sambil menepuk Pundak Farel.

"Clara resmi keluar dari perusahaan."

"Benaran?" ucap Rio tak percaya.

Clara benar-benar rela meninggalkan perusahaan? Kenapa ini terasa tidak nyata?

Rio lantas mencibir, berkata, "

Sekarang dia memang pergi, tapi bukan berarti dia nggak bisa kembali lagi. Kita lihat aja, nggak butuh waktu lama, kok. Nenek Keluarga Anggasta pasti akan membantunya kembali."

Farel terdiam tak membalas ucapan Rio.

Meski agak tidak percaya, sikap Clara belakangan ini membuat Farel merasa kalau wanita itu benar-benar serius.

Setelah meninggalkan Group

Anggasta, Clara langsung pulang ke rumahnya.

Selama dua hari berikutnya, dia tidak mendapatkan telepon dari Elsa. Yah, mungkin saja putrinya itu sedang fokus pada Vanessa.

Keesokan hari saat tengah malam, Raisa demam. Clara menutup buku yang dia baca dan segera mengambil kunci mobil pergi ke kediaman Raisa.

Hujan turun sepanjang hari ini. Saat ini, masih turun hujan lebat sekali.

Raisa tinggal di Kawasan Kota Tua. Saat ini, hanya sedikit orang dan mobil yang lalu lalang.

Clara mau membeli obat di apotek dekat tempat tinggal Raisa. Saat melipat payungnya dan hendak masuk ke dalam mobil, kursi penumpang di sebelahnya tiba-tiba terbuka dan sosok pria tinggi masuk ke dalam.

Jantung Clara sontak berdebar kencang. Begitu menoleh, moncong pistol berwarna hitam sudah diarahkan tepat padanya.

"Jangan bergerak."

Pria itu mengenakan pakaian hitam, memakai masker dan bertopi. Ujung topinya ditarik ke bawah membuat wajahnya tak terlihat jelas. Namun, sorot matanya tajam dan dingin menatap Clara.

Clara mengangkat tangannya dan tidak bergerak.

Pria itu mengambil tas dan ponsel Clara, lalu berkata, "Aku nggak akan menyakitimu. Antar aku ke tempat yang aku mau, lalu kamu boleh pergi."

Tanpa menunggu jawaban Clara, pria itu lanjut berkata, "Cepat jalankan mobilnya."

Tak ada seorang pun di sekitar, tidak ada mobil atau pun orang, apotek pun cukup jauh...

Saat memikirkan kemungkinan yang terjadi, dia menyadari bau amis darah di dalam mobil.

Clara tertegun sejenak, lalu menyalakan mesin mobil dan bertanya, "Ke mana?"

"Lurus aja ke Dermaga Teluk Timur. Aku akan kasih tahu arahnya," ucapnya.

"Nggak perlu, aku tahu jalan."

Selesai mengatakannya, Clara pun menginjak pedal gas mobilnya.

Dalam perjalanan, Clara fokus menyetir, sedangkan pria itu tak mengatakan sepatah kata pun. Suasana di mobil terasa hening.

Jarak ke Dermaga Teluk Timur berjarak setengah jam dari tempat semula. Sepanjang perjalanan, Clara tampak tenang dan fokus mengemudi, tidak salah jalan sekali pun.

Pria itu menggenggam pistol di tangannya. Tatapan matanya perlahan berubah saat menatap Clara.

Hanya saja, Clara tidak menyadarinya.

Tak lama kemudian, pria itu berkata, " Berhenti di bawah pohon beringin di depan situ."

"Oke."

Mobil pun berhenti perlahan, sementara pistol itu masih mengarah pada Clara. Saat pria itu hendak turun, Clara mengambil tasnya kembali dan membuka tasnya di depan pria itu. " Aku punya obat," ucap Clara.

Dalam waktu setengah jam, bau amis darah di dalam mobil semakin kuat. Dia tahu pria itu terluka parah.

Pria itu tertegun sejenak. Dia memilih tak menggubris Clara dan langsung turun dari mobil. Sosoknya pun menghilang dengan cepat di dalam kegelapan.

Yah, karena pria itu menolak, Clara tidak memaksanya dan segera memutar balik mobilnya untuk pergi dari lokasi itu.

Beberapa menit kemudian, pria itu menaiki perahu yang menunggunya dan melepas topi serta maskernya.

Tepat pada saat ini, ponselnya berdering. Sambil menyuruh orang mengobatinya, dia mengangkat telepon itu.

Pria itu belum sempat mengatakan sesuatu, tiba-tiba terdengar suara Gading di ujung telepon. "Dani, gimana keadaanmu? Orang suruhanku bilang, kamu nggak ada saat mereka menjemputmu, kamu di mana?" tanya Gading.

"Ada hal tak terduga terjadi, sekarang aku di dermaga."

"Baiklah kalau begitu. Gimana ini bisa terjadi? Aku kaget banget!"

Setelah beberapa saat, telepon pun ditutup. Dani menatap ke arah pohon beringin tinggi di kejauhan. Agaknya dia sedang memikirkan sesuatu.

Setengah jam pun berlalu, Clara akhirnya tiba di rumah Raisa.

Begitu Raisa minum obat dan makan habis buburnya, dia akhirnya merasa lebih baik. Hanya saja, dia mulai mengerutkan keningnya. "Ke Cium bau darah nggak sih, Clar? Kamu terluka?" ucap Raisa.

"Nggak."

Pria itu terluka parah, saat mengambil ponsel serta tas miliknya, darah pria itu menempel pada barangnya.

Sebenarnya setelah pulang, Clara sudah mengelap sisa darah itu. Namun sepertinya belum sepenuhnya bersih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!