Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.
Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.
Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.
Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.
Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:
Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.
Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-
Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(ARC 1) Chapter 11: Sunchaser
Fajar belum sepenuhnya tiba.
Langit masih berwarna kelabu gelap, dengan cahaya tipis yang perlahan muncul di balik pegunungan jauh. Kabut rendah menggantung di antara pepohonan, bergerak pelan seperti napas yang tertahan.
Hutan terasa sunyi.
Terlalu sunyi.
Tidak ada suara burung pagi.
Tidak ada desir angin yang biasa bergerak di sela dedaunan.
Seolah alam sedang menunggu sesuatu.
Di depan gubuk, Purus berdiri sendiri.
Tangannya tersembunyi di balik lengan jubah putihnya. Tatapannya mengarah ke hutan di depannya, namun matanya tampak melihat lebih jauh dari sekadar pepohonan.
Ia menunggu.
Dan beberapa saat kemudian—
udara berubah.
Suhu dingin pagi perlahan menghangat. Tidak drastis, namun cukup untuk terasa. Rumput yang basah oleh embun bergerak pelan tanpa angin.
Kehidupan.
Itulah kesan pertama yang muncul.
Lalu cahaya itu datang.
Lembut.
Tidak menyilaukan.
Muncul di antara pepohonan seperti kabut keemasan yang perlahan membuka jalan. Dari dalam cahaya tersebut, seorang wanita melangkah keluar.
Vita.
Rambut panjangnya bergerak pelan seolah mengikuti aliran yang tidak terlihat. Kehadirannya membuat udara di sekitar terasa hidup kembali.
Purus tidak bergerak.
Vita juga tidak tersenyum.
Tidak ada sapaan.
Karena tidak diperlukan.
“Sudah lama.”
Suara Vita pelan.
Purus menatapnya.
“Tidak cukup lama.”
Jawaban itu membuat suasana kembali sunyi beberapa detik.
Vita memperhatikan sekeliling.
Tatapannya berhenti pada beberapa bekas tanah retak dan pohon hangus yang masih tersisa di kejauhan.
Ekspresinya berubah sedikit.
“Jadi itu benar.”
Purus mengangguk kecil.
“Grachius sudah mengetahui asal-usulnya.”
Nama itu menggantung di udara pagi yang dingin.
Vita memejamkan mata sesaat.
Bukan karena terkejut.
Lebih seperti seseorang yang baru saja mendengar sesuatu yang sudah ia duga akan terjadi.
“Seberapa banyak?”
Tatapannya kembali pada Purus.
“Cukup.”
Purus menatap ke arah gubuk.
“Ia tahu tentang Sonne.”
Hening.
“Dan Rosalia.”
Cahaya di sekitar Vita sedikit meredup.
Namun ia tidak berbicara.
“Ia juga tahu siapa yang bertanggung jawab.”
Vita menghela napas pelan.
“Vasilias.”
Nama itu terasa berat bahkan ketika diucapkan pelan.
Purus mengangguk.
“Sekarang ia ingin membalas mereka.”
Hutan kembali sunyi.
Namun kali ini—
lebih berat.
Vita menatap Purus lebih lama dari sebelumnya.
“Dan?”
Purus diam beberapa saat sebelum menjawab.
“Dia hampir kehilangan kendali.”
Tatapan Vita berubah sedikit.
“Api merahnya muncul.”
Suara Purus tetap tenang.
“Lalu berubah menjadi hitam.”
Dan untuk pertama kalinya sejak muncul—
ekspresi Vita benar-benar berubah.
Kecil.
Namun nyata.
Matanya sedikit menyempit.
Jarinya bergerak pelan.
Seolah sesuatu dalam dirinya bereaksi secara refleks.
Purus memperhatikannya.
Diam.
Namun tajam.
“…jadi kau memang tahu.”
Vita tidak langsung menjawab.
Kabut pagi bergerak perlahan di sekitar mereka.
“Aku tahu kemungkinan itu ada.”
Jawaban itu tenang.
Namun tidak lengkap.
Purus menyadarinya.
“Namun kau tidak pernah mengatakannya.”
“Karena tidak ada yang bisa mengubahnya.”
Tatapan Vita turun sesaat.
“Dan karena aku berharap itu tidak akan terjadi.”
Hening kembali jatuh.
Purus menatap langit pucat di atas mereka.
“Perkembangannya terlalu cepat.”
“Ya.”
Tidak ada penyangkalan.
Vita menerima itu begitu saja.
“Lebih cepat dari yang seharusnya.”
"Karena darah Rosalia."
"Ya."
Purus menoleh padanya.
“Kalau kau sudah mengetahui risikonya…”
Tatapannya sedikit lebih tajam.
“…kenapa tetap membawanya padaku?”
Untuk pertama kalinya, Vita tidak langsung menjawab.
Angin tipis akhirnya bergerak di antara pepohonan.
Membawa aroma tanah basah dan sisa panas yang hampir tidak terasa.
“Karena saat itu…”
Vita memandang ke arah hutan yang jauh.
“…tidak ada pilihan lain.”
Suaranya rendah.
Tidak terdengar seperti pembelaan.
Lebih seperti kenyataan yang sudah lama ia terima.
“Kalau dia tetap berada di sana…”
Ia berhenti sejenak.
“…dia akan mati.”
Purus diam.
Karena ia tahu Vita tidak melebih-lebihkan.
Vita kembali menatapnya.
“Aku mempercayakan dia padamu karena kau berbeda.”
“Dan sekarang?”
Tatapan Purus tidak berubah.
Vita tidak menjawab langsung.
Namun mereka berdua sudah mengetahui jawabannya.
Grachius telah bergerak.
Dan ketika seseorang seperti dirinya mulai berjalan—
dunia akan ikut berubah.
“Ia tidak akan tinggal diam lagi.”
Suara Purus memecah sunyi.
“Ia akan mulai bergerak.”
Vita mengangguk perlahan.
Tatapannya sedikit turun.
“Jalannya sudah dimulai.”
Hening.
“Dan tidak bisa dihentikan.”
Fajar mulai muncul sedikit lebih jelas di balik pegunungan.
Cahaya pucat menyentuh ujung pepohonan.
Namun suasana di antara mereka tetap berat.
Vita memandang Purus beberapa saat.
“Kau memanggilku untuk menghentikannya?”
Purus langsung menggeleng.
“Tidak.”
Jawabannya terlalu cepat untuk disebut ragu.
“Aku memanggilmu…”
Ia berhenti sejenak.
“…untuk membimbingnya.”
Vita sedikit terdiam.
Bukan karena tidak mengerti.
Melainkan karena memahami arti dari permintaan itu.
Purus menatap ke arah gubuk.
“Ia tidak akan berjalan di jalan yang damai.”
Angin kembali bergerak.
Lebih dingin.
“Ia akan membunuh.”
Tidak ada emosi dalam suara Purus.
Hanya kenyataan.
“Dan mungkin…”
Tatapannya perlahan menjadi lebih dalam.
“…akan menjadi sesuatu yang mengerikan.”
Hutan terasa semakin sunyi.
Vita memperhatikan wajah Purus.
Dan akhirnya—
ia melihatnya.
Sesuatu yang jarang muncul pada sosok seperti Purus.
Keraguan.
Bukan terhadap dunia.
Melainkan terhadap kemampuan dirinya sendiri.
“Aku tidak yakin bisa menghentikannya.”
Suara Purus pelan.
Hampir tenggelam dalam udara pagi.
“Kalau suatu hari dia memilih jalan kehancuran…”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Namun Vita mengerti.
Tatapannya melembut sedikit.
“Jadi ini yang sebenarnya kau takutkan.”
Purus tidak membantah.
Vita memandang ke arah gubuk.
“Bukan Grachius…”
Matanya menyipit pelan.
“…tetapi dia akan menjadi apa.”
Purus menutup matanya sesaat.
Dan itu sudah cukup sebagai jawaban.
Fajar kini mulai menyentuh hutan dengan warna emas pucat.
Kabut perlahan bergerak menjauh.
Namun suasana tetap terasa berat.
Vita akhirnya menghela napas pelan.
“Baik.”
Purus membuka matanya.
“Aku akan membantunya.”
Tidak ada keraguan dalam suaranya.
Namun ia melanjutkan—
“Bukan sebagai pelindung.”
Cahaya lembut di sekelilingnya bergerak pelan.
“Bukan juga sebagai sekutu.”
Tatapannya kembali pada Purus.
“Namun sebagai penuntun.”
Hening.
Purus mengangguk kecil.
Dan untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai—
ketegangan di matanya sedikit berkurang.
Vita menatap ke arah gubuk sekali lagi.
Tatapannya tenang.
Namun menyimpan sesuatu yang lebih dalam.
“Aku tidak akan selalu ada untuknya.”
Suara Vita hampir seperti bisikan.
“Pada akhirnya… dia tetap harus berjalan sendiri.”
Purus tidak menyangkal itu.
Karena mereka berdua tahu—
jalan Grachius bukan sesuatu yang bisa dipikul orang lain.
Vita melangkah mundur perlahan.
Cahaya di sekitarnya mulai kembali menyelimuti tubuhnya.
Sebelum benar-benar menghilang—
ia menatap ke arah gubuk.
Dan menyebut satu nama.
Pelan.
Hampir tidak terdengar.
“…Grachius.”
Lalu cahaya itu memudar.
Dan Vita pun pergi.
Hutan kembali sunyi.
Namun bukan sunyi yang sama seperti sebelumnya.
Kini—
sunyi itu terasa seperti jeda sebelum sesuatu dimulai.
Purus tetap berdiri di depan gubuk.
Sendiri.
Tatapannya perlahan naik ke langit yang mulai terang.
Dan jauh di atas sana—
sesuatu sedang bergerak.
Perlahan.
Namun pasti.
Purus menutup matanya sesaat.
“Jadi akhirnya…”
Angin pagi berhembus melewati jubah putihnya.
“…semuanya mulai bergerak.”
...—...
Angin berhembus kuat di atas tebing.
Langit terbuka luas tanpa batas, dipenuhi awan putih tipis yang bergerak perlahan mengikuti arah angin. Matahari belum terlalu tinggi, namun cahayanya sudah cukup terang untuk menyinari dua makam sederhana yang berdiri berdampingan di ujung tebing.
Grachius berdiri di depan keduanya.
Diam.
Rambut putih panjangnya bergerak tertiup angin, beberapa helai berwarna kuning kemerahan memantulkan cahaya matahari seperti bara yang belum sepenuhnya padam.
Tatapannya mengarah ke langit.
Bukan kosong.
Melainkan jauh.
Seolah mencoba melihat sesuatu di balik birunya dunia.
“Aku akan datang ke sana.”
Suaranya rendah.
Tenang.
Namun pasti.
“Belum sekarang.”
Angin menyapu rumput di sekitar makam.
“Tapi secepatnya.”
Hening kembali turun.
Grachius menutup matanya perlahan.
Bayangan tentang Sonne dan Rosalia muncul samar di pikirannya—bukan dalam bentuk wajah atau suara, karena ia tidak memilikinya.
Hanya… perasaan.
Kehilangan.
Dan sesuatu yang belum selesai.
Lalu—
“Kalau kau naik ke langit sekarang…”
Suara wanita terdengar pelan di belakangnya.
“…kau akan mati.”
Grachius membuka matanya.
Ia tidak terkejut.
Tidak langsung menoleh.
Karena ia sudah merasakan kehadiran itu sejak beberapa saat lalu.
Udara di sekitar menjadi hangat.
Lebih hidup.
Ketika ia akhirnya membalikkan badan, cahaya lembut terlihat berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Vita.
Namun bukan tubuh asli.
Sosoknya transparan samar, seperti cahaya yang dipaksa membentuk manusia. Garis tubuhnya terlihat lembut dan tidak sepenuhnya nyata, seolah sedikit saja angin bisa membuatnya menghilang.
Grachius memperhatikannya beberapa detik.
“…Vita.”
Vita mengangguk kecil.
Tatapannya tenang, namun menyimpan sesuatu yang lebih dalam.
Grachius kembali menatap langit.
“Aku kira kau datang untuk menghentikan ku.”
“Kalau aku ingin menghentikan mu..."
“...aku tidak akan datang seperti ini.”
Angin kembali bergerak di sekitar tebing.
“Aku datang untuk memastikan kau tidak mati sia-sia.”
Hening sejenak.
Grachius memperhatikan Vita dari sudut matanya.
“Jadi kau tidak berada di pihak mereka.”
Vita tersenyum tipis.
Namun senyum itu tidak hangat.
“Tidak semua dewa pantas disebut dewa.”
Tatapannya perlahan berubah dingin.
“Ada yang melindungi kehidupan.”
Cahaya di sekitarnya bergerak pelan.
“Dan ada yang menjadikan kehidupan sebagai alat.”
Nama itu tidak disebut.
Namun Grachius tahu siapa yang dimaksud.
Vasilias.
Dan mereka yang berdiri di bawahnya.
“Aku juga membenci sebagian dari mereka.”
Suara Vita sangat tenang.
Justru karena itu—
kalimat tersebut terasa lebih berat.
Grachius tidak menjawab.
Namun tatapannya sedikit berubah.
Lebih tajam.
“Kalau begitu bantu aku.”
Tidak ada basa-basi.
Tidak ada keraguan.
Vita memandangnya beberapa saat.
Lalu mengangguk perlahan.
“Aku akan membimbingmu.”
Angin berhenti sesaat.
“Namun dengarkan baik-baik, Grachius.”
Suaranya sedikit lebih serius.
“Aku bukan pelindungmu.”
Cahaya di tubuhnya bergetar pelan.
“Aku tidak akan selalu ada.”
Tatapannya lurus menatap mata Grachius.
“Dan pada akhirnya… kau tetap harus berjalan sendiri.”
Grachius menerima itu tanpa keberatan.
Karena sejak awal—
ia sudah memahami.
Jalan ini memang bukan sesuatu yang bisa dibagi.
“Kalau begitu katakan padaku.”
Tatapan Grachius kembali mengarah ke langit.
“Dari mana aku harus mulai?”
Vita terdiam sejenak.
Lalu berkata—
“Bukan di Kerajaan Langit.”
Jawabannya langsung.
“Kalau kau pergi ke sana sekarang, kau tidak akan sempat melihat gerbangnya sebelum mati.”
Grachius tidak tersinggung.
Tidak marah.
Ia hanya mendengarkan.
“Kau harus mulai dari bawah.”
“Bawah?”
“Para dewa pejuang.”
Angin kembali bergerak.
Dan untuk pertama kalinya—
nama-nama itu mulai muncul.
Nama yang suatu hari akan mengguncang dunia.
“Sagitta.”
Udara terasa sedikit lebih tajam ketika nama itu diucapkan.
“Magia.”
Cahaya di sekitar Vita meredup tipis.
“Anulignis.”
Angin menjadi panas sesaat.
“Dan Gladius.”
Keheningan setelah nama terakhir terasa lebih berat dibanding sebelumnya.
Grachius mengingat semuanya.
Tanpa perlu mengulang.
“Mereka…”
Tatapannya perlahan berubah lebih dingin.
“…yang membunuh ayah ku.”
Vita mengangguk.
“Mereka adalah algojo.”
Hening.
“Namun yang memimpin pembunuhan itu…”
Tatapan Vita naik sedikit.
“…adalah Dextra.”
Nama itu terasa berbeda.
Lebih berat.
Lebih dalam.
Seolah langit sendiri mengenal nama tersebut.
Grachius tidak menunjukkan reaksi besar.
Namun udara di sekitarnya menjadi sedikit lebih panas.
Bukan ledakan emosi.
Melainkan fokus yang perlahan memadat.
“Dan Sagitta…”
Vita melanjutkan.
“…menyimpan sesuatu milik ayahmu.”
Tatapan Grachius akhirnya bergerak penuh padanya.
“Apa?”
Vita memandang langit beberapa saat sebelum menjawab.
“Sunchaser.”
Angin berhenti.
Nama itu terasa seperti gema lama yang akhirnya dipanggil kembali.
Bahkan cahaya matahari di atas mereka terasa sedikit berubah ketika nama itu diucapkan.
“Sunchaser…”
Grachius mengulangnya pelan.
Dan entah kenapa—
ia bisa merasakan sesuatu dari nama itu.
Panas.
Cahaya.
Dan kehancuran.
“Itu adalah busur Sonne.”
Suara Vita melembut sedikit.
“Warisan terakhirnya.”
Hening panjang jatuh di atas tebing.
Grachius perlahan mengepalkan tangannya.
“Aku akan mengambilnya kembali.”
Tidak ada keraguan.
Tidak ada ambisi berlebihan.
Hanya kepastian.
Namun Vita menggeleng kecil.
“Warisan bukan sekadar senjata.”
Tatapannya dalam.
“Kalau kau hanya mencoba memilikinya… kau tidak akan pernah benar-benar mendapatkannya.”
Grachius tidak membalas.
Namun ia mendengarkan.
Karena ia tahu Vita tidak berbicara tentang busur semata.
Angin kembali menyapu tebing.
Vita memandang Grachius lebih lama dari sebelumnya.
“Dan satu hal lagi.”
Tatapan mereka bertemu.
“Tidak semua yang akan kau bunuh nanti akan membuatmu merasa benar.”
Hening.
Grachius perlahan mengingat kembali kata-kata Purus malam sebelumnya.
Balas dendam selalu memiliki akhir.
Dan setelah itu…
apa yang tersisa?
Tatapannya sedikit turun.
Namun hanya sesaat.
“Aku tahu.”
Jawabannya pelan.
Tidak sepenuhnya yakin.
Namun jujur.
Vita memperhatikannya beberapa detik.
Lalu perlahan tersenyum tipis.
Bukan karena lega.
Melainkan karena Grachius mulai berpikir tentang hal itu.
Cahaya di tubuhnya mulai memudar perlahan.
Proyeksi itu tidak akan bertahan lebih lama.
Sebelum benar-benar menghilang—
Vita mengucapkan satu kalimat terakhir.
“Jangan kehilangan dirimu.”
Suaranya hampir seperti bisikan angin.
Dan sesaat kemudian—
cahaya itu menghilang.
Tebing kembali sunyi.
Hanya tersisa angin.
Dan Grachius.
Ia berdiri diam beberapa saat.
Tatapannya kembali pada langit luas di atasnya.
Namun kali ini—
tidak lagi kosong.
Kini ada arah.
Tujuan.
Jalan yang mulai terbentuk jelas di hadapannya.
Perlahan—
Grachius menoleh sedikit.
Tatapannya mengarah jauh ke utara.
Ke tempat yang bahkan belum bisa ia lihat.
Lalu ia menyebut satu nama.
Pelan.
Namun cukup untuk membuat udara terasa lebih berat.
“…Sagitta.”
Angin bertiup lebih kencang melewati tebing.
Dan untuk pertama kalinya—
perjalanan sebenarnya…
akhirnya dimulai.
...A Novel By Franzzz...