Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.
Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.
Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.
Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.
Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:
Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.
Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-
Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Fajar belum sepenuhnya tiba.
Langit masih berwarna kelabu, dengan cahaya tipis yang perlahan menembus kegelapan malam. Hutan terasa sunyi… terlalu sunyi.
Seolah sesuatu akan datang.
Di depan gubuk, Purus berdiri sendiri.
Matanya tertuju ke satu arah.
Diam.
Menunggu.
Angin berhembus pelan.
Lalu—
berubah.
Udara menjadi hangat.
Bukan panas.
Tapi… hidup.
Cahaya lembut muncul di antara pepohonan.
Tidak menyilaukan.
Namun tidak bisa diabaikan.
Dari cahaya itu—
muncul sosok yang tidak asing.
Vita.
Ia melangkah keluar perlahan.
Seperti bagian dari cahaya itu sendiri.
“Sudah lama,” ucapnya pelan.
Purus tidak bergerak.
“Ya.”
Beberapa detik berlalu.
Tidak ada basa-basi.
Tidak ada sapaan hangat.
Hanya… pemahaman.
“Dia sudah tahu,” kata Purus akhirnya.
Vita terdiam.
Tatapannya sedikit berubah.
“…semuanya?”
“Cukup.”
Angin berhembus lebih pelan.
Seolah tidak ingin mengganggu percakapan itu.
“Dan?”
Pertanyaan itu sederhana.
Namun berat.
Purus menatap ke arah hutan.
Ke arah di mana Grachius biasa berlatih.
“…dia ingin membalasnya.”
Vita menutup matanya sejenak.
Seolah itu sudah ia duga.
“…tentu saja.”
Sunyi.
“Dia hampir kehilangan kendali,” lanjut Purus.
Mata Vita langsung terbuka.
“Sejauh apa?”
“Api merah.”
Purus berhenti sejenak.
“…menjadi hitam.”
Detik itu—
udara terasa lebih berat.
Vita tidak langsung menjawab.
Namun ekspresinya… berubah.
“…lebih cepat dari yang seharusnya.”
Purus menatapnya.
“Jadi kau tahu.”
Vita tidak menjawab langsung.
Namun—
“Ya.”
Sunyi.
“Dan kau tetap membawanya padaku.”
Pertanyaan itu tidak menuduh.
Namun tidak juga ringan.
Vita menatap ke arah gubuk.
“…karena tidak ada pilihan lain.”
Beberapa detik berlalu.
“Sekarang… dia akan bergerak.”
Purus mengangguk pelan.
“Ya.”
Angin kembali berhembus.
Vita melangkah beberapa langkah ke depan.
“Lalu kau memanggilku… untuk menghentikannya?”
Purus menggeleng.
“Tidak.”
Vita sedikit mengernyit.
“Aku memanggilmu…”
“…untuk membimbingnya.”
Sunyi.
Vita menatap Purus dalam-dalam.
“…kau tahu itu berarti apa.”
“Ya.”
Jawaban tanpa ragu.
“Dia tidak akan berjalan di jalan yang tenang.”
“Tidak.”
“Dia akan membunuh.”
“Ya.”
Sunyi.
Vita menarik napas pelan.
“…dan kau tetap membiarkannya.”
Purus menatap lurus ke depan.
“Aku tidak bisa menghentikannya.”
Kalimat itu sederhana.
Namun… jujur.
“Dan jika aku mencoba…”
Ia berhenti sejenak.
“…aku mungkin akan menjadi salah satu yang harus dia lawan.”
Angin berhenti.
Vita menunduk sedikit.
“…kau takut padanya.”
Purus tidak langsung menjawab.
“…aku takut… pada apa yang bisa dia jadi.”
Sunyi.
Vita menutup matanya.
Sejenak.
Lalu membukanya kembali.
“Baik.”
Satu kata.
“Aku akan membantunya.”
Purus menoleh sedikit.
“Bukan sebagai sekutu.”
Vita melanjutkan.
“Bukan sebagai pelindung.”
Cahaya di sekitarnya sedikit menguat.
“…tapi sebagai penuntun.”
Purus mengangguk pelan.
“Seperti sebelumnya.”
Vita menatapnya.
“Tidak.”
Jawaban itu pelan.
Namun jelas.
“Dulu… aku hanya menyelamatkannya.”
Ia menatap ke arah hutan.
“Sekarang… aku akan mengarahkannya.”
Sunyi.
“Namun…”
Vita berhenti sejenak.
“…aku tidak akan selalu ada.”
“Dia harus berjalan sendiri.”
Purus mengangguk.
“Memang.”
Angin kembali berhembus.
“Dia akan memanggilku…”
“…atau aku akan datang saat diperlukan.”
Cahaya di sekitarnya mulai berubah.
Lebih halus.
“Dan jika dia jatuh terlalu jauh…”
Vita tidak melanjutkan kalimatnya.
Namun Purus mengerti.
Sunyi.
“Terima kasih.”
Vita tidak menjawab.
Ia hanya menatap sekali lagi ke arah gubuk.
“…Grachius.”
Nama itu jatuh pelan.
Lalu—
cahaya itu memudar.
Dan ia menghilang.
Tanpa suara.
Tanpa jejak.
Purus kembali berdiri sendiri.
Matanya menatap ke arah hutan.
“…sekarang…”
Ia bergumam pelan.
“…semuanya mulai bergerak.”
Angin pagi akhirnya datang.
Membawa cahaya.
Dan di suatu tempat di hutan—
seorang pria berdiri.
Tanpa tahu—
bahwa jalan yang akan ia tempuh…
tidak lagi sepenuhnya sendiri.
Angin di tebing berhembus lebih kencang dari biasanya.
Langit terbuka luas, tanpa batas. Awan bergerak perlahan, seolah tidak peduli pada apa pun yang terjadi di bawahnya.
Di sana—
Grachius berdiri sendirian.
Tatapannya mengarah ke atas.
Ke langit.
Sudah berapa lama ia berdiri di sana… ia sendiri tidak tahu.
Namun pikirannya tidak pernah diam.
Tentang ayahnya.
Tentang ibunya.
Tentang mereka—
yang berada di atas sana.
“…aku akan ke sana.”
Gumamnya pelan.
“Tapi bukan sekarang.”
Suara itu bukan miliknya.
Grachius tidak langsung bergerak.
Namun matanya sedikit menyipit.
“Keluar saja.”
Angin berhenti.
Cahaya lembut muncul di sampingnya.
Tidak terang.
Tidak menyilaukan.
Namun… hidup.
Sosok itu perlahan terbentuk.
Transparan.
Seperti bayangan yang bercahaya.
Vita.
Grachius melirik sekilas.
“…jadi kau.”
Vita tidak sepenuhnya “ada”.
Tubuhnya seperti kabut cahaya.
Namun kehadirannya… nyata.
“Aku tidak datang dengan tubuh asliku,” katanya pelan.
“Ini cukup.”
Grachius kembali menatap langit.
“…kau datang untuk menghentikan ku?”
Vita menggeleng.
“Tidak.”
Sunyi.
“Aku datang… untuk memastikan kau tidak mati sia-sia.”
Grachius sedikit tersenyum.
Namun tidak hangat.
“…kedengarannya tidak terlalu menenangkan.”
Vita menatap ke arah yang sama.
Ke langit.
“Aku juga membenci mereka.”
Kalimat itu membuat Grachius menoleh.
Vita melanjutkan.
“Bukan semua.”
“…tapi cukup banyak.”
Angin berhembus pelan.
“Mereka yang haus kekuasaan.”
“Mereka yang melupakan dunia di bawah.”
“Mereka yang menjadikan manusia… alat.”
Cahaya di sekitarnya sedikit bergetar.
“Aku tidak berdiri di pihak mereka.”
Sunyi.
Grachius menatapnya beberapa saat.
“…tapi kau tetap dewi.”
“Ya.”
Jawaban itu tidak ragu.
“…dan aku tidak akan menyangkalnya.”
Beberapa detik berlalu.
“Kalau begitu… bantu aku.”
Tidak ada basa-basi.
Tidak ada permintaan halus.
Hanya… tujuan.
Vita menatapnya.
Dalam.
“Aku akan membimbingmu.”
“Bukan melindungi.”
“Bukan bertarung untukmu.”
“Dan tidak akan selalu ada.”
Grachius mengangguk pelan.
“Itu cukup.”
Sunyi.
Vita melangkah sedikit maju.
Meski tidak benar-benar menyentuh tanah.
“Jika kau pergi sekarang… ke Sky Kingdom…”
Ia berhenti sejenak.
“…kau akan mati.”
Tidak ada emosi dalam kalimat itu.
Hanya fakta.
Grachius tidak tersinggung.
Tidak marah.
Ia hanya… mendengarkan.
“…jadi?”
“Mulai dari bawah.”
Grachius mengernyit.
“Para dewa pejuang.”
Angin berhembus lebih kencang.
“Sagitta.”
“Magia.”
“Anulignis.”
“Gladius.”
Setiap nama jatuh dengan berat.
“Mereka…”
Grachius menatap ke depan.
“…adalah algojo.”
Sunyi.
“…yang membunuh ayahmu.”
Detik itu—
udara terasa lebih dingin.
Grachius tidak bergerak.
Namun jari-jarinya mengepal.
“…semuanya?”
“Ya.”
Jawaban itu pelan.
Namun tajam.
Sunyi.
“…dan Dextra?”
“Dia yang memimpin.”
Grachius menarik napas pelan.
“Baik.”
Satu kata.
Namun penuh makna.
Vita menatapnya.
“Masih ada satu hal lagi.”
Grachius menoleh.
“Sagitta…”
Ia berhenti sejenak.
“…memiliki sesuatu milik ayahmu.”
Sunyi.
“Apa?”
“Busur.”
Angin berhenti.
“Namanya…”
“…Sunchaser.”
Nama itu terasa… berat.
Seolah memiliki sejarah.
Seolah menyimpan sesuatu.
Grachius tidak berkata apa-apa.
Namun matanya…
berubah.
Lebih tajam.
Lebih dalam.
“…aku akan mengambilnya kembali.”
Tidak ada keraguan.
Vita menatapnya.
Beberapa detik.
“…jangan hanya mengambil.”
Grachius menoleh.
“Pahami.”
Sunyi.
“Senjata itu bukan sekadar alat.”
“Dan warisan… tidak selalu ringan.”
Angin kembali berhembus.
Cahaya di tubuh Vita mulai memudar.
“Perjalananmu akan panjang.”
“Dan tidak semua yang kau temui… adalah musuh.”
Grachius tidak menjawab.
Namun ia mendengarkan.
“…dan tidak semua yang kau bunuh…”
Vita berhenti sejenak.
“…akan membuatmu merasa benar.”
Sunyi.
Cahaya itu semakin tipis.
“Grachius.”
Ia menoleh.
“Jangan kehilangan dirimu.”
Dan—
cahaya itu menghilang.
Angin kembali bergerak.
Langit tetap sama.
Grachius berdiri sendiri.
Namun kali ini—
tidak sepenuhnya.
Ia menatap ke langit sekali lagi.
Lalu—
menurunkan pandangannya.
Ke dunia.
Ke arah pertama yang harus ia tuju.
“…Sagitta.”
Nama itu keluar pelan.
Dan untuk pertama kalinya—
targetnya jelas.
Perjalanan itu…
benar-benar dimulai.