NovelToon NovelToon
Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.

Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.

Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.

Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1

Dentang sendok perak yang beradu dengan piring porselen krisan terdengar seperti lonceng kematian di telinga Aira. Ruang makan kediaman Maheswari malam itu terasa begitu dingin, meski pendingin ruangan sudah disetel di suhu normal. Wangi steak wagyu yang mahal justru membuat perut Aira mual.

Di kepala meja, Prasetya Maheswari duduk dengan punggung tegak, menatap selembar kertas hasil ujian dengan binar bangga yang jarang terlihat.

"Sempurna. Nilai rata-rata sembilan puluh delapan. Kamu benar-benar permata keluarga ini, Airin," suara Prasetya berat namun lembut saat berbicara pada gadis di sisi kanannya.

Airin, yang mengenakan gaun sutra berwarna peach yang sangat kontras dengan kulit porselennya, tersenyum manis. Rambutnya yang legam tergerai indah, berkilau di bawah lampu gantung kristal. "Ini semua berkat dukungan Papa dan Mama. Airin hanya tidak ingin mempermalukan nama Maheswari."

"Tentu saja, Sayang. Gelar dan prestasi adalah napas keluarga kita," sahut Ratna, sang ibu, sembari mengusap lembut tangan Airin. Matanya kemudian beralih ke sisi kiri meja. Seketika, kelembutan itu menguap, digantikan oleh tatapan sedingin es.

"Dan kamu, Aira? Mana kertasmu?"

Aira tersentak. Tangannya yang berada di bawah meja saling meremas. Ia bisa merasakan tekstur kasar di ujung jarinya—bekas tusukan jarum yang mengering dan kapalan kecil akibat terlalu sering memegang gunting kain yang berat. Ia perlahan mengeluarkan selembar kertas yang sudah lecek dari saku seragamnya yang kusam.

Kertas itu diletakkan di atas meja dengan tangan gemetar.

Prasetya meraihnya. Hanya dalam tiga detik, pria itu melempar kertas tersebut ke tengah piring Aira yang masih penuh makanan. Angka '42' di kolom matematika tampak seperti ejekan berwarna merah menyala.

"Empat puluh dua?" Prasetya tertawa hambar, suara yang lebih menyakitkan daripada bentakan. "Aira, katakan pada Papa, apa yang ada di dalam otakmu? Kamu dan Airin lahir dari rahim yang sama, di hari yang sama. Tapi kenapa kamu tumbuh seperti... cacat produksi?"

Cacat produksi. Kata itu menghantam dada Aira hingga ia sesak napas.

"Aku... aku sudah belajar, Pa. Tapi angka-angka itu selalu melompat-lompat di mataku," cicit Aira. Suaranya serak, hampir tenggelam oleh suara detak jam dinding.

"Alasan!" bentak Ratna tiba-tiba, membuat Aira berjengit. "Kamu itu malas. Lihat wajahmu, kusam, tidak terawat. Rambutmu seperti singa. Kamu tidak punya prestasi akademis, tidak punya kecantikan untuk dibanggakan. Kamu itu noda, Aira! Kamu membuat orang bertanya-tanya, apakah kami benar-benar memiliki dua putri atau satu putri dan satu pelayan yang salah makan."

Airin hanya diam, menyesap jus jeruknya dengan anggun. Tidak ada pembelaan. Justru, sudut bibirnya sedikit terangkat—sebuah kemenangan kecil yang hanya bisa ditangkap oleh mata Aira.

"Maaf, Ma..."

"Jangan minta maaf! Perbaiki nilai itu atau keluar dari rumah ini. Maheswari tidak butuh orang bodoh yang kerjanya hanya melamun di gudang belakang!" Prasetya memotong tajam. "Kamu tahu sendiri, di dunia ini, gelar adalah segalanya. Tanpanya, kamu bukan siapa-siapa."

Aira semakin menundukkan kepalanya. Ia menyembunyikan tangannya di bawah meja lagi. Di bawah sana, ia meraba secarik kain perca di dalam sakunya. Sebuah desain gaun yang ia gambar diam-diam di balik buku catatan matematika. Baginya, garis-garis kain itu jauh lebih masuk akal daripada rumus kalkulus yang dianggap ayahnya sebagai Tuhan. Namun, ia tahu, jika ia menunjukkan sketsa itu, ayahnya akan membakarnya hidup-hidup.

Suasana kembali hening, hanya ada suara denting alat makan yang elegan. Tiba-tiba, ponsel Prasetya bergetar. Ia mengangkatnya, dan raut wajahnya berubah drastis. Ada ketegangan, rasa hormat, dan kegembiraan yang meluap.

"Ya? Benarkah? Kapan?" Prasetya berdiri dari kursinya. "Kami akan menyambutnya dengan sangat baik. Tentu saja."

Setelah menutup telepon, Prasetya menatap istri dan kedua anaknya dengan mata berbinar-binar.

"Berita besar. Cucu tunggal dari Pratama Group, Alvaro Pratama, akan kembali ke Indonesia minggu depan. Dia akan bersekolah di sekolah kalian," ujar Prasetya dengan nada yang bergetar.

Ratna menutup mulutnya karena terkejut. "Alvaro? Anak kecil yang dulu... yang dulu dekil dan sering bermain di halaman belakang kita karena kakeknya memberikan beasiswa?"

"Ya. Tapi sekarang dia bukan lagi anak miskin yang bau matahari. Kakeknya sudah menjadikannya pewaris tunggal seluruh aset Pratama. Dia kembali sebagai pangeran," Prasetya menoleh ke arah Airin dengan tatapan penuh rencana. "Dan yang paling penting... dia menelepon asisten kakeknya tadi. Katanya, Alvaro ingin mencari sahabat masa kecilnya."

Jantung Aira berdegup kencang. Alvaro. Nama itu memicu memori tentang seorang anak laki-laki yang menangis di bawah pohon mangga karena kakinya terluka, dan Aira kecil yang membalutnya dengan sapu tangan rajutan pertamanya.

"Dia mencari 'Ai'," lanjut Prasetya sembari tersenyum lebar pada Airin. "Airin, ini kesempatanmu. Dia pasti mencari kamu. Siapa lagi gadis bernama 'Ai' yang pantas bersanding dengannya kalau bukan kamu yang cantik dan cerdas?"

Airin tersipu, matanya berkilat penuh ambisi. "Aku ingat dia sedikit, Pa. Dia yang dulu sering aku beri sisa kue, kan?" dusta Airin lancar.

Aira mendongak, matanya membulat. "Tapi Pa, dulu yang sering bermain dengan Varo itu—"

"Diam, Aira!" potong Ratna dengan suara rendah yang mengancam. "Jangan coba-coba mengklaim sesuatu yang bukan milikmu. Dengan wajah dan otakmu yang seperti itu, mana mungkin seorang Alvaro Pratama mencarimu? Dia mencari 'Ai' yang sempurna, dan itu adalah Airin."

Prasetya mengangguk setuju. "Ingat ini baik-baik. Minggu depan, saat dia datang ke sekolah, Airin adalah satu-satunya sahabat masa kecilnya. Aira, jika kamu berani mendekatinya atau merusak rencana ini dengan penampilan dekilmu itu, Papa tidak akan segan-segan menghapus namamu dari kartu keluarga."

Aira terdiam. Di balik meja, ia meremas sapu tangan tua di sakunya—sapu tangan yang sama dengan yang dulu ia gunakan untuk membalut luka Alvaro. Air mata tertahan di pelupuk matanya.

Alvaro kembali. Tapi dia tidak mencari seorang gadis yang disebut "noda". Dia mencari sebuah kenangan yang kini siap dicuri oleh kembarannya sendiri.

1
Ma Em
Aira seharusnya keluar saja dari rumah itu untuk apa Aira bertahan dirumah seperti neraka itu karena Aira tdk diharapkan dan selalu direndahkan tanpa Aira Airin hanya tong kosong hanya sampah Aira msh mau saja dibodohi .
Aletheia
gak semudah itu kak,kan nunggu Aira dewasa atau lulus SMA dulu
Allea
sampai bab ini masih mempertahankan kebodohannya ckck aira aira dah pergi aja sih,selama ada kemauan jalan selalu ada pergilah menjauh dari keluargamu buktikan kamu hebat
Ma Em
Semangat Aira buktikan kalau Aira bkn anak yg bawa aib bkn anak yg bawa sial tapi sebaliknya Aira anak yg berprestasi dan sangat bersinar buat ayah , ibu dan Airin menyesal dan bongkar semua kebohongan dan keburukan Airin didepan Alvaro dan bilang pada Alvaro bahwa teman masa kecilnya bkn Airin tapi Aira , Airin cuma ngaku2 saja jadi Aira , jgn mau memaafkan mereka yg selalu menghina dan merendahkan kamu Aira .
Ma Em
Aira jgn takut dgn Alvaro , lawan dia kalau Aira takut Alvaro makin berani menghina Aira , semoga saja kebenaran tentang Airin yg ngaku2 teman Alvaro waktu kecil segera terungkap .
Ma Em
Aira bangkitlah lawan mereka yg selalu menghina dan merendahkan kamu , bongkar semua keburukan dan kelicikan Airin agar kedua orang tuamu tau bahwa yg bodoh itu Airin bkn Aira , Aira jgn mau dipermainkan dan dimanfaatkan lagi sama Airin balas lah perbuatan mereka padamu Aira jgn takut ada Barra yg akan menjadi pelindungmu Air 💪💪💪.
Ma Em
Makanya Aira kamu hrs bangkit jgn mau diperalat sama Airin , buat Airin membayar semua perbuatan nya padamu Aira buat kedua orang tuamu menyesal juga Alvaro tunjukan pada mereka keahlianmu yg sebenarnya bkn Airin yg pintar tapi otak Aira yg digunakan Airin untuk mengelabui orang mereka .
Aletheia: sabar ya kak,kita buat supaya Aira bisa teguh jika nanti harus meninggalkan keluarganya☺️
total 1 replies
Ma Em
Bagus Aira bangkitlah dan balas semua perbuatan mereka yg sdh menyakiti dan memfitnah mu Aira terutama Airin jgn diberi maaf juga Alvaro buat dia menyesal .
Ma Em
Heran ya ada orang tua berat sebelah sama anak sendiri dijelek jelekan didepan orang lain hanya untuk dapat perhatian dari Alvaro , tunggu saja saat waktu sdh tiba dan kebenaran akan terungkap siapa Airin dan siapa Aira .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!