Halo teman-teman, aku sedang memperbaiki & memperpanjang cerita ini supaya makin seru. Perubahan bertahap ya, terima kasih dukungannya!
---
Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.
Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.
Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara.
Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.
Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malaikat Berkedok Iblis
Hari Selasa, Pukul 09.00
Upacara bendera di sekolah.
Hari ini terasa berbeda dari biasanya. Biasanya upacara berjalan biasa saja—menyanyikan lagu kebangsaan, mendengar amanat pembina, lalu bubar. Tapi hari ini, ada tamu istimewa yang diundang.
“Anak-anak,” suara Kepala Sekolah, Pak Firmansyah, terdengar dari mimbar. “Hari ini kita kedatangan tamu istimewa, donatur sekolah kita, Bapak Dr. Hendra Wijaya. Beliau yang telah membangun gedung laboratorium dan perpustakaan baru yang kita gunakan sampai sekarang.”
Seorang pria paruh baya naik ke mimbar. Tubuhnya tinggi, rambut hitamnya mulai memutih di pelipis, memakai kacamata berbingkai emas, dan tersenyum lebar. Jas hitamnya rapi dan mahal, aroma parfumnya bahkan tercium sampai ke barisan paling belakang tempat aku berdiri.
“Selamat pagi, anak-anak,” sapa Dr. Hendra dengan suara berat dan dalam. “Senang bisa bertemu dengan kalian. Sekolah ini seperti rumah kedua bagi saya. Setiap kali berkunjung, saya selalu terkesan melihat semangat belajar kalian.”
Tepuk tangan riuh terdengar memenuhi lapangan. Aku tidak ikut bertepuk tangan.
“Nay, kenapa tidak bertepuk tangan?” bisik Sasha di sampingku.
“Telapak tanganku sakit,” jawabku singkat.
“Bohong. Kamu tegang sekali,” desisnya lagi.
Rasya yang berdiri di barisan samping menatapku—matanya seolah berkata: Tenang saja.
Dr. Hendra melanjutkan pidatonya. “Saya tidak hanya ingin membangun gedung untuk kalian. Saya juga ingin membantu kalian meraih cita-cita. Oleh karena itu, tahun ini saya akan menambah kuota beasiswa. Siswa yang berprestasi akan saya biayai pendidikannya sampai perguruan tinggi.”
Tepuk tangan dan sorak kegembiraan kembali terdengar.
“Tapi ada satu syarat,” lanjutnya sambil tersenyum tipis. “Kalian harus rajin belajar. Jangan terlibat hal-hal yang negatif. Jangan…” matanya bergerak tajam, tepat menatap ke arahku. “…terlibat masalah hukum. Karena nama baik sekolah ini adalah tanggung jawab kita bersama.”
Aku menggigit bibir dalam-dalam. Dia tahu. Dia tahu aku terlibat dalam kasus Jenderal Purnomo. Dan dia baru saja memperingatkanku—di depan seluruh siswa dan guru.
---
Begitu upacara selesai dan kami duduk di kelas, Sasha kembali bertanya: “Kenapa kamu diam saja? Apa yang bisa kamu lakukan? Berteriak ‘dia penjahat’ di depan semua orang? Tidak ada yang akan percaya padamu.”
“Kita harus sabar, Sha. Dr. Hendra itu licik. Dia pandai memanipulasi pandangan orang lain,” jawabku tenang.
Tak lama kemudian, Kayla masuk ke kelas. Wajahnya terlihat pucat dan cemas. Dia duduk di sampingku tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Kay,” bisikku.
“Aku tahu. Aku mendengar pidatonya tadi,” jawabnya pelan.
“Apa yang dia rencanakan?”
“Aku tidak tahu pasti. Tapi satu hal yang aku yakin…” Kayla menelan ludah, suaranya bergetar. “…dia tidak akan berhenti sampai kita semua disingkirkan.”
---
Saat jam istirahat, aku sedang makan di kantin ketika sebuah bayangan besar tiba-tiba menutupi mejaku.
“Nayla Kirana, ya?”
Aku menoleh. Dr. Hendra berdiri tepat di samping mejaku, diikuti dua orang asistennya. Senyumnya masih terukir di wajah, tapi matanya… matanya sedingin es.
“Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” tanyaku sopan.
Dia duduk di hadapanku tanpa meminta izin. “Boleh saya duduk di sini?”
“Silakan saja, Pak.”
“Sepertinya kamu tidak menyukai saya,” ucapnya tiba-tiba.
Aku hanya diam dan tidak menjawab.
“Saya tahu kamu terlibat dalam kasus Jenderal Purnomo. Saya juga tahu kamu memiliki bukti yang bisa memberatkan dia.”
“Iya, Pak,” jawabku singkat.
“Kamu anak yang berani,” ucapnya sambil memberi isyarat pada asistennya. Salah satu asisten meletakkan sebuah kotak kue mewah di atas meja. “Ini untukmu. Macaron impor dari Prancis. Harganya tidak murah. Tapi menurutku kamu pantas menerimanya.”
Aku menatap kotak itu, lalu menolak dengan halus: “Maaf, Pak. Saya sedang menghindari gula.”
Dr. Hendra tertawa kecil. “Kamu ini lucu, Nayla. Tapi dengarkan saya baik-baik.” Dia mencondongkan tubuhnya mendekat, suaranya menjadi bisikan yang hanya bisa aku dengar. “Jenderal Purnomo mungkin akan dihukum. Tapi saya… saya tidak akan tersentuh. Saya lebih pintar dari dia. Saya lebih kaya dari dia. Dan saya memiliki jaringan yang jauh lebih luas dan kuat darinya.”
“Lalu apa maksud Bapak?” tanyaku tenang.
“Jangan pernah mencoba melawan saya. Fokus saja pada sekolahmu. Raih beasiswa yang saya tawarkan. Lupakan semua hal tentang… masa lalu.” Dia berdiri tegak. “Selamat belajar, Nayla. Kita pasti akan sering bertemu lagi.”
Dia pergi begitu saja, meninggalkan kotak kue mahal itu di atas meja.
Sasha yang sedari tadi terdiam kaku akhirnya bisa bernapas lega. “Nay, dia gila. Dia benar-benar mengancammu secara terang-terangan.”
“Aku tahu,” jawabku.
“Kamu tidak takut?”
“Takut tentu saja. Tapi aku lebih merasa marah.”
---
Pukul 15.00
Pesan masuk dari Rasya:
Rasya (15.00): “Dr. Hendra menemuimu tadi?”
Nayla (15.01): “Iya. Di kantin.”
Rasya (15.01): “Apa yang dia katakan?”
Nayla (15.02): “Mengancam secara halus. Menyuruhku berhenti melawan dia.”
Rasya (15.02): “Hati-hati. Dia lebih berbahaya daripada Jenderal Purnomo.”
Nayla (15.03): “Aku tahu.”
Rasya (15.03): “Besok kita temui Inspektur Widi untuk melaporkan ini.”
Nayla (15.04): “Setuju.”